Mata Kedua

Mata Kedua
Keluarga Aneh


__ADS_3

"Baiklah. Sebaiknya kita bersihkan diri saja sebelum adzan terdengar. Lengket banget rasanya," kata kak Azzam sambil mencium dan mengibaskan bajunya yang terasa gerah.


"Iya, aku juga pengen cepetan mandi," sahutku mendukungnya.


"Ya sudah, nanti selepas sholat, kita makan bersama ya. Saya akan menyiapkannya dulu," sahut bu Nuri, lemah lembut sekali.


Selesai sholat magrib, aku dan Yumna membantu bu Nuri memasak di dapur rumah ini. Sedangkan kak Azzam dan Rey, duduk di teras depan.


Kami yang sedang di dapur ini, sesekali mengingat masa kecil Yumna dulu. Ada rasa sedih kala terbesit ingatan kejadian bersama nenek Kip yang sudah merawat Yumna, semenjak kematian kedua orang tuanya. Tapi ku coba mengalihkan pembicaraan saja, supaya tak ada lagi air mata.


"Oh iya, tentang hilangnya gadis-gadis di sekitar sini, bagaimana ceritanya?"


"Saya sendiri juga belum tahu apa penyebab dan dimana hilangnya gadis-gadis itu. Karena polisi masih sedang mencari tahu. Yang pasti, semua penduduk kota sudah diingatkan untuk menjaga anak gadisnya. Termasuk kampung kita."


"Berarti bukan cuma di kampung ini hilangnya gadis-gadis? Tapi satu kota juga?" tanyaku.


"Iya, cuma awal mula kehilangan gadis muda, ya dari kampung ini. Martha, kamu kenal pasti. Nah, dia jadi korban hilang untuk pertama kalinya," jelas bu Nuri lagi.


"Ma.. Martha? Astaga, apa dia juga jadi korbannya? Auww....," kaget Yumna saat pisau mengiris telunjuknya, saking shock nya.


"Eh, kamu tak apa? Sebentar saya ambilkan P3K," kata bu Nuri menjauh pergi.


Ku basuh dengan air, jari Yumna yang mengeluarkan darah sangat banyak. Kemudian ku minta dia mengangkatnya, yang harus lebih tinggi dari kepalanya. Sambil menutup sementara dengan tisu, selagi bu Nuri mengambil kotak obatnya.


"Ini P3K-nya. Mana jarinya yang terluka?" tanya bu Nuri.


"Ini, Bu. Alhamdulillah darahnya sudah tak terlalu banyak mengalir. Tinggal dilap dan ditutup perban saja. Tapi jari harus tetap lebih tinggi dari kepala ya," kataku mulai tenang melihat jari Yumna.


"Eh, iya bener. Darahnya hampir berhenti. Kamu siapa yang ngajari?" tanya Yumna melihat lukanya.


"Bunda. Beliau pernah melakukan itu padaku juga. Saat belajar memasak, sampai jariku terluka."


"Kok wajahnya langsung sedih? Kamu kangen bundamu ya?"


"Iya, heh.... Tapi aku pasti bisa membuatnya bangga suati saat nanti," yakinku mulai menepis kesedihan ini.

__ADS_1


"Nah, itu baru Aish yang ku kenal. Kita berjuang sama-sama ya," sahut Yumna memelukku.


"Ya sudah, kalian sebaiknya bantu menata meja saja. Ini susah hampir matang juga," kata bu Nuri menunjuk masakannya yang masig meletup di atas kompornya.


Makan malam terasa nikmat sekali. Kemudian kami berlima, berkumpul di ruang santai keluarga ini. Bersenda gurau, sambil menonton televisi.


" Eh, rumahmu sekarang siapa yang nempati sih?" tanya kak Azzam pada Yumna.


"Kenapa memangnya?" tanya Yumna balik.


"Eh, ditanya ganti nanya. Kenapa kita tak tinggal di rumahmu saja?"


"Sudah jadi milik orang lain. Buat beli tanah dan modal usaha di kota, tempat tinggalku bersama kalian."


"Ohh, memangnya orang mana yang beli? Kok gak kelihatan keluar rumah sama sekali dari tadi?" tanya kak Azzam lagi.


"Jangankan kalian, saya saja tetangga dekatnya jarang lihat mereka," sahut bu Nuri.


"Mereka? Berarti, lebih dari satu orang yang tinggal di sana?"


"Kok bisa? Tapi mereka masih keluar rumah buat kerja atau sekolah 'kan?" tanya kak Azzam lagi.


"Kakak sekarang jadi lebih kepo daripada aku ya?" sahutku menggodanya, membuat kmi semua tertawa.


"Aku penasaran, juga sedikit curiga."


"Curiga kenapa?"


"Aku tak pernah melihat orang keluar masuk dari sana. Tapi malah sosok-sosok perempuan seperti yang kita lihat di jalan tadi, yang sibuk berlalu lalang, masih tanpa ekspresi."


"Sosok perempuan? Maksudnya makhluk tak kasat mata?" tanya bu Nuri, membuat kami mengangguk semua.


"Apa kalian semua bisa melihatnya, seperti Yumna?" tanyany lagi, masih dengan anggukan yang sama.


"Semoga dengan kehadiran kalian di sini, bisa memecahkan kasus hilangnya gadis-gadis tak berdosa itu," harap bu Nuri kemudian.

__ADS_1


"Amiin. Mohon bantuannya, untuk informasi tentang mereka," jawab kak Azzam lagi.


"Mereka pindah sekitar dua tahun yang lalu. Tapi semenjak tinggal di situ, tak terlihat mereka akrab dengan salah satu tetangga di sini. Bahkan pekerjaan mereka pun, kami tak ada yang mengetahui."


"Trus, apa yang mereka lakukan sehari-hari?" tanyaku lagi.


"Saya juga tak tahu, dan tak mau tahu. Karena saya sudah mencoba mengakrabkan diri saat melihat istri dari pemilik rumah keluar untuk belanja kebutuhan seminggu sekali di toserba depan sana. Tapi tak ada niat baik dalam bertetangga dari mereka. Tak ada jawaban atas pertanyaan basa basi saya."


" Memang ibu tanya apa? " sahut Yumna iba dengan orang yang sudah ikut merawatnya.


" Saya cuma bertanya mau masak apa? Tapi beliau cuma melirik, dan melengos pergi begitu saja. Padahal rumah saya yang paling dekat dari pada tetangga lainnya. "


" Mungkin mereka memang membatasi bergaul dengan para tetangga," sahut Rey mulai ikut bicara.


" Lalu untuk anak dan suaminya? Pasti tiap hari keluar rumah untuk kerja atau sekolah kan? " tanyaku.


" Entahlah. Saya tak pernah melihat mereka keluar rumah. Anaknya ada dua, peremouan semua. Kurang lebih yang besar seumuran kalian juga. Kalau adiknya, harusnya sekitar tujuh belas tahunan umurnya. Tapi tak ada yang pernah terlihat keluar untuk sekolah."


"Keluarga yang aneh. Tak ada pekerjaan, maupun sekolah. Keluar hanya untuk belanja, dan itupun hanya seminggu sekali. Betah sekali mereka ya?" sahutku lagi.


"Sudahlah. Tak usah urusi keluarga yang tak mau berbaur dengan manusia pada umumnya. Sekarang juga sudah mulai malam, sebaiknya kalian tidur untuk lanjut besok ke makam," kata bu Nuri.


"Baiklah. Kami istirahat dulu saja. Terima kasih banyak atas jamuannya," kataku sebelum pergi ke kamar bersama Yumna.


"Saya yang harusnya berterima kasih. Kalian sudah mau menemani saya tinggal di sini, selagi suami masih ke luar kota untuk pekerjaannya."


"Sama-sama, Bu. Selamat malam, mimpi indah, Ibu," kata Yumna memeluk sejenak tubuh di depannya.


"Mimpi indah juga ya, Anak-anak!"


Kami menuju ke kamar masing-masing. Tapi ternyata sesampainya di dalam, aku dan Yumna sama-sama tak dapat memejamkan mata. Rasanya masih banyak pertanyaan dalam kepala, tentang keluarga mereka. Kelurga yang menempati rumah Yumna.


" Aish, belum tidur juga?" tanya Yumna saat melihatku krasak-krusuk di atas kasur.


"Iya, masih kepikiran keluarga aneh itu. Apa mereka benar-benar ada hubungannya ya, sama hilangnya gadis-gadis di kota ini?"

__ADS_1


"Besok kita cari tahu, setelah pulang dari makan nenekku," jawab Yumna membuatku lega, dan memejamkan mata.


__ADS_2