Mata Kedua

Mata Kedua
Akhir Keluarga Memey


__ADS_3

Pukul empat kurang lima menit....


Setelah suster datang untuk memeriksa kak Azzam, aku ijin pamit sebentar. Memastikan tentang perkataan Memey dalam mimpi semalam.


Aku mengira, mungkin hanya pengawal saja yang menjemput jenazahnya. Karena hal buruk menimpa ayah Memey yang merupakan pembalasan darinya.


Sebenarnya ada rasa ingin mencegah, tapi aku tak tahu kemana. Karena bagaimanapun juga, nyawa manusia bukanlah untuk permainan iblis semata.


Tapi sayangnya aku tak tahu alamat rumah Memey pastinya, ditambah keadaankak Azzam yang tak mungkin ku tinggalkan.


Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah menolong mereka. Dari gangguan iblis maupun manusia berhati kejam melebihinya.


"Kak, aku keluar sebentar ya," pamitku mencium punggung tangan kak Azzam dengan takzim.


"Mau kemana?"


"Nanti akan aku ceritakan!"


"Oke, hati-hati ya!" jawabnya seperti biasa, tanpa menelisik lebih dalam meski aku belum sempat bercerita selengkapnya.


"Suster, nitip kak Azzam sebentar ya. Aku ingin melihat keluarga kak Azril yang akan mengambil jenazahnya pagi ini."


"Iya, saya akan di sini sampai kamu kembali. Ini masih harus memeriksa keadaan Azzam seluruhnya. Kalau dia sudah menunjukkan perubahan baik, kami akan memindahkan ke ruang perawatan saja."


"Terima kasih, Suster!"


"Nanti tunggu saja di depan resepsionis. Katanya ambulannya sudah siap di sana. Tinggal menunggu penjemputnya tiba," petunjuk suster dengan nama Nana di tagname-nya.


Aku keluar dari kamar ini. Kembali menuju lorong seperti yang ku lakukan semalam. Menyusuri setiap jengkalnya tanpa hambatan. Sampai tiba di tempat yang diberitahu oleh suster Nana barusan.


Baru saja aku duduk di kursi tunggunya, sebuah mobil mewah mulai berhenti di sebelah ambulan. Keluar seorang lelaki tanpa pengawal, hanya ditemani seorang sopir yang hampir sebaya dengannya, menuju tempat pembayaran.


Ku tunggu sejenak, kemudian menghampirinya setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit atas jenazah kak Azril. Karena sempat ku dengar, saat beliau menyebutkan maksudnya datang ke sini untuk pengambilan jenazah sesuai janji.


"Permisi, apa anda orang tua Memey?" tanyaku pada lelaki lumayan berumur itu.


Ada sedikit kelegaan di hati. Karena dia sepertinya baik-baik saja, tanpa ada gangguan yang menimpa.


Tapi guratan wajahnya langsung menampakkan kesedihan yang mendalam saat aku menyebut nama putri semata wayangnya. Ada tetesan air mengalir dari pelupuk mata tiba-tiba.


"Maaf, kalau saya salah. Tapi kalau benar, boleh kita mengobrol sebentar?" tanyaku menalnjutkan.


"Kita mengobrol di rumah saya saja. Saya ingin segera memakamkan anak tak berdosa ini," jelasnya pelan.

__ADS_1


"Maksudnya? Tapi anda benar ayahnya Memey 'kan?" tanyaku lagi.


"Iya, saya ayahnya. Saya yang telah merusak semuanya. Saya tak punya kuasa, dan mau menuruti semua perkataan istri saya. Karena saya sangat mencintainya."


Ayah Memey terlihat sangat lemas, kemudian bersimpuh di lantai rumah sakit ini. Menangis tersedu-sedu, sambil meminta maaf kepada Memey yang sosoknya sedang tak nampak di sekitar kami.


" Suster.... Sus...., tolong! "


Langsung ku panggil para perawat untuk membantunya berdiri. Namun kesadarannya lama-lama juga mulai hilang, dan pingsan saat supirnya berusaha memapahnya kembali ke mobil mereka.


"Dibawa ke UGD saja, Pak?" tawarku pada supir itu.


"Tapi.... Saya tak berani kalau nanti nyonya marah. Beliau sedang menunggu kami sekarang," jawab supir bingung sendiri.


"Saya yang akan bertanggung jawab kalau nyonya besarnya marah nanti. Yang penting, selamatkan bapak ini dulu," kataku membantunya memindahkan ke ruang UGD untuk diperiksa.


"Baiklah kalau begitu," kata supir menyanggupi.


Aku dan pak supir menunggu di depan ruangan pemeriksaan. Saat tiba-tiba nomor teleponnya berdering kencang.


" Gawat! " kata supir itu belum berani mengangkatnya, setelah melihat nama si penelpon.


" Kenapa tidak diangkat?"


"Lebih baik diangkat saja. Toh bukan nyonya sendiri yang bicara."


"Iya, akan saya angkat. Semoga saja saya tidak dipecat."


"Jangan khawatirkan itu, Pak. Allah sudah memberi rejeki untuk masing-masing orang. Silahkan diangkat saja!" kataku memberi semangat.


"Halo......," katanya mulai mendengarkan si penelpon dari seberang.


Aku yang menunggu ikut terdiam, mengamati pak supir yang nampak kaget, bukan lagi ketakutan.


"Apa? Ludes semua?" kata supir itu lagi.


Masih ku amati percakapan satu arah di depanku ini. Tanpa ku tahu apa yang mereka bicarakan sejak tadi.


"Hehhhh..... Baiklah, akan saya jaga tuan di sini. Soalnya tuang juga lagi pingsan. Semoga saja bisa menerima kenyataan," kata supir menutup sambungan teleponnya barusan.


"Kenapa, Pak?" tanyaku saat melihat supir mulai terdiam.


"Rumah....," katanya, bingung memulai bercerita.

__ADS_1


"Rumah kenapa?"


"Rumah nyonya kebakaran. Habis semua harta mereka, meski pemadam sudah dikerahkan. Sekarang masih proses pencarian nyonya yang terjebak di dalam. Dan api juga belum sepenuhnya padam."


"Astaghfirullah."


"Mungkin ini akhir dari perjalanan mereka menyembah iblis," lanjut supir itu.


"Bapak tahu?"


"Iya, hanya saya yang tahu semua yang terjadi di rumahnya. Karena saya sudah menjadi sahabat ayah Memey, sebelum mereka sukses karena bantuan iblis."


"Kalau bapak tahu, kenapa tak memperingatkan mereka?"


"Justru saya takut dipecat bukan karena takut kehilangan penghasilan. Tapi saya takut tak bisa menjaga sahabat saya, dari ketamakan istrinya."


"Maksudnya? Yang menjadi pemuja iblis itu, istrinya?"


"Iya. Ayah Memey terlalu mencintainya. Dia rela melakukan apapun, yang penting istrinya bahagia. Sampai anak mereka juga ikut menjadi tumbal meski tak sengaja."


"Berarti, ayah Memey juga korban dari istrinya?"


"Kalau dibilang korban, sebenarnya ayah Memey juga ikut melakukan pemujaan. Tapi atas perintah istrinya. Mungkin di depan orang lain, ayah Memey nampak menguasai segalanya. Ditakuti semua orang. Padahal, sebenarnya dia hanya boneka istrinya saja. Itu yang dikatakannya pada saya, sebagai sahabat sekaligus supirnya. "


Saat kami berbincang, mulai tercium aroma melati yang menyengat di sekitar sini. Tanpa ada bau anyir yang mengiringi.


" Memey, " gumamku melihat dia baru keluar menembus pintu ruangan UGD bersama Azril, bergandeng tangan.


" Tolong doakan aku. Kami sudah menyelesaikan semuanya, supaya iblis tak lagi meminta korban selanjutnya," katanya pergi menuju cahaya menyilaukan di depan sana.


"Memey?" tanya pak supir mengagetkanku.


"Dia sudah pergi dengan tenang, bersama kekasihnya," kataku menjelaskan.


Baru saja ku ucapkan hal itu, seorang suster nampak gugup keluar untuk mengambil alat pemicu jantung. Dia tergopoh-gopoh, membuat kami berdua langsung berdiri seketika.


"Apa ada masalah ya, Pak?" tanyaku menatap supir itu.


"Mungkin setelah tempat ritual mereka terbakar, mereka harus membayarnya dengan pengorbanan menjadi budak iblis selamanya. Aku belum sempat menyelamatkan dia, untuk menjauh dari godaan dunia," kata pak supir sudah terlihat pasrah sekali.


Beberapa waktu kemudian, seorang dokter mulai keluar. Mengabarkan kalau ayah Memey tak bisa diselamatkan. Ada tangisan dari supir sekaligus sahabatnya, sebagai penyesalan karena belum sempat meluruskan. Tapi takdir sudah mengambil bagian, kalau semua sudah dijalur yang benar, sesuai perbuatan yang sudah dilakukan.


"Mungkin memang ini jalan hidup mereka. Memey pasti puas melihat semuanya. Saat tak ada lagi tumbal yang diminta. Karena dia yang paling menentang keras perilaku orang tuanya," kata pak supir lagi.

__ADS_1


"Mereka sudah pergi ke alamnya. Sekarang tugas kita memakamkan yang layak untuk jasadnya," kataku mengingatkan pak supir untuk melakukan tugas selanjutnya.


__ADS_2