
"Boleh masuk?" Tanya Kassandra, sebenarnya tak usah minta izin, dia sudah nyelonong masuk.
Reynan memberi isyarat kepada Ibran untuk tetap berada diruangan.
Kassandra menyadari hal itu, tak apalah, dia punya tujuan sehingga datang kemari.
"Kenapa?" Tanya Reynan tak mau basa basi"
Kassandra menarik satu kurdi dari dua kursi yang berada didepan meja kantor Reynan,"Aku mau mengganggu waktumu sebentar"
"Iya ada apa?" tanya Reynan menjadi tak sabaran.
Kassandra bisa membaca gelagat Reynan yang tampak tak suka, kali ini dia akan terus terang dan tak basa basi,"Terimakasih untuk dokter yang minggu lalu kamu kirim kerumah" mungkin berterimakasih dahulu akan mencairkan suasana.
Reynan tak bergeming, hanya membuka map yang tergeletak didepannya kemudian menutupnya lagi, menjadi tanda bukan itu kata-kata yang dia tunggu.
"Aku mau minta tolonng, ini tentang Bimo"
"Bimo?"
Kassandra bersyukur Reynan masih sedikit pesuli dengan caranya menatap Kassandra sekarang.
"Mungkin aku selama ini salah, aku selalu menjadi pengganggu dan aku tahu itu tidak benar"
__ADS_1
Reynan manggut-manggut, menerka wanita didepannya mungkin sedang kesambet.
"Aku selalu cuek dengan apa yang sudah aku dapatkan sekarang dan malah kembali mengejar kamu yang sudah semu untuk sekedar aku miliki"
Reynan menarik nafasnya panjang, fiks, mantan istrinya benar-benar kesambet.
"Aku nggak nau nyesel untuk kedua kalinya Rey"
"Lalu apa hubungannya dengan saya?"
"Bimo menjadi sedikit bicara sekarang"
"Lalu?" aku bukan terapis wicara, atau mungkin dia butuh hiburan.
Reynan tersenyum datar, bagimana mungkin dia datang hanya untuk meminta bantuan agar suaminya kembali romantis, betul-betul saraf otaknya sudah terkilir.
"Ada yang salah Rey?"
"Apa yang harus saya lakukan? ini masalah diantara kalian, come on Kassandra, dulu kamu perempuan yang cerdas, kenapa mendadak kamu berubah seperti ini" tukas Reynan yang sebenarnya ingin menarik kata-katanya, perempuan cerdas, jika cerdas dia yak mungkin memilih Bimo,"Lagian apa yang bisa saya lakukan"
"Bicaralah dengannya"
"Saya?"
__ADS_1
Kassandra mengangguk.
Reynan menggeleng,"Bicara dengan suamimu hanya akan menambah masalah untukmu, kecuali jika kau memang ingin membuat semuanya berakhir"
"Mkasudmu?"
"Kmau fikir Bimo tidak cemburu buta, mungkin melihatmu datang kemari saja dia sudah naik darah, apalagi jika tahu kamu meminta bantuanku"
"Kamu tidak mau membantuku?"
"Apa yang bisa saya bantu, sudahlah, masalahmu hnaya kmau sendiri yang bisa menyelesaikan"
"Sedikit saja Rey, bicaralah dengannya dan katakan aku sudah tidak pernah menghubungi.u"
"Bagimana mungkin dia akan percaya, dengan bicara seperti itu kepadanya justru dia akan berfikir dari siapa saya tahu tentang hubungannya yangbtidak baik-baik saja, bijaklah Kassandra, jangan menjadi wanita yang lemah"
Kassandra menelan ludah, dia memang lemah semenjak jauh dari pria ini.
"Fikirkan lagi baik-baik, atau suamimu yang bucin itu akan terus menjauh" Reynan berdiri dari duduknya, merasa percakapannya sudah selesai, ia memakai jas kantornya,"Jangan terjebak dengan masalalu, kita sudah sama-sama punya lehidupan yang baru, lagian siapa yang akan menerima kalian apa adanya jika bukan kalian berdua sendiri? itukan yang selalu kamu katakan dulu?"
Kassandra menelan sendiri kata-kata Reynan, memang benar, buat apa dia kemari? buat apa minta tolong dengan Reynan? kenapa hatinya masih bergetar seperti ini, Move on Kassandra, bahkan saat Bimo menjauh kamu masih sibuk menata perasaan masa lalumu. Bahkan masih berani mendatanginya lagi.
"Saya harus pergi sekarang, jika masih butuh sesuatu kamu bisa menghubungi Ibran" Reynan berjalan keluar ruangan. Memberi isyarat kepada Ibran untuk memantau Kassandra hingga keluar dari ruangan, lebih tepatnya keluar dari gedung kebanggaaan keluarganya.
__ADS_1
............