
"Hallo Ma" Tukas Reynan menjawab telepon Mamanya yang sebenaranya sudah dia riject berulang kali, Mama selalu hadir tak tepat waktu, apalagi kali ini, lebih tak tepat, pertandingannya dengan Mayu hampir saja diujung pelepasan, terpaksa Reynan mereject telepon Mama yang berdering, membuatnya menjadi tak begitu intens menikmatinya.
"Pasti masih tidur ya?" suara Mama menggema dari balik telepon.
"Habis olahraga, Ma" Jawaban Reynan langsung membuat Mayu bereaksi mencubit perut suaminya yang masih sama-sama polos dibalik balutan selimut.
Reynan mengaduh kecil, Melengkungkan tangannya, mendekap kepala Mayu kepelukannya. Mayu tak protes, dia sudah faham antara kedekatan Reynan dan Mama.
Mama merasa ada harapan besar yang menyertainya dibalik teleponnya.
Reynan harus bahagia, mereka harus bahagia, hanya doa itu yang selalu Mama panjatkan untuk kedua anaknya.
Mama merasa semua jalan yang sejauh ini sudah Reynan lalui, harusnya dia tak pernah merasa hancur, harusnya kasih sayangnya terhadap Kassandra bisa dibalas dengan kebahagiaan untuk Reynan, tapi Mama salah. Sekarang apapun itu bentuk kebahagiaannya, anak laki-lakinya tak boleh kembali hancur, sayangnya kepada Mayu juga sama, setidaknya kehadiran Mayu yang cepat meredupkan kehancuran Reynan adalah tanda mereka berjodoh, Semoga Tuhan senantiasa memberikan anaknya kebahagiaan.
...............
Mayu baru akan mandi, tak lama setelah masuk ia kembali keluar, mencari benda pelindungnya saat datang bulan melanda. Fikirannya sedikit gusar, dia merasa ada sesuatu yang salah.
"Sayang, carger tab aku kamu bawa nggak ya?"
Mayu mendongak, tersadar dari lamunan,"Ada Mas masih dikoper, aku ambilin sebentar" Mayu menuju kopernya, menemukan benda yang ia cari. Mayu menemukan carger dan benda pelindungnya juga, dia merasa didirinya benar-benar ada yang tidak beres.
"Sayang, udah ketemu?"
"oh, iya sudah" Mayu terbangun dari lamunannya. Menyerahkan cargernya kepada Reynan tanpa menatap suaminya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Reynan melihat benda yang istrinya bawa.
"Hey... apa itu?"
Mayu menoleh,"benda keramat" Jawabnya singkat dan kembali masuk ke kamar mandi.
Berbeda dengan Reynan yang terkejut dan pikirannya mulai gusar, kenapa dia datang disaat waktu yang tidak tepat, apalagi reaksi Mayu yang biasa saja, atau jangan-jangan istrinya sudah sengaja, tapi untuk apa? Reynan berdecak, "mengganggu saja" gumamnya.
Reynan kembali membuka tab dan menyelesaikan pekerjaannya. Ibran dan pak Hendra sudah seharian merepotkannya dengan beberapa pekerjaan kecil.
Mayu tampak sudah selesai Mandi.
Reynan melirik istrinya dengan mata pojok.
Mayu tampak memegangi kepala dan perutnya, mungkin karena hari pertama menstruasi.
__ADS_1
"Sayang?" Tukas Reynan yang tak pernah melihat Mayu seperti sedikit kesakitan.
Mayu menatap suaminya, mengisyaratkan jika dirinya baik-baik saja. Mayu meraih ponselnya dan mengetik beberapa pesan kepada sahabatnya.
Tak lama ponsel Mayu berdering, Mayu segera mengangkat telepon.
"Hallo?"
"Hallo May? gimana? mau aku sambungin sekarang ya biar bisa konsul?" Tanya Dewi dibalik telepon, Dewi menggunakan nomor klinik saat menelepon Mayu.
Reynan masih menatap Mayu, suara sahabat Mayu terdengar cempreng dibalik telephon.
"Iya Dew, boleh" Jawab Mayu.
Iya, Mayu sudah merasa ada yang aneh dengannya belakangan ini, dari moodnya yang berantakan, selera makannya yang berkurang, bahkan keadaan tubuhnya yang mudah lelah, mual dan pusing, serta darah menstruasi yang aneh.
Ketakutan yang selama ini membuatnya semakin tak ingin untuk berkonsultasi, dari menstruasi yang tidak pernah teratur dan siklus yang berantakan membuatnya enggan mengunjungi dokter kandungan, dia takut, takut mendapatkan info lain, apalagi jika info yang membuat ketakutannya semakin menjadi, ia takut tak bisa menjadi ibu. Ia takut.
Kini dirinya mulai berani, ketakutannya harus dikesampingkan, keadaannya yang tak biasa dan menstruasi yang menurutnya aneh membuatnya memutuskan untuk konsultasi by phone dengan dokter kenalannya lewat Dewi.
"Baik dok" Jawab Mayu saat dr.Desi menanyakan kabarnya.
Reynan mulai bereaksi saat Mayu mengatakan "Dok", siapa yang Mayu telepon?
"Kapan kamu terakhir mens?"
"Empat bulan lalu, seminggu sebelum pernikahanku, sekarang baru mens lagi"
Reynan tertarik dan mendekati istrinya yang mulai serius.
Mayu melirik Reynan, tak lama iya mengiyakan saran dr.Desi dan menutup teleponnya.
Reynan masih menatap istrinya penuh tanya.
Mayu menghela nafas dan menjelaskan apa yang dia rasakan akhir-akhir ini, tapi pinggangnya mendadak ngilu, kepalanya mulai terasa semakin pusing.
Reynan menyadari hal itu, ia segera memeluk istrinya dan membaringkannya dikasur.
"Sayang, kamu kenapa? kamu sakit?"
Mayu masih memijit-mijit kepalanya ringan.
__ADS_1
"Kita kedokter ya?" Tukas Reynan.
Mayu hanya mengangguk.
.......
Mayu tak menyangka Bulan madunya akan berakhir dikamar dokter Obgyn dinegara orang, untung Reynan mudah saja menemukan dokter yang juga bisa berbicara bahasa indonesia, dia hanya ingin istrinya nyaman berkonsultasi.
Sebenarnya Reynan sudah bingung sedari tadi, Istrinya sudah berbaring dibed, dan dr.Daniel sudah mulai menjalankan alat Ultrasonografinya. Reynan menebak saja, dulu saat Kassandra mens tak pernah sampai harus bertemu dokter kandungan.
"Sejak kapan anda merasa sesuatu aneh terjadi pada tubuh anda, Bu?" Tanya dr.Daniel sembari tersenyum, tak tahu saja jika Reynan sudah ketakutan disana.
"Kurang lebih sekitar satu bulan ini" Jawab Mayu.
"Ya,ya,ya, sudah kelihatan ya kantungnya?"
Mayu seketika memandang layar, menoleh ke arah Reynan yang berekspresi bingung. Mayu melambaikan tangannya, mengisyaratkan Reynan supaya mendekat, Reynan mengikut saja, berdiri disamping Mayu dan menggenggam tangan istrinya.
"Maksud dokter?" tanya Mayu.
"Congratulation! your pregnant!"
Mayu bereaksi menutup mulutnya dengan tangan kanan, sedangkan Reynan masih saja terdiam dengan kondisi terkejut.
"I'm sorry, don't you guys want this pregnancy?" Tanya dr.Daniel saat melihat reaksi dua pasangan ini.
Reynan dan Mayu tersadar dengan reaksi berlebihan mereka hingga dokter mengatakan apakah mereka tidak menginginkan kehamilan ini?
"oh i'm sorry, we are very surprised and happy" Jawab Reynan yang sudah tak mengerti harus berkata apa untuk mewakili kabahagiaannya. Dia sama sekali tak menyangka akan mendapat kabar bahagia dengan cara yang seperti ini. Dia fikir istrinya sakit, apalagi pagi tadi Mayu baru saja mengatakan dia menstruasi.
"Ok! selamat ya, sudah 9 week"
"9 minggu dok? ya Allah, maafin Momy sayang, Momy nggak tahu" tukas Mayu kepada bayinya.
Reynan masih tidak percaya.
"Tapi ada satu hal yang harus diperhatikan, kondisi ibu sangat tidak memungkinkan untuk beraktifitas dulu, karena selain menjadi pertanda hamil, flek ini bisa mengancam keselamatan janin atau bisa kita sebut keguguran, jadi nanti saya kasih obat penguat kandungan dan ibu sementara bedrest dulu ya, jangan terlalu banyak fikiran sampai benar-benar pulih"
"iya dok" Jawab Mayu, ia meboleh ke arah Reynan yang masih senyum-senyum sendiri.
"Maaf dok, tapi sekitar 3 hari lagi saya mau pulang ke indonesia" tukas Reynan.
__ADS_1
"Saya rasa, istri anda jangan dulu ikut pulang pak, karena mengingat kondisi kandungannya yang lemah, apalagi ke Indonesia bukan perjalanan udara yang sebentar"
Air muka Mayu mulai berubah, dia akan terjebak dinegara orang, entah sampai kapan.