
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, saat tukang ojek mulai datang. Untungnya masih ada yang mau mengambil orderan, meski dinginnya malam semakin menusuk tulang.
"Ke rumah sakit besar ya, Pak!" kataku mengambil helm dari tangannya, kemudian ku pasangkan di kepalaku sebelum menaiki sepeda motor itu.
"Iya, Dek. Kenapa malam sekali ke sana? Apa tidak takut?" tanya tukang ojek mulai melajukan kendaraannya.
"Takut apa, Pak?"
"Rumah sakit itu lumayan seram. Sering ada suara-suara tanpa wujud di sekitar kita. Soalnya saya pernah mengalaminya."
"Cuma suara kan, Pak?"
"Iya, tapi serem juga. Lagian sudah malam begini, apa masih bisa dijenguk pasiennya?"
"Kalau tak bisa, ku tunggu di luar rumah sakit saja."
"Memang siapa yang sakit? Pacarnya? Kok sampai rela dibelain datang ke sana sampai bersedia memunggu di luar segala?" goda tukang ojek itu.
"Eh.. Enggak. Teman saja, cuma kasihan dia tak punya keluarga."
"Oh, gitu."
Obrolan tukang ojek yang ramah membuat perjalanan terasa singkat. Sepertinya belum lama perjalanan kami lakui, sekarang di depan kami sudah terlihat rumah sakit besar tempat kak Azril menginap.
"Terima kasih, Pak!" kataku menyerahkan helm setelah turun, dan mengambil selembar uang dari tas selempang dengan nominal terbesar untuk ku serahkan pada tukang ojek itu.
"Kembaliannya?" tanya tukang ojek yang melihatku hendak beranjak meninggalkannya.
"Ambil saja, Pak!"
"Alhamdulillah, terima kasih."
Suara yang ku dengar dari tukang ojek, saat ku sudah berbalik arah semakin jauh melangkahkan.
Tapi tiba-tiba baru saja kaki ku pijakkan di lantai rumah sakit, seperti ada firasat tak enak datang merasuki. Seperti akan ada sesuatu hal terjadi.
"Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa gelisah sendiri? Mungkinkah ada hal buruk sebentar lagi? Astaghfirullah....," ku coba beristighfar untuk meredakannya sendiri.
Baru aku masuk ke dalam, dari belakangku terdengar suara keributan. Refleks langsung ku tengok ke belakang, karena pusat suaranya dari pintu gerbang.
__ADS_1
"Ambulan?" gumamku.
Ada seorang pasien yang baru diturunkan. Menurut perawat yang berlari menyambutnya, katanya dia baru saja mengalami kecelakaan.
Korban itu segera ditangani untuk mendapat perawatan. Darahnya tercecer sampai ke lantai tak karuan. Tapi belum terlihat wujud korbannya, karena perawat masih sibuk mengelilinginya.
Aku masih terdiam. Menatap gerombolan para perawat yang sibuk menyelamatkan. Seperti ada rasa ingin tahu bagiku, untuk melihat sejenak nasib orang yang sedang dikhawatirkan banyak tenaga kesehatan.
Para perawat sudah siap menjalankan roda tempat korban itu ditidurkan. Aku menepi sedikit untuk memberi jalan. Sampai mulai melewati tempatku berdiri, terlihat pakaian yang tak asing sedang dikenakan seorang laki-laki yang berlumuran darah dan berbaring lemah.
"Kak Azzam?" gumamku lemas seketika.
Meski tak terlalu jelas wajahnya, tapi aku yakin kalau itu dia. Dari baju juga postur tubuhnya, aku pastikan itu memang dia.
"Kak Azzam!" teriakku langsung mengejarnya, setelah sempat kaget dan mengontrol emosi sedih yang tiba-tiba datang.
"Kak Azzam," seruku lagi masih mencoba mendekati.
"Maaf, Dek. Sebaiknya tunggu di sini dulu. Biar kami usahakan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Kalau adek mengenalnya, silahkan urus data dan administrasinya," kata perawat, saat pasien sudah lebih dulu didorong masuk ke dalam pintu ruang gawat darurat.
" Terlambat! Aku belum sempat memastikan apa itu benar kak Azzam. Semoga saja hanya ada korban yang memakai baju dan postur yang sama. Semoga saja itu bukan dia," kataku mencoba menenangkan pikiranku.
" Kak Azzam lagi telepon kayaknya.
Aku cari informasi dari korban ini. Menuju lobi tempat resepsionis berdiri. Semoga ada kartu atau dompet korban yang menunjukkan identitasnya nanti.
Langkah ku percepat karena aku tak ingin terlambat mengetahui. Masih ada kak Azril juga yang membutuhkan bantuan kalau sosok itu benar-benar datang lagi. Sampai ku lihat dua orang polisi yang berdiri, di dekat ambulan tadi.
"Maaf, Pak. Apa ada identitas dari korban kecelakaan barusan?" tanyaku setelah mendekat.
"Kami hanya menemukan ponselnya. Dia tak membawa surat apapun di sakunya. Ini baru saja menghubungi orang tuanya. Ternyata ada di luar negri sana," kata polisi menunjukkan ponsel kak Azzam.
"Kak Azzam. Benar itu kak Azzam!" kataku mulai yakin.
"Kamu kenal?"
"Iya, kami teman satu perantauan. Sekaligus tetangganya dari negara yang sama," kataku sedikit menahan getir di dada, karena kesedihan yang ku rasa.
"Kamu sudah melihat korbannya? Yakin kalau itu teman kamu?" tanya polisi itu lagi.
__ADS_1
"Coba bapak telepon nomorku dari ponsel itu. Pasti ada nama yang tertera di sana," ucapku meyakinkan mereka.
Ku sebutkan nomor ponselku. Kemudian polisi mencoba menekan sesuai permintaanku. Sampai mulai tersambung ke gawaiku.
"Sayangku?" kata polisi menunjukkan tulisan di gawai kak Azzam.
Antara malu dan sedikit terharu. Tapi polisi sudah mulai percaya padaku.
"Baiklah kalau begitu. Ini saya serahkan ponselnya pada anda. Silahkan diurus datanya sambil menunggu keluarganya," kata polisi itu.
Semakin lemas rasanya. Setelah tahu kalau itu memang kak Azzam. Ku ambil ponselnya, dan kembali ke depan ruang gawat darurat untuk memastikan keadaan.
" Dek, datanya! " teriak suster yang berjaga sebagai resepsionis di rumah sakit ini, saat langkahku semakin jauh pergi menuju ruangan kak Azzam tadi.
Ku acuhkan panggilannya, karena aku hanya ingin tahu kondisi kak Azzam saja sekarang. Tanpa bisa berpikir macam-macam.
" Lama sekali? " gumamku mondar-mandir sendiri, di depan ruangan gawat darurat ini.
Masih ku tunggu sendiri. Sampai perawat dari resepsionis datang menghampiri. Memberi lembaran yang harus aku isi.
" Sus, masih lama nggak? " tanyaku menunjuk ruangan di depan kami.
" Di tunggu saja, Dek. Itu masih diupayakan penyelamatan! " kata suster sambil menerima kertas yang sudah ku isi sekedarnya, karena pikiran kacau kemana-mana, kemudian dia pergi lagi meninggalkanku sendiri lagi menuju ke tempat kerjanya.
" Kak.... Ayo kuat! Aku butuh kamu di sini!" kataku sendiri, masih mondar mandir menunggu hasil pemeriksaan.
Tak lama, ponselku berdering. Nama umi tertera di layarnya. Membuatku semakin cemas saja.
"Assalamu'alaikum, Umi!" kataku langsung bersamaan dengan jatuhnya air mata.
Umi menanyakan apa aku sudah tahu tentang kecelakaan kak Azzam. Dan ku bilang kalau aku sedang menunggu di rumah sakit, di depan ruangan dia diselamatkan.
"Umi sama abi perjalanan ke sana. Kamu yang sabar ya, jangan menangis supaya bisa menguatkan Azzam. Berdoa, karena memohon pertolongan Allah merupakan upaya penyelamatan yang bisa kita lakukan."
Umi terus menguatkan aku. Untuk berpasrah diri menghadapi semua cobaan. Meski air mata semakin deras aku keluarkan. Sampai lemas rasanya semua tulang di badan.
Baru saja sambungan telepon diputuskan, pintu ruangan mulai terbuka lebar. Seorang dokter mulai keluar.
"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" tanyaku penuh kecemasan.
__ADS_1