Memayu

Memayu
episode 11 Sneakers 1


__ADS_3

Suasana rumah sudah kembali seperti semula, meski kadang mama masih terlihat murung, Reynan selalu saja bisa membuat mamanya tersenyum. Reynan memutuskan untuk tinggal dirumah menemani mama dan menjual rumah yang sudah bertahun-tahun ia tempati bersama mantan istrinya. Reynan sudah mengubur dalam-dalam masa lalunya dan mulai menata hidupnya yang baru.


Dia kerap mendengarkan nasehat dr.Hanan, untuk jangan lagi mendatangi club malam, meminum alkohol, wine dan merokok, belajar dari pengalaman papanya yang meninggal karena kanker paru-paru. Reynan merasa ingin hidup lebih lama untuk menemani mama, kini tidak ada yang lebih berharga dari dunia selain Mamanya.


Ibran terlihat sibuk membawa berkas dan entah apa kardus kecil diatas berkas yang Ibran bawa.


“apa yang kau bawa?” tanya Reynan.


“ini berkas dan sepatu cinderella, Bos” jawab Ibran, memang di kantor ataupun dirumah Asisten pribadinya inilah yang selalu memanggilnya Bos, Bos, Bos, sudah berapa kali diberitahu untuk tidak memanggil Bos, masih saja bandel, tapi Reynan sudah terbiasan saja dengan panggilan itu.


Mata Reynan menyerngit,”sepatu cinderella?”


“iya Bos, entah sepatu siapa, saya temukan dimobil Bos, tapi rasanya Nona Kassandra, eh...” Ibran merasa salah menyebutkan nama, melihat Reynan air mukanya terlihat biasa, Ibran kembali melanjutkan kata-katanya,”wanita itu” Ibran mengganti nama kassandra dengan initial wanita itu seperti yang Bosnya selalu katakan, tapi kenapa saat Ibran yang mengucap seperti terdengar aneh.


“lanjutkan saja, bahkan sebenarnya dia tak pantas disebut wanita” tegas Reynan yang membuat Ibran semakin bingung.


“lalu saya menyebutnya apa dong Bos?”


“nggak usah disebut, lupakan saja”


“baiklah bos, yang dilupakankan itu juga tidak memiliki sepatu seperti ini, apalagi ini hanya satu, pasangannya entah dimana”


Reynan tersenyum aneh, entah karena kalimat Ibran atau hal lain. ”kemarikan sepatunya!”


Ibran segera menyerahkan sepatunya.


Sepatu sneaker terlihat sangat lucu seperti pemiliknya, Reynan berjalan menuju dapur, entah apa yang akan ia lakukan, langkahnya terasa begitu ringan, menuju wastafel, menyalakan kran dan mulai mencuci sneaker itu disana.


Para asisten rumah tangga dan Asisten pribadinyapun ikut heran, baru pernah bos mudanya ini mencuci sepatu, padahal entah sepatu siapa yang ia cuci, sepatunya sendiripun tidak pernah ia cuci sendiri. Reynan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.


“apa yang kalian semua lihat?” tanya reynan mengagetkan semua yang melihatnya, asistennya bergegas melakukan pekerjaan mereka masing-masing.


“Ibran!”


Ibran segera mendekat.


“keringkan ini, simpan kedalam kotak yang bagus”

__ADS_1


Ibran menurut saja.


“keringkan dengan benar, kita akan cari pasangannya” Reynan berjalan ngeloyor menuju halaman depan,”kita akan temukan pemiliknya juga” raut wajahnya tampak sedikit berbeda, senyumannya mengandung rencana hebat.





“ya Tuhan, andai saja ada pangeran kaya yang datang melamar, nggak usah kelamaan deh mending saya nikah aja biar beban hidup berkurang” tukas Mayu setelah membaringkan tubuhnya di matras yang terdapat di ruang alat fisioterapi, Klinik hari ini sangat ramai, badannya terasa lelah, belum lagi setelah Siftnya selesai ia harus nglembur ngetik bersama dr.Hanan.


“May, mau ikut makan diluar nggak?” tukas Imel mengagetkan dari balik pintu.


“nggak bisa Mel, ini mau langsung Otw ngetik”


Imel memanyunkan bibirnya,”Gue sendirian dong”


“Ngajak Dewi aja”


“Lah dia masuk sore nggantiin gue”


“Ngajak yang lain kan bisa” tukas Mayu datar


“mana ada sih, jelas-jelas udah bilang tadi, Mayu jangan dulu kemana-mana ya mau ngetik dulu ”tukas mayu menirukan gaya Khas dr,Hanan saat berbicara.


“hahahha parah lo! udah makin mirip aja deh”


“gimana nggak mirip, hampir tiap hari gue ketemunya dr.hanan mulu”


“tapi serius tau, gue denger katanya mau pergi sekeluarga”


“serius? Yey bisa langsung pulang nih” tukas Mayu kegirangan.


“iya, yakali gue ngarang, baru aja dr.Meca bilang, gue nguping aja sedapetnya”


“sedapetnya? Jih najis banget elo mah nguping-nguping”


“May dipanggil babe” Dewi nyeletuk dari balik pintu mengagetkan teman-temannya.


Mayu segera bergegas menuju ruang kerja dr.Hanan, tak jauh dari tempatnya rebahan.

__ADS_1


“iya dok?”


“hari ini kamu ikut saya aja ya, sekalian persiapkan alat-alat, pakai baju bebas saja”


tukas dr.hanan.


Mayu menghela nafas, baru saja semenit yang lalu memorinya membayangkan akan pulang lebih awal, entah pekerjaan apa lagi, langkahnya gontai menuju ruang ganti. Sesudah mengganti seragam kerjanya dengan pakaiannya Mayu segera menuju ruang obat untuk menyiapkan alat-alat yang dr.Hanan maksud. Saat akan ada home visit dr.Hanan selalu membawa asisten dan membawa alat kesehatannya didalam koper kecil, itulah yang selalu ia sebuat alat-alat, maksudnya peralatan home visit yang harus dibawa untuk dipersiapkan kelengkapannya terlebih dahulu.


Biasanya dr.Hanan hanya akan pergi visit jika kerumah Pak samodra, tapi Pak samodra baru saja meninggal, mungkin ada pasien lain yang Mayu belum kenal, Mayu menurut saja.


Mayu sudah siap, tinggal menunggu dr.Hanan, Mayu membawa koper kecil itu dengan gaya yang gontai, sebenarnya kopernya tidak terlalu berat, karna lebay saja mungkin akibat hayalannya pulang cepet nggak kesampean.


“berat? Bilang aja, biar saya bantu” dr.Dhemas sudah berdiri gagah didepannya, meraih koper dan meletakannya hingga keluar menuju mobil yang akan mereka naiki.


Mayu tertegun, wajahnya tampak salah tingkah, entah ekspresi seperti apa yang tadi ia tampakan sampai dr.Dhemas harus repot-repot membawakan koper yang tak terlalu berat itu.


“terimakasih dok, sudah dua kali dokter menolong saya” tukas mayu.


“sudah tiga kali, May”


Mayu terbelalak, mencoba mengingat-ingat, lancang sekali sampai dia lupa menghitung kebaikan seseorang.


dr.Dhemas terbahak,”iya dua kali, saya bercanda”


Mayu menarik nafasnya, dan melempar senyum. Untung senyum yang dilempar, kalo sendal yang dilempar auto langsung dipecat kali.


“dr.dhemas mau ikut juga?”


Dr.Dhemas mengangguk.


Terlihat sekali wajah bahagia Mayu, entah kenapa ia merasa setidaknya pekerjaannya tidak akan berat jika ada dr.Dhemas, entah bagaimana otak erornya ini mulai berfikir jika ada dr.Dhemas ia akan selalu bisa terhindar dari masalah. Ouuuhhh dr.dhemas.


Satu keluarga dokter itu pergi bersama dalam satu mobil. dr.Hanan, dr.Meca, dr.Dhemas dan Lita, Lita adik dr.Dhemas yang nantinya juga akan menjadi dokter juga.


Mayu duduk dijok paling belakang dengan dr.Dhemas, perjalann yang macet membuat rasa kantuk bergelayut dimata Mayu, tidak melulu dekat dengan dr.Dhemas akan membuatnya terhindar dari masalah, buktinya mereka duduk bersebelahan malah membuat Mayu tak ingin tidur, ada rasa nggak enak, kan nggak lucu kalo tiba-tiba pules terus ngiler, kalo nggak tiba-tiba pules terus ngigo.


Mayu menatap kedepan, sesekali melirik dr.Dhemas dengan mata pojoknya, sedari tadi sibuk berkutat dengan laptopnya, padahal dimobil sedang perjalanan ke rumah saudara juga, masih sempet-sempetnya mainin laptop, begitulan kesibukan dr.Dhemas yang sedang fokus untuk menyelesaikan study menjadi dokter spesialis. Udah ganteng, baik, sopan, pinter, dokter pula. Otak Mayu mulai geser lagi.

__ADS_1


__ADS_2