Memayu

Memayu
Episode 86 Lelaki Bucin


__ADS_3

"Mama mau makan malam pake menu apa?" tanya Mayu sesaat setelah menutup pintu.


"Kamu udah nanya maunya Mama aja May, beli aja lah, Delivery aja, capek kalo harus masak, seharian kan kita jadi tawanan gak jelas"


"Iya Sayang, bener kata Mama"


"yaudah deh nanti Mayu pesen aja Ma"


"nggak usah, Mama suruh fitri sama Eni aja, biar mereka ada kerjaan hari ini"


"Iya Ma"


Suasana rumah kembali sunyi setelah ketiganya masuk kekamar masing-masing.


"Kamu dulu atau aku yang Mandi?" Tanya Reynan,"Atau bareng?"


Mayu menatap suaminya dengan mata pojok, senyum penuh harapan terlihat disana,"Kalo mandinya bareng jadi nggak selesai-selesai, aku dulu aja ya?"


Reynan menarik nafas panjang sembari melonggarkan dasinya, bukan jawaban itu yang dia ingin dengar,"Emang kenapa si kalo nggak selesai-selesai"


"Yakin masih mau dibahas? aku capek Mas, nggak papa kan kalo sendiri-sendiri?"


"Kalo tega ya nggak papa"


"Kok gitu sih jawabnya"


"Kamu yang kok gitu"


"Mas, tadi kok Kassandra kaya masih berharap gitu ya"


"Yah, malah ganti topik, bahas yang nggak perlu dibahas lagi"


"Ih bukan gitu Mas, aku ngrasa kaya dia masih berharap banget buat balik lagi"


"Ya biarin aja lah"


"Kok biarin si Mas?"


"Ya biarin aja, yang penting kan yang diajak balikan nggak mau"


"oh iya ya"


"Iya lah"


Mayu tergugu, benar juga, ternyata tak penting membahas ini.

__ADS_1


"Sini cepat" Reynan menarik lengan istrinya.


"Kemana, Mas..."


"Ayo..." Reynan menariknya masuk kekamar mandi.


............


Tiga piring nasi goreng sudah terhidang diatas meja, Mama memilih menghabiskan satu piring terlebih dahulu, sudah limabelas menit dia duduk tapi anak dan menantunya belum ada tanda-tanda keluar kamar. Sedang tidur atau ritual dulu, lama. Fikirnya.


ponsel Mama berdering.


Kassandra.


"Aduh, ini ngapain lagi si nelpon, angkat nggak ya? nggak diangkat kasian, kalo diangkat nanti dia gede rasa, biarin dulu saja lah" katanya pelan dan menaruh kembali ponselnya.


Belum ada beberapa detik panggilannya kembali masuk.


"Duh nih anak, angkat aja lah daripada nelpon mulu"


klik.


"Hallo ma" Sapa kassandra.


"Iya, gimana?"


Mama sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya, "Mau apa coba nelpon-nelpon reynan", ia kembali mendekatkan kembali ketelinganya, "Sibuk kali dia"


"Kalo boleh tau sibuk apa ya Ma?"


Mau tahu aja deh,"Tante aja nggak tau, dari tadi juga tante nungguin belum keluar-keluar tuh" sekalian dipanasin aja lah biar mendidih, "Maklum lah ya, kalo lagi sama istrinya semuanya bener-bener dicuekin san"


".....?"


"Oh ya, kamu kenapa nelpon tante?"


"Oh nggak tante, mau bilang terimakasih aja tadinya, dokternya barusan nyampe kerumah"


"Oh... syukur deh kalo gitu. Udah dulu ya San nelponnya, tante lagi makan nih"


"Iya tante"


Klik.


Mama meletakan ponselnya, setidaknya Kassandra masih ingat untuk berterimakasih.

__ADS_1


.......


"Sayang..." Suara pelan Bimo membuat Kassandra terperanjat, ia segera menyeka air mata dipojok netranya. Entah mau sampai kapan, dirinya benar-benar terjebak dengan perasaan yang salah. Ia salah. Karena kenyataannya Reynan sudah tidak bukan miliknya, tak lagi dapat dia miliki, meskipun hanya dalam angan sekalipun.


Bimo tahu istrinya baru saja menangis, laki-laki sepertinya terlalu bodoh untuk sekedar mengerti istrinya, dia terlalu bucin sampai tak menyadari ada laki-laki lain di angan istrinya.


"Maaf Bim, emmm makan dulu yuk?" tukas Kassandra dan berlalu.


Tangan Bimo menarik lengan Kassandra pelan, pengisyaratkan jika dia masih mau bicara.


Kassandra menatap lengannya,"Kenapa Bim?" Tak biasanya dia aneh.


Bimo menelan ludah, dia harus beranikan diri, Kassandra tak boleh menyembunyikan sesuatu darinya,"Kamu telepon siapa?"


Kassandra seketika gelagapan, tak biasanya Bimo seperti ini.


"Jawab San" tegas Bimo menajamkan tatapannnya.


Kassandra menghela nafas, mengetahui jika Bimo benar-benar ingin tahu.


"Reynan?" tanya Bimo dengan nada mengintrogasi.


Kassandra menggeleng, memang tadinya Reynan, tapi panggilannya tak terjawab.


"Lalu siapa?" tegas Bimo.


"Mama Bim"


"Mama siapa?"


Kassandra menghela nafas,"Udah yuk kita makan aja, aku udah laper"


"Cukup San! Aku tahu kamu paham kalo aku cinta mati sama kamu dan nggak bakal ninggalin kamu, tapi kamu perlu tahu, mungkin setelah ini tak ada laki-laki yang mau menerima kamu apa adanya seperti aku menerima kamu apa adanya"


"Maksud kamu apa si?"


"Bukan apa maksud aku, tapi apa maksud kamu? buat apa telpon-telpon mantan mertua kamu?! berharap lebih?" Bimo mendengus kesal, tampak wajah merah Kassandra, dia sedang mengatur emosinya,"Lanjutkan saja jika aku sudah tak berarti apa-apa bagi kamu" Bimo berlalu meninggalkan Kassandra.


Kassandra masih terdiam, dia tak menyangka kata-kata ancaman baru saja keluar dari mulut suaminya itu. Kassandra mulai tak habis fikir.


Bimo meraih jaket kulitnya, keluar rumah dengan meninggalkan suara pintu yang ia tutup dengan kasar.


Kassandra mengusap wajahnya, Ada apa si dengan Bimo? Dia mulai curiga sehingga menjadi pemarah seperti ini. Buang-buang waktu saja memikirkan Bimo, kalo sudah sembuh juga dia akan pulang, lagian kemana lagi dia akan berteduh jika bukan dirumah ini. Rumah Bimo.


.........

__ADS_1


#tinggalkan like dan komen ya 🥰🥰🥰


__ADS_2