Memayu

Memayu
Episode 76 Menyebalkan


__ADS_3

Reynan dan Mayu sudah sampai didepan halaman rumahnya. Reynan keluar dari mobil tanpa sepatah katapun. Ia berlalu saja meninggalkan Mayu didalam mobil.


Mayu menghela nafas, berharap Reynan akan membukakan pi tu mobil untuknya, "yah... hiasanya aku jadi cinderella pangeran, sekarang trima dulu aja deh sehari bakal jadi upik abu, hahahha" tukasnya menertawakan diri sendiri.


Reynan berlalu saja tak menyapa Mama dan ngeloypr masuk kedalam kamar.


"Mama..." Sapa Mayu kepada ibu mertuanya.


"Reynan kenapa?" tanya Mama penasaran.


"Cemburu ma" Jawab Mayu santai.


"What? kok bisa?"


"Bisa lah Ma, sangkin cintanya kali sama Mayu"


"Dih! kamu! bener juga sih, hahahha"


"Mayu masuk kamar dulu ya Ma, mau ganti baju, mandi, sholat, nanti makan malam bareng kan?"


"Boleh, Mama masak dulu ya"


"Kok masak? emang belum ada makanan ma?"


"Mama nggak masak hari ini, siapa yang mau makan? masak sendiri makan sendiri begitu? kamu kan pergi"


"DO aja Ma, jadi nggak perlu capek"


"Iya bener, kamu mau makan apa? mama pesenin"


"samain aja deh sama Mama"


"Oke, kamu sekaliyan tuh bujuk suami kamu. Mama nggak tahan liyat wajah Reynan kalo lagi ngambek"


"InsyaAllah Ma"


"Dibujuk yang bener, kalo perlu pake rayuan maut"


"hahahhaha rayuan maut apa ma?"


"mau mama ajarin? udah hafal kan kalian berdua?"


"Mama.... hahahah"


Suara pintu kamar Reynan terbuka.


Tawa Mama dan Mayu segera berhenti.


Ada kedua mata yang merasa terganggu. Reynan muncul dari balik pintu, mengatakan secara tidak langsung dengan sorot matanya yang tinggal segaris itu, supaya mereka diam.


Tahu saja sedang dighibahin.


Reynan kembali membanting pintunnya.


"Tuh kan Ma, jadi tambah marah"


"itu pertanda udah nggak sabar"


"Nggak sabar apa ma?"


"Udah cepet sana kamu susulin"

__ADS_1


"Mama sok tahu banget, jelas dia lagi marah sama Mayu"


"Udah sana! apa yang mama nggak tahu tentang suamimu itu"


"Iya ma, iya"


Mayu segera berlalu dan masuk kekamarnya.


............................


Makan malam kali uni berlangsung sengit, Reynan masih saja terdiam dan memilih segera menyelesaikan makan malamnya dan berlalu meninggalkan Mama dan Mayu.


"Udah makannya Rey? kok cepet?" tanya Mama.


"Udah Kenyang Ma" Jawab Reynan patas


"Nggak dikunyah ya?"


"Emang Reynan ular, makan nggak dikunyah"


Mayu terkikik, tak biasanya Reynan menjawab pertanyaan Mama dengan perumpamaan.


Reynan menatap Mayu sinis, memundurkan kursinya dan memilih masuk ke kamarnya lagi.


Mama dan Mayu terkikik berdua.


"Memang seberapa salahnya kamu sih, sampe sebegitu marahnya Reynan?"


"Bukan Mayu Ma, itu tadi dokter Dhemas yang ngerjain. Jadi Dokter Dhemas ambil gambar selfi sama Mayu terus dikirim ke mas Rey. Jadi deh kebakaran"


"Iseng banget sih si Dhemas, Mama nggak tega loh May liyat Rey sedih begitu. Kamu bujuk gih, minta maaf kek"


"Nanti Mayu coba ya Ma"


"ya Kan tadi mandi dulu Ma"


"Ya sambil mandi May"


"Mama mulai deh.."


"Hahhahahaha Mama tuh seneng kalo godain kamu begitu"


"Asli Mama kurang kerjaan banget"


"Justru itu jadi salah satu kerjaan Mama May"


"Udah lah Mama ih, Mayu kan malu"


"Jangan Malu-malu, biat cepet jadi. Udah sana buruan" Tukas Mama sembari bergegas membawa piring kotor bekas makan malam mereka.


........................


"Hallo Wi" Sapa Mayu saat menerima telepon dari Dewi.


Reynan menatapnya acuh dengan mata pojok.


Mayu menghela nafas, suaminya memang sedang menyebalkan.


"Kenapa?"


"Minggu depan kamu bisa ikut kegiatan sosial lagi kan? klinik mau ngadain sunatan masal May" Jelas Dewi dibalik telepon.

__ADS_1


"mmmm, saya usahain deh Wi"


"Bisa dong"


"Aku izin dulu ya ke Mas Rey, nanti aku kabarin lagi"


Reynan yang merasa namanya disebut diantara percakapan itu terlihat masih datar saja wajahnya.


"Di rayu lah Mas Reymu itu"


"Apaan sih lo Wi, nggak inget terakhir pas dipanti?"


"Hahaha, itu kurang gairah aja suami lo makanya ngambek"


"si kampret, sembarangan aja kalo ngomong"


"Yaudah, selamat merayu suami ya May, by..."


"Iya, by"


Klik.


Mayu menatap Reynan, entah buku apa yang sudah membius suaminya, hingga tak menghiraukannya.


"Telepon dari siapa?" tanya Reynan.


Mayu menoleh, akhirnya suaminya bertanya, dia sudah menebak Reynan tak akan tahan berlama-lama mendiaminya. Mayu duduk diranjang tepat disamping suaminya duduk.


"Akhirnya kamu bertanya juga Mas, masih marah ya?"


"Jangan keluar dari topik, siapa yang telepon kamu?" tukas Reynan menekan nadanya.


Mayu menyerngitkan kening, menyebalkan sekali suaminya ini, "Dewi"


"Temen kamu yang diklinik itu?"


Mayu mengangguk,"Iya"


"Ngapain? pake sebut-sebut namaku segala"


"Kapan?"


"itu tadi ditelepon, emang aku nggak denger"


Mayu menghela nafas,"Aduh, udah deh Mas, bisa nggak sih percakapan kita normal aja, kamu udahan marahnya, aku sebel lihat kamu kaya gini, kaya kesel banget sama aku"


"Ya menurutmu?"


"Apa?"


"Tahu kan maksudku, masa nggak ngerti juga"


"kamu cemburu?"


"Lucu begitu menurutmu?"


"Ya aku nanya, kalo kamu diam gimana aku bisa ngerti"


"May, nggak setiap permasalahan itu harus dijelasin dulu baru kamu ngerti"


"Ya iya aku tahu, tapi maksudnya udah dong, mau sampe kapan, lagian kamu percaya kan sama aku?"

__ADS_1


Reynan terdiam.


"Kamu ngeraguin aku? kamu nggak percaya sama aku Mas? gimana aku ngomongnya coba, hal sederhana aja kamu dibikin ribet, gimana aku mau minta izin lagi buat ikut kegiatan sosial minggu depan diacara sunatan masal coba"


__ADS_2