
Pagi itu Reynan sudah sampai di bandara kota Semarang, langkahnya panjang menuju mobil jemputan yang sudah ia pesan. Kali ini bukan urusan pekerjaan, setelah semalaman berfikir panjang, Reynan memutuskan untuk menemui Orang tua Mayu, mungkin Mayu ada disana. Reynan sengaja pergi sendiri tanpa mengajak siapapun, sekretaris Ibran yang sangat khawatir membiarkan Reynan pergi sendirian hanya bisa pasrah, mengingat banyak sekali urusan perusahaan yang harus Ibran selesaikan untuk mewakili Bosnya itu.
Reynan mengenakan baju gaya casual, terlihat dari mix matchnya memadukan celana jeans panjang yang ia gulung sedikit, menampilkan sepatu chelsea boot, dengan atasan putih polos dan kemeja flanel yang iya jadikat outwear dan tas salempang kecil melingkar ditubuhnya, serta aksesoris jam tangan kulit dan kacamata hitam menambah kesan penampilan yang casual tapi tetap terlihat smart.
Reynan menuju mobil jemputan yang sudah Ibran pesan sebelumnya, segera melaju menuju alamat daerah tempat kelahiran Mayu.
Dua jam perjalanan, mobil Reynan sudah terparkir didepan rumah dengan halaman yang masih cukup untuk terparkir satu mobil. Rumah sederhana yang terlihat rindang, di depannya terdapat pohon mangga yang lebat, dan beberapa tanaman bunga yang berjejer dan beberapa yang menggantung didepan teras menuju pintu utama rumah.
Reynan memang beberapa kali mencoba menelpon Ibu Mayu, tapi tak ada jawaban satupun, mungkin Mayu melarang Ibunya untuk mengangkat telpon Reynan.
Reynan meyakinkan diri untuk melangkah masuk, sesekali menarik nafas panjang.
"Permisi, Assalamu'alaikum "
Terdengar suara jawaban salam dari dalam, seseorang membukakan pintu.
"Mas Reynan ya?" tukas Arif, adik Mayu. Tebakan nya asal saja, melihat penampilan, gaya dan perangai nya yang sebelumnya selalu Mayu ceritakan.
"sopo Rif?" Tanya Ibu yang menyusul ke teras.
Ibu sedikit tertegun dan hampir tak percaya Reynan Samodra datang hanya untuk mencari putrinya, satu jam Reynan duduk diruang tamu, menikmati teh buatan ibu sembari menceritakan maksud kedatangannya.
Reynan sedikit kecewa karena Mayu tidak pulang kerumah Ibunya, tapi hatinya sedikit lega saat Ibu mengatakan Mayu baik-baik saja, selama ini sering menelfon ibunya, mungkin dia butuh sendiri dulu di Asrama.
Sebenarnya Ibu sedikit tidak enak dengan waktu lalu yang selalu tak menjawab telpon Reynan karena permintaan Mayu, ia fikir hati anak perempuannya sedang kacau dan masalah yang Reynan buat sudah sangat menyakiti hati anak perempuannya. Tapi setelah melihat kehadiran Reynan, entah kenapa hati Ibu menjadi tersentuh, kehadiran Reynan meruntuhkan segalanya, apalagi dia datang hanya untuk mencari Mayu, dan berniat meminta maaf. Yang membuat Ibu semakin terharu ketika Reynan mengatakan bahkan dia sama sekali tidak mengetahui sebab kenapa Mayu menghindarinya.
Ibu membiarkan Reynan beristirahat diruang tamu, Ibu menyiapkan makanan dan meminta Reynan untuk menunggunya menyelesaikan masak memasaknya didapur.
Reynan menurut saja, meskipun tak mendapati Mayu sekalipun.
Wanita yang menguasai relung hatinya ini ternyata sudah lucu sedari kecil, Reynan melihat foto masa kecilnya Mayu tampak digendong seseorang ter bingkai rapi di meja pojok ruang tamu sederhana itu. senyumnya mengembang.
Lamunannya tersadar, Ibu sudah mulai membawa masakannya menuju meja diruang tengah.
"Itu foto Mba Mayu waktu kecil Mas, digendong karo Bapak" Tukas Ibu sembari meletakan masakannya.
Reynan tersenyum dan manggut-manggut.
"Ayu to Mas? Mba Mayu nya Ibu?" tanya Ibu.
"0h, iya bu"
"Iya opo?" Ledek Ibu.
"Cantik bu" Jawab Reynan sembari senyum dengan sedikit canggung, iyalah cantik, kalau tidak cantik Reynan tidak akan segila ini dalam mencintainya.
__ADS_1
"Lungguh sini, Mas, Ini masakan Ibu, sederhana saja, mbok menawi Mas Reynan kerso, Ibu mboten saged masak eco-eco kados ting Tv niko" Tukas Ibu mempersilahkan Reynan untuk makan siang dengan bahasa khas yang Reynan sedikit mengerti maksudnya, untung ART di rumahnya ada yang sering berbicara menggunakan bahasa Jawa, setidaknya Reynan sudah terbiasa.
"Niki beras jowo Mas, mlemet, monggo dikersaake" tukas Ibu sambil menyendokan nasi ke piring Reynan.
"Terimakasih Bu, Ibu baik sekali"
"Mas Reynan ini berlebihan, Mas Rey kan tamu, jadi harus disuguh sebisa Ibu"
"Tamu ya bu? Mudah-mudahan kalo besok saya kesini lagi, saya sudah bukan tamu ya bu?" Tukas Reynan memberanikan diri.
"lah Ibu juga pinginnya begitu, tapi sebagai orang tua, Ibu namung manut lare mawon Mas"
Reynan mengangguk, setidaknya jawaban ibu sudah cukup memberinya signal jika dia merestui Mayu dan dirinya.
"Ayo-ayo di monggo, Mas" ajak Ibu.
Reynan, Ibu dan Arif makan bersama. makan siang kali ini terasa hidmat meskipun hidangan nya sangat sederhana, Reynan terlihat menikmati masakan Ibu.
Ibu merasa semakin bahagia, ternyata Reynan yang kaya, tampan, baik hati ini mau saja menikmati hidangan ala kadar yang di masaknya.
Sesekali pandangan Reynan tertuju pada Arif yang turut membantu Ibunya membawa piring dan sisa makanan ke dapur. Walaupun ia laki-laki, tapi masih mau membantu Ibu.
"Arif sudah kelas berapa?" tanya Reynan.
"Sebentar lagi lulus dong?"
"Iya, Mas. Hmm nanti kalo Arif sudah lulus Arif kerja ikut Mas Reynan ya, kerja apa aja Arif mau, buat bahagiain ibu seperti mba Mayu" tukas Arif yang langsung ditampik Ibunya.
"hus, Saru! Mas Reynan malah dipalakin kerjaan"
Reynan tersenyum, melihat pemandangan Ibu dan Anak ini.
"La nggak papa bu, ya kan Mas?" tanya Arif memastikan jawaban Reynan.
"Iya, Bisa diatur yang terpenting belajarnya harus lebih semangat Rif" Jawab Reynan.
"Tuh! Rungokke" Tambah Ibu kepada Arif.
"Kalau syaratnya cuma itu, InsyaAllah Arif masuk kriteria, Mas" Jawab Arif yakin.
Reynan dan Ibu tertawa kecil.
Sudah tiga jam Reynan dirumah Mayu, Reynan memutuskan untuk pulang.
"Bu, Maafin Saya, bukan maksud saya mau menyakiti perasaan Mayu, Mungkin, jika Ibu bisa membantu saya untuk menanyakan alasan kenapa Mayu tidak mau bertemu saya, mmm maksud saya" Reynan mulai kehabisan kata-kata.
__ADS_1
"iya..iya.., sekarang ibu telpon Mayu, ibu tanyakan apa yang terjadi" Jawab Ibu seakan sangat memahami maksud Reynan.
Reynan menghela nafas panjang, menemukan jalan keluar dari masalahnya.
Ibu sudah mulai mengambil ponsel dan menelfon Mayu. Terdengar telefon mulai tersambung.
"Maaf bu, jangan bilang Reynan disini ya?" pinta Reynan.
"oh iya, iya"
Tak selang beberapa lama, Mayu menjawab telepon ibunya.
"Assalamu'alaikum Ibu.."
Entah kenapa Reynan reflek menutup wajahnya, dengan seksama mendengarkan percakapan Ibu dan anak itu, Reynan terheran Mayu pandai sekali menyembunyikan kesedihannya didepan ,Ibu, hampir tiga kali ibu bertanya tentang hubungannya dengan Reynan, Mayu selalu bisa menjawabnya dengan santai, namun saat Ibu mencoba bertanya lebih dalam tentang perasaan dan cintanya, Mayu terdengar terisak disana.
Reynan mulai panik, menemukan titik kenapa Mayu bisa menjadi sebenci itu kepadanya, Reynan terlihat gelisah mendengar ungkapan Mayu yang mengutarakan keraguannya setelah mengetahui jika Reynan sama sekali belum melupakan mantan istrinya dan kejadian diruangan dr.Dhemas.
Mayu terdengar terisak, tapi kemudian meminta maaf kepada ibunya.
"Maafin Mayu nggih bu? Mayu bohong sama Ibu, Mayu tidak sedang baik-baik saja"
"Iya nduk, tidak apa-apa, tapi menurut ibu, temui Mas Reynan, kalian perlu membicarakan ini, Ibu merasa Mas Reynan sudah sangat khawatir mencari kamu dimana-mana"
"Maksud ibu?"
Ibu merasa membuat Mayu curiga,"Maksud ibu, kamu bicarakan ini dengan Mas Reynan, biar jelas, jika mungkin yang kamu fikirkan itu benar, mumpung kalian belum menikah nduk, tapi jika yang kamu fikir itu tidak benar, pasti akan selalu ada kesempatan kedua kan?" Tukas ibu panjang lebar dengan nada rendah.
Kali ini Reynan merasa tertampar saat Ibu mengatakan jika benar mumpung belum menikah, itu artinya...? Reynan sudah berfikir sangat jauh.
Ibu sudah menutup telponnya.
"Mas Rey" Panggil Ibu.
"iya bu?"
"Hanya itu yang bisa Ibu bantu, selanjutnya terserah bagaimana kalian berdua saja, maafkan Ibu jika tidak bisa membantu banyak, Ibu hanya tidak ingin mencampuri urusan kalian, kalian sudah sama-sama dewasa, Ibu yakin kalian akan menemukan yang terbaik untuk hubungan kalian" Jelas Ibu
"Iya bu, terimakasih"
.
.
♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1