
Mayu menghela nafas,”tak ada gunanya bertanya”, langkahnya kembali mengikuti Ibran.
Ibran memberi isyarat kepada mayu untuk masuk ke ruangan.
Mayu mengumpulkan keberaniannya memasuki ruangan, terlihat Reynan sudah duduk dishofa sembari menonton Tv besar didepannya, yang tidak masuk akal difikirannya adalah Reynan terlihat memakai kaca mata hitam,”apa maksudnya coba” pekik Mayu dalam hati.
“Permisi pak”
“Masuk, saya mau infus vitaminnya sambil duduk saja ya, kamu sebelah sini saja” tukas Reynan sambil menunjuk kursi kecil didekatnya.
Sepertinya suasana hati Reynan sedang baik-baik saja, meskipun aneh, Mayu segera mendekat.
Sedari tadi menyiapkan selang infus dengan cepat dan tepat, menyiapkan plester, kassa betadine, alkohol swab, torniquet, abocat dll dengan lincah, Reynan tampak memperhatikan Mayu dengan mata pojoknya.
“Ya tuhan plis, kenapa gue gemetar” tukas mayu dalam hati.
Reynan mulai menyodorkan tangan kanannya.
Mayu menghela nafas, mengikat rambutnya yang terurai, pandangan Reynan masih tampak lurus, posisinya aman. Mayu mulai memasangkan torniquit dipergelangan tangan Reynan. Dengan mudah Mayu menemukan posisi yang tepat untuk melayangkan abocatnya kepembuluh pria yang pernah hampir membuatnya celaka itu.
Tangannya sangat cekatan, infus terpasang sempurna disana, Mayu mulai merekatkan plester terakhirnya.
“Sudah?” tanya Reynan.
“Sudah”
Reynan terlihat membuka kaca matanya dan meletakannya didepan meja.
Wajah Reynan dengan cepat terasa sangat dekat dengannya, hampir tidak ada jarak, bahkan Mayu bisa dengan jelas menangkap aroma parfum Reynan, Mayu terdiam mencoba menebak sedang apa Reynan disana. Mayu merasakan jari jemari tangan kiri Reynan mulai menarik sesuatu dari rambutnya.
Ibran masuk dengan dr.Dhemas, melihat Bosnya seperti tak ingin diganggu membuat ibran memberikan isyarat kepada dr.Dhemas untuk menunggu diluar saja.
Dr.Dhemas bertanya, ingin tahu, tapi Ibran selalu cuek, tidak ada yang lebih penting kecuali kebahagiaan Bos nya.
Mayu menarik nafasnya dalam-dalam, rambutnya sudah terurai kembali, Reynan menarik ikat rambut yang lima menit lalu Mayu gunakan untuk mengikat rambutnya. Mayu terlihat gugup mengembunyikan wajah merahnya.
Reynan tersenyum sembari memperlihatkan ikat rambut yang ia genggam.
Mayu mengambil ikat rambutnya kembali dan berniat memakainya.
“Biarkan seperti itu!” Reynan menimpali saat mayu akan mengikat rambutnya lagi.
Mayu tidak mau berdebat, ia menurut saja. Wajahnya benar-benar sudah berubah, terlihat kecanggungan yang berlebih, keringat dingin pun sesekali muncul, entah kenapa sulit sekali bersikap normal didepan Reynan, ritme jantungnya terasa berantakan saat ini.
“Kamu kenapa?” Reynan kembali menatapnya.
Mayu menarik nafas,”Bisa nggak sih pak Reynan marah-marah lagi aja, nggak usah berubah baik seperti ini”
Reynan tidak mengerti.
“Kurang-kurangin menatap saya dengan tatapan itu pak, saya mohon!”
Reynan tergelak,”Kamu jatuh cinta kepadaku kan?” tawanya tambah menggema.
Mayu sudah kehabisan ekspresi, ia mulai berdiri menata kembali satu persatu alat-alat kedalam kopernya.
__ADS_1
“Hey! kamu terpesona kan?”
Mayu melempar tatapan bengisnya, bukannya takut Reynan malah semakin tergelak.
“Pak Rey ketawanya nggak usah kenceng-kenceng, nggak enak kedengeran, masa iya ketawa cuma berdua begini, bagaimana nanti kata orang dikiranya saya yang macam-macam sama suami orang”
“Itu kan jika saya suami orang” jawab Reynan santai.
Mayu menghentikan kegiatannya, matanya kini sudah berpindah menatap Reynan yang masih saja tergugu,”Maksud pak Reynan?”
“Rupanya petuah anak kecil yang berencana akan membongkar video saya ke media sedikit berpengaruh, saya sudah bercerai”
Mayu terkesiap,”Serius?”
“Kenapa? Kamu tertarik untuk menggantikan posisi Kassandra?”
Mayu refleks menutup kopernya, memang ceroboh sampai tangannya tak sengaja terjepit, kali ini Reynan kembali tertawa melihat tingkah konyol Mayu yang sedang mengaduh kesakitan.
Dr.dhemas masuk dari balik pintu.
“Hey Dhim, masuk” pinta Reynan.
Dr.Dhemas masuk, memperhatikan Mayu yang masih sibuk dengan kopernya, dr.Dhemas menjatuhkan bokongnya disamping Reynan. Entah kenapa dr.Dhemas tatapannya terlihat menyelidiki Reynan dan Mayu. Tak biasanya pula Mayu tak mengikat rambutnya saat menginfus pasien.
“Gimana kuliah? Lancar kan?” tanya Reynan.
Dr.dhemas tampak kaget, Reynan mendapatinya memperhatikan mayu.
Dr.dhemas segera tersadar,”Oh iya, lancar, doakan ya semoga terealisasikan”
Reynan mengangguk.
Dr.dhemas ikut berdiri dan ingin mengikuti. Bayangan Mayu sudah menghilang dari balik pintu. Tiba-tiba suara Reynan membuat dr.Dhemas berhenti.
“Kita bersaing secara sehat!” Reynan melempar senyum bengisnya.
Dr.dhemas berhenti, menoleh kearah Reynan, tawanya menggema,”Sudahlah Rey, dia bukan type lo” jawab Dr.dhemas ringan.
“Tapi sekarang dia jadi type gue”
Dr.dhemas kembali mendekat dan duduk dishofa,”Gue bisa carikan yang jauh lebih cantik dari Mayu, Rey!” nada bicaranya terdengar lebih tenang.
Reynan manggut-manggut,”Kenapa bukan Mayu saja?”
Dr.Dhemas menghela nafas,”lo jangan nikung gue gitu dong, parah banget sih lo Rey, sama gue tega banget”
Reynan terbahak,”Jadi dia type lo?”
Dr.dhemas salah tingkah,”Ya makanya lo cari yang lain aja deh, ribet banget sumpah lo!”
“Kita bersaing saja, gue jadi tambah penasaran seperti apa Type lo itu”
“Rey, banyak yang lebih cantik dari Mayu asli sumpah”
“hahahah lo kenapa? Takut tersaingi ya? Hahaha”
__ADS_1
Dr.dhemas mangusap keningnya, sepertinya usahanya mendekati Mayu hanya akan sia-sia jika bersaing dengan Reynan, tapi tidak ada yang tidak mungkin, semuanya masalah hati.
“lo udah tau kan kalau bakal kalah, jadi mendingan jauh-jauhin Mayu saja” Reynan menepuk pundak dr.Dhemas.
“Dasar sapi emang lo, nggak bisa liyat sahabat sendiri agak bahagia dikit”
“Iya, gue emang sapi dan lo kebonya”
“Parah asli lo!" dr.Dhemas mendengus kesal, "Tapi gue punya syarat, kalau-kalau lo yang menang gue dapet bmw suv punya lo ya,”
Reynan terpingkal-pingkal.
“Dimana-mana yang kalah ngasih hadiah, ini kenapa jadi kebalik”
“Gue udah nggak enak duluan kalo posisinya udah begini” dr.Dhemas meratapi ketidak berdayaannya.
“Sudahlah, lebih baik mobil suv gue kan daripada Mayu?”
“Anjrit! lo serius sapi!?”
“Bantuin gue ya?”
“Sumpah parah banget lo Rey!, bener-bener gada hati buat sahabat lo sendiri”
Reynan terbahak.
“Gue gak trima tetep, kalo gue yang dapetin Mayu gue juga yang bakal dapet bmw suv punya lo”
“Dasar kebo maruk!”
“Nah elo sapi nikung”
“Nikung itu kalo lo udah jadi sama dia, pacaran aja belum lo, udah-udah nggak usah jadi benalu”
“Kampret! benalu kata lo? elo yang benalu disini sapi, dasar parasit!"
Reynan terbahak.
Dr.dhemas berdiri dan akan berlalu meninggalkan Reynan.
“Nih kontak suv gue, nggak usah ribet bo, kebo”
“Gue masih semangat sapi, setidaknya gue punya waktu banyak sama Mayu diklinik, dibanding elo kan?" dr.Dhemas terbahak bak pemain yang menemukan ide berlian untuk menghancurkan lawan.
“Dokter ngomongin saya?” suara Mayu terdengar dari balik pintu. Mayu datang membawa baki kecil yang berisi vitamin yang sudah disiapkannya didalam spuit.
“Nggak ada”
“Beneran?”
“Serius”
Mayu manggut-manggut dan masuk mendekati sofa dimana Reynan duduk, segera ia menyuntikkan vitamin kedalam botol infus Reynan secara perlahan.
“Suster Mayu” panggil Reynan
__ADS_1
“Iya?" jawab mayu singkat, ada angin apa tiba-tiba memanggil Mayu dengan embel-embel suster, hahahha.
“dr.Dhemas tadi ngomongin suster” tukas Reynan membuat Mayu terkesiap memandang dr.Dhemas, begitupun dr.Dhemas.