Memayu

Memayu
Episode 45 Bukan kabar yang ingin didengar


__ADS_3

Reynan dan tim tak menemukan sedikitpun kejanggalan di Cctv, hanya pada saat CCtv akan mati, ada seseorang yang menuju keruang CCTV, yang tak lain adalah Tino. Sedang apa dia disana, seharusnya sebagai pengawas utama tidak akan pergi meninggalkan ruang cctv begitu saja saat layar monitornya rusak.


Dugaan Reynan semakin kuat, tanpa berfikir panjang ia segera menemui Operator peledaknya dikantor polisi.


Reynan diantar oleh Ibran dan Fahri menemui operator peledakan, Dio.


Sesampainya dikantor polisi yang jaraknya hanya beberapa KM dari lokasi pertambangan, Reynan segera diperbolehkan mengunjungi Dio.


Dio datang dengan wajahnya yang memerah, matanya yang sembab, dia duduk didepan ketiganya.


"Bukan saya Pak, tolong saya, kasihan keluarga saya, saya diancam!"


Reynan menghela nafasnya, dia sudah menduga.


.................


Semalam Mayu tak bisa tidur, ia mengalami sakit kepala berat, mungkin karena meningkatnya sirkulasi darah karena perubahan hormon yang terjadi pada ibu hamil trimester pertama.


Mayu menyambar gelas berisi air putih, belum juga minum gelasnya sudah terjatuh.


Lany segera datang dan menolong Mayu, "Are you oke?"


Mayu mengangguk, dia memegang kepalanya. Tiba-tiba dia menggigil dan merasa kedinginan.


"Lany..." suaranya terdengar lirih.


Lany sudah mengumpulkan pecahan gelas segera menyambut panggilan Mayu.


"Bisa tolong ambilkan air putih hangat?" Pinta Mayu.


Lany segera beranjak, mengambil apa yang Mayu minta.


Mayu terlihat sangat pucat.


Tak lama Lany datang membawakan air putih hangatnya.


"Thank you" Tukas Mayu.


Lany mengiyakan dan membantu Mayu menutup badannya menggunakan selimut.


"Saya telpon Sir, ya?"


Mayu memegang tangan Lany, memberi isyarat untuk tidak menelpon Reynan.


"Dia akan khawatir jika kamu menelponnya, tunggu saja sampai dia menelpon"

__ADS_1


"Iya" Lany mengangguk, menoleh pada pecahan kaca yang belum selesai dibereskan.


Reynan memang belum menelpon sejak meninggalkan New York. Bukan hanya Mayu, lany juga ingin menelpon untuk memberitahukan keadaan Mayu.


Lany berjalan keluar, membersihkan pecahan kaca yang berserakan.


"Lany.....!!!"


Suara Mayu menggema, tak seperti biasa-biasanya Mayu berteriak saat memanggilnya. Lany segera beranjak.


Mayu sudah duduk disamping bed, membuka selimut tebalnya.


"Lany, please.. antar saya menemui dr.Daniel" Tukas Mayu sesaat setelah mendapati dirinya mengalami pendarahan lagi, kali ini jauh lebih parah.


lany terkejut, melihat darah segar disepre tempat Mayu berbaring, ia segera mencari bantuan dan mengantar Mayu ke Rumah Sakit.


..........................


Reynan masih dilokasi longsor, sejak kedatangannya, para korban sudah bisa dievakuasi hingga menyisakan dua korban lagi yang masih tertimbun. Dia sudah menyuruh Ibran untuk menangani kasus ini hingga selesai, mereka mulai menemukan titik terang, jika sebenanya kejadian ini sudah direkayasa.


Sebagai asisten, Ibran baru pernah menangani kasus semacam ini, namun karena sudah terlatih cekatan dalam menyelesaikan masalah demi masalah, ia mampu saja melakukannya dengan dibantu Tim yang sudah Reynan bentuk. Termasuk mengeluarkan Dio dari penjara dan menjadikannya saksi atas kejahatan yang merugikannya ini.


Reynan tak mau berlama-lama dalam mengambil keputusan, ia harus mengambil langkah cepat dan tepat. Menyusun strategi untuk membongkar kedok Tito dan Hendra. Ternyata mereka dibalik kejadian ini.


"Ayah saya belum keluar dari sana, Pak" Rengek seorang bocah laki-laki kecil berumur 5 tahunan yang sudah berdiri disampingnya.


Reynan segera berjongkok, menyamai tinggi anak laki-laki itu.


"Saya diantar paman saya kemari, ayah saya belum pulang-pulang, kata paman Ayah saya masih berada didalam sana" Jelas anak laki-laki itu sembari menolehkan lehernya dan menunjuk gundukan tanah dan batu yang belum selesai dikeruk ekskavator.


Reynan turut menoleh, betapa sangat teririsnya hati Reynan, dia tak mampu berucap, mengingat lima korban yang satu jam lalu berhasil dikeluarkan semua dalam keadaan tak bernyawa, bagaimana dengan nasib Ayah dari anak ini.


Reynan mengangguk, mengusap halus rambut setengah panjang anak itu.


"Semenjak ibu kesurga, saya tidak pernah tidur sendirian, saya tidak bisa tidur tanpa Ayah, kalo sekarang Ayah kesurga, lalu siapa yang menemani saya tidur?" tambah sang anak.


Reynan tak mampu berucap, lidahnya benar-benar kelu, ia tak mampu lagi menahan gelombang air mata yang sejak tadi ia tahan. Iya memeluk anak itu. memeluknya dalam, hingga tak peduli dengan beberapa mata yang menatapnya. Dia terisak, benar-benar tersedu, ia membayangkan bos kecilnya, mungkin saat besar nanti dia akan sama seperti anak kecil ini, sangat membutuhkannya.


Mereka harus membayar kerugian dan hancurnya harapan dari para keluarga korban, tak ada yang lebih jahat dari suatu kejahatan selain sengaja membunuh orang-orang yang sedang bekerja untuk keluarganya.


..................


Mayu sudah masuk keruang UGD. Dia tak berucap satu patah katapun, Lany khawatir pendarahan itu menyisakan sakit yang teramat sangat. Tapi Mayu tak mengaduh sedikitpun, ia hanya terus mengelus-elus perut bulatnya.


Setengah jam kemudian beberapa perawat sudah keluar dan mengantar Mayu menuju ruang rawat inap.

__ADS_1


Lany baru bisa bertemu dr.Daniel sesudahnya.


Menurut dokter, kandungannya sangat lemah, Mayu benar-benar harus bedrest total saat ini, tidak boleh banyak fikiran juga. Tiga hari kedepan Mayu masih harus menjalani rawat inap. Lany mengiyakan penjelasan dokter.


Ponselnya berdering, Reynan menelpon Lany, setelah beberpaa kali menelpon Mayu tapi tidak diangkat jua, ponselnya tertinggal di Appratement.


"Hallo" Sapa Lany.


"Hallo Lany? sorry I just got to call you"


"It's Ok Sir, but something more important, Madam is bleeding from pregnancy"


"Apa?!"


"Sekarang dia sedang menjalankan perawatan dirumah sakit, Sir"


Reynan tertegun, entah berita apa yang dia dengar. Otaknya sudah berlari memikirkan Mayu, hingga Lany memanggilnya berulang kali, baru Reynan tersadar kembali.


"Iya Lan? Saya minta tolong, You have to promise me" Reynan menghela nafasnya, berucap sebisanya,"Before I go back to New York, I hope you will take care of Mayu, don't leave her anywhere, please" Tukas Reynan kepada Lany, hanya kekuatan itu yang bisa mengantarnya untuk turut menjaga Mayu disana.


"Yes Sir, I'm Promise"


Bos kecil, kamu sudah janji, jangan seperti itu lagi, kasian Mommy. Kalian kuat, kalian hebat, kalian pasti bisa. Daddy janji akan segera kembali.


Reynan segera menelpon dr.Daniel, dia hanya ingin memastikan.


...............


"Lany, kamu masih disini?" Tukas Mayu saat setelah terbangun dari tidurnya.


"Ya..." Lany tersenyum dan terbangun dari tidurnya, ia tidur di sofa panjang, diruangan Mayu.


"Maaf ya, saya merepotkanmu"


"No" Lany berdiri, merapihkan baju dan mengikat rambutnya,"Sama sekali tidak, Mayu, aku suka menemanimu setiap hari"


Mayu tersenyum,"Kamu berbohong, saya tahu"


Lany meraih kursi disamping bed dan mendudukinya,"Kamu salah tebak"


"Thank You" Tukas Mayu.


"Ya, you welcome, you want to drink?" tanya Lany


Mayu menggeleng, dia menunduk, mengelus perut bulatnya pelan, "Lany, bayiku tidak apa-apa kan?"

__ADS_1


..........


__ADS_2