
Mayu masih membereskan kembali baju-baju dilemari yang baru seminggu lalu ia bongkar, keputusannya menikah benar-benar akan membawanya kembali jauh dari kampung halaman.
Senyumnya mengambang, memandangi baju motif yang terselip dilipatan paling bawah, Mayu meraih dan membuka lebar gaunnya. Bayangannya melayang membayangkan saat pertama kencan dengan Reynan, betapa mudahnya dia menerima cinta Reynan. Jatuhnya kaya cewek matre, hahhaha tapi biarlah, Reynan tak akan semati-matian itu jika hanya untuk memperjuangkan cewek matre.
"huuuuuhhh..., selesai juga" tukas Mayu sesaat setelah menjejerkan kopernya disamping koper Reynan, dia tak banyak membawa baju, ada sebagian baju yang ia tinggalkan, dia hanya membawa beberapa baju terbaiknya, setelah ini juga mungkin Reynan akan mulai berani mengomentari gaya berpakaiannya yang tidak pernah terlihat branded.
Mayu berdiri menatap kamar tidurnya, entah kenapa semakin lama menatap, bulu kuduknya semakin berdiri. Bayangan malam pertama yang berdarah-darah selalu menakutinya. Entah dia dapat dari siapa cerita-cerita macam itu, kedekatannya dengan para sahabat diklinik membuatnya sedikit terusik. Apalagi sejak seminggu lalu grub WA teman-temannya mulai membahas perihal "malam pertama" dengan versi mereka masing-masing.
Mayu berjalan kearah cermin kayu peninggalan bapak yang terletak dipojok kamar, menarik pelan kursi didekatnya, dan duduk menatap kaca.
Mayu memandang dirinya lekat-lekat, haii... ibu Reynan, hahhaha sepertinya panggilan itu akan membuatnya gila saat menjalani kehidupannya kini, Mayu sadar, dia harus menjadi senormal mungkin saat menjadi istri Reynan. Dia bukan anak-anak lagi, bukan pula remaja yang bisa seenaknya sendiri menentukan jadwal bepergian dengan teman-temannya. Kaos oblong yang membuatnya nyaman sekarang ini mungkin tidak lagi menarik, ia harus menjadi istri idaman suaminya, harus.
Mayu mulai mencari gaun tidur yang sebenarnya sudah satu bulan lalu ia beli tapi tak pernah ia coba. Itupun ia beli dengan paksaan dua sahabatnya, GAUN SAKSI PELEPASAN, hahaha nama yang terlalu gila untuk satu gaun merah jambu yang ia pegang sekarang ini.
Tak berpikir lama, kini Mayu mengenakan gaunnya, menatap kembali wajahnya yang mulai memerah, entah efek warna baju atau efek yang lainnya, Mayu mulai merapihkan rambutnya yang masih setengah basah, memakai wewangian hadiah dari Mama. Tidak tahu alasannya apa, tapi Mama memberinya saat malam lamaran dan berpesan untuk memakainya saat malam setelah akad, yah berarti malam ini.
Mayu berfikir malam pertama adalah hal yang wajar untuk siapapun yang baru menikah, semua orang yang sudah menikah akan mengalaminya, tapi dari semua persiapan dan tanggapan yang yang selama ini ia terima, menjadikan malam pertama menjadi hal yang sangat krusial untuk dipersiapkan segalanya. Jantungnya mulai berdetak dengan ritme yang tidak jelas. Perutnya juga mulai mules, seharusnya ini tidak ada dikamus besar malam pertama, tapi perutnya benar-benar mules. Niatnya ingin segera berlari ke kamar kecil, tapi dengan gaun ini pasti dia akan memicu keramaian, apalagi masih terdengar beberapa orang dekorasi dirumahnya. Reynan juga masih ngobrol dengan pakde Usman diruang tengah.
Mayu menghela nafas. Pikirannya mulai buyar, kenapa dia menjadi segrogi ini, padahal sedari tadi sudah berusaha senormal mungkin untuk menghadapi satu hal ini.
Mayu memutuskan untuk berbaring dikamarnya, mungkin saja rasa mulasnya akan berkurang. Mayu meraih ponsel dan membukanya, puluhan ucapan selamat masih saja berdatangan, apalagi dari teman jauhnya yang tidak bisa hadir.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 22:03
Mayu tersadar gagang pintunya berbunyi, ada seseorang yang masuk, entah ide dari mana, Mayu memiringkan posisi badannya membelakangi letak pintu. Membenarkan gaunnya yang licin sekali, tidak bisa ada satu gerakan saja yang Mayu buat pasti akan membuat gaunnya ini ikut bergerak, Mayu mematikan layar ponsel dan memejamkan matanya. Menebak-nebak, pasti Reynan yang datang. Mayu berusaha untuk tetap pura-pura tidur, meskipun gaunnya kini menjadi tidak nyaman, pasti Reynan sudah berfikiran mesum saat menatapnya mengenakan gaun ini. Mayu mendadak menyesal sudah memakai gaunnya.
Reynan membuka pintu kamarnya, mendapati Mayu yang terbaring miring membelakanginya.
Reynan terkikik, entah apa yang ia bayangkan, Reynan merasa Mayu sudah sangat berusaha untuk malam ini.
"ehm..." Reynan berdeham.
Mayu menyerngitkan kening, masih pura-pura tertidur.
Terdengar suara dentingan. Mayu sudah membayangkan jika dentingan itu berasal dari ikat pinggang dicelana Reynan yang terjatuh. Kenapa dia semakin grogi saja. Padahal Reynan sudah tidak memakai ikat pinggang sedari sore. Mayu menjadi over sensitif.
Reynan baru saja menjatuhkan kontak mobilnya.
"ehm.." Reynan kembali berdeham.
Kenapa Reynan mendadak suka sekali berdeham. Mayu semakin tidak karuan.
Reynan sudah mendekat, dan duduk disamping Mayu. Reynan seakan tahu saja jika istrinya ini berpura-pura tidur. Reynan meraih ponsel yang menyala-nyala sendiri disamping Mayu. Membuka dan membaca pesan dari teman-teman Mayu. terlihat beberpaa menit yang lalu Mayu baru menjawab pesan digrubnya.
__ADS_1
"May... Sayang... jangan pura-pura tidur dong, masa aku ditinggalain" tukas Reynan.
Mayu merasa bingung seribu bahasa harus bagaimana. Kebohongannya terbongkar, Reynan mendadak nyebelin.
"Sayang... kamu lagi mencoba menggodaku ya?" tukas Reynan sembari menggerakan jemarinya dilengan Mayu.
Mayu merasa percuma saja dia berbohong.
"Ngapain pegang-pengang? lagian siapa yang mau godain kamu" tukas Mayu masih tak mau menoleh sembari mengibas-ibas jemari Reynan dari lengannya
Reynan tersenyum, "Lalu apa maksudnya? kamu tidur memakai linggeri merah jambu, dengan parfum, wah..... parfum apa ini? aku suka wanginya"
Mayu mengerjap, bangun dari posisinya berbaring dan menghadap Reynan yang sudah sedari tadi duduk disana. Mayu membenarkan gaun tidurnya yang susah sekali diajak kompromi, mudah sekali berpindah posisi saat dia bergerak, dasar baju sialan.
"kenapa?" Tanya Reynan.
"Kamu aja mas yang pikirannya mesum, ngapain juga aku godain kamu? sana tidur aja sendiri" pekik Mayu.
Reynan menatap Mayu lekat-lekat, istrinya ini mendadak sangat lucu,"ya terus apa namanya kalo bukan menggoda? berpakaian sexy didepan laki-laki normal"
Mayu bergegas ingin turun dari kamarnya dan melepas baju sialannya itu. Reynan benar-benar salah sangka. Dia tidak bermaksud menggoda, hanya ingin memerankan perannya sebagai istri saja, Mayu mendadak malas menatap Reynan, dan mengumpat sendiri usahanya.
Reynan menarik lengan Mayu, sebenarnya dia sangat suka Mayu mulai berusaha menjadi yang terbaik untuknya.
"Mau kemana?" tanya Reynan.
"Ganti baju" Jawab Mayu singkat.
"kok diganti?"
"udah nggak asik"
"nggak bisa gitu dong" Pekik Reynan.
"kok nggak bisa?" Tanya Mayu heran.
"ya kamu harus bertanggung jawab"
"bertanggung jawab gimana?"
"kamu udah godain aku, dan aku tergoda, jadi kamu harus tanggung jawab!" Jelas Reynan.
Reynan sudah mendekat, Mayu tak bisa protes sekarang, Reynan sudah benar-benar memeluknya sekarang, mengarahkan wajahnya agar tak lagi menunduk, memaksanya untuk membalas tatapan Reynan. Reynan sudah melayangkan ciuman pertamanya dengan lembut dibibir Mayu.
__ADS_1
Mayu menghindar lirih.
"kenapa?"
"Aku nggak bisa Mas, aku belum pernah"
"kamu hanya perlu diam dan mengikutiku saja"
Reynan kembali melakukannya. Dengan lembut.
Mayu kembali terdiam.
"Are you ok?" tanya Reynan memastikan, Mayu mendadak diam tak menanggapi ciumannya.
"sobeknya nggak banyak kan Mas?"
Reynan mendengus, Mayu ini benar-benar,"aku ini suami kamu! bukan pacar simpanan kamu! aku tahu mana yang harus dijaga dan mana yang tidak perlu dijaga"
Mayu menghela nafas.
Reynan melonggarkan dekapannya,"jika belum siap kita bisa tunda besok saja, May, aku nggak papa kok" tukas Reynan tersenyum melayangkan kecupannya dikening, kemudian berjalan menuju ranjang.
Mayu menatap punggung suaminya yang sudah berlalu. Tanpa berfikir panjang Mayu memeluk Reynan dari belakang.
Senyum Reynan mengembang, dia seperti menemukan jawaban terbesarnya dari Mayu, Reynan segera menoleh dan membaringkan tubuh istrinya di ranjang.
Hal krusial dari setiap pengantin itu sedang Mayu alami, entah ini bentuk dari sebuah cinta atau hanya bumbu-bumbunya saja. Tapi sebagai wanita, Mayu harus menyadari bahwa ia juga memiliki peran penting dan tanggung jawab besar saat ini. Tanggung jawab istri sama dengan tanggung jawab suami dalam melewati semua aktivitas malam pertama itu agar berjalan dengan aman.
Wanita wajib memperlihatkan semua unsur kelembutan, kecantikan, keelokan dan padangan yang jauh. Seorang istri yang cerdas dan berpikiran sehat akan banyak membantu suaminya dan tidak menambah tekanan stres padanya.
Oleh karena itu hendaklah suasananya dibuat sedemikian nyaman, tanpa ada rasa takut dan merasa nyaman menghadapi malam yang paling menyenangkan dalam kehidupannya, sebagaimana sang istri juga harus pasrah dengan penuh kelembutan dan totalitas yang seutuhnya.
Penting juga bagi suami untuk membuat istri nyaman dengan segala kekhawatirannya. Maka kerjasama akan menghasilkan kebahagiaan bersama.
.
.
.
.
.
__ADS_1
heheheh mungkin itu gambaran singkatnya saja ya para pembaca, saya masih belum bisa menulis keruntutan adegan krusialnya. Jangan lupa like ya, semoga besok bisa up lagi.