Mata Kedua

Mata Kedua
Penelusuran Rumah Pak Malik 1 (Ilustrasi)


__ADS_3

"Ikut aku, kita cari tahu!" kataku menarik tangan kak Azzam, sambil mengendap melewati jalan belakang.


"Tapi,....," belum sempat dia menolak, ku tarik terus tangannya agar tak banyak alasan.


"Sssttt.... Bismillah," seruku membuatnya langsung diam.


Benar-benar sepi sekali keadaan di sekitar sini. Tak seperti semalam, yang masih nampak berkeliaran. Para sosok-sosok wanita muda tak kasat mata, yang berjalan tanpa arah dengan tatapan kosongnya, sampai di sekitar halaman rumah bu Nuri juga. Saat aku sengaja mengintip dari balik jendela kamarku bersama Yumna.


Dari halaman rumah bu Nuri, terlihat pagar tembok tinggi, yang sepertinya mengelilingi seluruh bangunan rumah penuh misteri. Pagar pembatas ini juga mungkin baru dibangun, agar keluarganya tertutup dengan warga lain, termasuk para tetangganya juga. Dan tak mengganggu keluarga anehnya.


"Mau kemana sih?" tanya kak Azzam masih berbisik denganku, saat kita berjalan merapat, menyusuri ke tembok pembatasnya.


"Ssstttt.... Kita cari tahu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini!" seruku masih melangkah dengan hati-hati.


Kami berjalan ke arah belakang rumah pak Malik. Ada sebuah pintu kecil diantara tembok pagar pembatas, yang sepertinya digunakan sebagai akses keluar masuk dari rumah pak Malik ke ladang bekas, yang sudah tak terawat sama sekali.


Masih dengan mengendap, ku intip sedikit bagian dalamnya dari pintu itu.


"Hati-hati," ucap kak Azzam memperingatkan, yang hanya ku jawab dengan anggukan.


Dari sedikit lubangnya, terlihat ada satu pria berotot berdiri di sebelah pintu masuk ke dalam rumah, yang melewati jalur belakang. Dari tempatku berdiri sekarang.


"Ayo pulang," ajak kak Azzam masih berbisik perlahan, sebelum pria itu mengetahui keberadaan kita.


"Oke, sepertinya kita juga tak dapat apa-apa dari sini. Lanjut nanti saja," jawabku kembali menarik tangannya untuk menjauh pergi. Kembali ke rumah bu Nuri.


Sesampainya di rumah, bu Nuri sempat bertanya dari mana kami. Tapi kak Azzam langsung menutupi, bahwa kami cuma mencari udara segar dari belakang rumah saja. Yang memang banyak ditanam tumbuh-tumbuhan berguna, mulai sayur sampai buah-buahan yang menyejukkan mata.


"Sayang banget ya, belakang rumah pak Malik tak dimanfaatkan seperti kebun bu Nuri. Selain banyak tanaman liar, juga sampah berserakan di mana-mana," ceritaku sedikit keceplosan juga.


"Masa sih? Dulu saat nenek masih ada, kebun itu terawat sangat baik sekali," terawang Yumna memgingat masa lalunya.


"Iya, bahkan saya bisa membuat kebun di belakang rumah, juga karena belajar banyak dari nenek Kip. Sekarang kebunnya sendiri justru tak terawat lagi. Bahkan banyak gundukan tanah tak jelas di sana-sini."


Mendengar itu, aku dan kak Azzam saling berpandangan. Menyimpan pikiran kita tanpa mau mengatakannya.


" Lain kali, kalian jangan ke sana lagi ya. Kalau pak Malik sampai tahu, dia pasti akan sangat murka sama kamu. Soalnya suami saya pernah kena semprot juga. "


"Oh ya? Kenapa?" tanyaku.


"Dia tak ingin, ada orang lain yang menginjakkan kaki sedikitpun di kebunnya. Kalau tak ingin dilaporkan polisi."


"Sampai segitunya?"


"Padahal saat itu, suami saya hanya melihat ke arah kebun tak terurus itu saja. Yang memang sering ada penjaganya di pintu gerbang belakangnya. Sama sekali tak mendatanginya, atau bahkan menginjakkan kaki ke sana. Tapi sudah ditegur, katanya suami saya pengen cari gara-gara."


"Semakin aneh!" sahutku pendek.

__ADS_1


"Pasti juga semakin membuat penasaran," ejek kak Azzam melirik meledek padaku.


"Sudah, tak usah ikut campur. Nikmati saja liburan kalian di sini, tanpa menganggap adanya keluarga aneh itu," kata bu Nuri mengingatkan kami.


****


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Bu Nuri sudah masuk ke kamar, sedangkan kedua lelaki tadi juga sepertinya sudah terlelap ke alam mimpi. Karena sore tadi sempat membantu bu Nuri membersihkan dan merapikan halaman rumah ini. Sampai terlihat letih sekali.


"Aish...," panggil Yumna yang ternyata belum tidur juga.


"Ya?"


"Kamu juga belum tidur?"


"Belum. Masih jam segini juga. Tumben ya dah sepi, dah pada tidur semua," kata Yumna.


"Iya. Eh, tahu nggak. Tadi siang sebenarnya, aku sama kak Azzam ngintip ke dalam bekas rumahmu itu lo. Beneran dijaga, tapi di halaman belakang. Bukan di luar pagarnya," ceritaku tentang yang ku lihat tadi siang.


"Kenapa ya, sampai belakang juga dijaga? Aneh banget keluarganya."


Baru percakapan kami mulai, suara lemparan batu kecil di jendela kamar terdengar lirih oleh kami.


'Tuk.... Tuk....'


"Suara apa itu?" tanyaku saling menatap dengan Yumna.


"Entahlah, kita lihat saja."


Daun pintu jendela mulai terbuka, tapi tak terlihat siapapun di depannya.


"Aneh, gak ada siapa-siapa," kata Yumna.


"Iya, kok sekarang jadi sepi ya. Kemarin-kemarin masih terlihat berkeliaran sosok perempuan dengan tatapan tanpa arah berlalu lalang. Sekarang kemana mereka semua?"


"Ingat kata bu Nuri, tak usah ikut campur sama keluarga itu. Toh kalau malam, gadis dilarang berkeliaran. Musim penculikan," sahut Yumna mengingatkan.


"Ingat sih. Ya sudah, kita cek besok pagi saja," kataku hendak balik ke kasurku.


"Besok juga tak bo...," kata Yumna terpotong, saat hendak menutup kembali jendelanya.


'Aaaaaaarghhh.......'


Meski tak terlalu keras, tapi kami berdua mendengar teriakan perempuan dari arah rumah pak Malik.


"Aku tak bisa diam saja. Aku mau ke sana!" sahutku beranjak berdiri lagi, sambil menggenggam gawai sebagai cadangan penerangan di luar malam ini.


"Tunggu, aku temani. Karena kau tak tahu tempat ini," kata Yumna mengikuti.

__ADS_1


Berjalan mengendap, masih dalam kegelapan malam dengan bulan purnama sebagai penerangnya. Kami berdua mulai memutari tempat ini. Mencari celah, kemana jalan masuk yang paling aman ke dalamnya. Sampai ada suara panggilan lirih, terdengar oleh kami.


" Sstt... Ssttt....," suara seorang wanita, yang tak terlalu jelas karena sekeliling rumah ini tak dipasang lampu sama sekali.


"Siapa?" tanyaku sambil berbisik.


Tepat di belakang rumah, tempat ku mengintip bersama kak Azzam tadi siang, ada seorang gadis muda seusia kami. Dan sepertinya Yumna langsung mengenali.


"Martha?" panggil Yumna sedikit kencang, hampir lupa kalau kita sedang bersembunyi.


"Ssstt... Jangan keras-keras. Kamu kenal?" tanyaku setelag mengingatkan.


"Iya, dia teman sekolahku dulu. Lebih tepatnya, orang yang selalu mengejekku," kata Yumna sedih mengingat itu.


"Maafkan aku, maaf, Yumna," katanya setelah kami mendekat padanya.


"Iya, sudah ku maafkan sebelum kamu memintanya. Memang apa yang kamu lakukan di sini malam-malam?" tanya Yumna.


"Aku hanya ingin mengungkap kebenaran, setelah banyaknya gadis di kota ini hilang, setelah dibawa ke sini."


"Kamu tahu dari mana, kalau mereka ada hubungannya dengan hilangnya gadis-gadis di kota ini?" tunjuk Yumna ke arah rumah di depan kami.


"Aku masih tinggal di sekitar sini, setelah kamu meninggalkan tempat ini. Tanpa pamit dulu padaku sebelumnya," katanya tersenyum sambil berkaca-kaca melihat Yumna, meski tak terlalu jelas ekspresi detailnya karena tak ada cahaya selain dari bulan saja.


"Maaf, ku kira kau tak peduli padaku. Tak mengingingkan keberadaanku di kampung ini. Makanya aku tak berpamitan padamu."


"Maaf, kalau aku sudah membuatmu tak nyaman selama tinggal di sini," katanya memeluk Yumna.


"Tubuhmu dingin sekali. Kenapa kau tak memakai jaket tebal saat cuacanya seperti ini? Apa kau sakit?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Mari kita teruskan penyelidikan ini," sahutnya berjalan mendahului, sambil mengayunkan tangan tanda ajakan mengikuti langkahnya berjalan pergi dari tempat kami berdiri.


****


Banyaknya permintaan tentang ilustrasi, kali ini Author memberanikan diri memberi sesuai bayangan saat menulis cerita. Semoga saja tak mengecewakan, karena masih disesuaikan dengan ilustrasi dari novel sebelumnya.


AISYAH (Aish)



Azzam



REYHAN (Rey)


__ADS_1


Yumna



__ADS_2