
"Dokumen penting itu dimana ya?" Tukas Reynan dalam hati setelah sedari tadi mengobrak abrik meja kerjanya. Hari ini akan ada jadwal meeting penting dengan koleganya. Pikirannya sedikit buyar, sampai dia lupa harus memanggil siapa untuk membantunya.
"Bran.....! Ibran....!"
"Saya bos?" suara ibran segera menyahut dari balik pintu.
"Dokumen penting untuk meeting hari ini sudah kamu kasih ke saya belum? kok disini nggak ada?"
"Sudah kok Bos, lusa sudah saya kasih" Jelas Ibran.
"Iya, tapi nggak ada, coba kamu cari!"
Ibran terdiam sejenak, harus cari dimana, ruangan disini sudah tampak berantakan, Bosnya terlihat sudah mencarinya kesemua sisi.
"Kok diem?! cepetan cari!" tukas Reynan.
"Ba... baik Bos" Ibran segera mencari dokumen yang dimaksud.
Reynan masih saja gelisah, mengingat-ingat dimana dokumen itu ia simpan.
"Lemot banget kamu Bran!" protes Reynan.
"Ini sedang dicari Bos" jelas Ibran.
"Panggil fahda juga! suruh dia cari!"
"mm fahda sedang ada kunjungan ke pabrik Bos"
"Panggil yang lain! siapa saja!"
"Baik Bos" Ibran segera beranjak keluar ruangan, heran saja tidak seperti biasanya Bosnya marah-marah hingga lupa menyimpan dokumen penting.
"Kalian, sini! bantuin nyari dokumen diruangan bos" Seru Ibran memanggil beberapa karyawan lain yang berada diruangan terdekat.
Reynan masih mondar-mandir mencari dokumennya hingga terduduk lesu di sofa. Memijit keningnya dengan jari.
Keterlaluan sekali si Ibran, seperti membawa pasukan sekampung untuk menggerebek ruangannya, apa coba, dia memanggil dua belas karyawan untuk masuk keruangannya. Reynan hanya mendengus membiarkan Ibran dan Karyawannya bekerja menjelajahi ruangan.
Satu menit, sepuluh menit, diantara mereka hanya ada yang berdiri mematung, tak faham dengan apa yang harus mereka cari. Ibran dan beberapa karyawan lainnya masih tampak sibuk, tapi ruangan menjadi sedikit panas karena terlalu banyak orang.
"Dalam hitungan ketiga, saya tidak mau melihat kalian semua ada disini kecuali Ibran!"
__ADS_1
Reynan mulai menghitung,"Satu...."
Para karyawannya segera bergegas pergi, beberapa ada yang memaksa keluar dari pintu dengan mendorong karyawan yang lain, mirip seperti anak TK yang berebut pintu saat pulang sekolah. Kelihatan mereka sangat ketakutan tak ingin terlibat atau bahkan kecipratan kemarahan Bosnya itu.
Beberapa karyawan yang baru keluar menyadari kedatangan Mayu yang tampak kebingungan.
"Rame banget, ada apa sih?" tukas Mayu dalam hati. Ia menunggu para karyawan keluar dari ruangan suaminya.
"Dua....!" Reynan masih menghitung.
Berbeda dengan Ibran yang sudah pasang wajah anti tumbang, dia menebak setelah ini Bosnya bisa saja marah besar, padahal ini bukan salahnya, coba saja kalao Bosnya ini lebih berhati-hati, tidak akan ada kejadian menyebalkan seperti ini.
Belum sampai hitungan ketiga, ruangan sudah lembali sunyi, tertinggal Ibran seorang disana.
"Lihat ! kamu menemukannya?" tanya Reynan.
Ibran melihat sekeliling seperti yang bosnya tunjukkan, ruangan malah tampak lebih-lebih berantakan dengan tumpukan dokumen yang tak serapih sebelumnya diatas rak. Ibran merasa tanda-tanda kiamat kubro sudah dekat. wkwkkw.
"Apa yang kalian temukan ?!" tukas Reynan meninggikan suaranya.
"Maaf Bos, saya tidak menemukannya"
"Lalu buat apa kamu suruh orang sebanyak itu masuk keruangan saya?"
"Jelas kamu lah! Ruangan saya jadi berantakan"
"Maaf bos" cari aman saja menyalahkan diri sendiri, Bos mana boleh salah. Kalaupun salah juga anggap saja tidak ada apa-apa.
"Sekarang kamu cari sampai dapat!"
"Baik Bos"
"ya sudah sana cari!"
Ibran berjalan lirih, entah harus disudut mana lagi ia harus mencari, hari ini betul-betul melelahkan.
"Halo, selamat siang?" Mayu muncul dari balik pintu. Mendapati suaminya yang berwajah lesu, begitupun Ibran, kemudian ruangan yang berantakan tak seperti biasanya.
"Boleh saya masuk?" Tanya Mayu basa-basi, sebenarnya tak perlu izin juga jika hanya ingin masuk keruangan suaminya.
"Kamu kok nggak nunggu aku telpon dulu udah datang saja" tukas Reynan, kalimatnya sedikit menyakitkan terdengar ditelinga Mayu.
__ADS_1
"ehhhmm, mumpung masakannya masih anget, makanya aku bawa kesini buat kamu, kita makan siang dulu ya?" tukas Mayu masih mencoba sabar melihat wajah suaminya yang datar. awas saja jika masih marah-marah tidak jelas.
"oh ya, kok rame banget tadi?" Tanya Mayu kepada suaminya.
"cari yang betul! satu jam lagi kita meeting! saya bisa kehilangam kerjasama besar kalau dokumennya hilang!" tukas Reynan kepada Ibran, tak peduli dengan pertanyaan Mayu.
Mayu menghela nafas, menatap Ibran, sebenarnya tak tega melihat asisten suaminya bekerja hingga dibentak seperti itu. Mayu teringat sesuatu didalam tasnya,"Dokumen ini bukan, Mas?" Mayu menyodorkan map biru berisi dokumen penting yang tertinggal dimeja lerja suaminya saat dirumah.
Reynan segera mengecek dokumen yang Mayu bawa.
Ibran sudah menarik nafas panjang dengan lega disana, ia tak mungkin lupa dengan sampul dokumen penting yang seminggu lebih ia kerjakan, Bosnya ini aneh, hanya perlu ditandatangani saja harus dibawa pulang kerumah dulu.
"Betul yang ini?" tanya Mayu memastikan.
"Terimakasih bu Mayu, anda penolongku saat ini" ungkap Ibran dalam hati.
Reynan hanya mengangguk.
Mayu masih menunggu, awas saja jika hanya mengangguk tanpa berterimakasih.
"Kamu persiapkan ini Bran! satu jam lagi tunggu saya diluar!"
"Baik Bos" Ibran berjalan mendekat meraih dokumen yang membuatnya dan teman-temannya hampir gila disatu jam terakhir tadi.
"Nanti suruh Beberapa orang untuk merapihkan ruangan saya lagi"
"Baik Bos, permisi" tukas Ibran dan berlalu dari goa macan, wkwkkwk.
Mayu terdiam sembari membuka rantangnya, Reynan benar-benar menjadi menyebalkan level dewa, dia tak berterimakasih sama sekali. Mayu mulai menyendokan satu suap nasi kepada suaminya,"a...."
Reynan menanggapi istrinya dan memakan satu suapan nasi yang sedikit terasa berbeda. Jelas sekali berbeda, tidak ada taburan cinta diatasnya. ceilah.
"terimakasih" tukas Reynan.
Mayu terdiam tak menanggapi, biarkan saja, sekali-kali balas dendam.
Reynan menyadari istrinya mulai marah. Dia hanya menggeleng,"A ..... lagi"
"makan saja ini sendiri, aku juga mau makan" tukas Mayu ketus.
Reynan tak berani berkomentar, Mayu sudah membelakanginya dengan satu rantang lain yang ia bawa, biasanya mereka menghabiskan semuanya bersama-sama, rupanya Mayu sudah memisahkan bagiannya dan bagian Mayu sendiri ditempat yang bereda. Reynan menyadari kembali, Mayu selalu bisa mencari celah untuk balas dendam, ternyata Mayu tak sepolos kemarin-kemarin. Reynan kembali menyantap makan siangnya.
__ADS_1
Hanya dentingan sendok yang beradu, ruangan kembali sunyi.
.........................