
"Malam sayang" Sapa Reynan dengan satu bucket bunga mawar merah untuk istri tercintanya.
Mayu terharu disuguhkan kejutan kecil saat baru membuka pintu. Mayu masih berdiri memegangi wajahnya yang memerah.
"Untuk wanitaku yang hebat" Tukas Reynan sembari memberikan bunganya untuk Mayu.
"Thank you" Mayu menerima bucket bunganya.
"Dan tiket Honeymoon, ke New york" Tukas Reynan sembari memperlihatkan dua benda digenggamannya.
Mayu kembali terkejut, apakah Reynan serius??
"For You" Reynan menyodorkan tiketnya.
"Kamu serius Mas?"
Reynan mengangguk, memeluk istrinya yang masih tak percaya. Reynan memutuskan untuk ke New York saja, keinginan Mayu ke ubud bisa lain waktu, karena perjalanan darat yang diminta Mayu juga pasti akan sangat melelahkan.
Mereka masuk dan menutup pintu.
Mayu masih mengamati tiket digenggamannya. Dia bahagia walaupun sebenarnya dia sangat ingin ke Ubud saja.
Reynan meletakkan tas kerja, ponsel dan kacamatanya dimeja, Ia duduk disofa depan melepas kaos kaki dan sepatunya sembari melirik Mayu yang masih berdiri,"Kamu suka kan?"
Mayu hanya mengangguk,"kerjaan kamu gimana Mas?"
Reynan tak menyangka, saat ia berhasil mengambil keputusan untuk sementara meninggalkan urusan kantor, Mayu malah membuatnya terbayang lagi,"Kita kan satu minggu lagi baru akan berangkat, bisalah nanti aku atur semuanya" jawab Reynan sembari menyambar handuk dan berlalu ke kamar mandi.
Mayu menatap suaminya, ia merasa Reynan tak sepenuh hati ingin menjalankan liburan pernikahan, percuma saja jika suaminya berlibur dengan angan-angan pekerjaan yang masih menumpuk, tapi tiket honeymoonya sudah dibeli.
Mayu berjalan kekamar, menyimpan tiketnya diantara rak, dan meletakan bucket bunga mawarnya diruang depan, betapa suaminya sangat manis memberikan kejutan.
Mayu segera menyiapkan makan malam.
................
"Aku hanya dua minggu disana, aku harap kamu dan Fahda bisa membantuku mengurus semuanya tanpa aku" Tukas Reynan kepada Ibran.
"Baik Bos" jawab Ibran khas dengan gayanya.
"Satu lagi, saya minta kamu tetap mengawasi Pak Hendra, saya hanya tidak mau ada ketidakprofesionalan di Samodra prima coal "
"Baik Bos" Tukas Ibran, pekerjaannya tambah berat saja, harus mengawasi dua perusahaan sekaligus.
Reynan membereskan peralatannya, dan berlalu.
Sore ini perjalanannya ke New york bersama Mayu, momen yang pas liburan honeymoon ke New york saat cuaca cerah dan hangat, Reynan sudah memperhitungkan rencana ini sebelumnya.
Mama juga sudah tak sabar ingin anaknya cepat-cepat pergi berbulan madu. Justru dari semua persiapan, Mama yang paling heboh sandiri membantu Mayu, Mayu malah lebih santai. Akhir-akhir ini moodnya memang agak buruk.
"May, jangan lupa nanti kalo udah sampai kamu telpon Mama, terus jangan lupa kamu wajib ngajak Reynan buat makan bareng di Marc forgione Restaurant. Itu tempatnya Romantis banget"
"Iya Ma" Jawab Mayu seadanya, kenapa rasanya aneh sekali, dia menjadi tak bersemangat, atau karena membayangkan perjalanan dipesawat yang pasti akan lumayan lama. Rasanya sedikit mual.
__ADS_1
Tak lama ponselnya berdering.
Husband memanggil..
"Hallo"
"Hallo sayang, kamu sudah siap kan? sebentar lagi aku sampai di Apartement, kita siap-siap terus langsung kebandara ya?" Tukas Reynan dari balik telepon.
"Iya Mas"
"Hallo? sayang kok kamu nggak semangat sih?"
"hm? aku semangat kok, Mama malah udah disini dari pagi, bantuin aku packing"
"oh, yaudah, tunggu aku ya? i love you"
"love you to"
klik.
Mayu menarik nafasnya dalam-dalam, ia memutuskan mengganti pakaiannya, dikamar. Ia tersenyum melihat Mama yang masih sibuk merapihkan kopernya, yang tak terhitung sudah berapa kali Mama bongkar tutup. Mayu benar-benar tak mengerti harus berkata apa, Mama harusnya tak perlu seinisiatif ini, jatuhnya malah Mayu menjadi merepotkan Mama.
...............................
"Bawa kabar baik buat Mama ya, Rey. Harus strong jadi laki-laki, buktikan dong!" Bisik Mama saat mengantar Reynan dan mayu Menuju bandara.
Reynan berdecak, Mama ini, semakin tidak disaring saja bicaranya,"Nanti Rey videoin, Rey kirim ke Mama"
Mama mencubit anak laki-lakinya,"Ngawur!! Rahasia dapur jangan diuambar! biar hasilnya memuaskan"
"Ma, Mayu sama Mas Rey pamit ya"
"Iya sayang, jangan lupa ya pesan Mama yang kemarin"
Mayu tersenyum, ada banyak pesan yang Mama sampaikan, sampai dia lupa pesan mana yang Mama maksud.
"Da Mama..."
Reynan dan Mayu melambaikan tangan kepada Mama dan segera berlalu menuju pesawat yang akan membawanya terbang.
I'm coming New york.
......................
Setelah perjalanannya yang lama, akhirnya Mayu dapat meluruskan tubuhnya diatas kasur besar, tak perlu dijelaskan kemewahan ruang hotel yang ia tempati, sudah pasti sangat membuatnya nyaman dan tenang.
Mayu menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian bangun dan duduk dipinggiran kasur. Penampakan gedung-gedung terlihat dari jendela kaca disampingnya, menarik perhatian Mayu untuk sekedar menikmati hiburan pertamanya dikota orang, tak jauh berbeda dari apartemennya, hanya kota ini memang terlihat sangat ikonis, dan pastinya banyak kejutan didalamnya.
Reynan belum datang, Mayu mencari air putih disekitar ruangan, kepalanya terasa sedikit pusing, mungkin karena perjalanan yang panjang atau kurang minum air putih.
Reynan membuka pintu, membawa kopernya masuk.
"Mau minum?" Mayu mengambilkan satu gelas air putih untuk suaminya, dan satu lagi untuknya sendiri.
__ADS_1
"Suka nggak?" Tanya Reynan setelah menaruh gelasnya diatas meja.
Mayu mengangguk pelan dan tersenyum.
"Kok ekspresinya cuma begitu?"
"mmmm terus harusnya gimana?"
"harusnya ada sedikit euforianya dong"
Mayu terkikik pelan.
Reynan membuka blazernya yang kemudian ia lemparkan sembarangan di sofa terdekatnya.
Menyusul Mayu yang sudah membelakangainya memandangi pemandangan kota.
Reynan melengkungkan kedua tangannya dipingang Mayu, menciumi rambut istrinya dari belakang.
Mayu tersenyum lirih, suaminya menjadi tidak sabaran setelah lama mereka jarang menghabiskan waktu intens berdua.
"Kita mulai saja yuk?" Tukas Reynan.
Mayu semakin terkikik,"serius? sekarang?"
"hmmm" Tukas Reynan masih saja mengendus-endus rambut Istrinya. Mulai gemas dengan Mayu yang masih saja tak merespon keinginannya. Reynan membuka blazer Mayu dari belakang.
Mayu yang terkikik pasrah saja.
Mayu berbalik, menatap suaminya dengan senyum,"Masih siang"
"Sama saja" Reynan membopong istrinya.
Spontan Mayu berteriak kaget.
"Teriak saja sepuasmu, tidak ada yang akan mendengar" Tukas Reynan, hotel yang ia pesan ini memang memiliki fasilitas kedap suara, sehingga tak terdengar bising dari luar saat mereka sedang beristirahat, tak terdengar pula suara-suaranya dari dalam.
"Kamu kejam sekali, ini pemaksaan" Tukas Mayu menimpali kalimat Reynan.
"Pemaksaan yang kamu juga suka kan?"
Mayu tak tahu harus berkata apa,Reynan sangat bisa mengendalikan perasannya. Dia masih dipelukan Reynan. Tersenyum.
"Sepertinya disini lebih pas" Tukas Reynan.
"Seriusly? hahaha"
Reynan membaringkan Mayu disofa.
"Are you ready?" Kata Reynan lagi-lagi membuat Mayu tertawa.
.................................
Setelah permainan olahraga yang mereka ciptakan seharian, Malam berikutnya Reynan mengajak Mayu menginjakkan kakinya di area Times Square, mereka mulai merasakan euforia jantung kota metropolis nomor 1 di dunia dengan menikmati indahnya gemerlap lampu, billboard raksasa, serta hingar bingar orang-orang yang melintas di sana. Pengalaman pertama Mayu ini tentu akan terkenang selamanya. Reynan sudah beberapa kali datang, saat bersama Kassandra pun ia sering berkunjung kesini, tapi hari ini berbeda, dia datang dengan harapan-harapan baru.
__ADS_1
Mereka juga mampir direstoran, kafe, dan mengunjungi salah satu bioskop di area yang terbentang dari West 42nd street hingga West 47th di persimpangan Broadway dan 7th Avenue.