Memayu

Memayu
Episode 41 Pizza sialan


__ADS_3

Mereka akan menjadi orang tua.


Semua kebahagiaan hampir pernah Reynan rasakan, tapi baru kali ini kebahagiaan yang diapun tak tahu bagaimana harus mensyukurinya. Kabar yang tak ia duga-duga akan secepat itu menghampiri pernikahannya.


Begitupun dengan Mayu, ketakutannya sudah hilang, fitrahnya telah datang, walaupun sempat khawatir dengan perkataan dr.Daniel tentang kondisinya, tapi setidaknya dia menemukan jawaban yang puas dari perubahannya akhir-akhir ini.


"Aku mau kamu istirahat aja, kamu harus bedrest, ikutin apa semua kata dokter" Tukas Reynan saat mereka sudah kembali ke hotel.


Mayu mengiyakan perkataan suaminya. Mayu memutuskan untuk kekamar mandi dan beristirahat.


"Sayang, aku keluar dulu ya?" tukas Reynan.


Mayu mengangguk.


..........


Dua jam setelah istirahat di bed, Reynan belum juga pulang, ditelpon juga tak aktif, dia mulai cemas, tak pernah Reynan meninggalkannya sendirian selama ini saat di New York.


Pendarahan ringannya juga membuat badannya menjadi tak enak.


Tak lama Reynan masuk, melepas blazer dan sepatu, tak lama berjalan menuju meja disamping bed.


"Dari mana Mas?" tanya Mayu masih berbaring di bed.


Reynan menoleh sedikit dan kembali melepas jam tangannya,"Sementara betah-betahin dulu dihotel ya? tiga hari lagi aku pastiin kita udah bisa tempatin Apartemen disekitar sini, masih di Manhattan kok" tukas Reynan menjelaskan.


Mayu menyerngitkan kening,"tinggal di Apartement?"


Reynan mengangguk.


"Kan kita mau pulang Mas ke Indonesia"


"Rencana memang seperti itu" Jawab Reynan sembari duduk disamping bed dan memegang halus perut istrinya,"Tapi demi bos kecil dan Momynya, Dady akan lakukan apapun yang terbaik, kita akan kembali jikalau kamu sudah benar-benar pulih. oh ya kamu sudah makan belum sayang?"


Mayu mengangguk, dia memang sudah makan siang tadi.


Reynan mencium perut rata Mayu dan mengacak-acak ringan rambut istrinya serta berlalu kekamar mandi.


Mayu terkikik, Bos Kecil, hahahha Dady bisa saja ya sayang?, Mayu jadi gemas ingin mencium perutnya seperti yang Reynan lakukan, tapi ternyata susah, awas saja kalo nanti sudah lahir, Momy yang akan sesering mungkin menciummu.


................


"Hallo bu" Jawab Mayu saat menelpon ibu.


"Nduk, Ibu sudah dikabari sama Bu Martha, yaAllah ibu seneng banget kamu sudah hamil, pokoknya nduk kamu ikuti semua saran dokter saja, manut saja, nggak papa walaupun jauh disitu, kamu harus sabar" Jelas Ibu panjang kali lebar.


"Iya Bu, Ibu doain Mayu saja ya, besok juga mau pindah ke Apartement Bu, Kata Mas Rey biar lebih luas aja ruangannya, jadi aku nggak bosen, Karena udah pasti aku bakal dirumah terus Bu"

__ADS_1


"Ya nggak papa nduk, kamu baik-baik ya disitu, ibu selalu berdo buat kamu dan Mas Rey, semoga kalian bahagia selalu"


"Iya Bu, terimakasih ya Bu?"


"iyo nduk"


Ibu memang tak seheboh Mama saat menanggapi kabar kehamilannya, meskipun sama-sama cucu pertama mereka.


"Sayang !!! aku bawain apa nih?" Tanya Reynan dari balik pintu dengan membawa bungkusan makanan.


Mayu duduk di pinggir bed, tertawa kecil, entah apa yang suaminya bawa, tapi perasaannya sudah bahagia terlebih dahulu melihat bungkusannya.


Reynan mendekat dan membuka satu kotak pizza besar dihadapan Mayu.


Keduanya saling menatap.


Reynan terkejut dengan reaksi Mayu.


Entah kenapa adonan tepung dengan toping daging, sosis, keju didepannya itu membuat Mayu ingin muntah dan segera berlari ke kamar mandi.


"hooooeeeekkkk!!! hoekkkk!!!"


Reynan yang terkejut segera menyusul istrinya yang sudah lemas memuntahkan semua makanannya dikloset.


"Sayang, kamu kenapa? kamu mual ya? nggak suka sama pizaa nya?"


Mayu hanya menggeleng dan muntah lagi.


Mayu sudah lemas sedari tadi, bau pizza yang suaminya bawa hampir membuatnya nyaris pingsan. Mayu memilih mengganti bajunya dan meminum air putih, tak mau tahu juga Reynan membuang pizza nya dimana. Ia segera duduk disofa dekat jendela, memandangi langit malam new york, harusnya malam ini dia dan Reynan sedang pergi jalan-jalan, tak mengapa, lain waktu jika kondisinya sudah membaik dia bisa kapan saja mengunjungi tempat yang ia suka dari new york.


..........


Reynan baru datang setelah satu jam kemudian, memastikan istrinya sudah membaik.


"Sayang"


Mayu menoleh, menatap Reynan dengan senyumnya.


Reynan heran saja, Melihat Mayu sudah tersenyum disofa dekat jendela kaca,"Ibu hamil, aku tadi hampir pingin nabrakin diri ke jalan gara-gara liyat kamu muntah-mantah karna pizza yang aku bawa" Tukas Reynan yang berjalan mendekat sembari menarik nafasnya dalam-dalam.


"Ih serem banget sih, nggak gitu juga kali Dady, aku juga nggak tahu, tiba-tiba mualnya sampe begitu"


Reynan turut duduk di sofa, meraih kepala Mayu dan menenggelamkannya di dada,"terus mau makan apa dong?"


"Ada salad, roti sama susu, nanti aku makan itu aja sayang" Jawab Mayu.


"Bos kecil mau?"

__ADS_1


Mayu mengangguk,"Nanti aku coba bujuk" jawab Mayu seakan bayinya sudah mengerti saja.


Sebenarnya Reynan masih belum bisa lupa dengan kejadian tadi, jika Ibu hamil akan mengalami muntah-muntah seperti Mayu selama trimester pertama, entah akan berapa banyak lagi kejadian serupa yang akan dia lihat, Reynan lebih tak tega melihat Mayu.


..................


Mereka sedang berpagutan akan melakukan penyatuan keduanya, suasananya memang sangat mendukung, malam yang indah dengan sinar bulan dan taburan gemintang menyebar di langit New york, terlihat jelas sinarnya masuk melalui jendela kaca dan menimpa keduanya di super king bed tempat mereka saling bercumbu.


Reynan mulai melakukannya dengan halus, sangat halus, tapi dia urung, menjatuhkan tubuhnya pelan ke bed.


"Kenapa sayang?" tanya Mayu.


Reynan masih terengah, ada rasa yang tak bisa dia hindari, dia takut, berhubungan suami istri akan mengganggu Bos Kecil. Reynan mengusap halus perut istrinya, bangun dan duduk.


"Hey? kamu kenapa?" Tanya Mayu sembari menutup dadanya yang polos dengan selimut menyamai posisi duduk Reynan.


Reynan mengacak rambut sendiri pelan.


Mayu tersenyum mencoba memberi pengertiyan jika menurut dokter, dalam kemamilan sekalipun hubungan suami istri masih diperbolehkan. Mayu menyenderkan kepalanya dibahu Reynan.


Reynan menarik nafas panjang, dia menjadi sekhawatir ini dengan istri dan anak nya, "nanti dia ngambek lagi sama Dady nya"


Mayu terkikik,"Kan pelan"


Reynan menoleh, menatap istrinya dengan senyum, Mayu selalu saja membuatnya lebih tenang.


...........


Reynan sudah menata kopernya dan membawanya keluar terlebih dahulu.


Mayu duduk di sofa menunggu Reynan, kondisi kehamilannya benar-benar membuatnya terkurung, tiga hari ini Reynan tak membiarkan dia melakukan kegiatan apapun, dia hanya tidur, makan, tiduran, baringan, duduk di sofa, tiduran lagi, sangat membosankan.


Reynan sudah datang, memberi isyarat kepada Mayu jika sudah waktunya chek out untuk meninggalkan hotel menuju tempat baru.


Mayu mendekat meraih tangan Reynan.


Tak berfikir panjang, Reynan membopong istrinya pelan, Mayu sedikit terkejut dengan tingkah Reynan, dia benar-benar akan menggendongnya saat keluar hotel dan menuju mobil.


"Mas turunin" pinta Mayu.


Reynan diam saja, tak lagi mendengarkan Mayu, memang sudah seharusnya itu yang ia lakukan.


Saat sampai dilobi, Mayu sudah merasa wajahnya terbakar, pipinya berubah menjadi merah jambu, dia malu, meskipun orang sekitar yang saling perpandangan mengacungkan jempolnya untuk Reynan, entah apa maksudnya.


Benar-benar sampai mobil,"Momy dan Bos Kecil, kita pindah ke Apartement ya, kalian harus betah disana, Dady janji jika sudah waktunya, kita pasti akan bertemu Oma dan nenek diIndonesia"


"Iya Dad"

__ADS_1


Reynan mencium Mayu dan segera masuk ke mobil melewati pintu sebelahnya.


Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang menuju Apartement masih di sekitar Manhattan, New York City.


__ADS_2