
Aku kembali ke ruangan kak Azzam. Meminta ijin untuk pergi ke luar rumah sakit sebentar. Menyelesaikan pemakaman para keluarga Memey agar tak terabaikan.
"Iya, hati-hati ya. Sebentar lagi juga Umi dah sampai ke sini," kata kak Azzam menenangkan.
"Kakak yakin?"
"Kamu tenang saja, aku sudah baik-baik saja sekarang," kata kak Azzam memberi senyum tulusnya padaku.
"Terima kasih, Kak. Nanti kalau jadi pindah ke kamar perawatan, tolong kirim pesan ya. Biar aku bisa langsung menuju ke kamar kakak nanti," kataku mengambil tas selempang dari atas nakas, setelah menyelesaikan semua urusan yang diperlukan di ruangan ini.
Ku elus rambut lurus yang menimpa dahi kak Azzam. Kemudian beranjak pergi setelah memberi senyum untuk menyemangati kesembuhannya.
" Suster, terima kasih ya sudah menjaga kak Azzam."
"Iya, hati-hati di jalan!" kata suster masih mencatat beberapa tulisan pada papan di tangannya.
"Assalamu'alaikum, " kataku pamit pada semua, sebelum meninggalkan ruangan ini untuk membantu mengurus pemakaman nanti.
"Wa'alaikumsalam," jawaban yang sempat ku dengar, sebelum ku buka pintu ruangan ini.
Sudah tak ada lagi yang tersisa dari keluarga Memey, yang sempat menikmati hasil dari kekayaan setan. Sedangkan keluarga besar lainnya juga tak mau ikut campur, agar tak terlibat dengan masalah yang berhubungan dengan kekayaan semu yang sudah mereka dilakukan. Jadi aku merasa harus membantu, apabila nanti ada yang dibutuhkan.
Ku keluarkan gawai sambil terus berjalan melewati lorong. Masih mencari aplikasi ojek online untuk mengantarku nanti. Sambil terus menuju ke luar rumah sakit ini. Sampai saat tiba-tiba, ada yang menabrakku yang masih fokus tertunduk saat berjalan di sini.
"Aaauuu......," kataku setelah seorang pria seumuran denganku, tergopoh-gopoh sampai menabrak dan membuat ponselku terlempar jauh.
"Maaf, maafkan saya. Ini ponsel anda, dan ini kartu nama saya. Nanti kalau ada kerusakan, silahkan kamu minta ganti ruginya," katanya langsung berlalu pergi, tanpa menunggu sepatah kata yang belum sempat keluar dari mulutku.
"Ini orang kenapa sih? Siapa lagi yang mengikuti dia dari belakang," kataku menatap punggungnya pergi, dengan diikuti sesosok wanita dengan aroma anyir yang menguar seketika.
Wanita dengan lubang menganga di belakang kepala, masih terus berjalan mengikuti di setiap langkahnya.
"Semoga dia baik-baik saja," gumamku memalingkan wajah, untuk kembali melanjutkan berjalan keluar.
Masih ku coba mengutak-atik aplikasi ini. Tapi nampaknya terlalu pagi, sampai belum ku temukan tukang ojek yang bisa mengantar ke rumah Memey seperti petunjuk sopirnya tadi.
__ADS_1
Sampai di depan gerbang rumah sakit, aku masih celingukan mencari. Barangkali ada angkutan umum yang bisa ku naiki.
Setengah jam berlalu, masih belum ku dapatkan tumpangan menuju rumah yang hendak dilakukan pemakaman. Sampai sebuah mobil berhenti, di sebelah kananku yang masih berdiri.
"Hei, kamu yang tadi 'kan?" sapa lelaki dari balik kemudi.
Lelaki yang sempat menabrakku saat berjalan di lorong rumah sakit tadi, masih diikuti sosok berbaju merah di dalam mobilnya. Sosok itu diam dan ikut menatap tajam padaku yang merasakan keberadaannya.
"Eh, iya. Gak apa-apa kok, ponselku masih normal," jawabku menunjukkan ponsel di tangan.
"Sekali lagi maaf ya."
"Iya, santai aja!" jawabku kembali celingukan mencari angkutan, tanpa memperdulikan kehadiran makhluk tak kasat mata itu, agar tak menambah masalah baru.
"Mau kemana? Lagi nunggu orang atau angkutan?" tanya laki-laki itu masih melihat tingkahku.
"Mau ke pemakaman teman," jawabku kembali melihatnya, masih dengan tatapan tajam di belakangnya.
"Kalau jam segini masih sepi. Ayo aku antar! Dimana alamatnya?"
"Tak usah. Nanti malah merepotkan."
Laki-laki itu membuka pintu sampingnya, agar aku segera masuk ke sebelah tempat duduknya.
"Tapi.....," baru saja hendak ku tolak tawarannya, dia terus saja meminta untuk mengantarku segera.
"Tak ada penolakan. Ayo masuk ke dalam. Soalnya di daerah sini angker, daripada nanti ada yang ingin menakuti, gimana?" katanya mencoba menakutiku sambil menahan tawa.
"Oke, tapi bukan berarti aku ikut kamu karena takut sama ancamanmu lo. Soalnya kamu sendiri yang harusnya hati-hati, karena ada sosok yang terus mengikuti," kataku melirik ke belakang kursinya.
"Hahahaaa..... Aku tak terlalu percaya sama hal begituan. Oh iya, alamatnya dimana?" tanyanya.
Ku serahkan secarik kertas pemberian sopir tadi. Langsung dibaca olehnya yang masih berpikir arah yang hendak ditujunya nanti.
"Ini ke arah sana 'kan!" tunjuknya sedikit ragu.
__ADS_1
"Iya, mungkin. Apa kamu keberatan mengantarku ke sana?"
"Oh, tidak. Aku hanya memastikan saja. Apa kamu yakin mau ke alamat ini?"
"Iya, aku yakin. Kenapa? Kayaknya malah kamu yang kurang yakin?"
"Eh... Engg.. Enggak. Baiklah, aku antar ke sana!" jawabnya sedikit merasa gugup sambil mulai menjalankan mobilnya.
Ku toleh sebentar ke arah sosok tadi. Dia terlihat menyeringai sambil meneteskan darah dari kelopak matanya untuk menakuti. Bau anyir juga mulai menusuk hidungku dan memenuhi seluruh mobil ini.
"Oh iya, namaku Hildan. Kamu siapa?" tanya lelaki itu membuyarkan lirikanku yang sedang menelisik sosok yang mengikuti.
"Eh, aku Aisyah. Panggil saja Aish!" ucapku ikut memperkenalkan diri.
"Memang temanmu meninggal kenapa?" tanyanya membuka obrolan kami.
"Kena serangan jantung. Kamu sendiri, tadi tergopoh saat berjalan di lorong kenapa?" tanyaku balik mengingat kejadian yang mempertemukan kami.
"Hehhh..... Anak angkatku masuk ruang ICU."
"Anak angkat?"
"Iya, dia anak temanku yang sudah meninggal. Lalu aku kasihan, dan ku rawat saja bersama orang tuaku," jelasnya masih sambil menyetir mobil ini.
"Kenapa kamu yang merawat? Memang temanmu sudah tak punya keluarga? Terus suaminya kemana?"
"Panjang kalau harus diceritakan. Temanku sebatang kara hidup di dunia ini. Lalu dia meninggal saat melahirkan anaknya. Sedangkan suaminya....ehmm...tak tahu dia pergi kemana? Karena dia sudah sering tidur dengan banyak pria sepertinya," jawabnya seperti menyembunyikan sesuatu.
Sosok di belakangnya terlihat sangat murka, saat mendengar jawaban dari Hildan baru saja. Tapi ku biarkan dulu karena belum jelas masalahnya. Sampai tak terasa, mobil sudah berhenti di depan sebuah rumah mewah yang ludes terbakar beserta isinya.
"Itu rumah temanmu?" tanyanya menunjuk ke arah rumah dan melihat kembali catatan alamat di tangannya.
"Iya, akan ada pemakaman keluarganya yang ikut menjadi korban kebakaran. Kamu mau ikut ke dalam?" tanyaku basa basi.
"Eh, tidak. Terima kasih. Ada urusan yang masih harus aku selesaikan. Aku harus mengambil baju ganti untuk anak asuhku yang lagi rumah sakit juga. Sampai ketemu lagi," katanya langsung melajukan mobilnya, setelah melihatku turun dan menutup pintu.
__ADS_1
"Terima kasih!" jawabku sudah tak mungkin terdengar olehnya yang melaju jauh ke jalan raya.
"Nona Aish," panggil seseorang dari belakang tubuhku yang masih bingung melihat sikap aneh lelaki yang mengantarku karena pergi dengan tergesa.