
Setelah mengantar keluarga Zul pulang dari makan siang bersama, kami langsung pamit menuju rumah kak Raisha. Dan saat mobil Rey kembali melewati rumah makan tadi, benar dugaan Rey sebelumnya. Bahwa rumah makan itu tiba-tiba sepi. Tak ada antrian sama sekali.
"Kamu lihat?" tanya Rey memelankan mobilnya, supaya kami semua bisa mendengar dan melihat halamannya, yang tak ada orang selain para karyawan.
Meja dan kursi yang biasanya ramai, tiba-tiba kosong tak ada yang menduduki. Ditambah raungan marah seseorang, yang seperti sedang kesurupan.
"Rey, dengar nggak?" tanyaku masih di sebelah Yumna.
"Iya, aku dengar. Biarkan saja mereka menyelesaikan perjanjiannya. Kita tak usah ikut campur sama urusannya," kata Rey tetap melajukan mobilnya menuju rumah kak Raisha.
Aku dan Yumna masih membahas tentang apa yang baru kami alami sebelumnya. Sedangkan Rey, masih terdiam di belakang kemudi sendiri. Sampai tak terasa, rumah kak Raisha sudah terlihat di depan mata kami.
"Ayo turun!" ajak Rey setelah mobil terparkir rapi di depan halaman rumahnya.
Aku dan Yumna melangkah masuk mengikuti kaki Rey berjalan. Sampai sambutan ibu kak Raisha, datang untuk kami bertiga.
"Bagaimana keadaan kak Raisha, Bu?" tanyaku.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik setelah Azzam datang tadi. Mari, silahkan duduk."
"Alhamdulillah. Lalu, dimana kak Azzam sekarang?" tanyaku celingukan di ruang tamu rumah ini.
"Azzam masih antar cucu saya ke warung depan. Katanya pengen sekalian jalan-jalan melihat kampung sekitar sini. Oh iya, mau minum manis nggak?"
"Tak usah repot, kami baru saja makan tadi. Ibu duduk saja di sini, cerita pada kami apa yang terjadi pada kak Raisha?" sahutku mewakili.
"Oh, ya sudah. Nanti kalau haus, minum air mineral kemasan ini gak apa-apa ya. Silahkan makan camilannya juga," kata ibu dari kak Raisha mempersilahkan lagi.
"Jadi, setelah Raisha pulang ke rumah ini lagi, semuanya masih baik-baik saja. Meskipun ada sedikit perbedaan, karena Raisha jadi lebih sering melamun sendiri. Apalagi setelah tahu kalau Rendi ternyata bukan orang baik, dia semakin mengurung dirinya sendiri," lanjutnya memulai cerita.
" Dari mana kak Raisha tau tentang pak Rendi? " tanyaku, karena kejadiannya baru saja terjadi sebelum karyawan masuk kerja lagi.
" Kami punya grup chat di hape. Jadi kalau ada info, langsung bisa nyebar ke semua karyawan. Mungkin ada salah satu karyawan yang tahu kejadiannya," jelas Yumna.
__ADS_1
"Iya, Raisha tahu dari hapenya. Dan setelah itu, dia semakin tidak terkontrol. Berteriak-teriak sendiri, sampai hampir mengakhiri hidupnya," tangis ibu paruh baya itu di depan kami.
"Apa yang diteriakkan kak Raisha?"
"Suaranya bukan seperti Raisha. Dia bilang kalau ini semua tak adil baginya. Lalu ketika Azzam datang tadi, suaranya semakin mirip dengan laki-laki, yang mengaku sebagai dukun sakti."
"Lalu?"
"Di bilang tak akan melepaskan Raisha, kemanapun dia berada," jelasnya lagi masih berlinang air mata.
"Baiklah, sepertinya memang pujasera sudah tak dapat ku pertahankan lagi," karta Rey memutuskan tiba-tiba.
"Tapi, Rey?" tanya Yumna belum selesai bicara.
"Memang pujasera adalah impianku. Tapi kalau itu membahayakan seseorang yang sudah ku anggap seperti kakak bagiku, aku akan merelakannya. Lagi pula, kita bisa membuka usaha di tempat lain. Dan aku sudah memikirkan itu."
"Maaf, bos Rey. Karena Raisha, pujasera ikut mengalami masalah juga," sesal ibunya lagi.
"Bukan hanya karena Raisha. Tapi juga karena danau itu sepertinya sudah tak seindah dulu. Ditambah kejadian mobil meledak, yang membuat pemerintah daerah akan mengambil alih tempat wistanya untuk diperbaiki dan dijadikan wisata umum lagi nantinya."
"Aku sudah dapat tempat baru. Bukan pujasera besar seperti sebelumnya, tapi cuma kafe es krim dengan berbagai masakan khas dari negara Aish. Dan Raisha yang akan tetap menjadi kokinya," sahut Rey tersenyum sedikit.
"Lalu karyawan lainnya?" tanya Yumna.
"Pemerintah yang membangun danau itu sudah setuju, kalau semua karyawan akan dipekerjakan lagi di tempat wisata danau Rubi setelah diperbaiki nanti. Meskipun bukan berupa pujasera, tapi sebagai wahana pemandian keluarga."
"Oke, kita mulai dari nol lagi," kata Yumna memberi dukungan pada kekasihnya.
"Lhoh, sudah di sini semua?" tanya kak Azzam yang baru datang, menggandeng tangan gadis kecil yang memegang plastik makanan ringan.
Obrolan kami lanjutkan, dengan membicarakan rencana pembukaan kafe yang sekarang masih tahap renovasi. Kak Azzam pun menjelaskaan, tetang keadaan kak Raisha saat dia pertama datang kemari.
Menurutnya, sebaiknya kak Raisha juga pindah dari rumah ini. Agar saat serangan itu kesulitan mencarinya lagi. Karena kak Azzam merasa, kalau di halaman rumah ini sudah ditanam benda mistis akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Kakak tahu dari mana kalau ada benda mistis itu?" tanyaku.
"Kak Raisha sendiri yang bilang. Saat dia kerasukan jin suruhan dukun itu."
"Bilangnya gimana?"
"Katanya, dia tak akan pergi dari rumah ini. Karena dukun itu sudah menanamnya di sini."
"Eh, ditanam kayak pohon aja. Kakak tahu, dimana tanam benda itu?"
"Belum. Aku belum melihatnya. Dia juga pandai sekali bersembunyi, seperti saat ini. Tapi kalau dia sudah menunjukkan wujud aslinya, bisa nyawa yang menjadi taruhannya. Aku justru mengkhawatirkan anak ini sebenarnya."
"Kenapa gak diusir saja jinnya?"
"Biarkan dia tinggal di sini. Raisha dan keluarganya bisa tinggal di rumah belakang kafe nanti. Selain supaya tidak jauh, biar rumah itu ada yang menempati. Karena sudah jadi satu sama pembelian kafenya," sahut Rey.
"Terima kasih banyak, kalian terus berusaha membantu kita. Kalau memang rumah ini membuat celaka cucu dan anak saya, sebaiknya memang kita tinggalkan saja."
"Ada apa ramai-ramai di sini? Oh, Bos Rey. Kira-kira kapan pujasera buka lagi?" tanya kak Raisha baru muncul dari balik pintu kamarnya.
"Kakak sudah sehat?" tanyaku bersama Yumna.
"Aku tak sakit. Ya... Cuma pegal-pegal aja rasanya."
Yumna mulai menjelaskan, tentang hasil rencana yang barusan dibicarakan. Setelah mendengar itu semua, nampak wajah kak Raisha yang semula pucat menjadi lebih bersinar.
Serpertinya dia sangat ingin terbebas dari gangguan yang pernah dirasakan. Yang selalu dikhawatirkan juga bisa menggangu kehidupan anaknya nanti, seperti ancaman dukun itu dalam mimpi.
"Oke, besok kita mulai pindahannya. Sambil renovasi kafe yang tinggal sedikit lagi," jelas Rey menunjukkan foto dan video, calon usaha barunya pada kami.
Tempat yang nampak nyaman bagi muda mudi. Dengan beberapa gambar di dinding yang menarik perhatian mereka untuk bisa swafoto di sana. Rey memang anak yang jenius dalam membaca peluang saat ini. Apalagi letak kafe tak jauh dari kampus kami.
"Sip, besok kita bantu membereskannya. Setelah kampus selesai," usulku.
__ADS_1
"Iya, kita sama-sama buka kafenya. Yang rencananya akan diberi nama cafe 'Sahabat'," jelas Rey membuat kita kompak lagi seperti sebelumnya.
"Oh iya, tadi aku lihat di grup kelas, katanya ditemukan janin dalam sebuah loker F66. Siapa ya yang sengaja menaruhnya? Kurang kerjaan banget dia," kata kak Azzam menunjukkan foto dari grup chat kelas kita, yang belum sempat ku cek sebelumnya.