Memayu

Memayu
Episode 63 Meminta Maaf


__ADS_3

Mayu baru keluar kamar, kakinya terasa sangat berat, mungkin karena hari pertama proses penyembuhan. Ia perjalan lirih dengan satu kaki yang menjadi penopang, ia berjalan sembari memegang apa saja yang ada didekatnya.


“Sakit ya Mba?” tanya Arif yang baru selesai dari kamar mandi dan masih mengalungkan handuknya.


“Sedikit” jawab Mayu sembari meraih kursi didekatnya.


Arif mencoba membantu Kakaknya duduk,”Maafin Arif ya Mba"


“Sudah kamu nggak usah minta maaf terus rif, bosen Mba dengernya, mendingan kamu bikinin teh manis deh, tapi jangan kemanisan, gulanya satu sendok teh aja” Tukas Mayu memeberi perintah.


Arif berdecak,”Iya..iya... mba..” Tukas arif sembari ngeloyor kedapur.


“Yang ikhlas bikinnya” sahut Mayu yang mendapati adiknya cemberut.


Terdengar derap langkah Ibu yang masuk tergesa-gesa sembari membawa krinjing belanjaannya pagi ini,”May....”


Mayu menoleh,”kenapa bu?”


“kok kamu nggak bilang to kalau Mas Rey mau dateng? Ibu kan jadi belum masak opo-opo nduk” Tukas Ibu membuat Mayu seketika terdiam.


“mas rey dateng?”


“iyo, sama itu sopirnya siapa tah itu namanya”


“Yudi?”


“iya Mba.. yaudah kamu temuin dulu ya, tadi udah salim sama ibu tapi belum mau masuk, katanya mau duduk diteras dulu, ibu mau masak dulu buat sarapan” tukas Ibu sembari berlalu kedapur.


Mayu menghela nafas, dadanya tiba-tiba sesak mengingat alasan kenapa dia sampai harus pulang kerumah ibu tanpa berpamitan dengan suaminya.


Prak....


Terdengar suara pecahan gelas dari arah dapur, ibu yang tak sengaja menabrak Arif yang tengah berjalan membawa teh masin untuk Mayu.


“ya allah arif...”


“ya Allah ibu.... ini pasti ibu mau nyalahin Arif lagi deh, udah bu, jelas-jelas ibu yang salah, buru-buru banget bu, kaya arif kalo ketahuan manjat pager sama guru Bk”


“howalah dasar bocah kok royal, kewanen nyalah-nyalahke ibu”


“bu.... kenapa sih?” sahut mayu.


Mendengar ada keributan didalam Reynan segera masuk, kini ia sudah berdiri tepat dipintu tengah, dibelakang kursi yang Mayu duduki.


Mayu menyadari ada tubuh seseorang yang berdiri dibelakangnya, Mayu menoleh, kedua mata itu saling bertatap, kedua Mata itu juga sudah saling menjelaskan tentang perasaan mereka masing-masing.


Mayu merasa menatap kesedihannya yang hampir menumpahkan air mata.


Reynan membaca sorot kesedihan dimata Mayu, kenapa dia tiba-tiba ingin segera merengkuh cintanya kepelukan, kenapa tatapannya tulus sekali, dia tidak menemukan adanya kemarahan sama sekali dikedua bola mata bulat itu. Tapi Reynan sadar, mayu sperti menarik diri dan enggan untuk menatapnya.


Mayu mmalingkan wajah dan menjadi salah tingkah.

__ADS_1


Reynan menyadari Mayu benar-benar merasa marah. Ia menghela nafas,”Kenapa bu?” bertanya Pada Ibu yang masih tidak mengerti kenapabisa seceroboh itu menabrak Arif.


“Iki gelase pecah Mas, sudah kamu duduk saja Mas, istirahat” Tukas Ibu kepada menantunya.


Arif menoleh, menyadari ada suara dalam kakak iparnya,”Ehhh hallo bro?” sapanya melambaikan tangan, membiarkan ibu menyapu bekas pecahan gelas yang dibawanya.


Arif segera menyalami Reynan,”Apa kabar mas?”


“Baik-baik” jawab Reynan, sedikit canggung, dia masih menebak Ibu dan Arif masih biasa-biasa saja, apa mungkin Mayu tak bercerita apapun kepada mereka. Reynan kembalimenoleh, menatap Mayu yang masih terlihat enggan menatapnya dan memilih memalingkan wajahnya lagi.


“Kok tumben kesini nggak bilang-bilang dulu Mas?” tanya Arif.


“Eh, iya nih, mau kasih kejutan dong” jawab Reynan sembari melayangkan senyum dan memainkan mata nakalnya kearah Mayu, mengisyaratkan kepada Arif tentang maksud kedatangannya.


“Cie cie kejutan” Tukas Arif mengarahkan pandangan nakalnya menggoda Mayu, Arif tidak paham saja jika keduanya bertengkar.


Mayu menjadi semakin salah tingkah, reynan terlihat masih menatapnya. Lagi-lagi Mayu memilih memalingkan wajah.


“Aturan ngomong mas, jadi Arif siapin PS dari rental biar bisa main bareng seharian”


Reynan tertawa kecil,”Kamu bisa aja, sekolah yang bener, main game terus”


“Buat refreshing dong Mas, oh ya Mas, Arif mau ganti baju dulu ya, udah siang mau sekolah nih”


“yaudah sana...”


“cie....cie... yang dapet kejutan” tukas Arif lagi-lagi menggoda Mayu.


Mayu rasanya ingin mengunyah Arif hidup-hidup, adiknya sama sekali tak mengerti.


“Memang bisa? Biasanya pegang-pegang laptop mau bantuain ibu beres-beres dapur? Sudah duduk saja mas, Ibu buatkan kopi sepesial, buat Mas Yudi juga kasihan kecapean pasti dijalan” tukas Ibu.


“Wah terimakasih banyak Bu”


“Iya, yaudah, ibu kebelakang dulu ya”


“Iya Bu”


Ibu berlalu kebelakang, diruangan menyisakan dua orang yang kini saling diam.


Reynan menghela nafnya, bahkan Mayu tak mengucapkan selamat datang atau sekedar mencium punggung tangannya, Reynan merasa yang ia temui bukan istrinya. Reynan menarik kursi dan duduk persis dihadapan Mayu, mereka kini berjarak satu meter terhalang meja didepan mereka.


Mayu menghela nafas, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan wajah gugunya dan airmata yang benar-benar akan tumpah. Reynan sudah membuat ia merasa nyaman dengan rasa sakit itu sendiri.


Reynan menatap lekat istrinya yang masih berpaling, gaun abu-abu kesukaannya ia kenakan sekarang, dua bulan tak saling sapa membuat perasaannya menggebu-gebu, ingin memeluk istrinya dengan penuh kerinduan.


Mayu merapihkan rambut panjangnya yang jatuh menimpa wajah, menyisirnya dengan jemari kearah belakang.


Reynan menatap Mayu hingga memenuhi rasa rindunya, gerakan lengan Mayu menyisir rambut panjangnya membuat nalurinya mulai merambah kemana-mana, rasanya gemas melihat istrinya yang semakin memalingkan wajah.


Seperti sahabat yang saling mencintai sedang duduk berdua, mereka saling canggung.

__ADS_1


Reynan memberanikan diri untuk bertanya.


“Mama apa kabar Mas?” tiba-tiba suara Mayu terlihat begitu cepat mendahului pertanyaan suaminya.


Reynan mengangguk memilah-milah kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Mayu, Rasanya tidak adil, dia yang jauh-jauh datang malah kabar Mama yang ditanyakan,”Mama baik, nitip salam buat kamu”


Mayu mengangguk,”wa’alaikum salam”


Reynan tersenyum, entah kenapa percakapan mereka sangat sulit ia bangun,”kamu apa kabar?” tanya Reynan.


“Aku baik” Jawab Mayu singkat.


Reynan mengangguk,”syukur deh” Reynan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha sekuat tenaga untuk berfikir kalimat apa yang enak untuk ia lontarkan kepada mayu.


Tiba-tiba ibu datang membawa dua cangkir kopi,”ini kopinya Mas” Ibu menyodorkan satu cangkir kopi untuk menantunya.


“Terimakasih Ibu” jawab reynan.


“Iya sama-sama, monggo ta... diunjuk”


“Iya Bu”


Iini satu lagi buat Mas Yudi, sebentar ya, Ibu antar kedepan dulu” tukas ibu dan berlalu.


“Diminum Mas kopinya” tukas Mayu memecah keheningan.


“Iya, kamu nggak minum?”


“Nggak Mas, makasih”


Ibu kembali masuk, sesekali melirik kepada keduanya dengan tatapan penuh kasih sayang, ibu sudah tahu, hanya tidak ingin ikut campur. Kemudian berlalu kembali masuk kedapur.


“Aku coba telepon kamu, tapi...” Tukas Reynan.


“iya ponsel aku sengaja aku matiin, lagi nggak pengen diganggu aja" Jawab Mayu memotong perkataan Reynan.


“Aku ganggu ya??” tanya Reynan.


“Ya... sedikit” Jawab Mayu singkat.


Mendengar penuturan Mayu nyalinya tiba-tiba sedikit redup, Mayu sudah menampakan ketidak nyamanannya atas kehadirannya, harusnya itu tidak boleh terjadi.


“Aku nggak tahu harus mulai dari mana, tapi aku minta Maaf sama kamu” tukas Reynan.


Mayu sesekali menatap suaminya yang sudah terlihat menyesal, tapi tak semudah itu mendapatkan maaf darinya, Mayu sudah putuskan, karena perasaannya begitu sakit.


Reynan bergerak meraih tangan Mayu.


Mayu spontan menarik tangannya, dia merasa belum siap untuk kembali.


Reynan terkejut, merasa Mayu benar-benar menolaknya. Reynan menghela nafas, mulai menyadari butir-butir kesalahannya,”May... please, aku nggak mau kaya gini”

__ADS_1


.....


#Tidak pernah bosan mengingatkan, tinggalkan komen like, vote dan beri hadiahnya ya untuk autor...


__ADS_2