
Mayu sudah selesai Mandi, ia baru menyadari jika kopernya tidak ada diruangan, ia mendadak stres sendirian, bagaimana mungkin Yudi tidak mengantarkan koper keruangannya. Apa yang harus ia kenakan, tubuh polosnya hanya terbalut dengan sehelai handuk.
Mayu segera menghubungi Reynan, tidak ada nomor lain yang bisa ia hubungi, tapi berulangkali teleponnya tidak diangkat, menyusahkan saja.
ponselnya kemudian berdering.
"Hallo"
"Hallo bu Mayu, maaf saya Ibran, jika anda butuh bantuan bisa tanyakan kepada saya, mungkin saya bisa membantu"
Mayu menjauhkan ponselnya, kenapa orang ini yang menelponnya, Mayu kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Oh ya, saya mau minta nomornya Pak Yudi, koper saya ketinggalan dimobil"
"oh jika itu masalahnya, bu Mayu tidak perlu menelpon Yudi, Bu Mayu bisa memakai pakaian yang sudah disiapkan diwardrobe, Bu Mayu bisa bebas memilih pakaian mana saja yang ingin Bu Mayu pakai"
"tapi koperku_____"
"kita bisa bahas kopernya besok lagi, maaf bu, saya tutup teleponnya"
Klik..
"huh... tidak sopan sekali dia, belum selesai berbicara sudah main matikan telepon" tukas Mayu menggerutu. Ia segera berjalan menuju wardrobe memilih baju seperti yang Ibran katankan.
Betapa terkejutnya Mayu, melihat berbagai model lingeri menggantung dilemarinya.
"What??? baju apaan ini"
Mayu mendadak sangat membenci baju-baju model ini setelah malam lalu ia mengenakan Baju saksi pelepasan, malam ini dia akan mengulanginya.
Mayu mendengus, ini orang-orang kenapa sengaja sekali membuat posisinya selalu serba salah. sebenarnya tidak ada salahnya juga, karena Reynan sudah bukan orang lain, tapi Mayu tetap saja merasa tidak enak jika harus mempertontonkan tubuhnya setiap saat.
Pikirannya mulai menebak, mungkin saat menyiapkan baju-baju ini.Ibran juga sudah berfikiran mesum. tampaknya Ibran berbahaya jika dibiarkan kerja terus menerus mengikuti suaminya pergi. Awas saja, tunggu pembalasanku ya.
.................
Reynan baru saja masuk ke Hotel, kamarnya tampak sepi, ia melihat masih ada makanan dimeja yang belum sama sekali disentuh. Apa mungkin Mayu sudah tidur.
"ehem" Reynan berdeham, memberi isyarat kepada Mayu jika dirinya pulang, istrinya sama sekali tidak merespon. Reynan mencoba mencarinya dikamar, suasana tampak sepi, ia tersenyum kecil saat melihat tatanan ruangan, Mama benar-benar pengertian, sudah menyiapkan semuanya.
"Sayang.." Panggil Reynan, apa mungkin gundukan selimut itu adalah Mayu yang sudah pulas? Reynan mendekati ranjangnya, nampak wajah Mayu yang tidak tertutup selimut. Reynan terheran, apa mungkin Ac nya menyala terlalu dingin sampai Mayu harus menutup seluruh tubuhnya. Ia merasa istrinya sudah sangat lelah, ia bergegas mandi dan mengganti pakaiannya.
Reynan meraih ponselnya selepas keluar dari kamar mandi, masih mengenakan handuk dipinggang sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk yang lain. Ibran menelfon, Reynan sengaja mengangkat diruang depan, antisipasi saja jika Mayu terbangun karena suara teleponnya.
Mayu membuka mata satunya lirih, sebenarnya dia tidak sedang tidur, hanya tak ingin saja Reynan tahu alasannya menutup selimut karena gaun tidurnya yang sangat minim bahan. Mayu masih belum terbiasa, lebih parah dari gaun saksi pelepasan.
__ADS_1
Reynan masuk kembali, mengamati selimut Mayu yang berubah posisi, Reynan feeling saja jika Mayu pura-pura tidur. Ia beranjak mengambil makanan dimeja dan membawanya dikamar. Reynan duduk tepat disamping Mayu yang nampak pura-pura lelap. Reynan sebenarnya sudah gemas, tapi istrinya ini rupanya suka main kucing-kucingan, sudah dua kali dia pura-pura tidur, Reynan mengikuti permainannya.
"hmmmm..... perpaduan yang sangat istimewa, cheese steak dengan saos yang menggoda, harum panggangannya terlampau wangi, apalagi disantap dengan nasi putih yang empuk" Tukas Reynan sembari menyendokan nasinya kemulut dengan gaya presenter acara kuliner.
Mayu yang mendengar hanya ikut menelan salivanya, sebenarnya dia juga lapar, ususnya mulai memberontak.
Reynan kembali menggodanya dengan presentasi makanannya. Mayu semakin merasa jika Reynan sengaja membuatnya terbangun.
"Brisik banget sih , Mas!"
"ehhhh, istriku bangun"
Mayu menatap Reynan yang hanya mengenakan sehelai handuk dengan satu porsi makanan dipiringnya.
"mau makan?"
Mayu mengangguk, layakna anak kecil yang meminta ibu menyuapinya.
"Duduk" pinta Reynan.
Mayu menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
Reynan menatapnya curiga, ia segera meraih selimut Mayu, tapi seketika Mayu menariknya lagi saat setelah Reynan melihat pakaiannya.
Reynan menggeleng, ekspresinya datar.
"Kenapa ? hanya karena ini kamu tidak makan?"
Mayu hanya diam.
Reynan nampak sedikit kesal, melihat Mayu yang masih saja kaku saat dengannya.
"Maaf mas, aku belum terbiasa, hanya ada gaun ini diruangan"
"Tapi tidak berarti kamu memilih tidur dalam keadaan lapar, duduk! saya suapi"
Mayu masih saja memegang erat selimutnya.
"Jangan seperti anak TK May! kamu lupa? malam sebelumnya kita sudah berbagi semuanya, saya sudah melihatmu dengan tubuh polosmu!"
Mayu merasa Reynan mulai sedikit marah, ia membuka selimutnya dan memutuskan untuk duduk, disamping suaminya itu.
Reynan menyendokan nasi sedikit demi sedikit dengan wajah datar dan tak berekspresi apapun.
__ADS_1
Berbeda dengan Mayu yang mencuri pandang terhadap suaminya, tak menyangka laki-laki tampan dengan dadanya yang bidang, hidungnya yang mancung, pesonanya yang kuat kini adalah suaminya.
Ponsel Reynan kembali berdering, ia menyerahkan piringnya kepada Mayu, memberi isyarat agar Mayu menghabiskan makanannya, ia kembali mengangkat telepon, masih dengan sehelai handuk yang melingkar.
Mayu meneruskan saja makannya hingga selesai, rasa laparnya tak bisa berbohong lagi.
Reynan segera masuk ke kamar, mendapati Mayu yang sudah selesai makan dan membawa priring serta gelasnya ke ruang depan.
Mayu merasa Reynan tak berkedip menatapnya, ia menjadi gundah, kenapa dia canggung sekali didepan suaminya.
Pekerjaannya yang rumit membuat Reynan berfikir seharian, tapi Mayu membuyarkan semuanya, gadis manis, dengan rasa malunya selalu membuat wajah Mayu memerah, tapi Reynan menyukainya, rambut ikal dengan linggeri hitam menempel dikulitnya yang mulus semakin membuat Reynan menggila, ia tak membiarkan istrinya berlalu begitu saja.
Seusai meletakan piring, Mayu segera menuju kekamarnya lagi, melewati Reynan yang berekspresi serius, sengaja tak menghiraukan, Mayu khawatir suaminya ini masih marah.
Reynan menarik lengan Mayu, Mayu mengerjap, mendapati tangan Reynan yang sudah melingkar dipinggangnya. Langkah Reynan maju satu persatu, membuat Mayu Mundur perlahan hingga tubuhnya berakhir menyentuh tembok yang dingin, Mayu tak berani menatap suaminya.
"May..." Sapaan Reynan membuat Mayu mulai berani menatap matanya.
Entah apa, Ada sebuah cinta disana. Reynan menciumnya dengan kelembutan yang berangsur, tangannya mulai aktif menyentuh apapun yang ia sukai dari Mayu. Mulai membuka gaun hitam dengan tali yang mudah terlepas.
Reynan melihat wajah Mayu yang memerah, Reynan memeluk istrinya, dia mencoba memberi isyarat jika Mayu tak perlu setengang itu menghadapinya.
Mayu menarik nafasnya dalam-dalam.
Reynan masih melingkarkan tangangga dipinggang Mayu.
"Mas.." Mayu benar-benar malu, Gaun hitamnya benar-benar sudah jatuh, kenapa Reynan suka sekali menatapnya seperti itu.
Reynan menarik tubuh Mayu dan membaringkannya di kasur king sizenya, Reynan akan mengulanginya dengan bebas diruang ini, tanpa takut seseorang akan mendengarnya, tidak seperti malam sebelumnya.
"aku mencintaimu" desusnya.
Mayu mengangguk, tangannya mulai berani memegang wajah Reynan yang sudah berada tepat diatasnya.
Mereka saling berbagi semua rasa, entah sudah berapa kali Mayu mengeluarkannya, padahal Reynan belum seutuhnya melakukan penyatuan. Hingga berakhir dengan suara-suara yang mereka bangun berdua.
.
.
.
.
.
__ADS_1