
Fajar kali ini terasa sangat cepat menyapa, meskipun sudah enam jam Mayu terlelap. mayu mendesah perlahan, tersenyum kecil memandang ponsel yang berdering, pasti Reynan.
"Hallo calon suami?" sapanya manja, baru kali ini Mayu mencoba menjawab telepon Reynan dengan manja, sebelumnya tidak pernah terbesit untuk sekedar bercanda apa lagi menggunakan kata-kata calon suami.
"saya Dhemas"
Mendengar suara lain dari balik telepon masuknya Air muka Mayu mendadak berubah, reflek saja mengacak-acak rambutnya menjadi semakin berantakan, kenapa dia menjadi seceroboh ini. Ya Ampun, malu banget.
"Maaf dok, maaf, saya pikir dokter seseorang disana, saya.."
"iya, nggak papa May"
lima detik tidak terjadi percakapan apapun disana.
"Hari ini papi mendadak nggak bisa praktik, saya mau... mmm ngobrol sebentar sama kamu, boleh?" terdengar suara sedikit parau dari dr.Dhemas di balik ponsel.
Mayu mengiyakan saja, itu artinya hari ini dia hanya ada satu agenda, mendengarkan dr.Dhemas bicara. dan mungkin tidak ada kegiatan lain selepas itu.
klik. Pembicaraan mereka berakhir.
Mayu menghela nafas, ia mulai merasa posisinya serba salah sekarang, apa mungkin ada sesuatu yang mengubah suasana pekerjaannya yang menyenangkan menjadi tak karuan karena hubungannya dengan Reynan?
ponselnya kembali berdering, Mayu segera mengangkat telponnya, mungkin saja ada yang belum sempat dr.Dhemas sampaikan.
"iya dok?"
"dok?"
Mayu kembali terperanjat, lagi-lagi kaget, u tung jantungnya buatan Tuhan, entah apa jadinya jika jantungnya terbuat dari bahan daur ulang. Mayu semakin tak mengerti, ada apa dengan dirinya, iya kembali menatap layar ponselnya panggilan Calon suami berlangsung.
Ya Tuhan, ceroboh sekali diri ini.
"Mas, heeee" tukas Mayu mencoba mencaorkan suasana.
"ya ya ya, rupanya Calon suamimu ini juga sudah beralih profesi menjadi dokter mu juga ya?"
Mayu tersenyum, setidaknya dia tak perlu mencari alasan untuk menjelaskan kekeliruannya,"klise banget sih"
"Turun sekarang!" Perintah Reynan.
__ADS_1
Mayu menyerngitkan kening,"Turun?" Jawabnya bingung.
"Iya, turun"
"Maksudnya turun dari hatimu yang sudah melambung menggapai cintaku yang amat tinggi?" tukas Mayu menirukan gaya Reynan yang kerap menghujaninya dengan gombalan receh ala-ala pelawak di Tv.
"Serius, aku dibawah" Jelas Reynan.
Mayu membulatkan matanya, pria ini sungguhan?
" Mas Rey pliss nggak lucu, aku belum mandi, belum gosok gigi, muka berminyak, masih jelek, nggak usah ngerjain deh!" Jelas Mayu mengisyaratkan dirinya.
"Pernah nggak, aku berbual ?" Jawaban Reynan membuat Mayu berfikir, tidak akan baik-baik saja hari ini, pasti benar dia sudah dibawah.
"Apa perlu aku kesitu terus menggendong kamu untuk turun kebawah?"
Sorakan ramai terdengar disana, erasaan Mayu semakin tidak enak, "Oke oke... sebentar saja, sepuluh menit!"
"Terlalu lama, satu menit" tukas Reynan yang kemudian suaranya sudah tak terdengar lagi dibalik ponsel.
Mayu menghela nafas, segera beranjak ke kamar mandi, mencari sikat gigi, mengambil pasta gigi dan memakainya sembarangan, tak berhenti sekali pun, hatinya terus mengumpat.
Mayu mulai berkumur membersihkan busa pasta giginya, mencari sabun cuci muka disana, tak ia dapati, kini dengusan nya beralih pada sahabatnya, Imel atau Dewi. Ini pasti ulah Imel dan Dewi si siluman ular dari sungai lembah pitung, pake-pakein sabun cuci muka orang nggak dibalikin ke tempatnya, dasaaaaaaaaarrrrrrrr.
Mayu segera menyeka wajahnya dengan handuk, mengamati kamar-kamar yang sudah sangat sepi, "Pada kemana? ya Tuhan jangan-jangan?" Mayu berlari menuruni tangga, sudah membayangkan yang tidak-tidak, semenjak ia sibuk di Klinik, Reynan kerap kali mengancam akan menarik semua sahamnya dan menutup praktik spesialis disana. Pikirannya sudah mendahului langkahnya. Ditambah tak ada satupun suara cempreng teman-teman asrama yang lain, biasanya pagi-pagi seperti ini mereka sudah banyak membual, bernyanyi, bercanda tidak jelas, bahkan kerap kali berebut dan antre di kamar mandi.
Anak tangga yang Mayu lalui sudah hampir diujung, tangan kecilnya mencoba meraih pegangan tangga untuk menopang tubuhnya yang hampir jatuh di ujung tangga.
Benar dugaannya. Apa-apaan ini?!
Mayu masih berdiri, mengenakan baju tidur abu-abu polos selututnya dengan rambut yang masih awut-awutan, menatap Reynan yang sudah berdiri gagah dengan kemejanya disanya, sembari melempar senyum manisnya yang kini terlihat aneh oleh Mayu, Ada asistennya juga disana, Ibran. Teman-teman Asramanya yang duduk bergerombol menjadi satu dengan tatapan yang sama-sama menyelidik.
"Ada apa?" Mayu mencoba bertanya dan meminta jawaban atas diamnya mereka dengan tatapan yang sama.
"Kamu itu tidak menghargai aku sama sekali ya?" tukas Reynan sembari berjalan mendekatinya.
Mayu menjadi serba salah antara ingin memeluk Reynan karena rindu atau benar-benar ingin menimpuk nya dengan ember, apa-apaan coba dia datang membuat teman-temannya sampai gagal fokus begitu. Menyuguhkan pertanyaan aneh pula.
"Mas..., kamu ngapain si? jangan manfaatin semua yang udah kamu miliki buat.."
__ADS_1
"Buat apa? udah jelas semua yang aku miliki ini tidak berpengaruh sama sekali buat kamu"
Mayu melebarkan matanya, apa yang sedang pria ini bicarakan,"Maksudnya?"
"Kamu sama sekali nggak pernah nganggep aku ada"
"Apaan sih mas? kita semalem masih baik-baik aja loh, aku cuma ketiduran nggak bales lagi cjat dari kamu, salah ya?" tak ada jawaban di raut wajah Reynan yang semakin terlihat menyebalkan hari ini, Mayu melempar pandangannya pada Dewi yang geleng-geleng dan memasang muka aneh disana,"Ada apa si?"
"Oke!" Kini Reynan mulai berjalan memutari Mayu yang berdiri dengan beribu pertanyaan disana, "Dengarkan, simak, dan jelaskan, bagaimana ceritanya teman-teman yang satu atap, satu kerjaan sama kamu nggak ada yang tahu kalau aku itu calon suami kamu?!"
Mayu menghela nafasnya,"Mereka tahu kok!"
Mayu menghela nafasnya,"Mereka tahu kok!"
"Bohong, mana pernah Lo ngomong ke kita" celetuk Dewi.
"Iya tuh May, lo jahat banget si nggak cerita" sahut Imel.
"Kok kalian nyalain gue si, kan kalian semua tahu pertama kali gue dapet bucket bunga, gue kencan, gue dikasih cincin" Mayu membela diri.
"Lo menerima keduanya? parah banget si lo May?!" tukas Dewi menambah otak Mayu bingung untuk mencerna.
"maksud lo? Kok lo jadi ikut nyinyir gitu sih, Wi!"
"Bukannya itu dari dr.Dhemas?" tukas Imel mewakili teman-temannya.
"Apa?! Kamu trima itu juga dari Dhemas?" Kini Reynan ikut-ikutan memperburuk posisi Mayu. Mayu benar-benar ingin menimpuknya sekarang. Tapi sayang-sayang, takut kalau benjol gantengnya berkurang.
"May mendingan lo jelasin deh biar kita semua tuhu..." Rengek Imel yang sedari tadi sebenarnya sudah jealeous, kalo benar Mayu jadian sama pak Reynan, hari ini auto jadi hari patah hati sedunia bagi dirinya.
"Jadi selama ini kamu selalu dekat terus dong sama si Dhemas?" tambah Reynan.
.
.
.
.
__ADS_1
lanjut eps selanjutnya....