
Reynan masih terdiam.
“Jangan diam saja! fikirkan semuanya baik-baik, mumpung belum terlambat” Tukas Mama pemperjelas.
“Terlambat?” tanya Reynan.
“Iya, terlambat. Mayu sudah meninggalkan rumah sejak semalam” Jawab Mama.
Reynan kembali terdiam, masih saja merasa benar, harusnya Mayu tak perlu melakukan itu, harusnya menjadi istri yang baik bla bla bla, dia sendiri lupa menjadi suami yang baik.
Reynan mematikan ponselnya. Emosinya kian tersulut, Mayu seakan membuatnya ingin marah sejadi-jadinya. Rasa sakitnya sudah merubahnya menjadi suami killer yang maunya benar sendiri.
Reynan memutuskan untuk segara pulang keJakarta.
.........................................
Mayu baru sampai sekitar satu jam yang lalu, belum sempat juga untuk tidur, bahkan masih mengenakan pakaiannya semalam.
“Sarapan dulu nduk” titah Ibu kepada putrinya.
“Iya Bu, gampang nanti” Jawab Mayu.
“Jangan digampangkan, kalo perut kosong bisa masuk angin, apalagi kamu dari perjalanan jauh” jelas Ibu.
Mayu hanya menoleh, melihat ibu yang sibuk menata masakannya dimeja makan.
“Mba, kok datang nggak sama Mas Rey sih? Aku mau ada tanya tempat buat magang nih” tukas Arif tiba-tiba dari balik kamar, sembari membawa buku dan tas sekolahnya.
Ibu sempat melirik ke arah anak bungsunya, menajamkan pandangannya memberi isyarat supaya Arif tak meneruskan pertanyaannya. Ibu menebak saja meskipun Mayu belum cerita apapun, tak mungkin tiba-tiba dia pulang tanpa menelpon ibunya, begitupun kehadirannya tanpa Reynan, membuat suasananya semakin jelas saja jika mereka tidak sedang baik-baik saja.
Mayu duduk dikursi, tersenyum pada Arif, "Memang kamu sudah waktunya Magang?”
Arif melirik ibunya, takut saja jika ibu masih mendelik kearahnya, tapi tampaknya aman,”Iya Mba hmmm kayaknya masih belum cocok ya magang ditempat Mas Rey, pasti kantornya terlalu besar, nggak jadi deh” tukas Arif sembari menyendokan nasi dan sayur kemulutnya.
Mayu menarik nafas,”kamu serius mau magang dikantornya Mas Rey?”
“Hmmmmm” Arif menggelengkan kepala,”Nggak jadi mba, malu, lagian kejauhan dijakarta, nanti ibu sendirian dirumah” Jawab Arif.
“Iya May, masa udah ditinggal kamu ibu juga ditinggal Arif, bisa kesepian ibu nduk” tukas Ibu.
Sebenarnya Ibu yang melarang arif untuk bertanya tentang magang lagi kepada kakak perempuannya.
“Oh ya Mba, mas Rey kok nggak ikut?”
“Rif..... makan jangan sambil ngomong tooooooo”
tukas ibu membuat Arif melahap dua sendok nasinya dengan cepat.
Ibu terlihat mendengus, ibu masih berusaha menjaga perasaan Mayu, takut saja jika dia tidak nyaman.
Mayu tergelak,”ohh... Mas Rey lagi banyak kerjaan” Jawab Mayu santai.
__ADS_1
“Udah kaya masih kerja mulu ya mba, gila deh pokoknya” sahut Arif.
“Rif.... wes to.... wes awan cah, ayo... budal sekolah” tukas ibu memberi perintah.
“opo si bu, mung kondo sitik kok” Jawab Arif.
“Mboten nopo-nopo bu, udah lama juga nih si Arif nggak Mayu kasih wejangan” tukas Mayu membela.
“Noh.... mba Mayu juga nggak papa, Ibu selalu saja berlebihan” Sahut Arif.
“Sopo sing berlebihan?" Tanya ibu mengintimidasi.
“Ibu lah, sopo maneh, awas bu ojo galak-galak, nanti kalo Arif sudah lulus terus kuliahnya jauh ibu auto kangen sama Arif”
“Opo kui Auto?”
“Auto itu?” Arif melirik Mayu,”Minta jelasin sama mba Mayu saja, Arif lagi makan nggak boleh sambil ngomong”
“Alah gayamu bae ngomong pake bahasa aneh-aneh ke ibu” Tukas Ibu.
Mayu tersenyum,”Makanya Rif belajarnya yang rajin, ojo main game terus, selak gede kudu selak ngerti kapan wayah sinau kapan wayah dolan” Tukas Mayu menasehati.
“Iyo Mba.... bereslah mba, sing penting uang jajanku ditambah ra” kata Arif menambahkan.
“Dasar kalo dibilangin malah modus, mencari kesempatan dalam kesempitan” Jawab Mayu.
“Lagian uang jajanku dipotong mba sama Ibu”
“Iya ibu potong, lagian pagi-pagi kemayu mandi kaya putri keraton pake air anget segala. Ibu potong buat beli gas, biar kamu tahu didunia ini nggak ada yang gratis cah” Jelas ibu.
Ibu berjalan masuk ke dapur.
“Mending dipotong sakunya buat beli gas, daripada dipotong kepalanya karena sering potong rambut, hayo lo” Tukas Mayu berbisik.
“Kok serem?” timpa Arif.
“Dulu mba Mayu juga begitu, kalo dikit-dikit minta tambahan saku buat potong rambut kalo nggak pengen rubah gaya rambut, pasti ibu selalu ngancem buat potong kepala mba sekaliyan” Tukas mayu menceritakan pengalamannya.
“Anjay..... malah lebih serem, lah... bisa jadi kalo Arif pipisnya ngompol mulu auto belalai Arif yang dipotong wkwkwk” sahut Arif.
“Iya bener hahahha”
Ibu kembali keruang makan,”kalian ngomongin ibu ya?”
“Nggak bu..." Jawab Arif.
“Pagi-pagi sudah ghibah, nggak berkah nanti harinya kalo nggak minta maaf sama yang dighibahin” jelas Ibu menebak.
“Eh nggak bu, ini mba Mayu yang ngajak ghibah”
tuding Arif menyalahkan kakanya.
__ADS_1
“Ye.... bukan bu, si arif nih gara-gara” Bela Mayu.
“Ghibahin apa rif? Apa nanti mau dipotong sakunya? Wes dipotong berkahe dipotong sangune, gelem koe?” tukas ibu dengan nada ancaman.
“Moh bu..... Mba Mayu lagi flashback jaman dulu”
Jawab Arif.
“Riffffffffff” yukas mayu.
“Fles bek kui opo?” Tanya ibu.
“Mba... jelasin deh...” Pinta Arif.
“fles bek ya bu? Itu makanan luar negri bu... yah disini baru mau dijual” jawab Mayu.
“Iya bu bener banget tu” sahut arif.
“Bener-bener, emang koe reti?” tanya ibu
“Ngerti bu, nang kantin ono bu” jab Arif.
“Yowes ibu pesen yo siji”
Afir dan Mayu saling berpandangan.
Mayu memilih untuk tidak mau tahu,”Bu... kayaknya udah siang ya, Mayu mau kekamar mandi dulu ya” tukasnya meninggalkanArif yang sedang kebingungan menggaruk-garuk kepalanya.
Mayu terkikik, ternyata benar, sebentar dirumah ibu membuat senyumnya kembali mengembang sedikit demi sedikit.
..........................................................
Kepulangnnya kali ini menggunakan pesawat. Yudi sudah menjemputnya dibandara, perasaannya berantakan, sepanjang jalan pulang tak satupun yang dia ingat kecuali keputusan Mayu yang menurutnya sangat terburu-buru.
Sebetulnya jika Reynan mau mengerti itu bukanlah hal yang rumit, mengunjungi orang tua bukanlah hal yang salah, tapi kesedihan betul-betul membuat Reynan menjadi ingin benar sendiri. Dia merasa hatinya yang jauh paling sedih disini.
Mobilnya sudah masuk melewati pagar rumah kebanggaan keluarganya.
Mama tersadar dengan kehadiran Reynan, Mama segera menutup majalahnya dan mencoba mendekat kearah depan.
“Assalamu’alaikum Ma” Sapa Reynan.
“Wa’alaikumsalam” Jawab Mama.
Reynan mencium punggung tangan Mamanya dan memeluknya tubuh yang kian menua itu.
“Pulang kok nggak ngabarin Mama sih? Untung Mama sudah masak, mau makan dulu atau mau istirahat?” tanya Mama.
Reynan menghela nafasnya,”Mayu udah salah ngambil keputusan Ma”
Bukannya menjawab Mama dia malah membahas Mayu.
__ADS_1
...............
#Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan tambahin hadian ya, terimakasih.