
Reynan baru saja menyalakan flight mode pada ponselnya setelah menelfon seseorang. Sepanjang perjalanan Reynan hanya memikirkan tentang Mayu, menyalahkan dirinya sendiri yang begitu ceroboh. Reynan bahkan tak tahu menahu jika di ponselnya masih tersimpan nomer Kassandra dengan nama kontak "wife", semua bukan karena dia masih mengingat mantan istrinya, ini karena terlalu cepat dia melupakan tentang Kassandra sehingga dia pun melupakan hal kecil yang justru membuatnya sulit sekarang ini.
Otaknya masih gelisah, memikirkan maksud Dhemas dan Kassandra mengundang Mayu diam-diam, apakah ada hal lain yang mereka rencanakan. Reynan benar-benar tak habis fikir.
Tapi hatinya mulai sedikit tenang, setidaknya ini hanya masalah salah faham saja, semoga Mayu memaafkan kesalahannya.
Yudi sudah menunggu Reynan sedari tadi, Reynan terlihat letih, meskipun ini penerbangan singkat, 1 Jam 5 menit dari Semarang-jakarta.
"Bunga pesanan Pak Rey sudah saya ambil" Tukas Yudi.
Reynan memang memesan bunga sebelum penerbangannya kepada Yudi.
"Antar saya ke tempat Mayu" Jawab Reynan sembari berjalan lurus.
"Maaf pak, apa ini tidak terlalu malam?" Tanya Yudi sembari mengekor dibelakangnya.
Reynan melirik jam tangan kulitnya, pukul 21:03,
benar kata Yudi. Reynan memutuskan untuk pulang kerumah.
Yudi segera membukakan pintu mobil untuk Reynan.
"Rey!!!"
Terdengar seseorang memanggilnya dari arah lain, Reynan menoleh, mendapati seseorang yang sangat tidak ia harapkan.
"Bagaimana? sudah move on? saya Rasa belum, setelah pukulan kamu yang tak seberapa itu melayang dipipiku" Tukas Bimo angkuh.
Reynan mendadak tersulut emosinya, tapi Reynan memilih memasang muka iba, "Sudah sepantasnya, pertanyaan buruk mu itu kamu tanyakan kepada kekasih gelapmu itu"
"ayolah.... jangan membual, Kassandra terlihat lebih bahagia dan cantik setelah bersamaku" tambah Bimo.
__ADS_1
Reynan menutup pintu mobilnya, mengurungkan niatnya untuk cepat-cepat pulang, rupanya pria didepannya ini sudah bosan hidup.
"Santai bro! kamu sudah tidak ada kesempatan untuk memiliki Kassandra lagi, dia milikku sekarang" Tambah Bimo.
Reynan terlihat menahan amarahnya, pria ini benar-benar menginginkan pukulannya kembali melayang, Reynan mendekat mencengkeram kerah Bimo,"Jika dia sudah bahagia, bahagiakan dia semampumu hingga dia lupa bagaimana caranya untuk tidak mengganggu calon istriku!!!" Reynan mendorong Bimo dengan kasar. Reynan segera kembali masuk kemobilnya, ia tidak ingin berlama-lama mengurusi hal-hal receh.
Bimo membenarkan kerah bajunya, entah kenapa tiba-tiba otaknya melayang memutar ulang kata-kata Reynan, benarkah Kassandra mengganggu calon istri Reynan? jika benar maka untuk apa?
Mobil Reynan sudah melaju meninggalkan bandara.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Dua minggu setelah kepergiannya kebandung seakan membenarkan jika dirinya sorang pengecut, ia pergi bukan untuk urusan apapun, dia pergi hanya untuk menghindari Reynan. selama itupun dr.Dhemas benar-benar membohongi dirinya sendiri, ingin merebut Mayu dari Reynan dengan caranya yang tidak jantan.
Hatinya menjadi semakin gelisah. Tiba-tiba ada beberapa orang datang mendobrak pintu villanya, tidak sampai hitungan menit, beberapa pukulan menghujani bibir dan tubuh dr.Dhemas . Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga dr.Dhemas tak sedikitpun mempunyai waktu untuk menunjukan perlawanan.
Entah ini kebetulan atau sengaja dibuat-buat, ada urusan apa kedua orang yang tidak dikenali tiba-tiba datang memukulnya. Jika mau merampok kenapa tak sedikitpun barang bahkan benda benda berhargapun sama sekali tidak mereka bawa.
dr.Dhemas mulai bangkit, melihat dirinya dikaca, dibibirnya mengalir darah segar, terasa sangat menyiksa. Ponselnya berdering.
Ponsel mati.
dr.Dhemas mendengar jelas suara siapa dibalik ponsel, jangankan Reynan, diri sendiri pun seakan ingin menampar kepengecutannya dua minggu lalu.
Tapi ada sesuatu yang aneh dipunggungnya, dr.Dhemas meraba leher belakangnya, ada darah mengalir disana, memang dua orang tidak dikenal itu hanya memukul wajah dan tubuhnya, tapi tak disangka kepalanya terbentur dan berdarah, dr.Dhemas merasa pusing dan tak seimbang lagi, dia terjatuh dan tak sadarkan diri.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Mayu sudah bersiap untuk joging pagi ini, Dewi dan Imel memaksanya untuk keluar, dua minggu mengurung diri dikamar, cutinya hanya sisa dua hari lagi, Mayu ikuti saja saran dua sahabatnya itu, ternyata istirahat terlalu lama malah membuat otot-ototnya kaku.
Mayu berlari sendirian menyusuri jalan yang masih sepi, mengenakan sneaker, jaket bomber yang ia tarik lengannya hingga ke siku, celana cargo dan aksesoris topi yang ia gunakan untuk menutup semua bagian rambut yang ia gulung, serta headset di telinganya.
__ADS_1
Mayu mencoba berlari secepat ia melupakan bayangan Reynan, pria ini sungguh mengusik, kenapa mata cengengnya tidak berhenti menangis hanya untuk mengingat ingat bayangan yang kini tak nampak indah dimatanya.
Tapi cinta saja tidak cukup, harus ada perjuangan didalamnya, tentang memantapkan hati, rasa, dan saling menghargai. Bersalahkan jika selama ini hanya mendengar satu pihak tanpa memberi kesempatan cintanya untuk menatap?
Sedangkan jiwanya, menebak-nebak segala sesuatunya tanpa mau menyelesaikan? apakah cintanya terlalu membuat hatinya menjadi pengecut? apakah seperti ini cara menghukum cintanya?
Membayangkan pria yang kerap mencarinya dimana-mana, entah itu akan membuat alasan atau menjelaskan bahkan dia tak tahu, karena seakan tak ada kesempatan kedua yang ia ciptakan. Tapi hatinya mulai menyadari, harus kemana ia berlari, menemukan cintanya kembali.
Mayu berhenti berlari, memegangi lututnya dengan tubuh setengah duduk.
Sepasang sepatu menjadi sorotan mata didepannya, mata Mayu menatap menyelidik siapa yang kini berdiri didepannya, laki-laki tampan dengan setelan jas lengkap mengukir senyumnya disana, matanya tampak bersinar-sinar melihat dirinya yang mulai berkeringat.
Reynan disana, membiarkan Mayu menatapnya dalam-dalam, Reynan menarik topi yang dilihatnya sangat mengganggu, rambut ikal lucu itu menjadi tak terlihat. kini rambut mayu terurai setelah topinya terbuka, Mayu reflek mengibas-ibas rambutnya ringan dan menyisirkan rambut atasnya dengan jari-jari mungilnya.
Mayu bingung harus memasang wajah seperti apa, Reynan tampak sangat tampan didepannya, tatapannyapun tak sedikitpun beralih dari dirinya. Mayu sedikit tidak PD mengingat dirinya yang belum mandi dan berkeringat selepas joging.
"Minum" Reynan menyodorkan botol air mineral untuk Mayu.
"Iya terimakasih" tukas Mayu sembari meraih minuman yang Reynan sodorkan.
Suasana masih sedikit canggung disana, tapi Reynan mulai bisa membuatnya mencair. Mayu berjalan pelan dan diikuti Reynan. Sebenarnya Reynan rencananya ingin mengajak Mayu ngobrol dimobil, tapi Mayu seakan tidak tertarik dan memilih berjalan ke arah taman,Reynan mengikut saja.
"Kamu apa kabar?" Tanya Reynan memecah keheningan.
Mayu tersenyum getir,"Baik"
Sebenarnya Reynan sangat benci dengan percakapan monoton seperti ini, dan posisi duduk yang berjarak, jika Mayu bukan cintanya mungkin Reynan memilih memaki, bisa-bisanya ada perempuan bersikap dingin lebih dari dirinya.
"Aku nyariin kamu kemana-mana" Tukas Reynan.
Mayu masih terdiam.
__ADS_1
"Aku nggak punya alasan apapun selain Aku nggak mau jika harus kehilangan Kamu, aku harap kamu mengerti. Mungkin aku salah, tapi bagaimana aku bisa perbaiki semua jika kamu diam?"
Mayu menoleh, menatap wajah Reynan yang menunduk, mengerti? apa selama ini Reynan mengerti hatinya? menyimpan sembarangan kenangan itu. sebenarnya melihat Reynan, Mayu ingin memeluk, tapi Mayu tetap dalam pendiriannya, tak akan kembali jika yang lalu masih menetap.