
"Berarti Rey dan Yumna ada di kantor polisi sekarang?" tanya kak Azzam, masih dengan infus yang baru dibetulkan seorang suster, di sebelah kanannya terbaring lemah dalam ambulan.
"Mungkin iya. Kita urus kesehatan kakak dulu, kemudian baru cari keberadaan mereka," ucapku menenangkan kak Azzam.
Perjalanan terasa sangat lenggang, tanpa kemacetan karena suara ambulan dinyalakan. Apalagi suara ledakan tadi membuat para pengendara berkumpul di sekitar pujasera, atau malah takut dan pulang ke rumah mereka.
Tak perlu waktu lama, tak lebih dari setengah jam kita sudah tiba di rumah sakit Suaka Medika. Rumah sakit terdekat dari pujasera.
"Kak, aku urus administrsinya dulu ya," pamitku harus berlarian sendiri, supaya kak Azzam bisa segera ditangani.
Ke sana kemari ku langkahkan kaki. Mencoba terus kuat untuk menghadapi. Sampai akhirnya kami mendapatkan ruang perawatan yang memadai.
" Alhamdulillah, dapat kamar juga. Apa aku perlu hubungi umi?" tanyaku meminta pendapatnya setelah kita berada di ruang perawatan sesuai saran dokter penjaga di sini.
"Jangan. Aku tak mau umi dan abi tahu," jawabnya sebelum terlelap sendiri, merasakan obat penenang yang sempat diberikan padanya tadi.
"Hehh.... Ya sudah. Aku juga mau tidur sebentar di sofa, sebelum adzan subuh berkumandang," gumamku sendiri merebahkan tubuh ini,setelah sholat isya' ku jalankan di ruangan ini.
Mata sudah ku pejamkan. Lampu ruangan juga mulai diredupkan, sesuai mode tidur oleh perawat yang memeriksa kak Azzam barusan. Supaya kami bisa istirahat dengan tenang, dan menjadi lebih baik saat mata terbuka kembali esok hari.
" Aiisshhh..... Maaf... Maaff...., " suara perempuan terdengar lirih di telinga.
Berusaha ku buka mata, meski masih berat rasanya.
"Huaaahmm....," suaraku berusaha membelalakkan mata lagi, dengan menguceknya dalam keredupan ruangan ini.
"Aish... Maaf...," suara lirih itu masih terus terdengar di sekitar sini. Padahal tadi ku kira aku hanya mimpi.
"Siapa kamu?"
Aku langsung berdiri, mencoba waspada ke sekitar tempat kami.
"Aishh.....," suaranya semakin mendekat.
Mulai terlihat sosok dalam gelap di ujung tembok ruangan di depanku. Persis sosok Tissa tapi dengan darah dimana-mana. Terutama di setiap persendiannya.
"Ka.. Kamu Tissa kan?"
Baru saja lampu akan ku nyalakan, tangan basah Tissa disertai bau anyir, secepat kilat mencegahku melakukannya.
"Jangan. Biarkan seperti ini. Aku tak ingin membuatmu takut nanti," jawabnya.
"Aku tak takut. Tapi kalau itu maumu, aku tak akan menyalakannya. Tapi tolong ceritakan padaku, apa kamu sudah bukan manusia?"
"Iya, nyawaku sudah dibuat melayang oleh seseorang yang kita kenal."
"Pak Rendi?"
__ADS_1
"Iya, siapa lagi. Kamu sudah tahu kelakuan aslinya bukan?"
"Ya. Tapi bagaimana caranya, dan apa tujuannya?"
"Hik.... Malam itu, aku pergi ke pujasera seperti biasa. Mencoba menaruh sesajen untuk memikat hati bos Rey, sebelum dia datang ke sana," tangisnya sambil menundukkan kepala.
"Tapi ternyata, kemalangan menimpaku saat itu juga. Aku tak sengaja melihat pak Rendi datang bersama para preman untuk menghancurkan pujasera," lanjutnya menangis tersedu-sedu, masih dengan bau anyir semakin menusuk hidungku.
"Sebentar. Jadi yang menaruh sesajen di sana, kamu? Untuk memikat hati Rey?" tanyaku memperjelas ceritanya, barangkali aku salah dengar tadi.
"Ya. Aku suka sama dia."
"Lalu, apa kamu juga yang berusaha mencelakai kak Raisha, dan menghancurkan pujasera?" tanyaku lagi pada sosok itu.
"Pak Rendi dan premannya yang merusaknya. Tapi, kak Raisha....," katanya menghentikan pembicaraan.
"Kenapa?"
"Maaf, kak Raisha menjadi korbanku juga. Tak sengaja."
"Maksudnya?"
"Orang pintar yang aku minta untuk memikat hati bos Rey, ternyata punya masalah pribadi dengan suami kak Raisha terlebih dahulu. Kemudian, karena aku tahu kak Raisha sempat memergoki kami melakukan ritual di pujasera, jadi ku ijinkan saja dukun itu melancarkan aksinya kepada kak Raisha. "
" Astaghfirullah. Kenapa rumit sekali? "
" Oke, berarti masalahmu sebenarnya cuma sama Rey saja. Lalu, kebetulan kak Raisha mengetahui ritual kalian, dan sang dukun mengenalnya. Melancarkan balas dendam sendiri, tanpa kamu minta? "
" Iya. "
" Tapi, aku dengar kalau sosok itu sebenarnya mengincar pujasera. Dan kak Raisha hanya sebagai bonusnya. Apa dukun itu juga ingin menghancurkan pujasera? Untuk apa?" tanyaku lagi.
Aku hanya ingin memperjelas semuanya, dan membuat Tissa mengakui sepenuhnya. Karena nampaknya masih ada cerita lain yang disembunyikan olehnya.
" Kalau itu, setahuku si dukun mengadakan perjanjian saling menguntungkan dengan makhluk di sana."
" Maksudnya? "
" Jadi, makhluk itu bisa menghancurkan pujasera karena dianggap mengganggu wilayahnya. Sedangkan si dukun bisa mendapatkan kak Raisha, untuk dijadikan istri kesekiannya. Tentunya setelah dibuat linglung karena masuk dalam ritual pernikahan di gunung dekat pujasera. Ditambah, si dukun sudah terlanjur sakit hati juga sama bos Rey. "
" Kenapa? "
" Dulu di awal pembukaan pujasera, si dukun pernah mengirim teluh pada kak Raisha, yang digagalkan Rey. Tapi ternyata, usaha keduanya juga kamu gagalkan sebelum terlaksana pernikahan mereka. "
" Kamu bilang kalau kamu ingin memikat Rey? Tapi kenapa pakai jasa dukun yang punya dendam sama Rey juga? "
" Awalnya aku tak tahu itu. Tapi setelah dia bilang kalau punya masalah sama Rey, kami melakukan kesepakatan. Dia boleh menghancurkan Rey lewat usaha impiannya saja, tapi jangan orangnya. Karena dia milikku."
__ADS_1
" Rey milik Yumna. Kamu tahu itu kan? "
"Dulu aku tak tahu. Tapi setelah tahu, aku tak peduli itu. "
" Kenapa? "
" Karena aku sangat mencintainya. "
" Sekarang keadaanmu seperti ini. Apa kira-kira Rey masih bisa bersanding denganmu? "
" Kamu benar. Ini semua karena Rendi. Dia juga harus mati. Agar aku tenang setelah mengajaknya ke neraka nanti!" serunya menunjukkan amarah yang besar sekali.
" Lalu pak Rendi? Apa ada hubungannya juga sama dukun itu? Apa masalahnya sampai ingin menghancurkan pujasera juga? "
" Aku tak tahu. Sepertinya dia memiliki dendam pribadi sendiri dengan Rey. "
" Hehhh.... Sekarang, kalau kamu cuma berurusan sama pak Rendi, kenapa masih di sini? "
" Aku hanya tak ingin melihat bos Rey dituduh atas kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Karena pak Rendi dan premannya yang telah memotong-motong tubuhku, dan membuatnya terjebak dalam kasus pembunuhanku. "
" Tanpa kau minta, aku pasti mengusahakan untuk membebaskan mereka. Tapi ada yang mengganjal juga dalam pikiranku, kenapa emosi kami seperti dipermainkan di pujasera? Rasanya seperti ingin marah, dan bertengkar satu sama lainnya. "
" Maaf, itu juga salah satu efek sesajen yang ku letakkan di sana. Makhluk penguasa di sana yang membuat kalian terpecah belah, agar mudah menyerang nantinya. Karena kalian selalu menggagalkan rencana mereka."
"Jadi, ini masih ada hubungannya dengan makhluk itu? 'Jil' kan yang kamu maksud?"
"Iya, setahuku itu namanya. Meskipun aku tak pernah bertemu wujudnya, tapi sempat mendengar dari dukun yang ku bawa ke pujasera."
"Baiklah, biar Rey dan Yumna menjadi urusanku untuk membebaskan mereka," kataku mencoba membuatnya lebih tenang, setelah emosi naik turun tak jelas yang dia tunjukkan.
"Terima kasih. Rendi akan menjadi urusanku nanti!" katanya langsung menghilang begitu saja.
"TISSAAAA......," teriakku hendak mencegahnya berbuat kejam pada pak Rendi.
Bagiku sekarang, membuat pak Rendi menggantikan Rey dan Yumna dalam penjara seumur hidupnya saja sudah cukup membuatnya jera.
" Lhoh, kok?" ucapku mengusap mata, setelah sadar baru terbangun di atas sofa. Dengan keringat dingin mengucur seperti baru mengalami kejadian nyata.
"Adek tak apa?" tanya suster yang ternyata sudah menyalakan lampu dengan terang benderang, sambil memeriksa keadaan kak Azzam yang juga sudah membuka matanya.
"Kamu mimpi buruk?" tanya kak Azzam.
"Aku harus segera membebaskan Rey dan Yumna, untuk digantikan pak Rendi di sana. Sebelum Tissa membawanya ke neraka."
"Kamu bicara apa? Tissa itu bukannya temannya Yumna?" tanya kak Azzam lagi.
Belum sempat ku jelaskan mimpiku barusan, adzan subuh sudah mulai berkumandang. Membuatku tersadar, dan terus ber-istighfar.
__ADS_1