Mata Kedua

Mata Kedua
Kematian Ayah Virgin


__ADS_3

"Fahri cerita lagi tentang sikap kakak dari mahasiswi itu tidak?" tanyaku menanggapi.


"Kakak mahasiswi itu cuma bilang, 'berarti salah sasaran'."


"Maksudnya?" tanyaku tak mengerti.


"Fahri cuma cerita begitu. Pas dia tanya maksudnya, malah dia dibentak dan diusir dari rumahnya. Oh iya, setahun lalu saat Fahri ke rumah mahasiswi itu, orang tuanya cuma tinggal ibunya saja. Karena ayahnya sudah meninggal, seminggu setelah anak perempuannya mengakhiri hidup. Ayahnya terus meratapi sedih kematian tragis tersebut. "


" Berarti, kemungkinan kakaknya mahasiswi itu yang kirim makhluk untuk meneror keluarga Virgin? Kakaknya laki-laki atau perempuan sih?" tanyaku lagi.


" Katanya laki-laki. Malah sempat bilang sama Fahri, kalau dia akan memulai dari anak gadisnya terlebih dahulu."


" Oh ya? "


" Makanya kemarin Fahri itu sempat kecelakaan, saat dia membuntuti Virgin yang lagi antri jajan di pinggir jalan."


"Apa Fahri sering ngikutin Virgin sebelumnya?"


"Semenjak ancaman itu, dia sering ngikutin Virgin. Terutama saat dia sempat melihat Virgin baru masuk hotel bersama kakak dari mahasiswi itu."


"Apa yang menghamili Virgin juga......," tebakku tak berani melanjutkan.


"Fahri bilang iya. Karena setelah ditemukannya bayi di loker, dia langsung menemui laki-laki itu lagi. Bertanya apa benar dia telah melakukan sesuatu yang buruk pada Virgin."


"Trus katanya?"


"Dengan santainya laki-laki itu bilang kalau dia sudah berhasil melakukan satu langkah penghancuran yang sempurna. Dan anak hasil dari penghancuran masa depan Virgin tersebut, sengaja dipersembahkan pada iblis yang sudah membantu membalaskan dendamnya."


"Astaghfirullah. Kejam sekali dia. Berarti sekarang kita harus lebih fokus ke penjagaan Virgin dari laki-laki itu."


"Iya bener."


Tak lama kami duduk di teras ini, suara deru mobil terdengar berhenti di depan kami. Rey dan kak Azzam yang sudah kami tunggu, tergopoh-gopoh turun dari mobil dengan wajah seperti hendak memberi kabar tak enak di hati.


"Ada apa?" tanyaku dan Yumna langsung berdiri.


"Kita ke rumah Virgin sekarang!" kata kak Azzam setelah mereka berdua mendekat.


Kami yang masih bingung hanya bisa melongo, masih diam di tempat. Sedangkan Rey langsung menyambar kunci yang tergantung di balik pintu, untuk segera menguncinya dari luar.


" Kalian kenapa sih? " ganti Yumna ikut bertanya.

__ADS_1


"Ayah Virgin, meninggal!" sahut kak Azzam.


"Kok bisa? Kenapa?" tanyaku.


"Kecelakaan saat baru tiba di negara ini tadi pagi sekali."


"Ayahnya balik ke sini?"


"Katanya cuma ingin menengok keadaan putrinya. Meski tahu dia bukan darah dagingnya, tapi ayahnya masih ada rasa sayang daripada ibunya sendiri."


"So sweet ayah Virgin. Masih sayang meski tahu kalau bukan anak kandungnya."


"Karena ayahnya selalu teringat rasa bersalahnya, pada anak kandung yang ikut terbunuh dalam rahim mahasiswinya," jelas kak Azzam.


"Kalian tahu dari mana?" tanyaku lagi.


"Tadi Mak yang telepon. Kemarin sebelum pulang, aku sempat memberi kartu namaku padanya. Agar bisa menghubungiku, kalau Virgin kesurupan lagi. Eh, gak tahunya malah ditelepon karena ayah Virgin yang meninggal."


"Oke, kalau gitu ayo kita segera ke sana!" langkahku mendahului semuanya.


"Eh, malah ninggalin!" seru semuanya yang mengikuti dari belakang.


Mobil Rey melaju kencang, karena cukup khawatir dengan mental Virgin saat ini. Menyalip setiap kendaraan, dengan cara kemudi yang mumpuni. Sampai akhirnya mulai terlihat jajaran mobil-mobil lain di depan rumah mewah yang kemarin sempat kami kunjungi.


"Eh, itu ada Fahri juga!" telunjuk kak Azzam mengarahkan pandangan kami, untuk melangkah mendekati lelaki jangkung yang terlihat masih lemas dan perban di kepalanya.


"Dia sudah boleh pulang?" tanyaku.


"Entahlah. Seharusnya belum ya, kok bisa di sana?"


Kami terus saja berjalan menghampiri Fahri. Diantara jajaran kursi-kursi yang sudah diduduki. Tapi hampir saja langkah kami sampai di tujuan, dari belakang terdengar kalau peti mati dari jasad ayah Virgin baru saja tiba dengan mobil ambulan. Membuat semuanya berdiri, dan sedikit memberinya jalan.


"Jenasahnya baru tiba?" gumamku pada kak Azzam.


"Iya. Mungkin tadi masih dari rumah sakit!"


Beberapa menit kemudian, jenasah sudah dibawa masuk ke dalam. Kamipun hendak kembali menghampiri tempat Fahri tadi.


"Loh, kemana Fahri? Bukannya tadi dia duduk di situ?" tunjukku pada bangku kosong yang baru mau dipakai duduk oleh orang lain.


"Eh, iya. Tadi Fahri di situ kan!" sahut Yumna sedikit tak percaya.

__ADS_1


"Mungkin kalian salah lihat saja," kata kak Azzam mengajakku masuk menemui Mak dulu, untuk mengecek keadaan Virgin saat ini.


"Masa iya, salah lihat kok bareng-bareng! Bukannya tadi yang nunjukin kalau ada Fahri, dia sendiri ya?" timpalku masih belum puas mencari lagi ke sekitar sini.


"Sudahlah, nanti kalau dia memang di sini, pasti kita bisa ketemu juga. Ayo sebelum ketinggalan langkahnya Azzam!" ajak Rey mendorong kami diantara padatnya pelayat pagi ini.


Kami terus memepetkan badan, agar bisa mencari jalan masuk lebih dalam. Karena pelayat yang sudah berdatangan, membuat rumah yang begitu besar ini terasa sedikit sempit terutama bagian halaman.


Sampai kami tiba di ruang tengah, orang yang berkumpul mulai jarang. Hanya terdapat keluarga dekat, dan para sahabat saja. Termasuk Ariana, yang masih harus duduk di atas kursi roda.


"Mak!" panggil kak Azzam.


"Eh, iya Nak tampan. Akhirnya sampai ke sini juga sama Nak Cantik. Sama siapa lagi ini? Terima kasih ya, sudah mau datang!" sambut Mak menghampiri kami.


"Sama sahabat, Mak. Ini namanya Yumna, sedangkan ini Rey!" kenalku padanya.


"Tampan dan cantik, pasti baik juga seperti mereka berdua ya," tunjuk Mak menunjukku bergantian dengan kak Azzam.


"Siapa bilang kita baik, Mak. Oh iya, bagaimana keadaan Virgin?" tanyaku.


"Virgin sempat kaget juga dengar kematian papanya. Tapi dia tak sampai teriak histeris seperti kemarin, karena katanya dia sudah siap dari semalam."


"Maksudnya?" tanyaku sambil melirik tempat Virgin dan Ariana sedang ngobrol di satu ruangan yang sama denganku, tapi di pojok yang berbeda saking luasnya ruang keluarga.


"Semalam, non Virgin katanya mimpi didatangi oleh anaknya. Bayi itu kelihatan sangat bercahaya, dan digendong oleh kakeknya si bayi, yaitu tuan besar pemilik rumah ini."


"Lalu?" tanyaku lagi.


"Lalu Tuan melambaikan tangan pada nona, dan berbalik arah menuju sebuah titik bercahaya, menjauhi tempat nona Virgin berada."


"Dan aku langsung berpikir apakah papa akan ikut pergi bersama dengan bayi itu? Ternyata benar dugaanku," kata Virgin menyahuti obrolan kami sambil mendekat kemari.


"Berarti kamu sekarang sudah ikhlas akan kejadian yang menimpamu saat ini?" tanyaku.


"Iya, aku ikhlas. Takdir memberi kita pelajaran, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi," kata Virgin.


Baru saja dia menutup bibirnya, dua orang polisi sudah hadir di tengah-tengah kita.


"Permisi, apa bisa saya bertemu dengan nona Virgin dan Ariana?" tanya polisi itu sempat membuat Ariana ketakutan, tapi justru hal berbeda ditunjukkan oleh ekspresi wajah Virgin yang nampak tenang saja.


"Po... Polisi?" tanya Ariana hampir melajukan kursi rodanya menjauhi tempat ini.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pertanggungjawabkan saat ini, semoga meringankan hukuman kita di akhirat nanti," ucap Virgin yang terdengar lebih dewasa sekali.


__ADS_2