
Sesampainya di rumah sakit, Ariana segera ditangani karena kejangnya semakin menjadi. Lin dan Betty, dua mahasiswi yang juga mengikuti kami, langsung menghubungi keluarga Ariana. Karena kebetulan rumah mereka bertiga tak terlalu jauh juga.
"Gimana, orang tua Ariana mau ke sini 'kan?" tanya kak Azzam setelah Betty menutup teleponnya.
"Mungkin diwakili oleh pengasuhnya."
"Memang orang tuanya?" tanyaku ingin tahu kehidupan sehari-hari Ariana.
"Orang tuanya terlalu sibuk. Mereka jarang ada di rumah," jelas Betty.
"Oh gitu. Terus, bukannya Virgin itu sahabat Ariana paling dekat ya? Kemana dia?"
"Iya, mereka memilih bersahabat karena selevel, dan sama-sama tak terlalu diawasi orang tuanya. Orang tua Virgin malah jarang pulang ke negara ini. Makanya mereka berdua lebih memilih bersahabat, meskipun sebenarnya rumahku yang paling dekat dengan Ariana. Kalau soal keberadaan Virgin sekarang, saya juga tak tahu. Dari tadi gak kelihatan sama sekali. "
"Apa kalian tahu, kira-kira ada yang aneh tidak pada mereka berdua akhir-akhir ini?" tanyaku lagi.
"Aneh? Ehmmm..... Apa ya? Tahu nggak Lin?" tanya Betty pada temannya, yang dari tadi cuma sebagai pendengar saja.
"Sebenarnya ini sudah aku pikirkan sebelumnya, cuma gak pernah ku tanyakan pada teman lainnya. Aku pernah lihat kalau perut Virgin sempat membesar, waktu kita di toilet bersama," jelas Lin.
"Maksudnya, Virgin pernah hamil? Kira-kira, kapan kamu lihat dia itu?" tanyaku lagi.
"Sekitar seminggu sebelum ditemukannya bayi dalam loker. Waktu itu, baju belakangnya tak sengaja tersangkut pintu yang baru dia tutup dibelakangnya. Jadi kelihatan perut buncitnya karena bajunya ketarik."
"Kalau sekarang, kira-kira gimana kondisi perutnya menurutmu? Apa berbeda dengan sewaktu kamu lihat di toilet?"
"Sekarang meski bajunya tetap lebar di bagian perut, tapi jauh berbeda. Terutama setelah ditemukannya bayi di loker itu. Aku sebenarnya sedikit curiga padanya, tapi karena takut dan belum menemukan bukti, aku memilih diam saja. Sampai kau tanyakan tadi," jelas Lin lagi.
" Oke, terima kasih informasi yang sangat berharga ini. Semoga kita bisa mengungkap kebenaran, dan menghentikan teror yang masih merajalela di kampus kita," balasku.
" Amiin....., " jawab mereka bersama.
Baru saja obrolan kami tutup, seorang dokter keluar dari ruangan di depan kami. Menyatakan kalau Ariana masih belum sadarkan diri. Dan harus dirawat di rumah sakit ini.
" Oke, kalau gitu aku pamit cari Virgin dulu ya. Sepertinya dia juga dalam bahaya," kataku pamit pada dua teman kampusku.
"Sip, nanti kabari kalau ada informasi. Aku juga penasaran soalnya," jawab Lin.
__ADS_1
"Insyaa Allah, doakan ketemu ya. Titip Ariana juga, sampai keluarganya datang nanti," ucapku sambil berlalu pergi meninggalkan rumah sakit ini.
Aku dan kak Azzam kembali menuju kampus, guna mencari keberadaan Virgin saat ini. Mulai dari taman kampus, masih belum ku temukan sosoknya di sekitar sini.
" Kak, apa kita coba ke ruang loker aja ya?" usulku.
"Gak mungkin kayaknya. Apa dia berani ke sana sendiri?" ragu kak Azzam.
"Coba dulu deh!"
Kami berdua kembali menyusuri jalan di kampus ini. Menuju ruang loker seperti rencana kami. Sambil sesekali celingukan di sepanjang jalan yang kita lalui.
Setibanya di ruangan loker, ku lihat seseorang sedang berjongkok di pojoknya. Sambil menangis sesenggukan dengan lutut di depan dada, antara marah dan ketakutan.
"Virgin?" panggilku mendekat, sedangkan kak Azzam masih berdiam di tempatnya berdiri saat kami baru masuk ruangan ini.
"Hik... Hik.... Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya sambil memghapus air mata.
"Kamu yang kenapa? Ayo kita keluar dari sini!" ajakku ikut berjongkok di sebelahnya.
"Aku antar pulang yuk, biar lebih tenang."
Bujuk rayu sudah ku usahakan. Sampai akhirnya dia mau menurut pulang, tanpa mau bercerita sepatah katapun di sepanjang jalan.
"Itu rumahku!" tunjuknya pada sebuah rumah mirip istana di depan mobil kami hendak berhenti.
Virgin memanggil satpam yang berjaga, untuk segera membukakan pagarnya.
"Bawa masuk mobilnya ke halaman. Hik....apa Ariana baik-baik saja?" tanyanya sambil sesekali memegang punggungnya yang masih terlihat sosok mirip bayi yang menempel di sana.
"Masih belum siuman. Tapi dokter akan terus mengusahakan," jawabku masih mengamati sosok bayi itu.
"Kamu lihat apa?" tanya Virgin sedikit curiga pada arah mataku.
"Boleh kita bicara berdua?" usulku, karena ku rasa pembicaraan sesama wanita akan lebih enak nantinya.
"Aku tunggu di teras saja. Kalau kalian mau bicara, silahkan," kata kak Azzam duduk di depan taman rumah megah ini, setelah mengunci mobil Rey yang terparkir di halaman, yang luasnya hampir sama dengan seluruh bagian rumah Yumna.
__ADS_1
"Baiklah, kita bicara di taman belakang dekat kolam renang. Biar lebih nyaman," ajak Virgin.
Kami berdua memisahakan diri dari kak Azzam, menuju taman yang dibicarakan Virgin. Halaman taman di belakang rumah memang tak seluas bagian depan. Tapi terdapat kolam renang, alat-alat gym, dan beberapa gazebo sebagai tempat yang paling nyaman untuk bersantai di saat pikiran mulai penat.
"Silahkan duduk. Langsung pada intinya saja ya. Aku dengar, kamu punya kelebihan bisa melihat sosok tak kasat mata? Apa kamu melihatnya di sekitarku?" tanyanya setelah kita baru menempelkan tubuh di salah satu gazebonya.
"Ya. Aku melihatnya ada di punggungmu. Dia menempel erat, tak mau melepaskanmu. Sebaiknya ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Supaya aku bisa mengusahakan pertolongan untukmu nanti."
"Jadi, sebenarnya hik... Aku yang telah menaruh jasad bayiku di loker F66, kampus kita," katanya memulai, bersamaan dengan suara pecahan gelas kaca di belakang kami.
"Mak?" tanya Virgin memanggil asisten rumah tangganya, yang sedang berjongkok merapikan pecahan kaca itu.
"Mak tak apa?" tanya Virgin sepertinya sangat peduli pada wanita setengah baya itu.
"Apa saya tak salah dengar? Loker F66? Membuang jasad bayi?" ulang Mak setelah menyingkirkan pecahan sekedarnya saja.
"Maaf.... Mak.... Maafkan Virgin. Virgin tak tahu kalau semuanya akan seperti ini. Virgin khilaf, sudah bermain ke tempat yang banyak lelaki tak bertanggung jawab," tangis Virgin pecah.
Selama beberapa saat, mereka berdua larut dalam kesedihan. Saling menangis, menyesali kejadian yang menimpa Virgin. Sampai asisten rumah tangga yang umurnya tak lagi muda itu bicara, tentang masa lalu ayah Virgin, majikannya. Yang membuat kami berdua terperangah bersama.
"Sebenarnya ini bukan kesalahanmu sepenuhnya. Mungkin takdir telah membalaskan perbuatan ayahmu dulu, pada anak gadisnya," jelas Mak menunduk dan terduduk di gazebo bersama kami, setelah Virgin menuntunnya kemari.
"Maksudnya?" tanya Virgin tak mengerti.
"Ayahmu, dulu pernah membuat perempuan mengakhiri hidupnya sendiri, di depan rumah ini. Kurang lebih saat kamu berumur tiga tahun."
"Apa perempuan itu yang punya loker F66?" tanyaku memastikan.
"Iya."
"Bukannya kekasih dari perempuan itu, meninggal akibat serangan jantung saat ujian kelulusan?"
"Bukan. Kurang lebih lima belas tahun yang lalu, ayah Virgin bekerja sebagai dosen di kampus kalian. Tuan yang sudah beristri, menghamili salah satu mahasiswi. Sampai akhirnya nekat mengakhiri hidupnya sendiri di depan rumah ini.".
"Lalu yang kena serangan jantung siapa?" tanyaku lagi.
"Tuan memiliki seorang asisten, yang paling pandai di kelasnya. Nah, untuk tetap membuat baik reputasinya di kampus, setelah kejadian itu, asistennya diminta menginap di rumahnya. Mengaku kalau dialah kekasih perempuan yang mengakhiri hidupnya sendiri," jelasnya membuat kita semakin kaget saat mendengarnya.
__ADS_1