Mata Kedua

Mata Kedua
Akhir Kisah Keluarga Bian


__ADS_3

"Pak.....," kata Rima melotot tajam ke arah laki-laki itu.


Aku yang kaget, tak sadar melepaskan kuncian tangan yang sudah mengikat Rima dari mulai dia mengancamku.


Rima yang mendapat kesempatan itu, langsung mengibaskan tangan, akibat sakit yang dia rasakan. Kemudian menjauh dariku, dan Della yang mencoba merasukinya.


"Saya sudah mendengar tadi, meski tak sepenuhnya. Sekarang jelaskan pada saya, apa benar kamu yang sudah melenyapkan Della dan Dian?" bentak ayah Bian, masih berjongkok memeluk anak lelakinya.


"Maafkan saya, Pak. Saya.... Saya bingung!" tunduknya merasa malu.


"Kamu tunggu di sini, polisi yang akan mengurusnya nanti!"


"Jangan, Pak. Maaf! Biarkan saya pulang ke kampung saja," pintanya memohon sambil menangis, berlutut di tempat ini.


"Enak saja. Setelah kau lenyapkan nyawa istri dan anakku, kau minta dibebaskan begitu saja?"


"Maaf, saya tak bermaksud seperti itu. Saya hanya....hanya terpaksa melakukannya," kata Rima mulai bingung mencari alasan, sambil bergetar ketakutan.


Della masih menatap murka ke arahnya, dengan mata hitam yang melotot tajam. Bersamaan dengan itu, ayah Bian langsung menekan nomor di ponselnya untuk menghubungi polisi, agar Rima bisa segera diadili.


Beberapa saat setelah polisi sudah dihubungi, ayah Bian melihat sosok gadis seumuran anak dalam pelukannya, masih berdiri di pojok ruangan ini.


" Putriku? Kamu putriku? " tanya ayah Bian kaget, antara senang dan sedih bercampur menjadi satu.


"Ayah,... Apa kamu ayahku?" tanya Dian melihat pada Bian yang masih dalam dekapan pria itu.


"Iya, dia ayah kita."


"Ayah...," ucapnya mendekat perlahan, dengan wajah pucat dan kelopak mata menghitam, serta badan kurus tak karuan.


"Iya, Sayang?" panggil ayah Bian, membuka tangannya bersiap memeluk putrinya dengan sebelah tangan.


"Tolong makamkan juga jasad Dian dengan layak!" pinta gadis itu masih berjalan mendekat dengan pelan.


"Maksudnya?" tanya ayah Bian melongo kebingungan.


"Dian pulang ke rumah itu untuk mencari keluarga Dian, setelah mbah Ranggi mati karena digigit ular di hutan," jelas Dian.


"Maksudnya? Kamu selama ini masih hidup? Tidak ditumbalkan oleh dukun beranak itu?" tanya ayah Bian kaget mendengar penuturan anak gadisnya.


"Iya, mbah Ranggi yang merawatku. Meski penyiksaan tak berhenti memenuhi sekujur tubuhku."

__ADS_1


"Disiksa?" tanya ayah Bian lagi, mulai menunjukkaan emosi.


"Iya. Karena katanya aku tak bisa ditumbalkan sebelum datang bulan. Jadi dia terpaksa merawatku, meski dengan penyiksaan setiap waktu."


"Astaghfirullah," gumamku ikut membayangkan penderitaan Dian selama ini.


"Berarti jasadmu ada di rumah lama kita?" tanya ayah Bian masih sambil menangis sesenggukan, melihat jelas luka-luka bekas cambuk sampai memar pukulan di tubuh anaknya.


"Iya."


"Jasad Dian ada di rumah lama kita, yang ada di pelosok desa? " tanya ayah Bian meyakinkan dengan melihat sosok istrinya, yang menjawab dengan anggukan.


"Bagaimana kamu tahu tentang rumah itu?" tanyanya kembali menatap Dian lagi.


"Setelah kematian simbah, Dian beres-beres rumah. Terus Dian ingat kalau simbah pernah menunjukkan foto orang tua Dian. Dan ketemu foto itu, dengan alamat rumahnya. Ditulis dibalik lembarannya."


"Dian ke rumah itu sendiri?" tanya ayahnya.


"Iya, Dian jalan kaki lebih dari satu hari. Tapi sampai di tempat itu, ternyata Dian tak menemukan siapapun. Saat kelaparan tak bisa Dian tahan, akhirnya raga Dian tertinggal di rumah itu," cerita Dian menundukkan kepalanya.


"Saat Dian hampir meninggal, dia tak sengaja menyenggol guci yang mengurungku. Tapi sayangnya terlambat sebelum ku minta pertolongan pada manusia sekitar. Karena rumah lama kita yang sangat jauh dari rumah para tetangga, karena terlalu luas halamannya," timpal Della.


"Jiwanya sudah keluar dari raganya, sekitar sebulan yang lalu. Dan sampai sekarang, raganya masih tertinggal di sana. Tak ada yang menemukan jasadnya sampai sekarang, karena rumah kita berada di paling pojok tanpa jalan menuju ke tempat lainnya," lanjut Della.


"Dian.... Hiks...kamu kelaparan sampai meninggal, Nak? Maafkan ayahmu ini, Nak. Huhu....hu...," tangis ayah Bian semakin kecewa atas sikapnya yang fokus pada pekerjaan saja.


Aku yang ikut terharu juga tak sadar meneteskan air mata. Tapi saat itu juga, ku lihat Rima berjingkat hendak melewati ayah Bian untuk pergi dari tempat ini.


Aku yang melihatnya langsung berlari, mengejar sebelum dia keluar rumah ini. Sampai ku tangkap tangannya, dan memberi kuncian lagi.


Ayah Bian yang masih terlalu sedih hanya berjongkok dan terus saja menangisi. Memeluk Bian erat sekali, sambil berguman maaf pada keluarga kecilnya ini.


Sampai beberapa detik berlalu, suara sirine terdengar seperti tanda kedatangan para polisi. Di pagi buta ini. Sampai kehebohan terdengar oleh para tetangga di sekitar sini.


"Alhamdulillah, kalau begitu saya ijin numpang sholat dulu. Sudah adzan," kataku pada ayah Bian yang masih duduk di sofa, menutup muka, bersama anak lelakinya.


"Iya, silahkan!" katanya tak mau berpikir apa-apa.


Ayah Bian terlihat sangat trauma. Meski hanya membayangkan penyesalan atas kematian anak dan istrinya.


Ku tunaikan ibadah wajibku. Memakai mukena yang sudah ku lipat kecil dalam tasku. Bersyukur atas basib baik yang sudah meninmpaku.

__ADS_1


Aku tak bisa membayangkan, betapa sulitnya kehidupan Dian. Dari kecil sudah disiksa, hingga ajal menjemputnya tanpa orang tua.


Selesai ku panjatkan doa, ku dengar ponselku berdering dari dalam tas. Menampilkan nama kak Azzam di layarnya.


"Assalamu'alaikum," sapaku pada kak Azzam.


"Kamu tak apa? Kamu kemana?" tanyanya dari ujung telepon sana.


"Ada yang salam itu dijawab dulu, Sayang!" sahutku mengingatkannya.


"Wa'alaikumsalam, Sayang!"


"Sudah beres, Kak. Bisa minta tolong jemput aku di sini?"


"Bisa, Sayang."


"Kok jadi gitu terus panggilnya? Ya sudah, ku share lokasinya sekarang ya."


"Oke, Sayang!" jawab kak Azzam semakin menggodaku, yang pasti tersipu malu meski dia tak melihatku.


"Ya sudah, tutup teleponnya. Aku juga baru ingat kalau ada bukti rekaman suara Rima untuk polisi."


"Maksudnya?"


"Nanti akan ku ceritakan saat kakak sudah menjemput ke sini."


"Iya, Sayang. Assalamu'alaikum, Sayang!" serunya sambil terdengar sedikit cekikikan geli mendengar ucapannya sendiri.


"Wa'alaikumsalam," jawabku sambil tersenyum geleng-geleng kepala, membayangkan ekspresi kak Azzam saat mengatakan itu.


Ku bereskan semua perlengkapan ibadah kembali ketempatnya, di mushola kecil yang terletak di sudut rumah ini. Kemudian bergegas menemui polisi, untuk memberikan saksi dan rekaman tadi.


Bian yang masih dalam dekapan ayahnya mulai berdiri, dan menarikku supaya berjongkok tepat di depan wajah imutnya.


"Kakak, kata mama dan kak Dian, saya harus mengucapkan terima kasih. Kakak sudah mengungkap semua kebenaran dari keluarga kami," katanya dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Sama-sama, Sayang. Sekarang dimana ibu dan kakakmu?" tanyaku celingukan mencari di sekitar sini.


"Tadi mereka ikut kak Rima, ke kantor polisi. Sebentar lagi saya dan ayah juga mau menyusul ke sana. Tapi nanti setelah selesai semuanya, pasti Bian jadi tak punya teman lagi. Apalagi kak Rima juga tak mungkin pulang ke sini, hehhh.....," kata Bian menghela nafas panjang.


Tanpa banyak bicara ku peluk tubuh kecil yang mulai mengeluarkan air mata. Meski tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2