Mata Kedua

Mata Kedua
Di Rumah Sakit


__ADS_3

"Iya, Kak. Nanti akan aku ceritakan, apa yang dikatakan Tissa barusan. Sekarang, aku mau bersihkan badan dan wudhlu untuk menunaikan sholat subuh dulu," jawabku beranjak berdiri, masuk ke kamar mandi.


Kepala rasanya penat sekali. Memikirkan penjelasan Tissa dalam mimpi tadi. Yang terasa sangat nyata sekali.


Ku guyurkan air segar, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, beberapa kali. Berharap dapat membasuh pikiran kacau, atas cerita rumit yang telah terjadi. Sampai segera ku ambil air untuk mensucikan diri, dan memasrahkannya pada Illahi.


"Lama banget mandinya? Ada masalah?" tanya kak Azzam setelah aku baru keluar kamar mandi.


"Masa sih lama? Eh, aku sholat dulu ya," kataku masih belum ingin bicara banyak pagi ini.


Ku tundukkan kepala. Mengikhlaskan semua pada takdir saja. Sambil terus memohon agar masalah bisa kami hadapi bersama, tanpa saling mencela seperti sebelumnya.


"Kak, aku mau cari sarapan dulu ya. Sekalian hirup udara segar ke luar rumah sakit sebentar," pamitku setelah melipat mukena yang sudah ku pinjam dari suster rumah sakit ini.


"Apa kamu baik-baik saja? Kamu masih belum mau cerita?" tanya kak Azzam memelaskan wajahnya.


"Insyaa Allah nanti ya. Aku lapar!"


"Iya, aku akan tetap menunggu ceritamu. Tapi jangan sampai kau pendam sendiri, apa yang sedang kau pikirkan saat ini. Aku di sini masih ingin mendengarnya nanti," ucap kak Azzam menunjukkan senyum manisnya padaku, membuat hati sedikit lega oleh lesung pipitnya.


"Iya, insyaa Allah. Aku keluar dulu ya," kataku mengambil gawai, dan mulai berjalan ke arah kak Azzam.


"Hati-hati," katanya masih tersenyum, mengelus puncak kepalaku, saat aku terlebih dahulu mengusap punggung tangannya sambil sejenak duduk di sebelah ranjangnya.


"Assalamu'alaikum," salam ku melangkahkan kaki ke pintu.


"Wa'alaikumsalam, nanti jangan melirik kalau ada cowok di jalan, meskipun mungkin tak ada yang lebih tampan dariku," gurauannya sempat membuatku ingin sedikit tertawa, sambil geleng-geleng kepala.


Ku telusuri setiap lorong rumah sakit yang masih sedikit gelap ini. Karena matahari belum benar-benar memberikan sinarnya untuk menerangi bumi. Kemudian lanjut berjalan ke depan, untuk mencari penjual yang ternyata sudah banyak yang menjajakan makanan buatan mereka. Tepat di depan gerbang rumah sakit Suaka Medika.


" Mau kemana? " tanya seorang laki-laki dengan rambut gondrong, dan pakaian seperti preman datang menghampiriku di depan rumah sakit ini.


Laki-laki itu nampak mengawasi sekitar tempat ini. Meski sedikit khawatir, segera ku tanyakan apa maunya saja, lalu berencana segera pergi.


"Maaf, apa bapak panggil saya?" tanyaku.


Tanpa menjelaskan apa-apa, lelaki itu hanya menunjukkan sebuah tanda pengenal dari balik bajunya. Yang menyatakan kalau dia adalah seorang polisi, yang sedang berusaha melindungi kami dalam penyamarannya.

__ADS_1


"Saya cuma mau cari sarapan, di situ," tunjukku ke arah jalan besar.


"Bahaya, kami belum menemukan pelaku yang sengaja memasang bom di mobil itu. Nanti juga akan ada polisi yang akan datang menanyai kalian ke rumah sakit ini. Jadi sekarang lebih baik, kembalilah ke dalam rumah sakit," ucap pria itu.


"Baiklah. Tapi saya lapar banget ini, Pak. Beli sebentar ke depan nggak boleh?" tanyaku memasang wajah memelas, karena benar-benar merasa lapar.


"Akan saya belikan saja. Tetaplah dalam kamar perawatan, agar kami bisa pantau dari kejauhan," ucap polisi yang sedang menyamar itu.


"Baiklah, terima kasih banyak."


Aku kembali masuk dalam rumah sakit. Dengan wajah lesu karena tak jadi menyegarkan pikiran di luar sana. Sedangkan polisi tadi berjalan berlawanan arah dariku. Menuju ke deretan penuuak makanan di depan.


Kembali masuk ke area rumah sakit, ku putuskan untuk menuju taman saja. Duduk diam di sekitar sini. Sendiri, sampai matahari mulai tinggi.


"Aish....," suara panggilan datang menghampiri.


"Yumnaaa?" teriakku sedikit tak percaya.


"Iya, kamu kenapa di sini sendiri?"


Tak ada pertanyaan dan jawaban atas apa yang kami katakan. Hanya pelukan yang kami berikan, untuk saling menguatkan. Sampai beberapa saat kemudian, kami duduk bersama di taman rumah sakit ini. Menenangkan pikiran yang sempat kalut karena masalah yang terjadi.


"Oh iya, ini sarapan buat kamu. Tadi dicari sama polisi yang mengantar makanannya ke kamar Azzam. Tapi kamu tak ada, jadi aku coba cari ke taman saja sesuai kata Azzam."


"Kak Azzam? Tahu dari mana kalau aku lagu di taman?"


"Gak tahu! Katanya kalau kamu lagi pengen sendiri, biasanya tamanlah tujuanmu."


"Heeehhhh..... Ternyata kak Azzam masih ingat kebiasaanku dulu."


"Memang apa masalahmu? Katanya kamu juga sempat mimpi buruk?" tanya Yumna.


"Semalam Tissa cerita. Tentang semua hal yang terjadi di pujasera. Termasuk kalian berdua yang dijebak atas pembunuhan dia."


"Iya, kami dijebak saat menemukan mayat yang sudah terpotong menjadi banyak bagian, di dalam kantor Rey. Untung Rey segera menghubungi pengacara keluarga, meskipun sedikit sulit kasusnya."


"Sulit kenapa?"

__ADS_1


"Tas yang dipakai untuk menaruh mayat Tissa, adalah milik Rey yang sempat hilang setelah berenang bersama para karyawan setahun yang lalu."


"Pak Rendi. Licik sekali ternyata dia," sahutku.


"Tapi untungnya semua sudah diselesaikan oleh pengacara. Meski kami harus melakukan wajib lapor selama penyelidikan nantinya. Dan dilarang ke luar kota," jelas Yumna lagi.


Mulai ku ceritakan satu per satu, tentang apa yang ada dalam mimpiku semalam. Termasuk juga kejadian yang sempat menimpaku bersama kak Azzam.


" Ya sudah, kita makan dulu aja yuk. Lumayan tadi dapet gratisan. Dari pak polisi di depan," cengir Yumna membawa dua kotak nasi untuk dimakan bersama.


Baru kita menikmati hidangan lezat ini, sebuah suara sempat mengagetkan kami. Dari arah belakang tempat duduk ini.


" Berdiri! " suara seorang laki-laki yang tak asing ditelinga kami.


Saat ku toleh, sebuah senjata sudah ditempelkan ke kepala Yumna, membuatku tak bisa berpikir apa-apa.


"Kalian berdua ikut saya!" ucap seseorang berpakaian selayaknya wanita hamil, meskipun suaranya seorang pria.


"Pak Rendi?" tanyaku memastikan.


"Sssssttttt....., ikut saja!" serunya sedikit menurunkan senjata ke punggung Yumna, supaya tak terlihat para polisi yang mungkin masih mengamati kami.


Ku ikuti saja langkahnya pergi, karena nyawa Yumna yang terpenting saat ini. Sampai tiba-tiba gawaiku berbunyi, menunjukkan nama kak Azzam yang mungkin mencari.


"Sini teleponmu! Bilang kalau kamu lagi ingin bersama Yumna saja," katanya mengambil cepat dengan sedikit paksa, dan memintaku berbohong dengan ancaman nyawa.


Ku turuti saja apa maunya. Agar tak ada lagi korban jiwa. Karena yang kami hadapi sekarang merupakan orang yang bisa nekat apa saja.


Polisi tak ada yang terlihat sama sekali. Sampai kami keluar tempat ini. Mungkin sedang di kamar perawatan bersama kak Azzam. Membuat pak Rendi semakin mudah memasukkan kami ke dalam mobil merah yang terparkir di sepan rumah sakit ini, tepatnya di salah satu penjual makanan di pinggir jalan.


"Masuk!" dorongnya terus memaksa, tetap sambil mengacungkan senjata yang tersembunyi di balik baju panjangnya.


"Kalian diam saja. Dan tak usah takut ada bom lagi."


"Sebenarnya apa yang bapak inginkan dari kami?" tanyaku sesudah mobil dijalankannya, dengan pistol yang terus digenggam oleh tangan kanannya.


"Aku hanya ingin, Rey mau menjual tanah di pinggir danau Rubi. Tapi ternyata, dia sama sekali tak menerima, meskipun dengan penawaran yang tinggi," jelas pak Rendi.

__ADS_1


__ADS_2