Memayu

Memayu
Episode 43 LDR


__ADS_3

Mayu sudah menyiapkan piring untuknya dan Reynan sarapan, dibantu dengan Lany, asisten rumah tangga yang Reynan sewa untuk membantunya dan Mayu beres-beres diapartement.


Tapi sejauh ini Reynan masih memilih membeli makanan sehat diluar, Mayu lebih menyukainya, sehingga Lany hanya datang untuk sekedar bersih-bersih.


Reynan dan Mayu masih saling diam dari kemarin. Sebenarnya Mayu yang selalu menghindar saat Reynan mencoba menghiburnya pula. Didepan Lany juga Mayu terang-terangan mendiami Reynan.


Kadang Lany menjadi bingung sendiri menghadapi keduanya, makanya tak jarang ia lebih memilih segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang.


Suasane di Apartemen lebih tepat disebut horor, tak ada sepatah katapun obrolan yang keluar dari mulut keduanya.


Hingga ponsel Reynan berdering, ada telepon dari Pak Hendra.


"Hallo?" Sapa Reynan menyapa Pak hendra dibalik telephon.


Pak Hendra terdengar menyampaikan sesuatu dibalik teleponnya.


Reynan dengan seksama mendengarkan, tapi bahasa tubuhnya sudah menunjukan dia sedang kebingungan.


Mayu mulai memperhatikan suaminya, kemarahannya meredup melihat Reynan yang terlihat gusar mengangkat teleponnya.


Reynan sudah menutup telponnya, dan mencoba mencari nomor Ibran dideretan kontaknya.


"Kamu dimana?! ada longsor dipenambangan Batubara, banyak penambang yang terjebak didalam timbunan!" Tukas Reynan dengan nada yang berangsur meninggi.


Ibran terdengar menjawabi perkataan bosnya, ternyata Ibran sudah mengetahui kabarnya dan sedang menuju kantor pusat untuk mencari info kebenarannya.


Tak lama Reynan kembali duduk dengan gusar, mencari cara penyeselaian, dia harus pulang, Reynan beranjak mengganti pakaiannya, dan menyambar sepatunya dirak.


Mayu berdiri sedari tadi, melihat suaminya yang mondar mandir, dia sedikit mendengar percakapannya. Perusahaannya sedang dalam masalah.


"Mas..."


"Kita ngobrol nanti saja ya sayang, aku akan segera kembali" tukas Reynan berlalu meninggalkan Mayu, mengecup puncak kepala Mayu dan mengusap halus perut istrinya.


Mayu menyetujui saja, dia tahu suaminya sedang dalam masalah.


.............


Mayu sudah menunggunya sedari tadi, Reynan belum juga pulang, sebenarnya kemana suaminya itu pergi. Badannya terasa sangat lelah, ia memutuskan untuk tidur lebih awal.


.............


Reynan datang saat Mayu masih terlelap, membawa belanjaan, susu dan perlengkapan lainnya kerumah, sebelum pulang ia harus memastikan Mayu akan baik-baik saja jika ditinggalnya sementara waktu, Lany yang akan menemaninya disini.


Lany, asisten rumah tangga profesional di new york, kebetulan dia juga berdarah Indonesia-Eropa. Sehingga tak asing jika harus berbicara bahasa Indonesia.

__ADS_1


Mayu sangat lelap, beberapa kali Reynan membangunkannya, tapi hanya gumaman ringan yang ia dapat, Reynan tak tega membangunkan Mayu dan segera beranjak membawa kopernya. Ada perasaan berat disana, tapi masalah diperusahaan memaksanya untuk pulang.


"I ask for help, take care of my wife here"


"well, I'll do my best, sir" Jawab Lany yang juga sudah tiba diApartement.


"Thank you , i trust you"


"Yes, sir"


Reynan segera berlalu dan meninggalkan Apartemennya. Ingin rasanya memboyong Mayu jua, tapi seperti yang sudah mereka debatkan semalaman, jika Mayu hanya akan pulang setelah kehamilannya melebihi trimester pertama.


.............


Mayu membuka matanya yang tertimpa sinar mentari pagi, dia menggeliat pelan, meraba king bednya, Reynan mungkin sudah bangun, entah dia tidur berapa lama. Mayu memandang perutnya, mengelusnya pelan, dia sangat lapar pagi ini.


"Kamu lapar ya sayang? Mommy juga, kita makan dulu yuk?" Mayu tersenyum, menertawakan aksi konyolnya sendiri, dia memang suka mengadukan apapun kepada bayinya, seakan hanya sikecil yang bisa mengerti hatinya.


"Lany?" Tukas Mayu terkejut melihat Lany sudah menyiapkan sarapan untuknya.


"Good morning Madam, Madame is awake?" Sapa Lany.


"Just call me Mayu"


"I'm sorry, but i can't..."


"oh no, I don't mind at all, Madam.. mmm maksudku Mayu" tukas Lany dengan sedikit canggung.


"yap! seperti itu saja, karena saya masih lama di New York, dan hanya kamu satu-satunya orang yang akan selalu saya ajak mengobrol selain suami saya" Jelas Mayu.


"Baiklah, saya akan usahakan"


Mayu berjalan mendekat, menarik kursi dimeja makan dan duduk disana.


Lany menyodorkan segelas susu vanila hangat dan roti tawar tanpa kulit dengan telur ceplok diatasnya, sejauh ini memang Mayu hanya suka sarapan dengan menu itu.


"Thank you", Mayu tersenyum, Lany tahu dari siapa tentang kebiasaannya. Mungkin saja Reynan. oh ya, dimana dia?


"Lany, kamu lihat Reynan nggak?"


"Semalam Pak Rey melakukan perjalanan pulang ke Indonesia, waktu anda tidur"


Mayu urung menyendokkan rotinya ke mulut, menjatuhkan kedua benda ditangannya hingga berdenting dipiring kaca.


Lady terkejut, dia menyadari Mayu tak suka mendengar kabar kepulangan Reynan.

__ADS_1


"Are you oke?" Lady mendekati Mayu.


Mayu memundurkan kursinya dan segera masuk kekamar, menutup pintunya rapat-rapat.


Lady hanya bisa diam, apa ada yang salah dengannya? atau jawabannya tadi?


....................


Mayu seharian sesegukan dikamar, dia menjadi secengeng ini sekarang, bahkan tak dapat mengerti kenapa hatinya mudah sekali patah, apakah sulit jika hanya untuk berpamitan saja? setakut itukah Reynan mengajaknya pulang? hingga berpamitanpun tidak.


Kenapa Mayu merasa seakan bukan orang penting sehingga ditinggal begitu saja. Bahkan tak ada pesan apapun.


Sudah berpuluh kali sepanjang hari ini, ketukan pintu kamarnya menggema, Lany yang berusaha membujuknya untuk sekedar makan juga tak ia bukakan pintu. Ponselnya yang berdering juga tak ia angkat sama sekali. Reynan benar-benar membuatnya ingin marah sejadi-jadinya.


.............


Sesampainya ditanah air, Reynan menyempatkan diri pulang kerumah Mama, mengganti pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Fitri, asisten rumah tangga Mama.


Sebenarnya Mama juga sempat menyinggungnya dengan tindakannya meninggalkan Mayu dinegara orang.


"Pasti Mayu sedih" tukas Mama.


Reynan berdecak,"Ma, ada Lany disana, Mayu akan baik-baik saja, saya sudah menyiapkan semua keperluannya, lagi pula kalo sudah selesai semua urusan kantor Reynan akan kembali ke New York kok"


"Bukan masalah kamu menyiapkan keperluannya, ibu hamil tak akan semudah itu mengerti Rey"


Reynan memakai Jasnya,"Mayu akan mengerti Ma! aku kenal Mayu"


"Mungkin kamu mengenalnya, tapi belum cukup mengertikannya..."


"Ma! Rey serba salah, tolong dong, harusnya Mama juga ngertiin Rey!"


Mama hanya diam. Bagaimanapun Reynan pulang bukan tanpa sebab, dan alasannya meninggalkan Mayu memang logis, tapi perasaan Mama saja yang tak menentu, sangat menghawatirkan Mayu.


Reynan segera bergegas menuju kantor bersama Yudi.


Sesampainya dikantor, sudah ramai para wartawan yang menunggu kedatangannya, longsornya penambangan batu bara perusahaannya banyak memakan korban, dari 30 orang ada sedikitnya 13 orang yang sudah ditemukan dan 17 lainnya masih dalam pencarian.


Pintu mobilnya sudah penuh sorotan kamera dan pertanyaan yang menggunung. Beberapa dugaan mengatasnamakan kebijakannya yang kurang memperhatikan keselamatan para penambang. Yudi segera membantunya keluar dari mobil, melewati para wartawan yang mengerumuninya. Satu langkah dua langkah Reynan masih bisa menghindar, namun rasanya para wartawan ini harus ia sapa dengan jawaban sebenarnya atas pertanyaan dan dugaan-dugaan yang beredar.


....................


PENGUMUMAN!!


Para pembaca yang saya sayangi, jika karya saya masih ada kekurangan saya mohon maaf, boleh jika mau memberi saran atau ide,hehehhe.

__ADS_1


Jangan lupa dukung karya saya ya, like, komen, dan vote, terimakasih banyak teman-teman.


Komen dong biar saya tahu siapa saja penggemar Karyaku, hehehhe terimakasih.


__ADS_2