Memayu

Memayu
Episode 91 Handuk


__ADS_3

Reynan baru membuka gagang pintu kamarnya, Mayu sudah berdiri menatapnya sinis.


Ini kenapa lagi sih dia.


"Kamu kenapa si Mas?"


"Saya? Kenapa memangnya?"


"Lihat nih!" Tukas Mayu menunjukkan handuk basah yang ia ambil dari atas springbed.


"Anduk?"


"Iya anduk"


"Ya teru kenapa?"


"Kenapa?"


"Iya kenapa?"


"Aku nggak ngerti ya mas"


"Sama aku juga"


"Kamu kenapa sih mas nggak faham juga, selalu selalu dan selalu deh kamu tuh lupa naro handuk basah diatas kamar gini, bisa kan kalo langsung kamu taro ditempatnya?"


Reynan terdiam, biasanya juga Mayu yang merapihkannya, dan itu tidak pernah menjadi masalah diwaktu lalu.


"Heran deh aku tuh sama kamu" tukas Mayu kemudian berlalu meletakkan handuk suaminya.


Reynan menggelengkan kepalanya, segera ingat apa tujuannya kemari, mengambil dompet.


"Mau kemana Mas?" Tanya Mayu saat Reynan baru saja mengambil dompetnya diatas meja rias.


"Ini mau..."


"Baru juga pulang kantor, udah mau pergi lagi aja"


Reynan mencoba menjelaskan,"Nggak ini..."


"Yaudah sana kalo mau pergi, memang kamu tuh makin hari makin ngeselin" Tukas Mayu yang kemudian kembali keposisi ternyamannya, rebahan dibalik selimut.


Reynan menjadi serba salah saja, benar apa kata Mama, jika dirinya yang keluar pasti Mayu akan tambah marah, lagian istrinya ini kenapa tiba-tiba berubah drastis sikapnya dalam sekejap. Ia memutuskan untuk keluar dan mengambil beberapa lembar uang cashnya untuk Fitri.


"Fitri......" panggil Reynan.


"Agak keras Rey kalo mnaggil Fitri" tukas Mama masih santai diruang tengah, acara show diTVjam sore begini tampaknya sedang seru-serunya.


"Kenapa emang Ma?"


"Dia suka tiba-tiba tuli" Jawab Mama sambil tertawa ringan.


"Ada-ada aja deh"


"Yeee nggak percaya"


"Nggak"

__ADS_1


"Mana? blm nongol kan? sudah sana kedapur saja"


Reynan menghela nafas, memanggil fitri lebih keras,"Fit.. fitri...."


Suara sendal jepit yang beradu dengan lantai terdengar bersamaan,"Saya Bos?"


"Namamu Fitri bukan?"


Fitri mengangguk sambil cekikikan.


Reynan menyodorkan dua lembaran uang seratus ribuan kepada fitri,"Beliin testpack, minta anter Yudi"


"Iya Pak Bos, ada lagi?"


"Udah itu saja, jangan lama-lama ya, kata Mama diminimarket ada"


"iya Pak Bos"


Reynan berlalu meninggalkan Fitri yang kemudian bergegas menjalankan perintah majikannya.


.........................


Seharian ini Mayu benar-benar berubah total, jika dia benar hamil, apa maksudnya dengan perubahan sikapnya, tidak lucu jika hal ini akan berlangsung sembilan bulan lamanya, bisa mati berdiri Reynna dibuatnya.


Masuk kekamarnya saja harus mikir-mikir dulu, Reynan jadi serba salah.


Mama yang sedari awal memang selalu santai menanggapi hubungan keduanya juga masih terlihat biasa-biasa saja, hanya sesekali cekikikan melihat anak laki-lakinya dibuat kesusahan oleh istrinya sendiri.


"Ini pesanannya Pak Bos" tukas Fitri meletakan benda yang dibungkus plastik kresek keatas meja.


"Ada yang perlu saya bantu lagi?"


Reynan menjentikan jarinya mengisyaratkan Fitru untuk pergi. Ia menatap lekat benda yang kini berada digenggamannya, membuat simpul kecil dibibirnya. Selamat datang sayang, Papa tau itu kamu.


........


Dua hari sudah Mayu mengabaikan suaminya, Rasabya Reynan ingin memaki dirinya sendiri yang tak berguna dan berarti kali ini, hmmm, dia tak tahan dengan sikap Mayu yang dingin.


Mama menggerakan ujung alisnya, memberi isyarat Mayu keluar kamar setelah keduanya menunggu lama kursi makan.


Ya, walaupun dua hari ini Mayu hanya duduk dan tak ikut menikmati sarapannya.


Melihat Mayu yang semakin jarang menikmatimakannya dan cenderung sensitif, Reynan memutuskan untuk mengajaknya ke dokter, sebenarnya rencana ini sudah ia buat dengan Mama semalam.


"Selamat pagi Ma" Mayu menarik kursinya.


Bahkan Suaminya luput dari sapaannya.


Sebenarnya salahku apa sih. Reynan.


"Sayang, boleh aku bicara sesuatu?" Reynan mengawali percakapannya.


"Sarapan dulu saja Mas, nggak baik kan makan sambil ngobrol"


Mama tersenyum menanggapi,"Betul kata Mayu"


Mama ini apa-apaan sih, bukannya mendukung anak laki-lakinya. baiklah, kali ini aku mengalah. Reynan.

__ADS_1


Dan sarapan sudah selesai.


Mayu hanya melihat suami dan ibu mertuanya makan, ia hanya minum susu dan separo dari potongan sandwich.


"Jadi aku sudah boleh bicara?" Reynan memastikan.


"Ya bilang aja Mas, biasanya juga nggak pake acara ijin kalo mau ngomong"


Hmmmm, baiklah, aku sudah tidak sabar.


"Sayang, kita cek up ke dokter kandungan yuk?" semoga kata-katanya tak salah.


Mayu diam, mencerna ajakan suaminya.


"Iya May, kan sudah lama kamu nggak chek up" Mama menimpali agar Mayu tak salah faham.


Mayu masih diam.


Reynan dan Mama saling memandang, semoga kalimat mereka tak menyinggung Mayu yang setelah terakhir kali menyuruhnya chek up malah dia salah faham jika Suami dan mertuanya ingin cepat-cepat ia punya anak. Walaupun kenyataannya memang benar.


"Tapi.."


Reynan dan Mama menunggu kelanjutan kalimat Mayu.


Mayu menghela nafas panjang,"Kalau seandainya Mayu belum bisa hamil dalam waktu dekat tidak apa-apa kan?"


Reynna dan Mama akhirnya mendengar kegelisahan Mayu, mereka menimpali dengan kegugupan mereka yang sebenarnya itu tidak menjadi masalah buat mereka.


"oh nggak dong..." tukas Mama yang bersamaan dengan Reynan yang meraih tangan Mayu.


"Sayang, kita nggak ada masalah tentang itu, hanya chek up saja, memastikan kalo kamu baik-baik saja"


"Memang aku baik-baik saja kan?" pertanyaan Mayu membuat Reynan dan Mama saling memandang.


Bahkan dia tak sadar kalau dirinya hamil, kenapa jadi yang tidak hamil malah yang jadi lebih sensitif merasakan keadaannya yang sedang hamil.


"hmmm, Begini" Mama mencoba menjelaskan, mungkin ini akan sedikit dimengerti oleh mennatunya yang sangat sensitif," Mama sama Reynan semalam sudah bicara, sebelumnya mama minta maaf ya, tapi semoga kecurigaan Mama benar, Mama memang akhir-akhir ini memperhatikan kamu May. Mama rasa perbedaan kamu ini ada hubungannya dengan kondisi kandungan kamu, Mama merasa mungkin kamu sedang hamil"


"aku hamil?"


"sayang, nggak ada salahnya kan kalau kita kedokter, buat memastikan saja"


"Kalo ternyata aku nggak hamil Mas?"


"ya makanya kita chek up dulu aja ya"


"Kalau seandainya aku nggak hamil apa kamu mau balik lagi sama.."


"cukup May, kita sedang membahas tentang kamu, jangan menyebut bahkan sampai memikirkan siapapun itu, terlepas dari kamu hamil atau tidak, itu tidak akan mempengaruhi apapun dari keluarga kita. Kita akan sama-sama terus"


Mayu memandang lekat suaminya.


Mama menggapai bahu Mayu. Membuat simpul dibibirnya dan mengangguk halus.


Mayu mengangguk, mengiyakan ajakan suaminya. Tidak ada yang salah untuk sekedar chek up, jika benar dia hamil, bahkan dia akan berjanji menjaga bayinya dengan nyawanya.


Bahkan alat penguji kehamilan yang Reynan beli tak pernah ia berikan kepada istrinya. Lagi-lagi karena Mayu teramat sensitif sekarang.

__ADS_1


__ADS_2