Memayu

Memayu
Episode 12 Sneakers 2


__ADS_3

Mayu menatap kedepan, sesekali melirik dr.Dhemas dengan mata pojoknya, sedari tadi sibuk berkutat dengan laptopnya, padahal dimobil sedang perjalanan ke rumah saudara juga, masih sempet-sempetnya mainin laptop, begitulan kesibukan dr.Dhemas yang sedang fokus untuk menyelesaikan study menjadi dokter spesialis. Udah ganteng, baik, sopan, pinter, dokter pula. Otak Mayu mulai geser lagi.


“Kalau ngantuk tidur aja May”


Suara pria disampingnya ini terdengar jelas memantul digendang telinganya, Mayu menatap kearah suara itu, dr.Dhemas benar-benar sedang menatapnya.


Dr.hanan terlihat memperhatikan mereka melalui kaca spion depan yang mengarah kebelakang, ”Pepet aja terus Dhim”


Suara dr.Hanan memecah keheningan, semua orang terkikik kecil mendengar penuturan dr.Hanan menggoda anak laki-lakinya dengan Mayu.


Mayu terbelalak kaget, mukanya memerah, ini serius atau enggak sih, jangan-jangan perjodohan yang dr.Hanan selalu katakan itu benar. Ya Tuhan, kenapa Mayu jadi baper begini. Wajahnya kini terlihat sungkan dan malu, sesekali mayu merapihkan rambutnya yang tak berantakan itu menutupi samping wajahnya, entah supaya apa, mungkin supaya dr.Dhemas tak melihat wajahnya, tapi justru karna tingkahnya yang aneh ini dr.Dhemas semakin gemas dan memperhatikannya.


Meliat dr.Dhemas masih saja memandangnya dan tersenyum, Mayu menjadi sangat canggung dan merubah posisi duduknya menghadap kejendela samping, benar-benar hampir seperti membelakangi dr.Dhemas.


Dr.dhemas hanya tersenyum dan gemas melihat tingkah Mayu.


Mobil yang melaju terlihat mulai melambat, Mayu tak asing dengan tampat ini, mereka memasuki kawasan perumahan elite yang sudah sering Mayu datangi, perumahan elite tempat pak samodra dan istrinya tinggal, suasana hatinya menjadi aneh, gimana kalau dia bertemu dengan orang itu? Bisa-bisa dia akan melanjutkan marah-marahnya disini. Ya Tuhan.


Mobil mulai terparkir dengan teratur didepan halam rumah yang luas, bukan kali pertamanya Mayu datang, tapi entah kenapa tatapan takjubnya dari rumah megah ini selalu menguasai matanya.


Mereka berjalan memasuki rumah, suasana tampak ramai, rupanya sedang ada acara didalam, Mayu tampak memberi isyarat kepada dr.Hanan untuk pergi kesuatu tempat.


Saat kesini Mayu selalu lewat pintu belakang rumah yang menghubungkan langsung ke dapur. Entah kenapa ia suka sekali dengan suasana disana, bertemu dengan Asisten-Asisten rumah tangga yang ramah, ada beberapa yang berasal dari kota yang sama dengan Mayu juga. Suasana tampak serius, saat Mayu masuk tampak para ART hanya memberi isyarat mempersilahkan duduk dan beberapa melambaikan tangan kepada Mayu. Rupanya sedang ada acara 7 hari meninggalnya pak Samodra yang dihadiri keluarga besar Samodra. Acaranya begitu sakral dan hidmat, doa-doa dipanjatkan dengan begitu tenang, semoga Amal dan kebaikan pak Samodra diterima disisi Allah.


Suasana kembali ramai setelah doa bersama yang digelar sudah usai, beberapa ART sibuk menata kembali ruang-ruang dan membereskan jamuan-jamuan sisa makanan yang disuguhkan untuk para tamu.


Mayu ikut memakan beberapa jamuan dan memutuskan untuk mencari tempat duduk yang nyaman supaya tidak menghalangi para ART bekerja. Mayu meneguk minumannya dan sesekali mengedarkan pandangan, tatapannya berhenti diarah luar, ada sesuatu yang tiba-tiba membuat matanya sakit,”Sneaker?” matanya terbelalak, bagaiman tidak, ia menemukan pasangan sepatunya berada diluar dekat dengan ruang laundry, Mayu segera beranjak menuju tempat sepatunya itu berada.


“Mba Mayu apa kabar? Sudah lama ya mbak tidak kemari” tanya Fitri Art yang kebetulan berasal dari kota yang sama dengan Mayu datang mengagetkan.


“Kabar baik Fit"

__ADS_1


“Mau kemana sih? Duduk sini aja dulu, nanti saya mau ngobrol banyak tau sama mba Mayu, sebentar lagi saya kesini jangan kemana-mana ya mba” Oceh fitri menghalanginya.


Rasa penasaran Mayu semakin menjadi, ia tak mendengarkan ocehan Fitri, ia kembali meneruskan niatnya mengambil sepatunya yang tampak masih dijemur.


“Kan bener sepetu gue, hahahahah akhirnya ketemu juga” tukasnya memegangi sepatu ternyamannya.


“Kemarikan!!” tiba-tiba sosok orang asing merebut sepatunya dan berjalan pergi meninggalkannya.


“Hey kembalikan!” Mayu mengejar pria yang membawa sepatunya.


“Jika ibu mau, saya bisa belikan yang baru, tapi yang ini punya majikan saya bu, terimakasih” laki-laki itu berlalu begitu saja


“Dih ibu, ibu emang gue ibu-ibu, dasar cowok aneh, pake aja sono sama majikan lo! pasangannya juga di gue” dengus Mayu kesal.


“Mba mayu saya cariin juga” suara Fitri mengagetkan.


“Itu tadi siapa sih?” tanya Mayu sembari meminum minumannya yang belum habis.


“Kaku banget orangnya” Dengus Mayu.


“Mba mayu dipanggil tuh sama dr.Hanan”


Mayu segera bersiap mengambil kopernya dan membawanya keruangan yang sudah Fitri tunjukan.


“Permisi...”


“Sini May kopernya” pinta dr.Hanan.


Mayu memasuki ruangan, mengedarkan pandangannya, entah apa yang ia temui, satu orang yang sebenarnya ia hindari. Pak Reynan. Entah apa yang ada difikirannya, wajah Reynan tersenyum penuh misteri, Reynan berdiri diantara dr.Dhemas dan Lita, pakaiannya terlihat berbeda, kini Reynan mengenakan hem model koko dengan celana casualnya, berdiri santai memasukakkan kedua tanggannya disaku celananya, tampak sekali memperhatikan Mayu membawa kopernya masuk.


Martha(mamanya Reynan) terlihat sudah berbaring dikasur, dr.Hanan dan dr.Mecca duduk bersebelahan. Memang sepeninggal pak Samodra beliau tampak tidak sehat. Mayu menyiapkan peralatan periksanya, seperti biasanya khusus dikeluarga ini kegiatan mengecek tekanan darah bahkan infus dilakukan sendiri oleh dr.Hanan saat home visit.

__ADS_1


“Sekarang istirahat saja mba, yang sudah jangan terlalu difikirkan, semua akan baik-baik saja. Mas Irfan juga pasti sudah bahagia disana” tukas dr.hanan kepada ibu Martha.


“Makasih banyak ya Han” jawab Martha lirih, sesering apapun Reynan memberikannya semangat, tetap saja rasa sedih itu muncul.


Mayu melirik Reynan dengan mata pojoknya,”Orang itu kenapa coba ngliatin aku terus” dengus mayu dalam hati. Sembari membereskan alat priksanya.


Reynan keluar dari ruangan tanpa berkata apapun.


Tak lama Ibran datang,”Permisi dr.Han, pak Bos suntik vitaminnya minta dikamarnya saja”


Mayu mendenguskan nafasnya berat, seperti akan menghadapi ujian saja, tidak ada pemberitahuan apapun sedari tadi ternyata Reynan mau suntik vitamin juga. Semenjak kejadian Reynan marah-marah sepulang dari Mall membuatnya tidak nyaman.


Dr.hanan menurut saja.


Mayu membawa kopernya keluar dan mengikuti Ibran. Kini Mayu sudah tidak bisa menghindar. Kira-kira Reynan masih akan marah kepadanya seperti waktu itu atu tidak ya.


“Mas...Mas, maaf mau nanya” tukas mayu menyamai langkah Ibran.


“Tanya apa ya bu?”


Mayu menyerngit,”Ibu? Saya belum menikah, panggil saja saya Mayu”


“Maaf, saya akan tetap memanggil ibu, karna ini masih jam kerja saya”


Mayu menelan ludah, terbuat dari apa pria disampingnya ini, kaku sekali diajak bicara.


“Baiklah tidak masalah. Mmm saya mau tanya kok bu Kassandra nggak keliatan ya, dimana dia?”


Ibran menghentikan langkahnya,”Maaf, itu bukan urusan anda” tukas Ibran sembari kembali melangkah.


Mayu menghela nafas,”tak ada gunanya bertanya”, langkahnya kembali mengikuti Ibran.

__ADS_1


__ADS_2