
"Hik.... Hikk..... Jahat!" tangisnya sambil terduduk di pojok ruangan ini.
Aku dan Yumna, segera mendekati, lalu coba konsentrasi. Untuk menanyakan apa yang sedang dia rencanakan saat ini.
"Maaf, kalau aku tadi sempat menyakiti kamu. Tapi aku tak bermaksud seperti itu, kalau kau menurut untuk segera keluar dari tubuh temanku," ucapku ikut berjongkok juga di depannya.
"Kenapa kau ikut campur? Hik... Harusnya lelaki itu pantas mendapat balasannya, dari tunangannya sendiri. Supaya bisa lebih menyedihkan dari apa yang aku alami," kata gadis mengenaskan di depan kami.
"Namamu siapa? Dan apa sebenarnya tujuanmu memasuki badan Nasha? Dia tak tahu apa-apa. Bahkan tentang kelakuan calon suaminya yang sudah merampok dan menghabisi nyawamu juga," timpal Yumna.
"Namaku Disha. Aku hanya ingin menghabisi nyawa lelaki itu, dari tangan calon istrinya. Supaya dia lebih menderita."
"Maaf, tapi itu pemikiran yang salah. Kalau memang terjadi, apa kau tak kasihan melihat Nasha yang ikut menanggung semua akibatnya?"
"Apa maksudnya?" tanya ayah Nasha yang suaranya sudah ada di belakangku.
"Maaf, nanti akan saya jelaskan. Sekarang saya hanya ingin tahu dulu, apa tujuan gadis ini memasuki raga Nasha," jawabku menoleh pada lelaki yang sudah berdiri, tak jauh dariku.
"Gadis? Siapa? Dan apa maksudmu dengan calon suami yang merampok dan menghabisi nyawa?"
"Akan sulit diterima kalau saya yang bercerita. Bagaimana kalau bapak langsung tanyakan pada sosok di depan saya," tawarku membuat alisnya naik karena tak mengerti maksudku.
"Sosok apa? Depanmu cuma tembok saja. Apa saya harus bicara pada tembok itu?"
"Dia adalah korban, dari perilaku calon menantu, Bapak. Dan saya harap, bapak mau mendengarkan dulu, apa yang akan disampaikannya nanti."
"Maksudnya apa? Saya harus bicara sama siapa? Korban apa? Saya memang tak terlalu menyukai Antoni, tapi bukan berarti saya bisa membatalkan lamaran hanya karena cerita yang belum jelas kebenarannya."
" Kalau bapak siap, saya akan menghubungkannya. Agar bapak bisa berkomunikasi dengan sosok tak kasat mata, yang saya maksud sebagai korban Antoni. Bagaimana?"
__ADS_1
"Baiklah. Meski tak terlalu percaya dengan dunia seperti itu, tapi tak ada salahnya saya mencobanya lebih dulu. Terus, sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya ayah Nasha.
"Maaf sebelumnya, boleh pegang kepala saya? Kak Disha, tolong pegang satu tangan saya," kataku yang sepertinya masih dilihat banyak orang di sekitarku.
"Hanya itu saja? Baiklah!"
Tak menunggu lama, ayah Nasha langsung memegang puncak kepalaku. Sesuai arahan dariku.
Aku mulai menutup mata, dan fokus untuk menghubungkan mereka. Ku mohonkan dengan bacaan doa, meminta ijin kepada Allah SWT. Agar dilancarkan semua usaha.
Ku lanjutkan dengan beberapa ayat, dari kitab suci yang ku percaya. Terus konsentrasi untuk melakukannya. Sampai tiba-tiba, terdengar suara kaget dari ayah Nasha.
"Aaaargghhh.... Ka.. Ka... Kamuu? Siapa kamu?" gugup ayah Nasha saat melihat kak Disha yang lehernya bercucuran darah.
"Aku,.... Hikk.... Nyawaku sudah dibuat melayang oleh calon suami dari anakmu."
Meski perlu beberapa saat menenangkan diri, tapi akhirnya ayah Nasha sanggup mendengarkan cerita kak Disha lagi.
Tapi karena dia tak merasa memesan, akhirnya dia tolak dengan halus saja. Dan setelah meladeni beberapa pertanyaan darinya, pemuda itu mulai menanyakan kesendiriannya di tempat tinggal miliknya. Dengan alasan mungkin ada teman, yang memesan makanan yang mereka bawa.
Tapi ternyata setelah diberitahu tentang keadaannya yang sedang sendirian, justru membuat sebuah kesempatan. Salah satu pemuda itu tetap berjaga di dekat pintu. Tapi satu pemuda lagi, yaitu Antoni, langsung mengeksekusi kak Disha di dalam rumahnya. Untuk diambil perhiasan, barang berharga, sekaligus menghabisi nyawanya.
"Antoni, apa benar dia yang melakukannya?" kata ayah Nasha terlihat kecewa sekali.
"Bapak harus bersyukur, karena sudah terungkap sebelum Nasha terikat hubungannya dengan Antoni. Apalagi kalau sampai menikah nanti?" sahut Yumna menenangkan.
"Kamu benar. Dari dulu saya sebenarnya tak terlalu suka dengan anak itu. Tapi demi melihat Nasha bahagia, saya menyetujui pilihannya. Ternyata, kepercayaan yang saya berikan tak dapat dia manfaatkan," sesal ayah Nasha.
"Maaf, Pak. Bisa kita akhiri komunikasi ini? Tubuhku sudah terlalu lemas sekali. Banyak energi yang keluar saat ini," jelasku.
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih, Nak Disha, dan teman-teman Nasha. Saya yang akan mengurus penyelidikan untuk kasusnya nanti. Juga doa bersama mengiringi kepergian nak Disha dari dunia ini, untuk menggantikan acara lamaran malam ini," janji ayah Nasha disambut senyuman oleh kak Disha.
"Saya juga akan menguburkan rambutmu, di dekat tempat ragamu dimakamkan," sahut Yumna semakin membuat Disha puas dan rela melepaskan dendamnya.
"Terima kasih. Saya lebih tenang meninggalkan dunia ini, setelah kalian menepati janji. Dan terima kasih juga, kalian sudah berusaha mengungkap semuanya, meski saya sudah meresahkan banyak manusia karena terbawa dendam yang membara."
"Yang penting kakak bisa tenang ke alam selanjutnya," timpalku melepaskan pegangan itu.
"Pak.... Gimana? Apa yang terjadi?" tanya ibu Nasha yang masih memangku kepala anaknya yang masih pingsan.
"Ayah akan lapor polisi dulu, sebelum Antoni dan keluarganya datang melamar anak kita. Kalian yang di sini sebaiknya pura-pura tak tahu. Ikuti saja apa kataku," sahut ayah Nasha mengambil gawai, dan memberitahu para polisi untuk berjaga sebelum keluarga Antoni datang kemari.
Meski tak semua mengerti apa maksudnya, tapi tak ada yang berani membantahnya.
Persiapan dilanjutkan seperti tak ada apa-apa. Kak Disha yang merasa sedikit lega, terlihat masih berdiri di pojok mengawasi Nasha. Sekarang dia juga tak tega, kalau Nasha kenapa-kenapa.
Sampai tepat jam setengah delapan malam, keluarga Antoni mengabari kalau sudah dekat dari sini. Para polisi yang menyamar dengan baju preman, juga sedang menunggu kedatangan mereka. Bersiap menegakkan keadilan di tempat ini.
Sedangkan Nasha, masih shock dan berdiam diri di dalam kamar setelah siuman dari pingsan. Aku dan Yumna, ikut menenangkan dia.
"Mereka sudah datang," kata ibu Nasha, bersiap ikut mengintip setelah terdengar suara mobil datang.
"Antoni, dasar kau lelaki tak tahu diri. Penjahat!" umpat Nasha mulai geram setelah tahu kalau calon suaminya akan segera masuk ke dalam.
Aku, Yumna, dan ibu Nasha masih mengintip dari balik jendela. Sampai terlihat seorang polisi mendekat dan menunjukkan tanda pengenal miliknya ke sopir mobil.
Tapi dari pintu belakang, pintunya langsung terbuka. Seorang lelaki tergopoh-gopoh keluar dari dalamnya. Berlari tanpa arah, sebelum polisi menjelaskan maksud kedatangannya.
'DUUUUAAAAARRRR.....'
__ADS_1
Suara tembakan terdengar memekakkan telinga. Saat polisi yang berjaga di pintu gerbang dengan siaga kenembak kakinya. Karena pelariannya tanpa menjelaskan apa-apa.