
Reynan terkejut, merasa Mayu benar-benar menolaknya. Reynan menghela nafas, mulai menyadari butir-butir kesalahannya,”May... please, aku nggak mau kaya gini”
“Aku juga nggak mau Mas!" jawab mayu agak meninggikan nadanya.
Ibu dan Arif terlihat saling mendengarkan pembicaraan keduanya diruang masing-masing.
“Kita harus saling ngomong May!”
“Emang seharusnya kita saling ngomong kan? jangan seakan-akan aku yang memulainya dong Mas”
Reynan mendengus, seperti kehabisan kata,”Aku tahu, Aku minta Maaf” Suaranya pulai parau.
Mayu menggeleng, tak mengerti maksud Reynan, semudah itu dia berucap maaf berulang kali, seperti kesalahannya hanya sebatas permasalahan kecil.
“Aku minta maaf dan aku mau kamu pulang!" Tukas Reynan mengutarakan maksudnya.
“Aku udah pulang Mas, ini rumah aku” Jawab Mayu patas, ingin rasanya membuat suaminya semakin sadar.
“Ini bukan rumah kamu!”
“Ini rumah aku”
“Kamu istri aku dan rumah kamu bukan disini!”
Mayu terdiam,"Istri kamu bilang?"
“please jangan bahas lagi, anku nyesel May, aku kalut waktu itu, aku sadar sekarang, aku nggak bisa tanpa kamu May, jangan buat aku gila karna aku nggak bisa bawa kamu kembali lagi, please” Tukas Reynan memohon, kini dia benar-benar memohon.
“Kenapa baru sekarang Mas? Kamu nggak bisa semudah itu bilang maaf dan membawa aku kembali, aku udah cukup sakit harus merasakan luka dalam, luka luar, aku nggak bisa Mas” Mayu berdiri dan beranjak menuju kamarnya. “Arrrgghh.....” pekiknya saat menyadari luka jahitannya terasa ngilu akibar gerakan spontan yang ia buat.
Reynan terkejut, menyadari istrinya tidak sedang baik-baik saja. Reynan segera mendekat dan menolong Mayu yang terlihat sangat kesakitan.
Ibu dan Airf yang sedari tadi mengintip merekapun spontan keluar.
“kamu kenapa May?”
“ssshhhhhh” Mayu mengaduh lirih.
Reynan mendapati kaki Mayu yang dibalut perban.
“ati-ati nduk” sahut ibu dari balik dapur.
__ADS_1
“Mayu kenapa Bu?” tanya Reynan sembari memegangi Mayu yang masih mengaduh.
“aku nggak papa Mas, Cuma luka kecil, aku mau istirahat dikamar saja” Tukas Mayu dan berusaha sekuat tenaga berjalan menuju kamarnya yang tinggal beberapa langkah saja.
Reynan tak berfikir panjang, jawaban Mayu justru menandakan dirinya sedang tidak baik-baik saja, ia segera beranjak, menggendong istrinya menuju kamar.
Mayu terkejut, tubuh besar suaminya sudah merengkuhnya dipelukan.
Ibu tersenyum saja melihat mereka, berbeda dengan Arif yang terlihat berlebihan menatap pasangan suami istri itu berlalu memasuki kamar.
“Ngopo koe rif?” tanya Ibu yang mendapati Arif masih melongo menatap kakak dan iparnay itu.
“ih Ibu, terserah arif lah mau ngapain”
“ora ilok ojo temen-temen ndeloake”
“emang kenapa? Belajar kali dari Mas Reynan gimana cara ngerayu istrinya kalo lagi marah”
“bocah semprul, kedengeran Mba mu nanti lho”
“biarin aja bu, salah siapa nggak nyensor adegan didepan anak dibawah umur”
Ibu reflek melempar sayur kangkung yang digenggamnya.
..............................................
Reynan berjalan pelan memindahkan Mayu dari dekapannya keatas kamar.
Mayu yang masih terkejut sempat tak sadar, sebenarnya dia juga merindukan Reynan.
“Makasih Mas” tukas Mayu sesaat setelah berbaring.
Reynan duduk dipinggir kamar, menatap istrinya.
“kamu kenapa si bisa sampe luka begitu?”
“nggak papa kok ini luka kecil aja”
“iya tau, tapi kok bisa?”
“aku nggak ati-ati aja semalem jalan sama Arif terus jatuh dari motor”
__ADS_1
Reynan mendengus,”besok-besok jangan naik motor lagi”
Mayu tak menjawab.
Mereka saling terdiam.
“aku mau istirahat disini ya”
“dimana?”
“disebelah kamu”
Mayu seperti berfikir.
“kamu bisa geser nggak? Atau mau aku bantuin buat geser?”
“hmmm bisa kok” Mayu memutuskan untuk geser tempat, sehingga kamarnya cukup untuk Reynan juga, sebenarnya dia mulai tidak nyaman.
Reynan bisa sekali menempatkan cara bagaimana untuk mendekatinya lagi.
Reynan berdiri, melepas sweter yang menutupi tubuhnya, hingga menyisakan kaos putih polos ditubuhnya, Reynan juga segera membuka ikatan tali sepatu, dan menyusul Mayu yang sudah berbaring menghadap langit-langit kamar.
Sebenarnya Reynan sudah gemas sedari tadi, meskipun Mayu sempat menolak, tapi ia tak patah semangat, ini kesalahannya dan dia harus memperbaiki semuanya.
Mayu tiba-tiba merasa sangat gugup dan memilih memalingkan wajahnya.
Reynan melipat kedua tanyannga kebelakang kepalanya, sedikit menggeliat, perjalanan panjangnya memang melelahkan,”Aku capek, tapi rasanya ilang waktu udah liyat kamu”
Mayu terdiam, dia tahu ini jurus Reynan yang selalu ia lontarkan saat dirinya sedang marah, kamu harus kuat Mayu, Reynan juga harus merasakan apa yang kamu rasakan, supaya dia tidak mengulangi hal yang sama, supaya dia jera dengan perbuatannya yang semena-mena meninggalkanmu begitu saja tanpa kabar.
“Istirahat aja Mas” tukas Mayu.
Reynan menoleh, entah sejak kapan Mayu sudah membelakangainya. Reynan tak serta merta diam, dia menoleh dengan seluruh badannya dan melingkarkan lengannya dipinggang mayu yang sudah tak membesar, biasanya dia akan merasakan tendangan Zoe saat tidur dengan posisi ini, dia berusaha untuk tak membahas ini dulu.
Mayu menelan salivanya, ia pikir Reynan akan pergi dari kamarnya saat posisinya ia rubah, kenapa malah menjadi sedekat ini.
Reynan merasa Mayu tidak protes, ia memutuskan untuk kembali mendekat, lebih dalam memeluk tubuh istrinya, aliran darahnya berdesir, dia memang sudah sangat merindukan Mayu. Reynan mencium aroma harum rambut panjang istrinya, membenamkan wajahnya disana.
Mayu hanya bisa pasrah, semoga maksud Reynan tidak lebih dari ini, kenapa perasaannya mendadak sangat lemah jika sudah begini.
...........
__ADS_1
#Tidak lupa mengingatkan untuk para pembaca setia, sematkan komen, like, vote dan hadiahnya ya... terimakasih banyak atas setiap dukungan, semoga kalian sehat selalu, diberi rizki yang berkah barokah Amiiin, heheheh saling mendukung satu sama lain dan saling mendoakan ya, walaupun kita tidak saling mengenal, terimakasih reader sejati....
oh ya, Author juga menerima kritik dan saran untuk karya author ya...