
Apartement.
Ruangannya sangat cukup untuk kedua padangan suami istri ini, ada ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan satu kamar berukuran sedang, fasilitas dan perabotannya juga sudah lengkap. Lagi-lagi Reynan memilih ruangan dengan pemandangan ibu kota yang tak pernah tidur. Mayu setuju saja, pilihan Reynan memang selalu cocok dihatinya.
"Sayang, besok aku bisa masak dong? kan ada dapurnya?" Tukas Mayu sembari duduk disofa.
"hmmm, nggak boleh"
"Kenapa?" Mayu memasang wajah penuh tanya.
Reynan menyambar kedua tangan istrinya yang sudah duduk disofa, posisi Reynan duduk bertumpu pada tumitnya, sehingga dia dan Mayu saling berhadapan,"Kamu baru boleh aktivitas jika sudah pulih"
"Tapi aku udah nggak papa Mas, lagian kalo diam terus yang ada aku bosen"
"Iya tahu, untuk sementara aja kok May, setelah keadaan kamu membaik boleh kok, kalo cuma buat masak-masak aja, jangan protes!"
Mayu menunduk, merasa Reynan sedang menjalankan kehendaknya sendiri, padahal pendarahannya sudah usai, mungkin dia lebih takut jika kehilangan bayinya, bukan istrinya. Mayu hanya diam dan menuju kekamarnya.
Reynan membiarkan Mayu, dia terlihat tidak menyukai jawabannya, tak apalah, semua demi kebaikan keduanya.
Reynan sengaja membiarkan kopernya tetap di depan ruang keluarga, dia sudah menyuruh asisten rumah tangga untuk bersih-bersih dan memasak jika perlu.
................
"Semuanya baik, tapi alangkah lebih baik saya jika perjalanan udaranya menunggu usia kandungan melebihi trimester pertama"
Tukas dr.Daniel saat Reynan dan Mayu pergi konsul, ini sudah minggu ketiganya setelah pindah, dan konsul ketiganya pula. Mayu merasa bahagia dengan pernyataan dokter, ada peluang besar baginya untuk segera kembali ke Indonesia.
Sore ini sebelum kembali ke Apartemen Mayu dan Reynan memutuskan untuk sekedar melihat sunset diButtery Park setelah Mayu sama sekali tak tertarik membeli barang apapun saat Reynan mengajaknya ke Woodbury. Mayu tiba-tiba ingin melihat laut, entah kenapa rasanya ia ingin dihari-hari sebelum pulang ke Indonesia dia bisa menikmati keindahan laut di ujung selatan pulau Manhattan.
Bentangan laut yang menampilkan saunset dan kapal-kapal very yang berlayar benar-benar memanjakan Mata Mayu.
Reynan tersenyum memandangi Mayu dengan sisi yang berbeda, jika wanita lebih memilih belanja barang branded saat ke New York, ibu hamil ini justru hanya ingin melihat sunset, mungkin Bos kecil ini adalah calon jiwa-jiwa perasa yang penuh keromantisan, hahahhaha Reynan terkikik sendiri melihat perut Mayu uang mulai terlihat sedikit mengembang diusia kandungan 11 minggu.
Mayu masih menelentangkan kedua tangannya, menikmati hembusan angin yang menimpa wajah dan tubuhnya, dia merasakan sesuatu yang beda, tenang, sepertinya Bos Kecil suka.
Mayu tersadar, menoleh ke arah Reynan yang masih cekikikan tak lagi memperhatikannya, padahal yang sebenarnya terjadi adalah Reynan sangat bahagia melihat Mayu yang aneh, lebih bahagia tanpa barang branded, dia membayangkan jika kekayaannya akan percuma saja jika Mayu tak membelanjakannya.
__ADS_1
Mayu merasa Reynan seakan sedang meledeknya.
"Mas!!!!"
Reynan terkejut, menoleh ke arah Mayu, mendapati istrinya yang sudah memasang muka musam. Ibu hamil ini kenapa lebih menggemaskan saat menampilkan ekspresi musamnya ini. Reynan mendekat, mendekap istrinya.
"Aku udik banget ya Mas, sampe kamu ketawa gitu ngliatin aku"
Reynan menjauhkan badannya sedikit, melonggarkan dekapannya, menyelidiki wajah Mayu yang berubah serius,"pertanyaan macam apa itu? sama sekali tak berkelas"
"Maksudmu aku tak berkelas?"
Reynan terkikik,"Kenapa kamu gampang sekali tersinggung sih sayang? Maksudku tidak seharusnya kamu bertanya seperti itu, karena pertanyaanmu tak ada jawabannya"
"berarti bisa jadi kamu mengiyakan aku udik dong?"
"No!! Jangan mengambil jawaban sendiri dong"
"Terus? aku sukanya yang to the point Mas, kamu ngomong terlalu muter-muter, aku ini istri kamu, jangan kaya orang mimpin presentasi dong kalo ngomong, aku pusing"
Reynan tergelak,"Ok! ok! aku cuma lagi heran saja, kenapa kamu lebih suka tempat ini dari pada Woodbury"
"Why? uangku uangmu juga"
"Nggak, Mas, aku dulu pernah bermimpi menjadi kaya karena bekerja, bukan karena menikah dengan orang kaya"
"Justru kamu tidak perlu kerja jika hanya untuk menjadi kaya, karena suamimu bisa membelikan apapun yang kamu mau"
"kamu salah, dengan prinsip itu aku tahu bahwa seseorang datang kepada kita bukan untuk kita nikmati, tapi untuk dihargai, jika hanya ingin dinikmati, tak perlu harus menjadi istrimu dulu"
Reynan terdiam, merenungi ibu hamil didepannya, Mayu sangat tenang saat membicarakan ini dihadapannya, Reynan dapat merasakan ketulusan dimata Mayu.
Mereka kembali bergandeng tangan menyusuri sepanjang Buttery park.
.....................
Mayu mengemasi pakaiannya dikoper, sengaja saja supaya saat pulang sebagian barang bawaannya sudah ia rapihkan.
__ADS_1
Reynan baru keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya menggunakan handuk,"kamu ngapain sayang?"
Mayu menoleh,"Beresin baju. Jadi kapan kita pulang Mas?" tanya Mayu antusias.
Reynan berjalan meletakan handuknya di capstok dan kembali ke kamarnya meraih sisir, merapihkan rambutnya,"Tunggu sampai selesai trimester pertama baru kita akan pulang"
Mayu menoleh, membulatkan matanya atas jawaban Reynan, bagaimana mungkin? tiga minggu di New York menurutnya sudah sangat lama, ditambah lagi dokter juga sudah mengizinkannya melakukan perjalanan udara, meskipun ada saran kedua setidaknya saran pertama akan jauh lebih baik menurutnya,"Mas, kamu nggak lagi bercanda kan? menunggu sampai trimester pertama itu artinya dua minggu kedepan aku masih disini? aku nggak mau! aku mau pulang!"
"Kamu kenapa si? apa masalahnya? aku nemenin kamu kok disini."
"Tapi tetap saja aku di sini nggak bisa bebas melakukan apapun sebagai layaknya ibu-ibu hamil lainnya Mas, aku ngrasa kekurung!"
"Hanya untuk dua minggu saja!"
"Dua minggu itu nggak sebentar Mas!"
"Ya terus apa? kamu maunya gimana? aku mau yang terbaik untuk kamu dan anak kita"
"Tapi aku nggak mau kalo harus nunggu sampai dua minggu disini! aku mau pulang!"
"Kamu kok susah banget ya dikasih tau, jangan egois dong! Semua demi kamu dan anak kita! atau jangan-jangan kamu lebih mentingin diri kamu sendiri dari pada anak kita?!!"
Mayu tertegun, tak menyangka jika akan sepanjang ini percakapan mereka, naluri keibuannya mulai muncul, air matanya mulai tumpah,"Kamu jahat banget sih Mas, aku cuma minta pulang tapi kamu langsung bilang kalo aku egois, nggak sayang sama bayiku sendiri"
Reynan menelan salivanya, mulai cemas dengan perkataan yang barusaja ia ucapkan sangat kelepasan, dia menarik nafas, mendekati instrinya yang sudah terisak, harusnya dia tidak mengatakan itu, dia hanya ingin yang terbaik untuk keduanya. Reynan memeluk Mayu dari belakang, mencium bahu istrinya dan mengelus halus perut Mayu yang mulai terlihat membulat.
"Maaf sayang"
Mayu masih terisak.
"Apa yang harus aku lakuin supaya kamu nggak sedih?"
Mayu melepaskan dekapan Reynan.
Reynan sempat terkejut dengan reaksi Mayu.
"Mungkin kamu nggak usah ngomong dulu mas" tukas mayu dan berjalan meninggalkan suaminya.
__ADS_1
"May..." Panggilannya sudah tak berarti, Mayu sepertinya sangat terluka.
Reynan menghela nafas dan keluar dari kamar, melihat istrinya yang sudah duduk melipat kakinya di sofa, melihat jendela kaca besar yang menghadap kota. Reynan tak berani menegurnya, biarlah, dia masih marah.