Mata Kedua

Mata Kedua
Kecurigaan pada Tissa


__ADS_3

"Kalau soal itu, kita cari bersama dulu," sahut Yumna menjawab gumaman suaraku tadi.


" Ya sudah, kalau gitu pujasera akan aku tutup saja sementara waktu. Sampai jelas semuanya, agar tak menimbulkan korban selanjutnya," kata Rey sedikit menyerah.


"Tapi, Bos. Bukannya itu adalah impian Bos Rey? Mempunyai sebuah tempat makan di dekat tempat wisata. Kenapa malah ditutup hanya karena masalah keluarga saya? Maaf sebelumnya, kalau bos jadi mengalami kerugian besar karenanya," sesal kak Raisha.


"Itu bukan hanya masalah keluargamu saja."


"Maksudnya?"


"Karena kata Jil, dia juga mengincar pujasera. Jil disuruh seseorang untuk menghancurkan tempat kita. Sedangkan kamu, cuma sebagai bonusnya. Maaf, aku hanya menyampaikan apa yang dikatakan Aish sebelumnya," jelas Rey mulai terlihat geram kepada makhluk hutan tak kasat mata.


" Berarti, selain karena masalah keluarga saya, masih ada hubungannya lagi antara pujasera sama makhluk hutan penipu itu?" tanya kak Raisha memastikan, dengan nada ikutan kesal.


" Ya, dan kita harus cari tahu dulu. Siapa dalang dari semuanya! Yang pasti seorang manusia, sama seperti kita," kataku menambahkan.


Rey mulai semakin kesal. Sudah nampak amarahnya meski masih dia tahan.


" Maaf sebelumnya. Ehhmmm....apa boleh saya cerita, tentang apa yang pernah saya lihat sebelumnya? Mungkin ini ada hubungannya sama kejadian aneh di pujasera, " kata kak Raisha sedikit enggan, karena takut melaporkan yang belum tentu benar.


"Apa itu? Ceritakan saja, supaya kita bisa lebih fokus untuk menyelidikinya," sahut Rey.


"Maaf, Bos. Tapi sebelumnya saya harap, Bos Rey jangan langsung menuduhnya. Karena saya juga cuma mengira-ngira saja."


"Iya, cepat katakan. Apa yang pernah kamu lihat!" kata Rey mulai tak sabar.


"Rey, jaga emosi. Biar kak Raisha bisa mudah menceritakan semuanya," sahut Yumna menenangkan kekasihnya, dengan mengelus punggungnya.


"Oke, hehhh.... Tolong katakan sekarang ya, tolong....," ulang Rey dengan nada malas, agar tak menambah omelan dari Yumna.


"Jadi saat libur pujasera, saya sempat ketinggalan charger di dapur. Sudah malam pula. Trus karena sudah lowbat juga, terpaksa saya ambil ke sana. Tapi....saya malah lihat Tissa, sedang mengajak seorang laki-laki setengah tua, untuk membakar seperti dupa di depan dapur saya."


"Tissa? Yang biasa melayani pembeli bersamaku bukan?" sahut Yumna.


"Memang ada berapa nama Tissa di sana?" balik tanya Rey menggoda Yumna.

__ADS_1


"Eh, iya. Tolong lanjutkan saja. Maaf!"


"Sebentar, akan saya ambilkan fotonya di HP. Kebetulan saya sempat mengabadikan gambar mereka saat ritual. Karena dengan baterai hp seadanya, jadi hanya dapat satu foto saja. Saya tak bisa merekam videonya, tentang apa yang mereka lakukan di sana. Nah, ini," ucap kak Raisha menunjukkan hasil jepretan dalam gawainya, setelah dibantu ibunya mengambil dari atas nakas di sebelah ranjang.


Dalam foto itu, terlihat seorang gadis sedang berdiri di belakang laki-laki yang sedang bersila. Laki-laki itu menghadap ke dapur, tempat kak Raisha bekerja.


Dan di depan lelaki itu, juga terdapat batang dengan warna menyala diujungnya, mirip dengan dupa. Karena keadaan malam, tak seberapa jelas siapa wanitanya. Kami hanya mengira-ngira, sesuai penjelasan kak Raisha.


"Boleh saya minta fotonya? Kirim ke nomor saya!" pinta Rey sedikit memaksa.


"Baik, Bos!"


Tak lama, foto itu sudah masuk ke dalam gawai Rey. Ditandai dengan bunyi suara pesan masuk yang terdengar oleh kami.


"Tapi, Bos. Tolong jangan panggil Tissa dulu. Saya tak enak kalau ternyata dugaan ini salah," mohon kak Raisha.


"Iya, akan aku selidiki dulu sebelum bertanya padanya. Kalau ada yang aneh lagi, tolong segera kabari," lanjut Rey.


"Berarti pujasera jangan ditutup dulu. Biarkan buka sembari kita menyelidiki Tisaa, atau mungkin ada keanehan dari karyawan maupun pemgunjung lainnya. Gimana?" usulku.


"Baiklah, mulai minggu depan saja pujasera buka lagi. Akan aku hubungi pak Rendi, supaya mengontak semua karyawan. Raisha kalau belum benar, - benar sehat dan masih trauma, bisa cuti sementara," kata Rey memberi keputusan.


"Kenapa enggak besok saja?" tanyaku.


"Biar para karyawan lebih tenang dulu. Kemarin mereka sempat takut sekali. Jadi mungkin seminggu cukup untuk mereka bekerja kembali."


"Lalu, siapa yang akan memasak untuk makanan di tempat gerai saya? Aish dan Yumna masih harus kuliah. Biasanya saya yang memasak, dan Tissa yang membantu melayani pembeli sebelum mereka datang," tanya kak Raisha khawatir.


"Khusus geraimu, akan tutup sementara. Sampai Aish datang untuk memasakkan pelanggan. Bagaimana, sanggup Aish?" tanya Rey meminta pendapatku.


"Oke, kita coba dulu."


"Baiklah, sudah diputuskan sama Rey. Sekarang kita cari sarapan, laper banget ini," sahut kak Azzam yang dari tadi diam.


"Aku juga laper. Sekalian pulang buat bersihin badan sama ganti baju ya," usulku.

__ADS_1


"Iya, bau banget soalnya. Ughhh...., aku aja eneg bau badanku sendiri," timpal Yumna.


"Aku suka kok, gak mandipun tetep enak," sahut Rey masih tanpa ekspresi.


"Ih, gombal kok wajahnya tetep datar ya? Nemu dari mana sih, Yumna? Kok bisa-bisanya dapat cowok kayak gini?" sahutku menggoda mereka.


"Tau, aku juga bingung. Kok gak pernah kasih ekspresi bahagia, atau sedih, sama aja semuanya. Tapi tetep cakep sih, he.....," balas Yumna masih memuji kekasihnya.


"Hehh.... Dasar bucin. Ayo, keburu pingsan nanti kita. Oh iya, tadi sudah saya pesankan sarapan untuk ibu dan anak kak Raisha. Mungkin nanti akan diantar ke sini. Daripada nunggu kita lama," ucap kak Azzam pada kak Raisha dan keluarganya.


"Terima kasih banyak."


"Ya sudah, kalau gitu kita pamit dulu."


"Assalamu'alaikum," kataku mewakili semuanya sebelum meninggalkan tempat ini.


Masih dengan mobil Rey, aku dan Yumna diantar pulang sebentar. Katanya nanti akan dijemput, untuk sarapan sekaligus kencan. Padahal perut sudah laper, tapi kak Azzam mengusulkan agar kali ini bisa menyenangkan pikiran.


"Azzam ini bisa aja. Pakai disuruh dandan dulu lagi. Memang mau ke mana sih?" gerutu Yumna saat kita sudah siap, hanya menunggu mereka datang di teras depan.


"Entahlah, aku ikut sajalah. Gak terlalu tahu daerah sini juga kalaupun dikasih tahu."


Baru diobrolin, mobil Rey mendekat ke depan halaman. Lalu Rey turun, tanpa kak Azzam.


"Lha, kak Azzam kemana?"


"Tadi katanya mau bawa motor saja. Mau ajak pergi sendiri-sendiri."


"Ya ampun, ada aja nih bocah. Ya sudah, kalian duluan saja. Aku tunggu kak Azzam."


Aku kembali duduk, menatap kepergian Yumna dan Rey yang tak tahu mau kemana. Sampai akhirnya datang kak Azzam, sambil membawa bucket keripik macam-macam.


"Aish, aku tahu kamu tak terlalu suka membuang sesuatu yang tak berguna. Makanya ini aku bawakan keripik saja, biar bisa dimakan," ucapnya seraya menyerahkan gerombolan camilan kesukaanku.


"Masih inget nggak, dulu pas kakak kasih aku bunga?" tanyaku mengingatkan kebersamaan kita saat di desa tertinggal.

__ADS_1


"Ingetlah, kamu gak suka karena bunga yang aku kasih gak bisa dimakan. Malah kamu bilang kalau bunganya suruh kasihkan ke wanita berdaster yang suka berkeliaran," jawabnya sambil tersenyum malu.


__ADS_2