
Mayu sangat bahagia, setelah dokter mengizinkannya kembali ke Apartement, akhirnya ia bisa terhibur dengan situasi pemandangan New York dari jendela kacanya.
Kebosanannya memang sudah diujung tanduk, ia ingin menikmati kehamilan layaknya perempuan lain, tapi lelah sedikit kandungannya melemah, dia benar-benar trauma dengan darah yang selalu mengalir saat tubuhnya terlalu lemah.
Lany selalu menjaganya dengan baik, mereka sudah menjadi layaknya sahabat. Lany selalu saja membuat ide baru supaya Mayu tak merasa bosan, mereka kerap menghabiskan waktu untuk memasak, mendekor kamar bayi, meskipun Mayu tak berharap dia akan melahirkan disini.
Hal konyol selalu membuatnya tertawa sendiri, jika Bos kecil lahir di New York, sudah pasti saat momen lebaran dia tidak akan pernah pulang ke tanah kelahirannya.
Mayu juga mulai suka belanja peralatan bayi, meskipun dia belum tahu jenis kelamin pasti bayinya, tapi dia dan Reynan selalu saja berfikiran sama jika jenis kelaminnya laki-laki. Tapi itu tidak akan mengurangi kasih sayang mereka jika ternyata bayinya berjenis kelamin perempuan.
"Lany, lihat, sarung tangan bayinya lucu banget"
"Iya lucu, tapi sudah berapa pasang sarung tangan bayi yang sudah kamu beli?"
Mayu terdiam, jarinya bergerak menghitung, "Baru tujuh, mungkin tiga lagi biar genap sepuluh"
Lany berekspresi datar, merespon jawaban Mayu dengan bahasa tubuh layaknya sahabat karib,"Terserah ibu hamil saja, asal jangan buru-buru minta diantar pulang kampung"
Mayu terkikik.
Rak-rak kosong yang berdiri diruang keluarga kini sudah penuh, berbagai macam mainan dan peralatan bayi sudah mulai terkumpul, Mayu suka sekali mengoleksinya, dalam hal ini dia tak lagi mengingat kata pemborosan. Biasanya dia paling anti dengan pemborosan, tapi tidak berlaku untuk bayinya.
Reynan sudah berjanji akan datang hari ini, tapi Mayu tak berani berharap banyak, dia takut kecewa, karena hatinya akan mudah patah.
Kriiiiiing.....
Telephon Appartemennya berdering.
Lany menoleh, dia sedang sibuk menata sayuran dan buah dilemari pendingin.
"Hallo?" Sapa Mayu,"Ok, thank you" Mayu segera menutup telephonnya. Mayu bergegas memakai outer untuk segera mengambil paketannya yang sudah datang.
"Where do you want to go Mrs. Reynan?" Tanya Lany cepat.
"Saya mau ambil paketan kebawah"
"Did You forget Madam? Biar saya saja" Tukas Lany, berjalan melewati Mayu.
Lany memilih meninggalkan pekerjaannya menata lemari pendingin.
__ADS_1
Mayu menghela nafas, "Sampai kapan ya Tuhan.... mau keluar sebentar saja tidak boleh" Tukasnya lirih, ia melepas kembali outernya, berjalan menuju kamar, dia melihat bayangannya dikaca, perutnya sudah mulai membesar, usia kehamilannya sudah menginjak bulan ke empat, tak terasa. Jika keadaannya sudah baik, tentunya dia sudah diperbolehkan pulang. Tapi demi Bos Kecil, tak masalah jika harus melahirkan disini sekalipun.
.............
Urusan perusahaan telah usai, semuanya sudah beres, Reynan sudah berkemas sedari sore, tidak ada yang dia bawa, hanya baju dan tas kecil yang dibawanya.
Berbeda dengan Mama, Mama sangat antusias untuk ikut bersama Reynan, sedari pagi sudah mengemas bahan2 makanan, bumbu dapur, soto ayam digang sebelah yang sudah ia bekukan, semuanya berisi makanan Indonesia yang sudah pasti Mayu suka dan tak ia temukan diNew York.
"Jangan banyak-banyak Ma, Mayu nggak seribet itu ngidamnya, belum pernah juga dia minta makanan yang aneh-aneh" Tukas Reynan yang sudah duduk diruang keluarga.
"Kamu itu nggak paham, jadi diam saja" Tukas Mama membela diri,"Fitri!!!!!! Ikan asin yang kemaren saya beli mana?? jangan lupa masukin koper"
Reynan tergelak,"Ikan asin? Ma... Masa iya mau goreng ikan asin diApartement?"
"Emang kenapa? itu nggak jadi masalah selama cucu Mama mau!"
Reynan hanya menggeleng, membalas chat Mayu.
..."Mama bawa ikan asin buat kamu sama Bos Kecil"...
...Send to: Wife...
..."Oma paling tahu yang aku mau"...
Reynan terkikik membalas pesan Mayu, sudah di New York masih juga suka ikan asin.
.........................
Reynan dan Mama sudah meninggalkan bandara sore itu, sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan istrinya.
........................
Mayu menikmati salad buah buatan Lany sembari duduk disofa favoritnya. Sebenarnya dia ingin sekali menirukan gerakan Lany berolahraga dipagi ini.
Asisten serba bisanya juga sudah tak canggung melakukan aktivitas hariannya seperti biasa di appartement. Tapi hari ini adalah hari terakhir kontrak kerjanya selama satu bulan menemani Mayu. Majikannya sudah seperti sahabat, sahabat mutiara yang harus ia jaga dengan baik.
"You want to drink?" tanya Lany menawarkan minuman dingin yang baru ia ambil dari kulkas untuk Mayu.
"No thank"
__ADS_1
Lany menenggak minumannya, menutup kembali botol minumnya dan menyeka keringat dengan handuk dipundaknya.
"I'm feel sad, kamu akan pergi" tukas Mayu sembari memilah buah strowberi yang mulai langka dikotak salad, sedari tadi hanya strowberi saja yang ia makan. Beberapa buah lain ia pinggirkan.
Lany menghela nafas, tersenyum dan duduk disamping ibu hamil muda itu,"Kamu bisa bilang sama Mr. Reynan, aku akan sangat senang jika bekerja hanya untuk menjagamu, gajiku besar disini"
Mayu mendorong pelan bahu Lany, kedekatan mereka tak lagi membuat Lany ragu untuk menjadikan keberadaannya sebagai bahan bercandaan.
"Tapi aku rasa suatu saat nanti kita akan jalan bareng, belanja bareng tapi di Indonesia, not here"
Lany membulatkan mata,"It is impossible"
"Nothing is impossible, I know how, hmmm" tukas Mayu penuh tanya.
"How???" Tanya Lany menyerngitkan keningnya.
Mayu tersenyum-senyum sendiri, tidak jelas.
Lany menggelengkan kepala, ibu hamil disampingnya mulai aneh.
..............
Reynan dan Mama sudah sampai di Apartement, disambut oleh Lany, mereka sengaja masuk pelan-pelan supaya tidur Mayu tak terganggu.
Lany membantu Mama memasukkan koper dan barang lainnya. Lany heran saja, bagaimana proses dipesawat, pasti sangat rumit dengan bawaan barang-barang yang tergolong banyak.
Reynan beranjak menuju kamarnya. Membuka pintunya pelan, Mayu sudah nyenyak, tidur miring menghadap jendela kaca, tirai jendelanya masih terbuka, Mayu memang tidak pernah menutup tirainya saat malam. Dia sangat suka melihat bintang-bintang malam dilangit New York.
Reynan membersihkan diri dikamar mandi, mengganti pakaiannya dan berbaring pelan dibelakang Mayu yang memunggunginya.
Reynan memasukkan tangannya dibawah selimut, menyingsingkan baju Mayu dan meraba perut hanyat istrinya, Bos Kecilnya sudah bisa ia raba, perut Mayu mulai jelas saja bentuk bulatannya.
Mayu menggeliat, posisinya berubah menjadi terlentang, masih terlelap.
Reynan masih dalam posisi miring, kini ia menopang kepalanya dengan lengan kanannya, masih beraba perut Mayu dengan lengan kirinya. Sebelum akhirnya terlelap, Reynan mencium istrinya. Sebenarnya dia sangat merindukan semuanya dari Mayu. Jika saja Mayu terbangun, mungkin Reynan akan memulainya.
Seketika dia teringat, alih-alih ingin mencurahkan rindu, takut jika Bos Kecilnya ngambek. Biarkan rindu mengalir saja dengan semestinya, memeluk Mayu sudah cukup mengobati semua kerinduannya.
"I love you, Dear" Bisik Reynan.
__ADS_1