Memayu

Memayu
Episode 59 Seperti Angin yang sulit untuk dikejar


__ADS_3

Reynan sudah bersiap, dua jam beristirahat tidak membuatnya terpejam sama sekali, otaknya hanya memikirkan Mayu saja.


Memilah-milah kenapa Mama bisa sampai membela Mayu sebegitu antusiasnya, bahkan tidak ada keputusannya yang Mama bela sekalipun, kenapa Mama justru mengijinkan Mayu pergi?


Perasaannya semakin berkecambuk. Reynan bangun dan kembali mengusap wajahnya yang masih terlihat gelisah. Ia memutuskan untuk mandi membersihkan tubuhnya.


..............................................


Pakde usman barusaja pulang.


Mayu masih duduk diteras, melihat anak-anak kecil yang bermain didepan halaman rumahnya yang sempit. Senyumnya mulai mengembang, teringat masa kecilnya yang begitu menyenangkan bermain bersama bapak, sebagai cinta pertamanya bapak betul-betul mengajarkan kepadanya apa arti cinta pertama.


Bahwa cinta akan mengikat bahkan hingga jiwa tak lagi bisa saling menyentuh atau menatap sekalipun.


“Mau kemana bu?” tanya Mayu.


Ibu terlihat membawa dua boks besar kotak kue dikedua tangannya. Ibu terlihat berkarisma saat mengenakan jilbab yang menutupi dadanya, tapi waktu sudah memakan semua kecantikan ibu yang mulai surut karena usianya, Mayu mendekati Ibunya.


“Kamu jaga rumah ya Mba, ibu mau berangkat pengajian sekaliyan bawa kue pesanan bu Heni buat acara pengajiannya” Tukas Ibu menyampaikan pesan.


Mayu mengangguk,”Ibu masih aja jual kue bu” tukasnya menimpali Ibu, dia ingat jika seluruh keperluan ibu sudah Reynan cover secara otomatis masuk ke Atm ibu termasuk untuk biaya sekolah Arif, harusnya ibu tidak perlu bekerja lagi.


“Ihh... ora popo nduk, Ibu nek kakean lungguh ki soyo bengkek nduk, udahlah ibu tinggal dulu ya, kamu jagain rumah, si arif sebentar lagi pulang”


tukas ibu, sebenarnya dia memang menyibukkan diri saat Mayu datang, dia tahu apa yang sedang dialami Mayu dan Reynan lewat besannya, mungkin akan lebih baik jika dia tidak ikut campur dahulu, pernikahan mereka juga terbilang baru akan setahun, godaannya pasti ada-ada saja. Biarkan mereka saling mendewasakan hatinya sayu sama lain.


Mayu melihat ibu berjalan meninggalkannya hingga didepan gang bayangannya sudah tak nampak. Senyumnya mengembang, untung ibunya masih sehat, dia masih punya alasan yang tepat untuk tetap semangat menjalani kehidupan yang hampir membuatnya menyerah.


Mayu masuk kedalam rumah. Entah mengapa aroma rumahnya sangat ia sukai, sekarang rumahnya jauh lebih enak ditempati, Ibu juga merenovasi sedikit demi sedikit rumah peninggalan bapak itu, mungkin uang yang Reynan berikan menyisakan banyak tabungan untuk ibu, mengingat ibu yang menolak pemberian Reynan untuk merenovasi seluruh rumahnya.

__ADS_1


Mengingat itu hati Mayu kembali tertegun, betapa sangat membantunya Suaminya untuk kehidupan keluarganya, tapi teringat apa yang dia alami saat ini, rasanya seperti tidak adil. Apa yang dia rasakan tak sejalan dengan angan-angannya.


Harusnya mereka bersama sekarang.


Mayu melirik ponselnya yang sengaja dimatikan sedari kemarin, dia dilema, takut jika saat dibuka tak ada pesan bahkan telepon apapun dari Reynan, dia takut akan semakin sakit. Tapi jika Reynan menelpon bahkan menyuruhnya pulang entahlah, dia takut Reynan akan meninggalkannya lagi dan dia akan kembali sedih.


Hatinya harus kuat, Reynan harus merasakan dulu apa yang dia rasakan, tak boleh semudah itu, biar sama-sama belajar apa arti seseorang saat dia dekat dan bagaimana saat dia jauh.


......................................................


Hatinya begitu sepi, andaikan Mayu ada bersamanya, mungkin perasaannya tak akan semenyedihkan ini, mekipun rasa kesal masih mengganjal perasaannya, tapi dia sadar cintanya jauh lebih besar dari semua yang Mayu lakukan.


Kata-kata Mama dan guyuran shower menghantam otaknya berkali-kali, ada benarnya juga perkataan Mama, kenapa dia egois sekali, tak berfikir tentang posisi Mayu.


Reynan segera mengeringkan rambut dengan handuk yang lain, sehelai handuk lainnya ia lilitkan dipinggang.


“Bajuku mana sayang...”


Reynan tersadar dan beranjak mendekati wardrobe, mencari bajunya sendiri, rasanya seperti saat pertama masih menduda, kenapa nasibnya menjadi seperti ini, dia benar-benar tak bisa membayangkan mayu tak dirumah satu bulan saja. Mungkin dikalimantan tidak akan menjadi masalah, tapi dirumah sangat berbeda jika tanpa Mayu.


Terdengar suara Mama menyapa tamu-tamunya diluar,”Heran Mama masih sempet-sempetnya ngundang orang datang kerumah disaat perasaanku kacau begini” dengus Reynan sembari membuka pintu Wardrobe.


Sekilas tak ada yang mencurigakan, tapi matanya sangat tajam melihat betapa kagetnya dia kenapa tak ada satupun baju Mayu yang tertinggal. Kenapa berkunjung kerumah ibu harus dengan membawa seluruh bajunya? Apa itu tidak berlebihan?


Perasaannya berubah menjadi rasa khawatir, apa mungkin Mayu berfikir untuk tidak kembali lagi kerumah? Apakah dia sudah berfikir hingga sejauh itu? Reynan mengingat apapaun yang sudah terjadi pada rumah tangganya, Reynan beranjak mengecek lacinya, entah fikiran dari mana dia benar-benar sudah jauh berfikir jika mungkin saja Mayu nekat membawa surat nikahnya dan memutuskan untuk menceraikannya, entah apa jadinya kehidupan dia jika harus berpisah dari Mayu.


Setelah beberapa dokumen penting tercecer, dia tak menemukan surat nikahnya sama sekali, suhu tubuhnya mulai panas dingin, otaknya sudah berfikir sangat jauh, Mayu seperti angin yang sulit sekali untuk ia kejar sekarang, kenapa rasanya kata-kata Mama mulai sangat jelas kebenarannya. Kenapa dia baru sadar jika Mayu juga membutuhkannya. Kakinya reflek menginjak-injak dokumennya.


Reynan membanting bokongnya dikasur king size dibelakangnya, tak sadar surat-surat penting milik perusahaannya ia injak-injak sedari tadi.

__ADS_1


Lidahnya mulai kelu, ia menatap ponsel, mencari kontak dideretan nama kontak yang tersimpan, beberapa kali menelpon memang tidak ada jawaban satupun dari Mayu. Bahkan chat aplikasinya sama sekali tidak terkirim.


“Sayang... kamu marah banget ya” gumamnya lirih, tak ada gunanya bergumam sendiri, emosinya sudah melonjak ingin menonjok mukanya sendiri, Reynan memutuskan memukul bantal untuk melampiasakan emosinya.


Mama, dia harus bertanya pada mama.


Reynan keluar, masih mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.


“Ma....! Mama....!” tukasnya tak sabar memanggil Mamanya.


“Rey..... aduh....” tukas mama saat melihat anak satu-satunya sudah berjalan mendekat menuju arah ibu-ibu komplek sedang duduk bersamanya diruang tamu.


“Malu Rey! kamu kaya anak bayi panggil-panggil Mama masih pake anduk begitu” tukas Mama menatap Reynan.


Reynan seakan sudah tak peduli lagi.


“Sebentar ya Jeng, saya tinggal” kata mama kepada para temannya itu.


“Ia Jeng...” jawab seorang dari lima ibu-ibu yang sudah duduk merumpi sedari tadi.


Salah satu terlihat curi-curi pandang terhadap Reynan, dasar ibu-ibu rempong tidak bisa melihat sedikit saja yang bening.


“Kenapa sih?!” Tanya Mama.


“Ayo Ma ikut Rey! Mama harus jelasin! harus ikut tanggung jawab!" tukas Reynan memberi isyarat kepada Mama untuk mengikuti langkahnya.


“Kenapa si itu anak, moodnya berubah-ubah terus” gumam Mama sembari mengekori Reynan.


Reynan membuka pintu kamarnya lebar-lebar.

__ADS_1


Mama sempat terkejut beberapa dokumen penting sudah bercecer,”perasaan semalam masih rapih” gumam Mama dalam hati.


__ADS_2