
"Kamu lagi apa sayang? bantuin q pasangin dasinya dong" Tukas Reynan yang sedari tadi berdiri didepan kaca dengan pakaian kantornya.
Mayu mengerjap, dia baru menemukan sesuatu dilaci wardrobe bawah saat ia mencari kaos kaki Reynan. Niatnya urung untuk sekedar melihat benda yang ia temukan, Ia segera menyambangi panggilan suaminya.
Mayu segera membetulkan dasi suaminya.
"Sayang...."
"ya?"
"Aku besok tiga hari mau ke Kalimantan"
Mayu menatap wajah Suaminya yang seakan sudah lega mengatakan kalimat yang akan diucapkannya, Mayu mengangguk.
"Kamu tahu kan perusahaan Papa tambangnya ada di Kalimantan, aku harus kesana, aku perlu tahu, karena walau bagaimanapun, tidak akan ada kantor pusat jika penambangnya tidak ada" Jelas Reynan.
Mayu tahu sebagai istri harus bersikap seperti apa, pengantin baru tidak melulu harus berdua terus, realitanya harus banyak yang ia selesaikan.
"Pasti aku bakal kangen banget" Tukas Mayu.
"Sama sayang, aku juga" Mayu selesai membetulkan dasi, "hmmm boleh nggak kalo aku pulang ke rumah Ibu Mas?"
Reynan sedikit menyerngitkan kening.
"Tapi kalo nggak boleh sih nggak papa, kan mas Rey juga tiga hari dikalimantan, nanti kita ketemu lagi pas udah balik" Tambah Mayu dengan senyumnya.
"Kan kamu bisa minta ditemani Mama disini, masa kerumah ibu aku nggak ikut, nggak enak sama Ibu" tukas Reynan, kini lengannya sudah melingkar dipinggang Mayu.
"Ibu kan tahu kalau Mas Rey kerja, lagian nanti aku bakal jelasin ke ibu kok"
Reynan tampak berfikir, tapi betul juga, setidaknya Mayu tidak akan merasa jenuh saat menunggunya,"Yaudah, tapi nggak sendiri ya"
"Terus?"
"Sama Yudi"
"ta..."
__ADS_1
"Jangan membantah, aku nggak mau ada orang jahat mengganggu kamu diperjalanan"
"Lebay banget sih Mas Rey"
"Mau nggak?"
"Yaudah deh Mau.."
Reynan segera berpamitan untuk segera pergi ke kantor.
...........................................
Setelah kepulangannya dari kalimantan Reynan menghabiskan banyak waktunya dikantor almarhum Papa, Samodra Prima Coal selama satu bulan lebih, Kantor Papanya sangat membutuhkan dia, Sebagai seorang pimpinan baru, peran pentingnya akan menjadi pusat dari lingkaran titik kompleks diperusahaan yang baru ia pimpin. Sembari menyusun startegi pertumbuhan laju bisnis, strategi komunikasi tim juga perlu dijaga, mengingat dia sama sekali tak tahu seluk beluk perusahaan Papa sebelumnya, dia perlu pengenalan lebih terhadap perusahaan terutama orang-orang kepercayaan Papa.
Semua harus ia urus, termasuk di dalamnya memastikan anggota tim bekerja prima serta memberikan motivasi dan dukungan untuk mencapai level yang lebih baik.
Reynan selalu mengukur kesuksesannya menjadi pemimpin saat komponen-komponen perusahaan dapat bertumbuh secara mandiri. Seperti perusahaan properti miliknya yang terbilang masih baru tapi mampu bersaing, Sam Properti Land, dimana ia bisa menumbuhkan setiap anggota tim untuk diberikan kuasa penuh atas wewenang yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Saat Papa masih ada, kontrol langsung masih terus ia lakukan diperusahaannya, untuk persiapan saat bisnis dan anggota timnya membesar. Tapi saat ini disaat perusahannya membesar, ia memberikan kuasa penuh kepada Ibran untuk memberikan porsi kontrol kepada anggota tim supaya bertanggung jawab penuh atas pekerjaan dan yang sudah dikerjakan.
Untung Mayu tak pernah protes, dia harus memaklumi atas semua kerja keras suami yang harus mengurus dua perusahaan sekaligus. Sebagai istri justru Mayu patut bangga, saat seseorang sukses karena warisan orang tuanya, suaminya sudah sukses sebelum mendapat warisan orang tuanya. Meskipun hari-harinya mulai diliputi rasa jenuh.
Reynan juga belum memboyongnya kerumah Mama, entah apa alasannya. Hanya Mama kerap kali datang untuk menengok menantunya, atau Mayu yang berkunjung untuk sekedar mencoba resep masakan baru. Seperti hari ini.
"Enak banget Ma, Mayu mau dong diajarin bikin kue dessert begini" Tukas Mayu.
"Gampang May, harus telaten, Mama juga dulu begitu, kalo Papa udah sibuk dikantor, apalagi kalo Reynan udah kuliah terus nggak pulang-pulang, wahhh stres banget Mama, akhirnya Mama cari kesibukan"
"Bener banget Ma, Mayu juga pingin, tapi Mayu belum bakat bikin-bikin kue"
"nanti juga bisa kalo belajar terus"
"Iya Ma" Mayu menyendok kue keduanya, Mama memang jagoan.
Mama seperti gelisah, seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan. Mayu menduga saja, Mama tak seperti biasanya, ekspresinya mulai berubah, "Mama kenapa?"
"mmmm, nggak May, kamu lanjut saja makan kuenya, enak kan? nanti kalo pulang kamu bawa sekaliyan buat Reynan"
__ADS_1
Mayu merasa itu bukan jawaban sesungguhnya dari Mama.
Tapi Mama mulai meraih tangan Mayu,"Maaf ya nak, Mama boleh tanya sesuatu?"
Mayu mengangguk, masih setia disana.
"Mama sudah sering bicarakan ini dengan Rey, tapi dia selalu sibuk, Mama pingin kalian fokus dulu dengan pernikahan kaliyan"
Mayu mulai menduga.
"Mama udah pingin banget nimang cucu"
Mayu tertegun, menelan salivanya mendadak.
"Maaf May, Mama salah ya ngomong ini? Mama tau semua milik Tuhan, tapi setidaknya jika kaliyan mau berjuang sedikit saja, mungkin Tuhan akan kasih secepat mungkin"
Mayu tersenyum,"Berjuang gimana Ma?"
Mama menarik nafas,"Kamu tuh sama saja dengan suamimu, maksud Mama kalian pergilah Honeymoon. Kaya pengantin-pengantin lain"
Mayu menggut-manggut.
"Jangan manggut-manggut saja, Mama ngomong ini juga penuh perjuangan, Mama takut kamu berfikiran lain, dikiranya Mama mertua yang bawel. Mama cuma penge..."
"Cucu kan Ma?"
"hmmm"
Mayu terkikik pelan, jangankan Mama, Ibu juga sudah mulai bawel bertanya-tanya, padahal pernikahannya baru beberapa bulan. Tapi mungkin saran Mama benar.
...........................................................
Hari ini tepat tiga bulan pernikahannya, tiga bulan juga Mama mulai terus mengomel, Mama selalu menganggap sebagai pengantin baru Reynan terlalu sibuk diperusahaan, sering kali Mama menasehati, orang kepercayaan Papa ini sudah bekerja lama di perusahaan, dan tak ada kaitan apapun antara masalah pribadinya, Reynan tak perlu ragu untuk percayakan semua kepada pak Hendra. Mama juga selalu memberi tahu meskipun ini bukan kali pertamanya menikah, tapi Mayu juga perlu banyak quality time dengannya. Bukan hanya dengan Reynan, Mama juga kerap mengomel kepada Mayu yang dia rasa terlalu santai menanggapi kesibukan suaminya.
Reynan tahu waktunya terlalu banyak untuk mengurus perusahaan Papanya, dia sempat sekali merencanakan honeymoonnya ke Ubud dengan perjalanan darat sesuai keinginan Mayu. Tapi ia rasa perjalanan darat akan memakan banyak waktu. Bahkan hingga kini tak adalagi pembahasan apa-apa tentang rencana honeymoon.
...................................................
__ADS_1