
“Rif... itu siapa?” Tukas Mayu mengagetkan adiknya yang terciduk sedang chat online dengan teman ceweknya.
“Ih mba Mayu kepo banget, ngintip-ngintip, engko trimbilen mba, ati-ati” Tukas Arif menghindarkan ponselnya.
“Ah gambang obatnya kalo cuma timbilan mah” Jawab Mayu patas, dia sudah keluar kamar dan memakai baju rapih.
“Jorok banget dih” Arif kembali mengetik pesan,”saiki nek timbilan joget-joket nang kandang kui wes ora manjur mba, malah sing soyo uakeh”
“Hahahaha, dulu masih manjur tuh”
“Wah... ketahuan kan sampeyan dari dulu senenge ngintip”
“Enak aja”
Didaerah kampung Mayu memang dipercaya saat seorang mengalami timbilan, obatnya cukup berjoget-joget dikandang kambing atau sapi sembari ada yang memainkan musik dengan alat seadanya, cerita itu melekat hingga sekarang.
Namun sudah jarang yang mencoba cara itu untuk mengobati timbilannya, semakin kesini kepercayaan itu semakin pudar, karena tak bisa dilogika juga.
“Rif, temani Mba Jalan-jalan dong, naik motor, mba bosen nih” tukas Mayu merengek kepada adiknya.
“Makanya Mba Mayu harus selalu baik sama Arif, jadi nggak perlu Mba minta, Arif inisiatif ngajak”
“Maksudnya apa coba? Emang selama ini Mba nggak baik sama kamu? Kesannya Kaya mba ini galak banget”
“Iya Mba kan galak nggak sadar ya mba? Mba Mayu kalo telepon Ibu sering ghibahin Arif”
“Ih... sok tau banget sih”
“Emang iya... Arif sering denger”
Mayu mengelurkan uang ratusan ribu dari dompetnya, sengaja ingin mencuri perhatian Arif,”Yakin nggak mau nganter?” Mayu mengibas-ibaskan uangnya.
“Kenapa nggak bilang dari tadi Mba, kalo gitu oyolah mba, gas...” Arif segera bangkit, mengambil jaket dan menyalakn motor.
“Dasar adek durhaka, mata duitan, kalo nggak disogok pasti ogah-ogahan” Dengus Mayu.
“Pake helm Mba!”
“Iya...!" Mayu berjalan meraih helm.
“Mau kemana?” tanya ibu dari balik dapur, mendengar ada ramai-ramai diluar.
“Mau jalan-jalan bu, udah lama Mayu nggak jalan-jalan sore” jawab Mayu sembari memakai helmnya.
“Jangan jauh-jauh ya?" tukas ibu seperti sedang berpesan kepada anak gadisnya yang masih ABG.
“Nggak jauh bu, deket-deket aja kok” Mayu meraih tangan ibu, dan menciumnya,”Pamit ya bu assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam, ati-ati ya nduk”
“Iya bu” jawab Mayu sembari berjalan keluar rumah.
Arif sudah memakai helmnya dan bertengger diatas motor kebanggaannya. Motor lawas peninggalan Bapak.
Suasana kota yang ramai dengan kerlipan lampu mengiasi perjalanan kakak beradik ini, kota kecil tempatnya dilahirkan mengajarkan banyak hal tentang artinya cinta dan jarak. Seberapapun jauh jaraknya jika kita pernah mendapatkan cinta disana pasti akan selalu merindukan tempat yang pernah menaruh cinta dihati kita.
__ADS_1
Mayu masih hafal setiap gang-gang kecil bahkan jalan raya disekitar kotanya, masih banyak pula pesepeda ontel yang malam-malam seperti ini masih berkeliaran diarea kota.
Beberapa kali mereka berhenti untuk sekedar menikmati kuliner.
Arif seakan tidak ada kenyangnya, hampir setiap makann yang dia suka pasti dia beli, ini antara kesempatan melampiaskan rasa laparnya.
“Mba Mayu mau kemana lagi?”
“Enaknya kemana ya Rif?”
“Hmmm arif kemana aja mba yang penting ada makanannya”
“Ye.... itumah maunya kamu makan terus!"
Tawa mereka menggema diatas motor yang masih melaju.
Mayu memutuskan untuk pulang, tapi sebelum pulang mereka berhenti untuk membeli oleh-oleh untuk Ibu dirumah.
“Sudah mba?” tanya Arif.
Mayu menunggu penjual martabak membungkus pesanannya.
“Ini Mba” tukas penjual martabak kepada Mayu.
“Iya Pak, terimakasih ya” Tukasa Mayu segera melaju bersama Arif untuk pulang.
........................................
Reynan sudah bersiap sedari sore, rencananya ia akan segera menyusul Mayu kerumah Ibu. Perasaannya seperti saat mencari Mayu yang kala itu menghilang tanpa kabar, tapi kali ini langkahnya semakin berat, karena bukan hanya kepada Mayu, kepada Ibu dan Arifpun mungkin ia harus menarik hatinya lagi. Reynan sudah sangat gundah disepanjang perjalanan yang baru lima menit lalu ia lakukan ditemani dengan Yudi. Bagaimana jika bukan hanya Mayu, tapi Ibu dan Arif menolak kedatangannya. Pasti Mayu sudah banyak menceritakan keburukannya selama hampir dua bulan ini, kenapa sulit sekali untuk berdamai dengan keadaannya saat ini.
Reynan tersadar, kegelisahannya terbaca juga oleh Yudi,”Nggak papa Yud, kamu fokus nyupir saja”
“Baik Pak” jawab Yudi.
Reynan menghela nafasnya panjang. Membayangkan Mayu yang mungkin sekarang sangat membencinya. Entah kalimat apa yang akan dia ucapkan pertama kali saat bertemu istrinya itu. Reynan semakin dilema.
...............................
Arif dan Mayu baru sampai ditikungan gang menuju rumahnya.
Arif membelokkan stang motornya perlahan. Mulutnya bergumam menyanyikan lagu dengan nada-nada yang tak jelas dan lirik yang berantakan.
Mayu sempat protes, tapi Arif masih saja percaya diri melantunkan lagu sumbangnya.
Dari arah yang berlawanan ada dua pengemudi sepeda motor yang melaju kencang, tak terduga mereka kehilangan keseimbangan.
Arif yang merasa motornya akan tertabrak memilih untuk menghindar.
Dua orang pesepeda motor sudah jatuh terlebih dahulu sebelum akhirnya arif dan Mayu ikut terjatuh.
Braaaakkkkk...
Beberapa orang yang berada dilokasi terlihat berdatangan dan melonong korban kecelakaan ditukungan gang.
“Mba....!!” sahut Arif memanggil Mayu yang tersungkur ditrotoar, terlihat kakinya tertimpa Motor.
__ADS_1
Beberapa orang menolong Mayu dan Arif. Arif segera menegakan kembali motornya dibantu dengan orang-orang.
“Mba ......! Mba Mayu nggak Papa?” Tukas Arif dengan kehawatirannya.
Mayu terlihat mengaduh, merasakan perih yang begitu hebat dikakinya.
Arif membantu Mayu mengangkat kakinya, dilihatnya darah yang bercucuran dikaki kanan Mayu, sepertinya lukanya lumayan dalam.
“Mba.. kita ke dokter Ya!” Tukas arif yang wajahnya sudah memucat melihat kakak perempuannya. Dia hampir melupakan dirinya sendiri.
Mayu mengangguk sembari menahan sakitnya. Ia dibantu dipapah oleh beberapa orang disana.
“Mereka gimana?” tukas Mayu menanyakan keadaan dua orang yang hampir menabrak motornya.
“Nggak papa mba itu cuma lecet saja” jawab satu orang diantara beberapa orang yang menolongnya.
Mayu segera menaiki kembali motor Arif dan menuju kepraktik dokter terdekat. Tapi sebelum ia beranjak, ia sudah mengikat lukanya terlebih dahulu dengan kain supaya darahnya berhenti mengalir.
.....................................
“Aduh Mba, maafin Arif ya Mba, Mba Mayu jadi terluka begini” tukas arif selepas dokter melakukan tindakan, lukanya sedikit dalam sehingga dokter melakukan tindakan hecting untuk menutup luka Mayu sekitar empat jahitan supaya lekas sembuh.
Mayu tersenyu, adiknya sudah pucat sedari tadi, ia tahu Arif merasa sangat bersalah atas kejadian yang membuatnya harus berada diruang praktik ini.
"Yeeee nggak papa lagi, kan udah ditanganin dokter, sebentar juga sembuh” tukas Mayu mencairkan suasana hati Arif.
Sebenarnya jawaban Mayu yang mengisyaratkan jika dirinya baik-baik saja sudah sedikit membuat Arif lega, tapi tetap saja dia merasa bersalah.
“Udah dong, paling penting kan kamu juga nggak papa”
“Maaf ya Mba”
“Iya dimaafin, tapi ada syaratnya”
Arif seketika membulatkan kedua matanya, jangan-jangan syaratnya yang aneh-aneh.
“Tenang saja, nggak bakal aneh-anah” Tukas Mayu seperti faham saja yang Arif fikirkan.
“Apa mba?”
“Ya kamu harus bantuin Mba selama kaki Mba masih sakit, contohnya......”
“Wes wes ah nggak usah dilanjutin, itumah kesempatan Mba Mayu aja mau nyuruh-nyuruh Arif, wes mudeng aku Mba..” Tukas Arif memotong pembicaraan Mayu.
Mayu terkikik, ”Ya terserah kamu saja, paling nanti kalo nggak mau nurutin kata-kata Mba jangan harap ya ada uang tambahan buat saku sekolah”
“Yaudah-yaudah, manut aku mba, mba Mayu tuh senengnya ngancem, tahu saja kalo Arif akhir-akhir ini lagi butuh saku lebih”
Mayu terkikik, memang adiknya ini sedang dekat dengan seorang teman perempuan, maksudnya saku lebih mungkin supaya tidak malu saat jalan dengan teman perempuannya, sekedar mentraktir makan.
Mereka memutuskan untuk segera pulang, beberapa kali ponsel arif sudah berdering, Ibu dan keluarga yang lain mencemaskan mereka dirumah.
..........................
#Para pembaca yang budiman, terimakasih atas dukungannya selama ini, berikan komen disetiap episode ya, jangan lupa like, vote, beri hadiah untuk saya yang masih amatiran ini supaya semangat nulisnya, semoga kalian tidak bosan dengan jalan ceritanya ya.... terimakasih banyak Reader....
__ADS_1