
dr.Dhemas sudah berdiri didepan pintu klinik sedari tadi, menjadi pemandangan tersendiri bagi para karyawannya yang sebagian besar perempuan.
“Tumben banget dr.Dhemas, ada angin apa berdiri sedari tadi disitu” tanya Imel kepada karyawan yang lain.
Tak lama Mayu datang, terlihat dari kejauhan wajahnya tampak terheran, ada dr.Dhemas didepan klinik,”ngapain?”
Senyum dr.dhemas mengembang, orang yang ditunggu-tunggu sudah datang.
“dr.Dhemas, sedang apa?” tanya Mayu.
“Hmmm nungguin kurir” jawab dr.Dhemas mencari alasan. Ia masih belum bisa mengakui jika dirinya menyukai wanita didepannya ini. Kabaikannya, kecantikannya dan sifatnya sebagai pekerja keras tak disangka dapat meluluhkan hati dokter tampan ini.
Mayu hanya manggut-manggut,”Saya masuk dulu ya dok?”
“Oh ya, silahkan” dr.Dhemas membukakan pintu untuk Mayu.
Mayu sedikit terheran dan kemudian berjalan masuk seraya menyunggingkan senyumnya kepada dr.Dhemas.
Imel yang sedari tadi memperhatikan keduanya menjadi baper sendiri.
“uwiuwi uyy..... yes! Yes! Yes! Akhirnya perjodohannya jadi realita” tukasnya kepada Mayu saat sudah berada diruang loker.
“Apaan sih Mel, nggak kali, itu dr.Dhemas lagi nungguin kurir”
“Dan lo percaya sama orang yang lagi bucin?”
Mayu menyerngitkan kening, menghentikan aktivitasnya, dan menggeleng. Ia ingat manusia paling bucin didunia saja sekarang dengan mudah melupakan cintanya.
“Jadi lo harus peka sekarang, jangan biarin dr.Dhemas lolos, kapan lagi May?" Tukas Imel meyakinkan sahabatnya.
“Apaan sih lo Mel, gue kesannya kaya cewe matre, persis difilm-film deh, ngarep-ngarep nggak jelas” Mayu segera mengganti pakaiannya dengan seragam klinik.
Imel merasa sahabatnya mendadak berubah menjadi tak asik.
.........................
Ditempat lain Reynan baru selesai menemui kolega bisnisnya. Sesekali ia melirik jam ditangannya, menyenderkan tubuhnya dikursi kebanggaannya, menelaah bagaimana membagi tugas untuk mengurus dua perusahaan sekaligus, Perusahaan Batu Bara milik ayahnya dan furnitur miliknya. Otaknya harus berfikir keras, Ini realita kenapa Papa selalu mengatakan jangan fokus dengan diri sendiri, ada tanggung jawab lain yang harus ia tangani, setelah Papa meninggal baru terasa semuanya, kemandiriannya justru membuatnya bingung harus menjalani keduanya secara bersamaan. Tangannya bergerak menekan tombol telepon.
Tak lama orang yang dicarinya datang.
“Jadwalkan kunjunganku ke proyek Papa besok” Tukas Reynan spontan.
“Maaf bos, tapi orang dari perusahaan Pak Irvan sudah datang” jawab Ibran tegas.
Reynan menegakan tubuhnya,”Secepat itu?”
“Maaf Bos, saya menyuruhnya untuk menunggu hingga istirahat makan siang selesai”
“Suruh keruangan sekarang” pinta Reynan yang tak ingin mengulur-ulur waktu, makan siangnya masih bisa ia geser.
“Tapi Bos?”
__ADS_1
“Sekarang!” Reynan mulai bingung mengatur waktunya, mungkin karena kekosongan pemimpin para Karyawan Papa mulai bingung untuk mengambil langkah-langkah memajukan perusahaannya, mau tidak mau Reynan harus turun tangan. Untung kantor pusat kedua perusahaannya ada dijakarta, setidaknya tidak terlalu sulit untuk menjangkau keduanya.
Pertemuan berjalan selama dua jam lebih, tubuhnya terasa sangat letih, jam makan siang sudah terlewat, badannya mulai lemas, tak biasanya ia melewatkan waktu makan siang.
“Permisi Bos, mau makan siang?” tanya Ibran.
Reynan manggut-manggut, ia memainkan ponsel, tangannya mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia baru saja mengetik pesan kepada dr.Dhemas, kemuadian menghapusnya,”Bodoh sekali menanyakan nomor suster kecil itu sama si kebo”
“Bos?” Ibran kembali memanggil Bosnya.
Reynan menatap Ibran, senyumnya tersungging disana.
Tak lama Ibran mendapatkan apa yang Bosnya mau, sangat mudah bagi Reynan untuk sekedar melacak nomor telephon seseorang dengan bantuan asistennya.
Send to : Memayu Hara
"Semoga harimu menyenangkan, Sus"
Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit baru Mayu membalas.
"Terimakasih"
Send to: nomer tidak dikenal
Reynan tersenyum sendiri. Ada rasa yang mengembang disana, Mayu seakan menjadi candu baginya sekarang, gadis berdarah jawa umur 22 tahun dengan paras yang indah, rambutnya yang bergelombang, bola mata coklat, hidung mancung cenderung mungil, kulit bersih, senyumannya yang indah, jika berdiri disamping Reynan tidak terlalu pendek dan tak terlalu tinggi.
Reynan tak habis pikir, secepat itu Kassandra hilang dari ingatannya, mulai ada harapan lain dari seorang wanita yang tak sengaja dikenalnya.
........................
“Mungkin pesan dari pasien” tukas Mayu kepada Imel setelah membalas pesan singkatnya.
Mayu masih sibuk menata kembali pekerjaannya merapihkan Rekam Medis milik pasiennya.
“May, dipanggil sama dr.Hanan tuh” tukas temannya memberi kabar.
Mayu mendengus malas, meninggalkan Imel yang sedari tadi bersamanya merapihkan pekerjaan. Langkahnya kian gontai.
“May” terdengar suara memanggilnya dari belakang.
“dr.mecca” Mayu segera mengubah bahasa tubuhnya yang mendadak lelah menjadi biasa.
“Nanti makan malam dirumah mau kan?”
Mayu tergelak, nggak salah dengar nih, tapi kenapa hatinya ingin menolak.
“Nanti saya tunggu dirumah ya” dr.Mecca berlalu meninggalkannya.
Mayu terdiam, ada rasa aneh yang tiba-tiba muncul.
dr.Dhemas keluar dari ruangan dr.Hanan, berpapasan dengan Mayu disana, kedua mata itu tak bisa terhindar, saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
“Ngomong dong dok, maksudnya apa” tukas Mayu dalam hati. Hatinya juga butuh penjelasan.
“Silahkan masuk” Tukas dr.Dhemas membukakan pintu.
Mayu melempar senyum dan mendadak tak tertarik.
Sore ini jadwalnya ngetik bersama dr.Hanan diruang kerja. Mayu mulai terfikirkan tentang gerak-gerik dr.Dhemas dari kemarin, Mayu merasa ada yang harus dibenarkan, keberadaannya disini menjadi sangat tidak nyaman, jika dr.Dhemas menyukainya kenapa seperti disembunyikan, Mayu mulai terbawa perasaan, otak dan hatinya mendadak tidak menyatu.
Mayu menyempatkan pulang ke asrama untuk mandi dan mengganti pakaiannya sebelum dr.Dhemas menjemputnya makan malam kerumah. Mayu terlihat biasa, tidak ada yang spesial disana. dr.Dhemas sangat terlihat datar, tidak menunjukan sesuatu kepadanya, apa memang perasaannya menilai dr.Dhemas menyukainya itu salah? Atau bahkan hanya Mayu yang tak tahu diri mengharap lebih dari atasannya.
Makan malam kali ini hanya ada Mayu, dr.Dhemas, dr.Hanan dan dr.Mecca, makan malam berjalan sangat biasa, tidak ada percakapan istimewa atau sesuatu yang mengarah antara Mayu dan dr.Dhemas.
Ooohh Mayu, lo Cuma kebanyakan menghayal.
........................................
Pagi ini Reynan terlihat semangat, memakai setelan rompi dengan kemeja dan dasi yang serasi, yang membuatnya tampak berbeda, sedari pagi sudah sibuk merapihkan kotak kecil yang ia hias dengan pita dimeja makan.
“Rey! Serius banget, sarapan dulu” tukas bu Martha sembari meletakan Roti yang sudah ia olesi dengan mentega ke piring putra semata wayangnya itu.
“Sepatu sneakers siapa sih? Kasian banget dari kemarin Mama lihat dikotak terus nggak dibalik-balikin”
“Hmmm menurut Mama?”
“Mama nggak mau nebak, salah nyebut nama yang ada kamu marah-marah”
“Tebak dong Ma”
“Hmmmm teman dekat ya?”
Reynan memanyunkan bibirnya,”Mmm belum dekat sih”
“Kok spesial banget sampai sepatunya saja disimpan?” tukas Bu Martha sembari menyendokan roti kemulutnya.
“Menuju dekat lah Ma”
Bu Martha tersenyum, mendengar ini hatinya tampak lega, setidaknya anak semata wayangnya sudah mulai melupakan mantan istrinya,”Nanti kenalin sama Mama ya?”
“Siap,Ma”
“Jangan lama-lama, buat temen Mama ngobrol, kalo kamu kerja Mama kesepian dirumah,Rey"
Reynan terkikik,”Sabar dong Ma”
Mereka kembali melanjutkan sarapannya.
.
.
.
__ADS_1
. Jangan lupa tinggalkan jejak dikolom komen, like, vote dan follow author ya guys, love u