
Kedua gadis itu mulai diikat seperti tadi. Sedangkan kedua pria kekar diminta keluar, menjaga kondisi di sekitar rumah ini.
"Patahkan semua boneka itu. Agar kami bisa membantu melawan makhluk yang dipuja mereka. Sebelum mereka membangunkannya saat denting jam tengah malam berbunyi," bisik sosok yang baru keluar dari dalam boneka, sudah berdiri di belakangku.
"Bagaimana caranya? Kenapa tak kau sendiri saja yang melakukannya?" tanyaku dalam hati, agar tak ada yang mendengarnya, kecuali Yumna yang masih memandangku, dengan tatapan seperti mengerti obrolan kami.
"Tak bisa, karena aku bisa terkurung lagi dalam bonekanya. Hanya manusia sepertimu yang bisa melakukannya, tolong pikirkan bagaimana caranya. Kamu pasti bisa," kata sosok ini.
Aku sadar, kalau lakban di mulutku sudah sedikit terbuka. Sampai aku mulai bisa mengeluarkan suara.
Hal itu terjadi, setelah aku berusaha mengeluarkan banyak air liur untuk membuat lemnya tak terlalu kuat menempel di sekitar mulutku. Sedikit jorok saat dibayangkan, tetapi tak ku pedulikan, yang penting soal keselamatan.
Kemudian ku gerak-gerakkan juga kulit wajah, sampai akhirnya muncul celah untukku bisa berbicara. Meskipun mulut belum terbuka sepenuhnya.
"Heeeehhhhh.....," ku hembuskan nafas panjang, kemudian mencoba melemaskan tangan yang sudah aku tegangkan saat mulai diikat bu Malik tadi.
Fokus terus memutar pergelangan tangan, sampai mulai terasa longgar. Masih sambil berhati-hati, ku lepas juga ikatan kaki. Juga lakban yang masih menempel di mulutku, meski sudah tak terlalu erat lagi terkena air liurku tadi.
"Alhamdulillah," kataku dalam hati setelah mulai terbebas tanpa sepengetahuan mereka.
Dengan bacaan basmalah, ku ambil tongkatku lagi. Mengayunkan ke kepala belakang pak Malik yang masih konsentrasi, di depan tempat pemujaan mereka. Sampai membuatnya mulai tak sadarkan diri.
"Ma....," baru saja anak kandung yang duduk di sebelahnya bereakasi, ku bungkam mulutnya dengan cepat.
Sedikit mengancam akan ku habisi juga, meski sebenarnya tak ada keberanian menyakiti manusia kalau tak terpaksa. Dan ku harap pak Malik masih selamat, hanya mengalami pingsan saja.
"Diamlah, kalau tak mau ku sakiti juga. Dan jangan banyak bicara, kalau kau tak ingin celaka," kataku mengikat tangan gadis itu dengan bekas ikatan tanganku tadi.
Dengan gulungan lakban yang masih tergeletak di sekitar tempat ini, ganti ku bungkam mulutnya.
Ku lepaskan dulu ikatan Yumna, Martha, dan kedua gadis itu sebelum jam berdenting.
" Patahkan semua kepala bonekanya. Sebelum tengah malam tiba," ucapku melihat jam dinding, yang menunjukkan bahwa tak lebih dari lima menit lagi, dimulai ritual malam ini.
Semua bergerak cepat, terus mematahkan kepala boneka-boneka yang berjajar di meja. Sampai terdengar suara seseorang yang hampir saja terlupakan. Kalau dia membawa senjata berbahaya.
'Dooooor.....'
Suara tembakan keras memenuhi ruangan. Dengan pistol mengarah ke dadaku. Tapi tak ku rasakan nyeri sama sekali. Karena ternyata ada seseorang yang sudah mendahului, menghadang peluru yang dimaksudkan untukku tadi.
__ADS_1
"ANJANIIII.....," teriak kami yang baru menyadari.
Sesosok tubuh tergeletak, dengan darah mengucur deras dari dada kanannya. Membuat kita segera berlari, mendekati tubuh Anjani.
"KURANG AJAR!" teriaknya lagi, sambil mengayunkan kembali pistolnya ke arahku lagi.
'Dooooorrr.......'
Tembakan berikutnya diluncurkan. Tapi kali ini meleset, karena seorang anak sudah lebih dulu menubruknya. Dengan tangan dan mulut yang masih terikat erat.
Pistol yang dibawanya pun ikut terlempar jauh, ke dalam tumpukan boneka yang sudah kami patahkan lehernya. Dengan cepat, Yumna segera mengambilnya.
"Nabila, apa yang kau lakukan?" tanya bu Malik yang tersungkur, sambil membuka lakban di mulut anak yang masih menindih tubuhnya itu.
"Bu, cukup. Aku jengah melihat kebusukan keluarga ini. Sampai kau rela menembak anakmu sendiri, yang sudah memasrahkan hidupnya demi kekayaan kalian."
"Nabila, berani kau bicara seperti itu? Dia itu hanya anak angkat saja. Peduli apa kau dengannya?"
"Meski dia bukan anak kandungmu, bukan berarti kau bebas melakukan apapun padanya."
"Kenapa kau jadi membelanya?"
'Teng.... Teng.... Teng....'
Jam sudah menunjukkan tepat tengah malam. Membuat kami langsung fokus pada tempat pemujaan.
" Kepala kerbaunya! " tunjuk Martha sempat tak percaya, saat benda itu bergetar kencang.
"Kita doa bersama," ucapku mengingatkan.
Tempat dengan peralatan ritual mulai menunjukkan ada asap yang mengepul tinggi. Disertai angin dingin yang menerpa semua tubuh kami.
"Apa itu?" guman Nabila yang ternyata tak tahu apa-apa, ketika asap berubah menjadi sosok hitam, bertaring, dengan mata melotot merah tajam.
"Terus berdoa!" ingatku lagi.
"Bismillahirohmanirohim....," ku awali doa malam ini.
Dari mulai membaca ayat kursi, sampai ayat-ayat yang ku hafal dari kitab suci. Terus khusuk untuk memohon pertolongan pada Allah, Sang Penguasa Alam Semesta ini.
__ADS_1
"Keroyok dia!" seru salah satu korban yang bermunculan, setelah patahnya semua boneka.
Angin semakin kencang saja. Diiringi suara berat terdengar kuwalahan, yang sudah tak nampak lagi wujudnya. Tertutup oleh sosok-sosok korban yang sudah dikurungnya.
Semakin lama, mereka menyatu menjadi asap abu-abu. Berbaur kembali masuk pada patung kepala kerbau. Kemudian lenyap, seperti tak terjadi apa-apa.
"Bawa patung itu, lalu bakar sampai habis. Jangan biarkan ada yang menemukannya, karena bisa dimanfaatkan kembali menjadi petaka."
Suara seperti nenek ayah terdengar di telinga. Setelah selesai semuanya.
"Angkat tangan," ucap seseorang dari arah pintu ruangan.
Para polisi sudah mulai datang. Mereka sudah memborgol tiga orang laki-laki kekar. Masuk ke dalam tempat pemujaan, sesuai petunjuk mereka sebelumnya. Kemudian lanjut menahan keluarga Nabila.
"Aish, kau tak apa?" tanya kak Azzam langsung memelukku, setelah muncul dari belakang para polisi.
Sedangkan Yumna menyerahkan pistol yang dibawanya, sebagai barang bukti. Martha dan Anjani, juga langsung ditangani petugas medis yang sudah dipanggil kak Azzam juga. Termasuk pak Malik yang masih belum sadarkan diri.
"Silahkan datang ke kantor polisi, untuk menjadi saksi besok pagi. Dan terima kasih banyak, sudah menghubungi kami."
"Kami juga terima kasih, sudah dibantu di sini," jawab kak Azzam saling bersalaman dengan para polisi yang membantu kami.
"Kalau begitu, silahkan istirahat dulu. Kami akan mengevakusi tempat ini," jawab senior polisi, yang ternyata adalah sepupu bu Nuri.
"Ya sudah, ayo pulang. Bersihkan badan, terus istirahat untuk kesaksian besok," ajak bu Nuri.
"Iya, eh maaf. Pak, kalau sudah selesai, patung kepala kerbau ini akan saya bakar. Supaya tak ada korban lagi," kataku pada sepupu bu Nuri lagi.
"Iya, sementara masih jadi barang bukti. Nanti kalau sudah tak dipakai, akan saya serahkan langsung. Saya yang bertanggungjawab menyimpannya nanti," janjinya.
"Baiklah, kami permisi. Sekali lagi terima kasih banyak," ucapku melangkah keluar rumah ini, bersama para sahabatku dan bu Nuri.
" Kenapa baru datang saat hampir selesai semuanya?" tanyaku setelah kita sampai depan rumah bu Nuri.
"Maaf, tadi aku baru baca pesanmu. Aku tak tahu kalau kalian nekat ke sana."
"Lhoh, dua gadis tadi bukannya pergi ke rumah bu Nuri? Untuk mencari bantuan di sini?" tanyaku mengingat penjelasan gadis yang sekarang masih ditangani polisi, sebagai saksi sekaligus korban selamat dari tumbal pesugihan.
"Memang tadi dia ke rumah bu Nuri, tapi aku lagi asik sama pria kekar tadi di pohon mangga. Jadi ku bilang aja kami tak ikut campur urusannya. Ku kira mereka cuma wanita penggoda," sahut Ncus baru muncul ke depan kami.
__ADS_1
"NCUUUSSSSS.....," sahutku geregetan bersama Yumna.