
Reynan sudah menempuh tiga jam perjalanan, rasanya melelahkan, biasanya dia memilih naik pesawat saat akan kekampung Mayu disemarang, tapi kali ini karena tidak sabar saja ia memutuskan menggunakan jalur darat yang pastinya akan memakan waktu yang lebih banyak, tak apalah, setidaknya masih ada banyak waktu yang bisa ia gunakan untuk merangkai kata saat bertemu istrinya.
..................................................
Ibu sudah berkacak pinggang saat motor Arif tiba didepan rumah.
“Sugeng rawuh perkawis ageng..” (selamat datang masalah besar) Tukas arif saat mengetahui Ibunya sudah berdiri menunggu kedatangannya dan Mayu.
Mayu terkikik mendengar Arif menggunakan bahasa jawa ala keraton.
Ibu segera menyambangi Mayu yang terlihat kesulutan turun dari motor.
“Haduh nduk.... baru berapa hari dikampung bukannya seneng-seneng kok malah jatuh begini, lukanya parah ya? Sampai diperban begini?”
Tukas Ibu sambil memapah Mayu.
Arif melengos saja, seakan hanya Kakaknya adalah satu-satunya anak Ibu.
Mayu menyadari hal itu, dia hanya tertawa pelan menatap adiknya yang malang.
“Nggak papa bu, udah dijahit, besok juga cepat kering” Jawab Mayu.
“Ya Allah sampai dijahit, Rif...Rif.... koe ki piye to? Mbok ati-ati nek numpak motor, ora kemudu ben iso cepet Rif... Padahal Ibu tuh hampir setiap hari ngasih tau, masa kamu harus dijewer dulu biar mau dengerin Ibu!"
Arif hanya terdiam dan membantu ibunya memapah Mayu menuju kekamarnya.
“Bukan salah Arif bu, justru dia menghindar loh”
“Iya nih ibu nggak tau ceritanya kok Arif terus dipaido” Tukas Arif membela diri.
“Iyo...iyo... wes, wes wengi Rif, turu koe” Tukas Ibu memerintah arif.
“Ibu juga tidur ya, sampun ndalu bu” Tukas Mayu.
“Tapi iki ora popo nduk? Koe mbi arif ora popo?”
tanya Ibu terlihat sangat menghawatirkan anak-anaknya.
Mayu sudah duduk dikamarnya, Ibu terlihat berjongkok dan mengamati perban yang menggulung dikaki Mayu.
“Ini nggak papa kok Bu, udah mendingan”
Ibu menghela nafas,”Bukan gitu nduk, kamu juga kan baru habis operasi, ibu takut nanti kenapa-napa pas jatuh, Ibu takutnya bukan Cuma luka luar”
“Nggak kok Bu, ini Cuma luka luar aja, Mayu nggak ngrasa ada benturan kok”
“koe yakin nduk?”
Mayu tersenyum dan mengangguk,”Yakin banget bu, ibu nggak usah deh khawatir sampai berlebihan begitu, May nggak papa Kok”
__ADS_1
Ibu menarik nafas panjang, dia merasa agak lega sekarang,”Ya sudah nduk kamu istirahat aja ya”
“Iya bu, oh iya bu Mayu minta tolong bu, Mayu mau ganti baju kayaknya nggak enak deh kalo tidur pake baju ini”
“Iyo, tak jukutno baju tidur po?”
“Nggih bu, ting lemantun niku” Mayu menunjuk lemari baju dipojok kamarnya.
Ibu mulai membuka dan memilih baju yang Mayu inginkan.
“Ketemu nggak bu?”
“sing ndi to nduk? Akeh nemen klambimu kui, opo belonjo terus saban dino apa nduk?” Tukas ibu sembari mencari-cari baju yang Mayu maksud.
“Sedapetnya aja deh bu, itu yang nomer dua dari bawah juga nggak papa”
Ibu mencoba menarik baju yang Mayu maksud,”Iki po nduk?”
Mayu menghela nafas,”Bukan yang itu bu”
“Udu? La iki bahane adem ki nduk, penak coe nek digowo turu”
Mayu menelan salivanya, bukan masalah apa, itu baju terusan yang kerap ia pakai saat di New york.
“Iki wae wes nduk, nggak papa, ibu bingung milihnya” tukas Ibu sembari menutup kembali lemari baju, dan menyodorkan baju yang diambilnya kepada mayu.
“Makasih ya Bu” tukas Mayu, sebenarnya ia tak ingin mengganti dengan baju yang lain, karena memakainya seperti mengingat harinya dengan zoe begitupun kebersamaannya dengan Reynan. Tapi dia takut merepotkan Ibu.
“Bisa bu bisa, Ibu juga selamat tidur ya...”
“yo wes”
Ibu berjalan keluar menutup pintu kamar Mayu.
Ditatapnya baju abu-abu ditangannya, Mayu menarik nafas dalam,”Semoga kamu tenang ya Zoe, Mommy sudah ikhlas sejauh apapun kamu pergi meninggalkan mommy, mommy yakin akan ada pertemuan indah yang Allah ciptakan untuk Zoe, Mommy dan mungkin Daddy, Zoe sabar ya sayang” Tukasnya dalam hati.
...................................................
Reynan sudah terlampau bingung, perjalanan panjangnya dari jakarta-semarang terasa tidak cukup, mobilnya sudah masuk menuju gang rumah Ibu, tapi dia masih belum menemukan kata-kata ajaib untuk menyapa Mayu.
“Yud... stop ....stop” Tukas Reynan menyuruh Yudi menghentikan laju mobilnya yang tinggal beberapa meter lagi berbelok kehalaman kecil Rumah Ibu.
“Kenapa pak?”
Reynan menghela nafasnya dalam-dalam.
“Pak Rey nggak papa kan? Kita sudah hampir sampai”
“Iya saya tahu, hmmmm menurutmu Mayu bakal marah sama saya atau tidak ya?”
__ADS_1
Yudi terdiam, baru pernah Bosnya terlihat khawatir hingga keluar kringat dingin seperti ini.
“Dijawab dong yud, kamu malah diem” Tukas Reynan.
“Oh, iya pak. Mmm kalo menurut saya kenapa harus takut pak? Justru harusnya bertemu istri sendiri itu senang?”
“Masalahnya kita sedang tidak baik-baik saja”
“Maksudnya pak?”
“Kamu tahu masalahnya! jagan pura-pura tidak tahu, saya tidak puya tenanga untuk mengulangi ceritanya lagi”
“Mmmm Kalo menurut saya sebagai suami harusnya Pak Reynan harus lebih berani, meminta maaf itu bukan berati akan kehilangan wibawa sebagi suami pak, justru meminta maaf terlebih dahulu akan menjadikan harga diri seorang suami lebih berwibawa”
“Kamu kata siapa seperti itu?”
“Itu pengalaman pribadi saya pak, saya sering minta maaf sama istri saya, meskipun kadang itu kesalahan istri saya sekalipun”
“Huh...” Reynan menjitak kepala Yudi kesal,”Itu bukan wibawanya suami! itu judulnya suami-suami takut istri!”
Yudi terkikik,”Berati bapak jangan kaya saya pak, bapak kan yang salah jadi nggak masalah kalo bapak minta maaf”
“Mulut mu yud!! Saya nggak salah yud!!”
“Ya sudah, kalo bapak nggak salah kenapa harus takut berhadapan dengan Bu Mayu, padahal Bu Mayu orang paling supel yang pernah saya kenal”
“Sok tau kamu”
“Serius pak”
“Diam kamu!” Reynan menghela nafas dan membanting tubuhnya dikursi belakang.
“Jadi mau maju atu mundur pak?”
Reyann terdiam.
“Kalo Maju ayo, kalo mundur kejauhan pak, kejakarta harus masuk tol lagi, mendingan kita istirahat dirumah Bu Mayu, rumahnya adem, sejuk, asri, saya bisa numpang istirahat juga disana pak”
Reynan masih terdiam.
“Pak?”
Reynan mengerjap, menghela nafasnya dalam-dalam,”Maju yud! baru kali ini saya ngalamin, Ragu untuk memutuskan sesuatu”
“Jangan ragu pak, ingat harga diri seorang laki-laki adalah meminta maaf”
“Jangan ceramah kamu! ayo cepat”
“Baik pak” Yudi segera menjalankan mobilnya lagi.
__ADS_1
....................................................