Memayu

Memayu
Episode 53 Secepat itu Zoe?


__ADS_3

Mayu dan mama sudah berada dirumah sakit sejak sore, Mayu sudah Masuk keruang periksa bersama dr.Desy, Mama memilih menunggu diluar.


Reynan menelpon jika dirinya sebentar lagi akan sampai diRumah Sakit.


Reynan sudah terlihat dari jauh, mengenakan sweeter, sepatu kulit dan celana jeans membawa koper menuju kearah Mama.


“Gimana Ma?” Tanya Reynan kepada Mama.


“Mayu udah masuk” Jawab Mama dengan nada gelisah.


“Tapi Mayu nggak papa kan?” Tanya Reynan memastikan.


“Nggak papa. Aduh Mama nggak ngerti deh Rey, Mayu cuma ngomong kalo Zoe nggak gerak-gerak” Jelas Mama mencoba menjelaskan kehawatirannya,"Kamu masuk aja deh Rey, Mama takut"


Reynan mengusap bahu Mamanya. Reynan menghela nafas, perasaannya semakin tak enak, ia segera menyusul Mayu keruang periksa.


Dr.daisy, sedang melakukan pemeriksaan, seperti biasa menggunakan alat ultrasonografi untuk mengetahui keadaan janin didalam kandungan Mayu.


Reynan mendekati Mayu yang sudah berbaring diBed samping layar monitor, Reynan menggenggam jemari Mayu yang wajahnya sudah murung tanpa ekspresi.


Terlihat gambar monitor yang menunjukan janin yang sudah berkembang baik layaknya bayi-bayi yang sudah siap dilahirkan, tinggal menunggu waktu yang tepat.


Tapi selama pemeriksaan berlangsung dr.desy belum mejelaskan apapun seperti biasanya.


“Pak Rey, boleh kita bicara sebentar diluar?” Tanya dr.Desi langsung kepada Reynan.


Mayu menoleh kearah Reynan, begitupun Reynan. Kenapa dr.Desi tak bicarakan semuanya disini saja?


Reynan tersenyum mencium punggung tangan istrinya, memberi isyarat jika semuanya akan baik-baik saja,”Sebentar ya?”


Mayu mengangguk, melipat bibirnya kedalam. Berharap isyarat Reynan akan keadaannya dan Zoe baik-baik saja menjadi kenyataan.


Dr.Desi menjelaskan keadaan Mayu dan bayinya.


Reynan hanya bisa pasrah mendengarkan.


“Pak Rey, saya minta maaf, saya sudah berusaha, sudah saya cek berulang kali" Tukas dr.Desy.

__ADS_1


Reynan masih berdiri, dia sudah gelisah mendengarkan dr.Desy yang belum selesai bicara.


"Bayi Ibu Mayu sudah tidak tertolong, ini termasuk kematian janin didalam kandungan, penyebabnya adalah bayi ibu Mayu terlilit tali pusat dibagian leher sehingga tidak ada oksigen yang masuk kedalam tubuh Bayi yang menyebabkan kematian tidak bisa dihindari” Jelas dr.Desy berhasil meruntuhkan semuanya.


Reynan sudah mendengar semuanya, kakinya hampir tidak bisa menopang tubuhnya lagi, baru kemarin Mayu dengan gembiranya menyiapkan semua keperluan untuk menyambut Zoe.


Mama sudah syok sedari tadi, ikut mendengar penuturan dr.Desy.


“Tolong dok, mungkin dokter salah cek atau bagaimana” tukas reynan memohon,”Terserah dokter tapi saya mohon tolong selamatkan bayi saya dok, dia ...”


“Maaf pak, kami sudah tiga kali mengecek kondisi bayi pak Rey dan Ibu Mayu, hasilnya sama" Jelas dr.Desy.


Reynan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya yang dingin, dan mulai menghujani tembok dengan pukulan-pukulannya.


Dr.Desy berusaha sedikit mennangkan,”Sabar pak”


Mama sudah mendengarnya sedari tadi, Mama hanya bisa diam dan duduk lemas dikursi tunggu.


Reynan menitikkan air mata dimata pojoknya, mengusapnya kasar. Harusnya dia tak meninggalkan Mayu kemarin-kemarin, harusnya Mayu selalu ada dengannya untuk bersama-sama menjaga Zoe.


Reynan menghela nafas panjangnya, mendengar dr.Desy sekali lagi mengatakan jika bayinya sudah tak bernyawa,”Apa harus sekarang dok?”


“Iya pak, karena akan sangat berbahaya jika kita tidak segera melakukan tindakan” Jelas dr.Desy.


Reynan mengangguk, walau bagaimanapun dia dan keluarganya harus menghadapi apapun yang sudah terjadi.


“Kira-kira bisa kita memberitahukan ini kepada ibu mayu pak?” Tanya dr.Desy meminta persetujuan.


Reynan mengangguk, meskipun ia tahu Mayu tak akan sekuat dia menghadapi ini, ”Iya dok, harus diksih tahu, dia harus tahu” Jelas Reynan.


“Baik Pak, mari” Tukas dr.desi memberi isyarat untuk segera menemui Mayu diruangan.


Mereka segera kembali keruang periksa.


...........................................................


Mayu hanya terdiam, dia sudah duduk dibed, mendengarkan semua penjelasan dokter. Dia tak mau mendengar apapun yang dokter dan suaminya katakan.

__ADS_1


“Kita pulang aja yuk Mas? Zoe suka kalo aku ceritain tentang mainan barunya, kemarin aku juga sempet beli beberapa mainan baru untuk Zoe, belum aku ceritain ke dia, pasti dia suka, pasti dia gerak” tukas Mayu kepada Reynan dengan memohon, tak peduli atas pernyataan yang baru ia dengar dari dr.Desy.


Dr.desi hanya bisa diam, dia memaklumi kondisi spiskologis Mayu yang pasti sangat berat menerima kenyataan ini.


Reynan memeluk istrinya, memahami betapa beratnya menerima semua ini.


“Ayo Mas! biasanya kalo kamu panggil-panggil juga dia gerak” Rengek Mayu mulai tak bisa menahan air matanya.


“Sudah sayang, sudah” Tukas Reynan sembari memeluk istrinya.


“Kita nggak usah kesini lagi, kita cari dokter lain yang tetap Mau biarin zoe dikandunganku sampai sembilan bulan” tambah Mayu masih saja tak ingin mengiyakan jika Zoe sudah pergi.


“sssssttt” Reynan mengelus Rambut Mayu,memeluknya lebih erat,”Zoe udah nggak ada” tukas Reynan sedikit menahan kata-katanya yang hampir goyah ditekan oleh rasa sedih yang mendalam.


“Zoe ada” Tukas Mayu mulai terisak.


“sayang....” Timpa Reynan tak mampu lagi mengutarakan kata-kata penyemangat, karena dirinya juga sudah berada diujung kesedihan.


“Zoe ada! hiks hiks hiks, Zoe hidup mas! seperti namanya, kan kamu yang kasih nama” Tukas mayu.


dr.Desy turut meneteskan air mata, tak tega melihat dua pasangan yang sama-sama terpukul dengan kepergian buah hatinya.


Reynan mengangguk, tak sadar air matanya kian deras menetes, ia mengingat kembali saat-saat kapan saja dia menjatuhkan air mata, kenapa jaraknya cepat sekali antara papa dan Zoe.


Mayu masih terisak, semakin Reynan melarangnya untuk terisak, semakin menjadi saja isakannya.


Namun waktu terus berjalan, takdir harus dilewati, saat ada kehidupan yang mati, yang lain harus tetap berjalan pada jalurnya. Tuhan lebih menyayangi Zoe, akan ada tempat yang lebih indah melebihi kasih sayang orang tuanya. Apapun alasannya, tak ada lagi yang mampu menahan perpisahan karena kematian. Kata orang, memang perpisahan paling menyedihkan adalah perpisahan karena kematian.


.........................................


Mayu sudah masuk keruang operasi ditemani oleh Reynan, setelah dokter menyarankan untuk induksi normal sangat tidak memungkinkan melihat keadaan psikologis Mayu yang masih belum bisa menerima dengan mudah kepergian anaknya, akhirnya mereka memutuskan untuk mengeluarkan Zoe dengan operasi caesar.


Diluar, Mama, dan Ibu sudah menunggunya dengan cemas, mereka bukan menunggu kelahiran kehidupan baru. Namun mereka menyambut kelahiran yang diiringi pula dengan kematiannya. Sungguh tak akan ada yang menduga hal ini akan terjadi pada Mayu dan Reynan.


Mengingat Mayu yang kerap berbicara banyak tentang Zoe yang mulai aktif bergerak, tiba-tiba hanya dalam satu malam saat gerakannya mulai tak terdeteksi oleh ibunya, ternyata dia sedang mengalami kesulitan, sungguh jika Mayu tahu akan seperti ini, dia akan segera meminta dokter untuk segera menjalankan operasi, meskipun nantinya Zoe akan terlahir prematur.


Tapi takdir tetaplah menjadi takdir.

__ADS_1


__ADS_2