
“Kenapa sih?!” Tanya Mama.
“Ayo Ma ikut Rey! Mama harus jelasin! harus ikut tanggung jawab!" tukas Reynan memberi isyarat kepada Mama untuk mengikuti langkahnya.
“Kenapa si itu anak, moodnya berubah-ubah terus” gumam Mama sembari mengekori Reynan.
Reynan membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Mama sempat terkejut beberapa dokumen penting sudah bercecer,”perasaan semalam masih rapih” gumam Mama dalam hati.
“Ma.... bisa-bisanya mama biarin Mayu pergi bawa semua barang-barang dia!" Tukas Reynan yang masih tak bisa berfikir jernih.
“Mama nggak tahu kalo dia bakal bawa semua barang-barangnya” Jawab Mama membela diri.
“Kok Mama tega banget sih Ma! mau bikin anak Mama ini jadi... arrrggghh” Reynan sudah bolak balik memegangi kepalanya.
“Mama sama sekali nggak tahu Rey, semua bukan salah Mama, itu salah kamu!”
“Oke Reynan tahu, tapi masalahnya Mayu benar-benar membawa semua barang-barangnya Ma, nggak ada yang tersisa. Mama tahu? Dia bawa surat nikah kita juga Ma, gila kan kalo sampai dia nggak berfikir jernih terus minta cerai?” Reynan sudah sangat khawatir,”Mama harus bantu Reynan...”
“Nggak mau!” Tukas Mama membuat Reynan geram.
“Kok nggak mau sih?” tanya Reynan membulatkan mata menunggu jawaban Mama.
“Kan semuanya kamu yang buat, Mama nggak mau ikut campur, kamu selesaikan saja sendiri” Tukas Mama santai.
“Mama kok jahat banget sih Ma”
“Mama melihat dari sisi Mayu sebagai perempuan Rey, Mama ikut kasihan sama dia, pantaslah Mayu memilih pulang dan pergi meninggalkan kamu”
“Udah dong Ma, jangan diulang-ulang, Reynan nggak bisa tanpa Mayu”
“Berarti intinya kamu salah kan?”
Reynan terdiam.
“Jangan egois, akui ksesalahan kamu dan jemput Mayu sekarang, sebelum terlambat”
Reynan menghela nafasnya.
Mama berbalik, berjalan keluar rumah,”Sebelum terlambat Rey...” Mama berlalu.
“Ma..... mama.....”
Mama sudah berlalu,”Pakai pakaian yang rapih, jemput istrimu, buat dia mengerti, jangan egois, semua karena kesalahanmu” tukas Mama saat menoleh sebentar kearahnya.
“Lihat... begitu semangatnya kamu marah-marah, handukmu sudah lepas Rey”
Reynan mengerjap, memegangi handuknya yang masih melingkar disana, Mama masih sempat-sempatnya bercanda, seakan tidak khawatir jika anak semata wayangnya akan kembali menduda. Reynan mengacak-acak rambutnya, berlalu membanting pintu.
...................................
Reynan memutuskan untuk bertemu dengan dr.Dhemas, dia berfikir untuk sedikit merefresh otaknya, tidak ada sahabat yang bisa ia ajak membagi rasa kecuali Dhemas, meskipun awal-awal hubungannya dengan Mayu, keduanya sempat terlibat masalah hingga berakhir Dhemas yang masuk rumah sakit karena ulahnya.
Mereka berjanjian disalah satu cafetaria daerah kota.
__ADS_1
Reynan berjalan menuju meja yang sebelumnya sudah dhemas pesan.
Terlihat Dhemas melambaikan tangannya, mengisyaratkan keberadaannya pada Reynan.
“Masih hidup lo?” sapa Reynan menyalami sahabatnya.
Gaya mereka bersahabat memang seperti itu, semakin dekat semakin saling mencaci maki.
“Gue udah mati sebenernya, tapi ini hidup lagi gara-gara diajak ketemu sama musuh terdekat, gue tertarik aja, pasti ada maunya tiba-tiba ngajak ketemuan” tukas Dhemas spontan.
Reynan tersenyum patas,”Gue ganggu ya? Nggak usah dijawab juga si, kalo ganggu juga nggak masalah kan”
“Kalo nanya nggak butuh jawaban mending nggak usah nanya sekalian,irit tenaga dan kosa kata” timpa Dhemas.
Reynan mendengus kesal, dia sebenarnya ingin Dhemas tahu tanpa dia repot menceritakan hubungannya sekarang dengan Mayu, tapi rasanya mustahil.
Waiters datang menyodorkan pesanan Dhemas dan Reynan, Dhemas masih tahu saja menu kesukaan reynan dicafe ini.
“Terimakasih ya mba?” tukas Dhemas.
“Iya pak, sama-sama”
“Saya masih muda mba, main panggil pak aja” tukas Dhemas mengoreksi.
“Oh maaf pak, eh Mas, saya nggak tahu, habis Masnya udah kelihatan dewasa banget sih” Tukas waiters itu,” Saya permisi” kemudian dia berlalu.
Reynan sebenarnya ingin meluapkan tawanya, bagaiman mungkin Waiters mengatakan itu kepada Dhemas.
“Puas lo ketawa aja kalo tega!” Pekik Dhemas kesal.
“Anj*ng banget emang, setua gitu apa gue” Pekik Dhemas kesal.
“Udahlah nggak usah dibahas, tapi jadiin pertanda aja kalo garis besarnya lo emang udah tua, udah harus nikah” Saran Reynan sembari menikmati pesanan yang sudah datang.
“Berisik lo” Sahut Dhemas kesal, Reynan masih saja menggodanya.
Mereka menikmati minuman yang mereka pesan.
Reynan menceritakan tentang hubungannya dengan Mayu yang bukannya membaik tapi malah terlihat memburuk. Apalagi setelah kepergiannya ke Kalimantan minggu lalu.
Dr.Dhemas mengusap bahu sahabatnya,”Sulit memang Rey, tapi saling diam juga tidak akan menyelesaikan masalah”
“Dia kaya menghindar, setiap hari selalu mengurung diri dikamar Zoe, kita nggak pernah komunikasi” Jelas Reynan.
“Kamu sudah mencoba telepon dia?”
“Nggak aktif”
“Kenapa?”
“Aktif juga pasti nggak bakal diangkat”
“Kok lo pesismis?”
Reynan menggelang,”Gue nebak aja, kayaknya dia marah banget sama gue” Reynan menghela nafasnya.
__ADS_1
“Kalo belum dicoba, gimana lo bisa tahu kalo dia kesel apa nggak?”
“Dia pergi dari rumah”
“Serius lo?”
“Apa coba judulnya kalo pamit pulang kerumah ibu tapi semua barang-barangnya dia bawa semua”
“Pasti ada alasannya Rey, nggak mungkin Mayu tiba-tiba pergi dari rumah kalau nggak ada sebabnya”
“Iya, Gue tinggalin ke kalimantan, kunjungan lapangan project pembangunan perusahaan Papa yang longsor waktu itu”
“Buset.... lo sempet aja mikir kerjaan saat kondisi kaya begini”
“Gue serba salah Dhem, lo jangan kaya Mama dong, nyalah-nyalahin gue mulu, gue Cuma pengen sedikit lupa dari kepergian zoe”
Dhemas menghela nafas “Ok, tapi sekuat apapun kamu membela diri kamu tetap salah Rey, lalu Sejak kapan kalian nggak pernah komunikasi?”
“Sejak Zoe meninggal”
“Itu kan udah sebulan lebih”
“Ya emang udah sebulan lebih”
“sama sekali nggak komunikasi?”
“Nggak”
“Telepon?”
Reynan menggeleng.
Dhemas semakin tak mengerti saja dengan sahabatnya ini.
Reynan menoleh menatap Dhemas,”Ada yang lebih parah”
“Apa?”
“Dokumen nikah gue dia bawa, apa mungkin dia niat nyerein gue ya?”
Dhemas semakin heran. Dia berdecak,”Lo kok kaya bukan Reynan sih? Dia pergi dari rumah bawa dokumen nikah terus lo nggak coba langsung cari?”
Reynan terdiam.
“Lo nunggu apaan si? Lo udah tahu dia dirumah ibu, samperin aja Rey, jangan bertingkah bodoh sebelum lo nyesel”
Reynan menelan salivanya,”Gue emosi Dhem, gue nggak bisa ketemu dia dalam kedaan marah kaya begini, gue perlu dinginin otak”
“Justru otak lo bakal makin mendidih kalo lo nggak cepet-cepet ketemu dia, come on Rey... she’s Your wife, ibunya Zoe, lo nggak takut apa anak lo nggak tenang gara-gara liyat ibunya sedih?”
Reynan menghela nafas.
Nasehat Dhemas ada benernya juga. Apalagi hubungannya memang seperti air dan minyak, yang tak bisa menyatu diwadah yang sama.
Reynan mulai mencoba berdamai dengan keadaan, dia sadar tak selamanya akan seperti ini, dia merasa Mayu sudah cukup sedih dengan kepergian zoe, harusnya dia tak meninggalkannya berlama-lama dikalimantan.
__ADS_1