
Kepulangnnya kali ini menggunakan pesawat. Yudi sudah menjemputnya dibandara, perasaannya berantakan, sepanjang jalan pulang tak satupun yang dia ingat kecuali keputusan Mayu yang menurutnya sangat terburu-buru.
Sebetulnya jika Reynan mau mengerti itu bukanlah hal yang rumit, mengunjungi orang tua bukanlah hal yang salah, tapi kesedihan betul-betul membuat Reynan menjadi ingin benar sendiri. Dia merasa hatinya yang jauh paling sedih disini.
Mobilnya sudah masuk melewati pagar rumah kebanggaan keluarganya.
Mama tersadar dengan kehadiran Reynan, Mama segera menutup majalahnya dan mencoba mendekat kearah depan.
“Assalamu’alaikum Ma” Sapa Reynan.
“Wa’alaikumsalam” Jawab Mama.
Reynan mencium punggung tangan Mamanya dan memeluknya tubuh yang kian menua itu.
“Pulang kok nggak ngabarin Mama sih? Untung Mama sudah masak, mau makan dulu atau mau istirahat?” tanya Mama.
Reynan menghela nafasnya,”Mayu udah salah ngambil keputusan Ma”
Mama menyerngitkan kening, Reynan sama sekali tidak tertarik dengan pembahasannya mengenai masakan, dia langsung membahas mayu. Mama sudah bisa menyimpulkan jika Reynan tidak bisa tenang jika tanpa Mayu,”Kenapa Mayu?”
“Ya dia pergi gitu aja tanpa minta ijin sama Rey Ma, Rey kecewa” tukas Reynan.
Mama tersenyum menyeringai,”Jika menurutmu Mayu salah mengambil keputusan, lalu kamu apa? Salah mengambil jalan begitu?” tanya Mama.
“Ma... udah dong, Reynan butuh didengerin”
“Mama nggak bisa dengerin kamu, kamu kaya bukan Reynan, kamu tahu nggak? Orang yang sekarang bisa dengerin kamu itu ya cuma Mayu, masalah kalian sama, dan kamu sadar nggak Rey? Dia nggak pernah ada yang dengerin” Jelas Mama.
Reynan terdiam.
“Waktu kamu pergi, kamu ijin nggak sama dia? Waktu udah pergi, pernah nggak kamu kabarin dia? Waktu dia nungguin kamu saat empat puluh hari kemarin, kamu dateng nggak? Itu acara Zoe, kamu nggak boleh punya alasan apapun untuk tidak hadir, karena inti dari acara ini adalah kita merelakan zoe agar kembali dengan tenang, Zoe bukan untuk dilupakan, selayaknya Papa Rey, mereka butuh didoakan bukan dilupakan” Jelas Mama panjang lebar.
Reynan terdiam.
__ADS_1
“Terserah kamu Rey, kamu sudah sangat dewasa, kamu sudah menjadi ayah walaupun itu hanya sesaat, kamu harus rubah sikap kamu yang tiba-tiba main pergi, tidak peduli, kamu tahu sakitnya Mayu? Dia sakit Rey, dia bolak balik kontrol kedokter sendirian, perih sekali Mama melihat Mayu, pernah dia marah sama kamu? Atau sama Mama sekalipun? mertua dia? Mama belum pernah denger dia marah” Tambah Mama.
Reynan mulai geisah,”Mayu diem Ma, dia menghindar dari Reynan, dia lebih memilih berhari-hari dikamar itu”
“Apa masalahnya? Itu kamar Zoe, anak dia, apa yang jadi masalah, harusnya kamu temani dia disana” Mama membela Mayu.
“Reynan nggak bisa Ma, semakin Rey kesana semakin Rey ingat zoe”
“Ya Allah Rey, kamu sadar nggak? Semakin kamu berusaha melupakan Zoe, semakin kamu ingat dengannya, bersikaplah seperti air Rey, mengalir menjalani arus mana yang harus kamu lewati, jangan melawan arus Rey, kamu akan tenggelam” tukas Mama, “Kamu tahu apa yang menyebabkan kamu marah sekarang?” tanya Mama menambahkan.
Reynan terdiam.
“Karena kamu kehilangan Mayu” Tukas mama dengan penekanan nada kepada Reynan, Mama segera berlalu meninggalkan Reynan yang masih terduduk dikursi besar ruang tamunya.
Otaknya masih berfikir, perasaannya menjadi lebih berantakan. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang sudah dingin, kenapa permasalahannya menjadi rumit seperti ini, kenapa dia berubah menjadi pihak yang disalahkan, bukankah harusnya Mayu yang salah karena sudah meninggalkan rumah? Tapi kenapa mendengar jawaban Mama hatinya ikut teriris membayangkan betapa sakitnya Mayu.
.................................................
“Tadi pagi pakde” jawab Mayu dengan berdiri.
Pakde usman turun dari motornya dan mendekat.
Mayu sengaja tidak mendekat supaya pakde mampir dan duduk diteras, mungkin pakde juga ingin ngobrol.
Mayu menyalami pakdenya.
“Sehat nduk?” tanya Pakde.
“Alhamdulillah pakde, pakde apa kabar?”
“Baiik juga alhamdulillah”
“ Syukur deh Pakde, oh ya dari mana pakde? Lungguh rien pakde”
__ADS_1
Pakde Usman duduk dikursi yang berseberangan dengannya.
“Kamu pulang sendiri nduk?” tanya pakde usman.
Mayu merasa pertanyaan pakde seperti suara berat seorang ayah yang bertanya lebih dalam tentangnya, Mayu mengangguk,”nggih pakde”
Pakde manggut-manggut,”Pakde turut berduka cita ya nduk, hubungan pernikahan memang selalu saja ada tantangannya, banyak cobaannya, kadang ada yang diuji dari ekonomi, dari mertuanya, dari anaknya, bahkan dari suaminya sekalipun”
Mayu menyimak, sebenarnya cara pakde menyampaikan sudah sangat menyentuh dihatinya, tapi rasanya tak enak jika dia harus menangis didepan pakde untuk menceritakan masalahnya.
“Kalian harus bisa saling menguatkan satu sama lain” tukas pakde, ingin sekali Mayu menimpali jika dirinya sudah sangat berusaha menguatkan, tapi hatinya belum cukup kuat, karena cobaannya bukan hanya tentang kehilangan sosok anak, tapi dia juga kehilangan sosok suami, bahkan untuk membuatnya bangkit saja sangat sulit, apalagi membuatnya saling menguatkan, maka dari itu dia akhirnya memilih pulang, biarkan dia dikatakan pengecut, dia merasa hatinya sangat berharga jika hanya untuk merasakan kesedihan setiap hari.
“Sekarang memang masih sulit mungkin nduk, tapi nanti suwaktu-waktu ada kesempatan untuk saling bertemu kembali, kamu harus lebih membuka diri untuk suami kamu, kalian kan pasangan muda, masih banyak kesempatan jika masalahnya adalah kehadiran seorang anak”
Mayu tersenyum, sebenarnya dia mempertimbangkan pernyataan pakde, dia masih merasa jahitannya masih ngilu jika harus membayangkan pedihnya melahirkan yang sudah disambut dengan kematian, seperti meninggalkan trauma yang mendalam.
“Nek pingin cepet nanti pakde kondo reng budhe kon ngei resep ring koe nduk” tukasnya mulai tak sedalam tadi, nada bicaranya berubah jail.
Mayu tersenyum, wajahnya mulai memerah, harusnya tak perlu malu, dia sudah bukan pengantin baru,”Pakde bisa aja deh, Mayu nggak mau ah, nanti repot, pakde kan anaknya banyak, nanti Mayu jadi ikut-ikutan anaknya banyak lagi”
“hahahahah, ora popo nduk, rame nek anake akeh kui”
“nggak ah, dirumah ada Arif aja Mayu jadi nggak leluasa apalagi kalo nanti anak pertama Mayu adiknya banyak, hahah kasian”
“iya ya... hahaha”
Mayu tiba-tiba terdiam, Pakde juga mulai ikut terdiam melihat ekspresi Mayu yang berubah.
Mayu tersenyum getir,”Mayu lupa, anak pertama Mayu kan sudah meninggal”
Pakde Usman mendadak ikut menunduk, tak tega melihat keponakannya menanggung kesedihan yang kian mendalam seperti ini, jika saja sesuatu bisa membuatnya ceria kembali, mungkin Pakde akan berusaha membantu untuk mendapatkannya. Sebagai orang tua Pakde hanya bisa berdoa untuk kebaikan anak-anaknya.
......................................................
__ADS_1