
"Permisi, Adek. Apa ada yang terluka?" tanyaku membelah barisan anak-anak kecil, yang berkerumun penasaran pada nasib salah satu teman mereka.
"Ka.. Kakak siapa?" tanya anak kecil yang sedang dipangku oleh seorang wanita, dengan sesenggukan menahan tangisnya.
"Maaf. Kakak yang ada dalam mobil tadi. Mobil yang hampir saja menabrak kamu yang berdiri di tengah jalan."
"Maaf? Itu bukan salah kakak. Harusnya aku yang minta maaf. Kakakku yang tadi mengajakku ke jalan itu," jawabnya polos, dengan suara khas anak kecil.
"Kakak?" tanya wanita yang memangkunya.
"Oh iya, perkenalkan nama saya Aish. Dan ini teman saya, Yumna. Saya mewakili semua teman-teman yang ada dalam mobil, untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya."
"Iya, saya juga minta maaf. Oh iya, nama saya Rima. Saya pengasuhnya Bian, anak laki-laki ini," jawabnya.
"Bian, tadi kamu bilang kakak? Kamu itu anak tunggal, Sayang," jawab wanita itu lembut sekali.
"Bian punya kakak kok, Kak Rima. Tuh, dia lagi sembunyi di semak," tunjuknya pada pohon-pohon yang bergerombol jauh di belakang tempatku berdiri.
Ada sosok anak kecil wanita tadi, yang terlihat langsung bersembunyi saat aku dan Yumna sedang mengamati.
"Mungkin Bian masih trauma. Sini sama bu guru, kita makan bekalnya. Sebentar lagi waktunya masuk sekolah lo," bujuk salah seorang wanita berseragam seperti guru di sekolah ini.
Bian yang masih sangat polos, mengiyakan ajakan gurunya. Melangkah masuk ke dalam ruang kelas, dengan kembali ceria. Seperti hampir tak mengingat kejdian yang baru saja dialaminya.
Aku dan Yumna yang masih penasaran, mengambil duduk di sebelah Rima. Pengasuh yang sebenarnya tak jauh beda umurnya dengan kita.
"Rima, apa benar kalau Bian itu anak tunggal?" tanyaku lagi.
"Iya, kenapa?"
"Tapi tadi dia bilang 'kakak'? Siapa maksudnya?"
"Oh, ehmmm..... Itu mungkin teman khayalannya."
"Apa kamu yakin?"
"Ya, aku yakin. Mungkin Bian merasa sangat kesepian. Karena setiap hari di rumah cuma berdua saja dengan saya."
"Lha orang tuanya?" tanyaku lagi, karena aku khawatir sosok anak itu kembali mengajak Bian, ke sesuatu yang berbahaya lagi.
"Ibunya meninggal, setelah melahirkannya. Sedangkan ayahnya, sangat sibuk bekerja. Demi melampiaskan kegalauannya setelah ditinggal istrinya."
__ADS_1
"Oh, gitu. Berarti sebenarnya ayah Bian bekerja, lebih tepatnya menyibukkan diri, hanya untuk pelampiasan karena istrinya meninggal?" tamyaku lagi, karena aku merasa ada yang janggal di sini.
"Iya. Itu semua salah saya," kata Rima mulai berkaca-kaca.
"Maksudnya?" tanyaku mengelus punggung Rima, berusaha sedikit menenangkannya.
"Andai saja ibu Bian melahirkan di rumah sakit, pasti semua akan baik-baik saja," jawabnya mulai mengusap air mata.
"Memang ibunya melahirkan di mana?" tanyaku lagi.
"Lima tahun yang lalu, adalah masa yang sulit bagi ayah Bian. Itu berawal saat beliau harus meninggalkan istrinya yang hamil besar, untuk mengurus pekerjaannya di luar kota. Eh, kok saya jadi curhat ya?" katanya kembali mengusap air mata.
"Gak apa-apa, barangkali kami bisa membantu membuat kamu lega. Lagi pula, kita juga lihat ada sosok anak perempuan yang mirip sekali dengan Bian. Dia yang tadi mengajak Bian menyebrang jalan," jelasku mencoba berterus terang, agar Rima juga bisa lebih terbuka pada kita.
" Benarkah? "
" Iya, lanjutkan saja ceritanya! "
" Hehhhh..... Baiklah, ini juga demi keselamatan Bian," ucapnya menghembuskan nafas kasar.
" Sampai mana tadi? " tanyanya sedikit lupa hendak melanjutkan.
"Ayah Bian keluar kota," sahut Yumna yang dari tadi diam saja.
"Lalu?"
"Lalu ibu Bian menyuruh saya, untuk memanggil mbah Ros. Dukun beranak yang sudah terkenal di kampung tempat tinggal kita sebelumnya."
"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Yumna lagi mulai tak sabar.
"Hujan lebat, disertai petir yang menyambar, saya lari pergi ke rumah mbah Ros. Dengan berbekal senter saja, karena rumah kami saat itu memang di desa. Yang jarang penduduknya."
"Terus?" tanya Yumna lagi.
"Terus setelah saya berhasil mengajak mbah Ros ke rumah, keadaan ibu sudah sangat lemas. Jadi mbah Ros bilang harus segera dilahirkan karena ketubannya sudah pecah."
"Kok aku ikut deg-degan ya dengarnya? Terus gimana?"
"Mbah Ros meminta saya menyiapkan air hangat, handuk, dan beberapa perlengkapan lainnya. Lalu menyuruh saya menunggu di luar rumah, sambil berjaga. Jangan sampai ada yang boleh masuk sebelum dia minta," cerita Rima mulai terlihat sedikit lega di wajahnya.
" Kamu turuti? "
__ADS_1
" Iya, mau gimana lagi. Saya pikir, yang penting bisa segera dilahirkan saja. Saya tak tega melihat ibu yang terus saja kesakitan. Sampai akhirnya, ayah Bian datang juga. "
" Apa ayah Bian marah, kamu panggil dukun beranak?"
"Dia datang, langsung pengen masuk ke dalam. Saya cegah sesuai perintah dukun beranak tadi. Tapi dia bersikeras, dan malah memarahi saya. Akhirnya saya menyerah, dan membiarkannya masuk meski belum terdengar suara bayi yang menangis dari dalam."
"Lalu, dukun beranak itu marah?" tanya Yumna lagi.
"Hik.... Hik....," tangisnya mulai menjadi.
"Kenapa? Kok malah nangis?" tanyaku mengusap punggungnya lagi, agar bisa lebih tenang melanjutkan ceritanya.
"Ibu sudah terbujur kaku di ranjang. Dengan bayi laki-lakinya yang akhirnya diberi nama Bian. Dia baru menangis setelah ayahnya membuka pintu kamar mereka."
"Lalu dukunnya?" tanyaku dan Yumna bersama.
"Dukunnya sudah tak ada. Kabur lewat pintu belakang. Dan anehnya hanya ada satu bayi di atas ranjang," jelasnya kembali mengusap lagi air mata.
"Maksudnya, Bian kembar?" tanyaku pelan.
"Harusnya iya. Karena sebelumnya sempat USG, kalau ada dua janin dalam perut ibu Bian."
"Hehhh..... Berarti, benar kalau yang mirip Bian itu kakaknya," jawabku menghela nafas panjang, dan sedikit lemas meski cuma membayangkan.
"Tapi ini semua adalah rahasia keluarga, tanpa menceritakannya pada Bian supaya dia tidak kepikiran. Kenapa Bian bisa sampai tahu ya? Apa benar kalau sosok anak itu selalu ada di sekitar Bian?" tanya Rima.
"Iya, tadi kami melihatnya. Tapi sekarang sudah tak ada. Sepertinya masih sembunyi karena ada kita, yang bisa melihat keberadaannya."
Ku lihat perubahan wajah Rima. Dari kesedihan, menjadi ketakutan. Seperti masih ada yang disembunyikan.
"Lalu sampai sekarang, dukun itu tak pernah ditemukan lagi? Lalu, apa tanggapan ayah Bian saat itu terjadi?" tanyaku.
"Setelah tahu ibu Bian meninggal, dan dukun itu kabur entah kemana, kami langsung mencarinya. Bian kecil kami titipkan ke tetangga, demi mengejar saudara kembar Bian yang mungkin diambil olehnya."
"Ketemu?" tanyaku lagi.
"Tapi sayangnya tidak ketemu, malah pak RT menyalahkan saya yang sudah memanggil dukun itu untuk menolong persalinan ibu," lanjutnya.
"Aish, Yumna, masih lama?" teriak kak Azzam yang berjalan mendekati kami, di bangku ruang tunggu sekolah ini.
"Iya, sebentar lagi!" jawabku.
__ADS_1
"Kenapa pak RT memyalahkan kamu?" tanyaku lagi, sudah terlanjur penasaran.
"Karena dukun beranak itu, dulu pernah diusir dari kampung itu. Karena ternyata dia juga suka melakukan ritual mistis, demi memperdalam kesaktiannya. Dan bayi-bayi malang itu sebagai tumbalnya," jelas Rima membuat kami ternganga.