Memayu

Memayu
Episode 49 Rahasia dimalam kerinduan


__ADS_3

Ini hari terakhirnya di New York, sebagian barang-barangnya sudah Reynan paketkan terlebih dahulu. .Kemarin juga sudah sempat konsultasi ke dr.Daniel, semoga perjalanan kali ini lancar.


Lany juga turut mengantar mereka ke bandara, walau bagaimana Lany sudah menjadi asisten rumah tangga terbaik yang pernah bekerja dengannya, Mayu selalu berdoa kepada Lany semoga masalahnya segera berakhir, urusan kreditnya juga segera selesai.


"Even though it is far away, we can still communicate via social media, Ok?" tukas Lany kepada Mayu.


"Of course, I will miss you very much" Mereka saling berpelukan.


"Ayo sayang" Reynan menggandeng tangan Mayu,"Lany, Thank you very much, if without you, I don't know what to do"


"You are welcome, Sir" Jawab Lany.


Mereka saling berjabat tangan.


"Bye.." Tukas Mayu melambaikan tangannya.


"Bye..."


Selamat tinggal New York, terimakasih atas keindahanmu, kesediaanmu memberikan pelajaran berharga dalam hidup, belajar arti dari menjaga, bertemu teman baru, menyesuaikan perbedaan, saling menghargai, belajar lebih sabar, lebih mengerti, lebih memilih bordoa dalam diam dibandingkan menebar amarah yang tiada ujung.


Kamu juga mengajarkan bagian dari rindu yang paling menyakitkan, tak bertemu saat kita saling membutuhkan, hanya pasrah dan saling mendoakan. Menyelesaikan derita rindu yang kini sudah menyatu.


Dari rindu kita saling belajar, arti menghargai saat sedang bersama, karena sendiri terlalu menyakitkan. Dari rindu kita juga belajar, arti mengasihi, karena menyimpan amarah tak menyelesaikan masalah.


............


Welcome Jakarta.


Terimakasih sudah menyambutku kembali dengan senyum mentari yang berhasil menyibak sunyinya malam, aku sudah datang dengan calon kehidupan baru yang kupeluk setiap hari, aku berjanji akan menjadi lebih baik disetiap langkahku, untuk anakku, suamikku, keluargaku dan diriku sendiri.


...........


"Sayang..."


"Iya?" Jawab Mayu sembari memindahkan baju-baju dari koper kewardrobe kamarnya yang baru, kali ini dia sudah tidak tinggal di Appartement, mereka memutuskan untuk tinggal bersama Mama.


Reynan masih berbaring, melihat istrinya yang masih sibuk, dia sudah menunggunya sedari tadi.


"Sayang..." Panggilnya ulang.


"Iya, bajumu banyak sekali Mas, aku bingung merapihkannya"


"Biarkan saja, besok pagi kita minta bantuan Fitri dan Eni"


Mayu menghela nafas,"Huh...! iya juga ya" Mayu duduk dipinggir king bed kamarnya, merapihkan gaun tidur yang dikenakannya. Sesekali menyisir rambutnya yang dirasa sudah lebih panjang.


"Mas, menurutmu jika rambutku dipotong pendek saja bagimana?" Tukasnya mencari ide.


Reynan menyerngit,"untuk apa?"


Mayu menoleh menatap suaminya,"Kayaknya ribet aja kalo nanti aku hamil besar rambutnya panjang"

__ADS_1


"ohhhh" Reynan menggeser badannya mendekati Mayu,"Menurutku alangkah lebih baiknya jika rambutmu tetap seperti ini saja" Tukasnya sembari turut menyisir rambut Mayu dengan jemarinya.


"Hmmm" Jawab Mayu manggut-manggut,"Itu sama artinya kalo kamu nggak setuju jika aku potong rambut kan?"


"Right, you know that"


"ada alasannya?"


"Hmmmmm, alasannya simple aja, aku jadi nggak bisa panjang-panjang ngelus-elus rambut kamu"


"Maksudnya???" Mayu menatap Reynan yang wajahnya sudah nampak misterius.


"Bisa nggak jangan menatapku seperti itu, kamu tuh tahu jawabannya" tukas Reynan menjawab Mayu dengan menyentil hidung mungilnya.


"Apa sih Mas?"


"Huh!" Reynan membanting tubuhnya sediri ke bantal king koin nanofiber nya,"Aku bingung bagaimana cara menggodamu, semua keputusan ada ditangan Bos kecil"


Mayu terpingkal, semenjak tahu kabar kehamilannya, Reynan memang hampir tak pernah melakukannya. Mayu menoleh menatap suaminya dalam-dalam. Senyumnya mengembang tak jelas, dia merasakan Reynan sangat tak ingin menyakitinya apalagi buah hatinya, wajahnya begitu tulus.


"Berhenti menatapku seperti itu" tukas Reynan kepada Mayu.


"Diam!" Tukas Mayu sembari mendekati suaminya.


Reynan terdiam, entah apa yang Mayu lakukan,"ada rahasia"


"Rahasia?"


Reynan terlihat sangat menahannya, menyembunyikan wajah tegangnya. Terdengar sekali saat ia menelan salivanya. Dia menghela nafas panjang, Mayu hampir membuatnya gila.


Mayu terkikik, suaminya mudah sekali terpancing.


"Itu hanya jika aku berada didekatmu saja" Tukas Reynan membela diri.


"Iya, aku tahu, jangan marah..., Mau aku bagi rahasianya?"


Reynan mendengus, tapi melihat Mayu seakan ada berita besar yang disembunyikan.


"Kata Bos kecil, boleh kok Daddy, asal besok Bos kecil dibelikan es krim"


Reynan menyerngitkan kening, dia sedikit menahan tawa,"serius dia hanya minta dibelikan eskrim?"


Mayu mengangguk.


"Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin?"


"Dia baru kepikiran sekarang mungkin"


"Oke deh, kalo cuma es krim Daddy juga bisa belikan satu mobil box setiap hari"


Mayu mencubit suaminya, Reynan sedikit mengaduh.

__ADS_1


"Jadi boleh?" Tanya Reynan memastikan.


Mayu melipat bibirnya kedalam, menahan senyumnya disana, kemudian mengangguk.


"Terimakasih!!" Tukas Reynan antusias.


Malam panjang ini hanya mereka yang tahu, Reynan selalu bicara agar Mayu tak lagi bertanya apakan cintanya tulus atau tidak, sebab diapun bisa merasakan sendiri dari apa yang telah dia lakukan untuk selalu menjaganya. Membiarkan kerinduannya tercurahkan disatu malam yang sangat mereka rindukan.


Mereka selalu bisa menciptakan sebuah hubungan yang romantis bukan hanya dari kata-kata, tetapi perlakuan yang baik diwaktu yang tepat.


Keduanya masih saling memandang, belum usai mengakhiri menyatuannya. Reynan merasa Mayu sudah berusaha menahan lelahnya, ia segera mengulang, dengan halus.


Mayu merasa Reynan sangat menghargainya disetiap sentuhannya yang ringan dan dalam.


Keduanya saling berpagutan, menyuarakan rasanya mengiringi malam yang semakin dingin tapi kian memanas.


Biarkan mereka berdua saja yang tahu, menjadi saksi ditengah malam yang bertabur bintang.


.............


"Rey......!" Mama memanggil saat masih pagi buta, tanpa permisi dan tanpa basa-basi Mama spontan membuka pintu kamar yang tidak terkunci.


"Reynan!! Aduh..... itu ditutup kamu nggak sopan banget tidur nggak pake baju, ih...." teriak Mama.


Reynan mengerjap, melirik Mama yang sudah berdiri menutup wajahnya didepan pintu. Meraba kingbednya, Mayu sudah tak disampingnya lagi. Reynan mendengus kesal sembari menarik slimut tebalnya yang terbuka, dan kembali meringkuk.


Fitri mendadak mengintip dari jauh, pagi-pagi Nyonya sudah berteriak.


"Mama yang nggak sopan! masuk kamar pengantin baru, nggak ketuk pintu!" tukas Reynan sembari membenamkan wajahnya dibantal.


"Pengantin baru lagi..." Mama terdiam, ia baru sadar sesuatu,"Ya ampun maafin Mama! Mama lupa, Mama lupa beneran Rey! Mama pikir Mayu nggak disini, hahahha maafin Mama ya?" Tukas Mama sudah seperti presenter acara gebyar gempita, suaranya ramai memenuhi ruangan.


Mayu keluar dari kamar mandi, memastikan keramaian dikamarnya, ia masih mengenakan gaun tidurnya.


"Mama? ada apa Ma?" Tanya Mayu membaca situasi dikamarnya, Reynan masih tertidur, dan Mama sudah berada didekat pintu.


Reynan menarik lengan Mayu, mencium punggung tangan istrinya dan menariknya pelan untuk duduk diking bednya, Reynan hanya bergumam masing tengkurap namun melingkarkan lengannnya dipinggang Mayu,"Kamu dari mana?" gumam Reynan.


Sebenarnya Mayu sangat risih, tidak enak saja, Mama masih didepan pintu melihat keduanya.


"Maaf ya Ma.." Tukas Mayu.


"Ehhh nggak papa, kalian lanjutkan saja ya?" tukas Mama sembari meraih gagang pintu untuk menutupnya.


"Lanjutkan?" tanya Mayu.


"Tutup pintunya Ma!" Tukas Reynan.


"Siap Pak Bos!" Mama kembali menutup pintu rapat-rapat.


Mayu semakin bingung saja melihat keduanya.

__ADS_1


__ADS_2