
"Kamu meragukanku? kamu nggak percaya sama aku Mas? gimana aku ngomongnya coba, hal sederhana aja kamu dibikin ribet, gimana aku mau minta izin lagi buat ikut kegiatan sosial minggu depan diacara sunatan masal" Jelas Mayu.
"Gila ya, ini aja belum sembuh udah mau ditimpa lagi" Jawab Reynan datar. Wajahnya menunjukan rasa tak nyamannya sama sekali.
"Kan, sedikit aja coba kamu positiv thingking ke aku, nggak bakal kamu marah-marah gini"
"Yaudah kalo kamu mau pergi terserah" Tukas Reynan.
"Kok jadi maunya aku sih mas?"
"terus apa? ini aku lagi ngasih izin ke kamu loh May"
"Kaya ngggak ihlas gitu ngasih izinnya"
"Mau kamu apa?"
"Jangan marah-marah! percaya sama aku"
Reynan terdiam.
Mayu semakin kesal, memilih berbaring dan membelakangi Reynan. Mematikan lampu kamarnya tanpa mengucapkan selamat malam yang manis seperti biasanya.
Reynan merasa posisinya jadi terbalik, harusnya dia yang marah, bukan Mayu.
"Aku percaya sama kamu. Dhemas yang aku nggak percaya!" tukas Reynan patas dan mengikuti tingkah Mayu membelakangi, kemudian mematikan lampu tidur.
Tidak ada percakapan setelah ini, hanya ada keheningan. Semakin malam, semakin dingin, semakin larut dalam mimpi masing - masing.
...........................
Mama sudah bangun lebih awal, mengamati ruang keluarga yang masih sepi, dapur yang masih rapi, Mama senyum-senyum sendiri,"Pasti pada bangun kesiangan, biarin aja deh, lembur kayaknya mereka, hahahhaah" Tukasnya sembari menyeduh teh.
Jegrek..
Pintu kamar Mayu terbuka. Mayu segera bergegas menuju dapur, mencari air putih.
"Pagi Ma...."
"Pagi May..., mama pikir kamu bakal kesiangan"
"Kok begitu?"
"Mama nebak saja May"
"Mama nggak lagi mikir aneh-aneh kan?"
"Nggak kok, normal aja"
Mayu tersenyum, menggeleng sembari bergegas menuangkan air putih pada gelas digenggamannya.
__ADS_1
"oh ya, Minggu depan Mama mau kesurabaya May"
"Ngapain Ma?"
"Budhe titi mau nengok cucunya, Mama mau ikut May"
"Oh, Budhe titi udah ada cucu lagi?"
Mama mengangguk,"Iya"
"Syukurlah Ma, nanti Mayu bantuin siapin perlengkapannya Ma"
"Nggak nggak, persiapan apa si? Mama paling cuma tiga hari, bukan sebulan"
"Ohhh.."
"Nanti kamu keburu kangen Mama kalo kelamaan"
Mayu tersenyum,"betul Ma, Mayu bakal galau banget kalo Mama lama-lama nggak dirumah. Untung aja Mama berangkatnya minggu depan"
"Emang kenapa?"
"Nggak papa Ma"
"Rey masih ngambek ya?"
Mayu duduk disofa tempat ibu mertuanya duduk.
"Kamu sih nggak jago ngrayunya, itu cuma butuh satu sentuhan aja May, yakin Mama"
"Apaan sih Ma"
"Coba deh"
"Nggak ah Ma, Mayu jadi nggak mood, marah-marah terus"
"Kalo dicium juga diem May... simpel aja kalo masalah suami istri begini Mah"
Mayu menggelengkan kepala, kadang terbesit dipikiran Mayu, dia menjadi menantu dari mertua yang begitu konyol, seperti sahabat sendiri.
Jegrek.
Pintu kamar terbuka. Reynan keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Ketiga orang diruangan itu saling memandang.
"Nggak ada sarapan Ma?" tanya Reynan kepada ibunya.
"Ha?" Mama mengarahkan pandangannya kepada Mayu.
"Oh iya Mas, Sori... tadi ngobrol keterusan sama Mama, aku pikir kamu bakal satu jam lagi berangkat kantor"
__ADS_1
"Yaudah lah sarapan dikantor saja" Tukas Reynan dan berlalu.
Mayu semakin salah tingkah, meminta pendapat ibu mertuanya,"Gimana ma?"
" Udah sana kejar"
"Aduh, nggak deh Ma"
Mama menepuk keningnya,"Sana cepet, nanti tambah marah lo"
Mayu mendengus pelan, seperti saat awal pacaran saja, menarik nafasnya dalam-dalam dan bergegas mengejar suaminya.
Mama menggeleng saja melihat keduanya,"pasangan aneh, kalo akur saja enak, pake acara berantem segala, jadi ikut pusing" Dengusnya pelan.
...............
"Mas...." Seru Mayu sesaat setelah Reynan membuka pintu mobil.
Sebenarnya tak tega mendiami Mayu seperti ini, hanya sedang kesal saja dengan istrinya yang tak peka, dia masih terbakar api cemburu. Reynan meletakan tas kerjanya dan kembali menutup pintu mobil.
Mayu mendekat, sembari memilah-milah kalimat apa yang akan dia ucapkan, rasanya malas sekali menghadapi suaminya yang sedang cemburu ini, mungkin sehari tanpa kecupan juga sebenarnya tak masalah.
"Ada apa?" tukas Reynan membuat Mayu yang sudah menyiapkan kalimat menjadi malas untuk sekedar meminta bersalaman.
"Ck, masih marah?"
"menurut kamu?"
"Masih" Mayu tersenyum,"Hati-hati kalo mau berangkat, salim dulu" Mayu menyodorkan tangannya.
Reynan menyodorkan punggung tangannya dengan malas.
"Nanti siang lunch dikantor kamu ya? aku masak spesial deh" ajak Mayu masih merayu.
"Boleh, nanti aku kabarin lagi"
"Emang harus ngabarin dulu? biasanya aja nggak"
"Takutnya nanti ada kerjaan mendadak malah kamu marah nggak jadi lunch"
"Emang aku pernah marah cuma gara-gara nggak jadi lunch?"
Reynan terdiam, mengulang-ulang, seingat dia memang Mayu ini jarang sekali ngambek,"ya kali aja kamu marah"
"Yaudah, hati-hati ya"
"Ya" Reynan membuka pintu mobil.
"Cium dulu Mas" ucap Mayu dengan senyum nakalnya disana, sebenarnya dia malu mengatakan ini, karena biasanya tak dimintapun Reynan selalu inisiatif. Tapi Mayu harus berusaha sekarang ini.
__ADS_1
Reynan segera meraih pelan kepala istrinya dan mengecup keningnya seperti biasanya. Ia segera berlalu meninggalkan Mayu yang masih menunggu mobilnya berlalu. Benar saja, ia tak bisa selama ini marah dengan istrinya.
..........