Memayu

Memayu
Episode 33 Doa dalam diam


__ADS_3

Pagi ini Reynan masih menatap wajah istrinya yang pulas dengan tubuh polos yang hanya ditutupi selimut. Gaun merah jambunya entah sudah tergeletak dimana, kehawatirannya sudah dilewati sepanjang malam. Reynan kembali memeluk istrinya, kini tangannya mulai gemas membelai perut Mayu, terbesit doa dalam diam dihatinya. Dia berharap ada kehidupan yang sudah mulai tumbuh disana.


Mayu terbangun, melihat suaminya yang sedang menatap dalam, sama seperti Reynan yang masih tak percaya mereka sudah sedekat ini sekarang, Mayu tak ragu membalas pelukan Reynan.


"Aku mencintaimu" tukas Mayu.


"Aku juga, apa kamu ingin kita mengulanginya lagi?"


"Tidak, sudah cukup! tubuhku pegal sekali, kamu hampir 10 kali mengulanginya"


Reynan meraih puncak kepala Mayu dan menciumnya, mereka terkikik bersama menertawai kebersamaannya sepanjang malam.


...........................................................


"Iya... kamu urus saja dulu, saya baru akan kembali nanti sore" tukas Reynan sesaat sebelum mematikan telepon.


Sedari pagi memang Reynan sudah terlihat sibuk, mandi, menata koper dan mengangkat telepon berulang-ulang. Semuanya diluar dugaan, banyak pekerjaan yang mengharuskannya ada dikantor, harusnya saat-saat seperti ini ia punya banyak waktu bersama Mayu.


Rencananya ia akan duluan pergi ke Jakarta dan lusa baru menjemput Mayu sekaligus untuk merayakan pernikahannya di acara yang mama selenggarakan diJakarta. Reynan merasa Mayu sangat lelah jika harus ikut bersamanya hari ini, mungkin saja olahraga yang ia ciptakan bersama sedikit membuat Mayu susah berjalan.


Tapi Mayu lebih terkesan santai, dia memutuskan untuk ikut dengan suaminya saja, walau bagaimanapun mereka pengantin baru, tidak mungkin jika harus berjauhan secepat ini. Meskipun pagi tadi dia bingung harus mengenakan baju apa saat melihat lehernya penuh stempel. Sangat memalukan, wajahnya mulai memerah saat membayangkannya. Suaminya itu benar-benar membuatnya tenggelam dalam kebahagiaan.


Mayu kini membantu ibunya menyiapkan makan siang sebelum keberangkatannya sore nanti keJakarta.


"Makan dulu, Mas" Tukas Mayu.


Reynan duduk dikursi, meraih tangan halus istrinya, siang bolong begini Mayu memakai terusan rajut press body dengan model neck roll, Reynan tersenyum, entah ada berapa cap kepemilikan darinya yang Mayu sembunyikan dibalik terusan yang dikenakannya. Senyumnya berubah aneh.


Mayu menatap suaminya. Menebak senyum apa yang terlihat aneh disana. Ia menjadi salah tingkah.


"Sudah siap semua, ayo makan, makan" tukas Ibu membawa nasi yang masih ngebul dari dapur, membuyarkan tatapan pasangan pengantin baru itu.


Setelah makan siang usai, Mayu dan Reynan segera berpamitan untuk kembali kejakarta, Ibu dan keluarga besar Mayu baru akan menyusul lusa saat acara resepsi kedua.


"Mayu pamit nggih bu?"


"iya ndo, baik-baik sama Mas mu ya"


"Iya bu"


Reynan dibantu sopir taksi untuk mengangkat kopernya, mereka segera berlalu menuju bandara.


Dimobil, pasangan itu masih saja bergandengan tangan. Bahkan saat sudah duduk dikursi pesawat. Mayu memang selalu merasa tidak nyaman, gundah saat menit ke tiga pesawat mulai lepas landas, Reynan mudah saja membaca ekspresi istrinya ini. Sebagai suami ia selalu ingin menjadi pelindung, ia genggam tangan istrinya, mencium punggung tangannya. Memberi isyarat jika bersamanya Mayu akan selalu baik-baik saja.


Mayu mulai bisa rileks, ini hanya perjalanan singkat, bahkan bukan kali pertamanya juga ia naik pesawat.

__ADS_1


"Sejauh ini apa yang kamu rasain Mas?" Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Mayu.


Reynan menatap Mayu.


"kok diem?" Tanya Mayu menanti jawaban Reynan.


Reynan terkikik pelan.


"Aku serius Mas!"


"Ok! aku terkejut" Jawab Reynan.


Mayu gantian menatap dalam suaminya.


"Mau tahu kenapa aku terkejut?"


Mayu mengangguk dengan ekspresi penuh penasaran.


"Because you are virgin, dan aku yang mendapatkannya!"


"Apaan sih mas Rey!!"


Reynan tertawa dan memeluk Mayu. Sepasang pengantin ini hampir melupakan ada pasang mata yang melihatnya. Reynan tak ragu mencium istrinya yang wajahnya semakin memerah karena malu.


..................


Yudi dan Ibran sudah menunggunya sedari tadi, mereka mendekati Bosnya yang sedang berjalan menuju kearahnya, dengan sigap Yudi membantu membawakan koper.


Reynan masih menggenggam tangan Mayu sembari terus berjalan dengan langkah panjang sepanjang koridor bandara.


Yudi dan Ibran mengikut dibelakangnya.


Malam ini Reynan ada meeting penting, ia merasa harus bergegas menyelesaikan pekerjaannya.


Mereka sudah sampai dimobil, rupanya Yudi dan ibran membawa mobil yang berbeda, Reynan meminta Yudi untuk mengantar istrinya ke hotel, dia akan menyusul saat meetingnya usai.


Mayu menurut saja, dia harus super mengerti jika suaminya ini pengusaha sukses, bahkan mungkin dia akan sering ditinggal keluar kota bahkan keluar negeri, Mayu sudah memikirkan ini sebelumnya.


"Sayang, kamu kehotel sama Yudi dulu ya, nanti aku nyusul, kamu istirahat ya" Tukas Reynan sembari mencium puncak kepala Mayu.


"Iya, hati-hati ya, Mas. Sukses selalu"


Reynan mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Mayu masuk ke mobil yang dikendarai Yudi. Pasangan suami istri itu saling melambaikan tangan. seperti akan lama saja perginya, nanti malam juga akan bertemu kembali.

__ADS_1


Ibran sangat memaklumi Bosnya ini. Kemudian Ibran dan Reynan bergegas pergi untuk meeting. Ibran sudah menyiapkan kemeja Reynan, sepatu dan aksesoris lainnya, dia tahu Bosnya tidak akan memakai pakaian resmi saat keluar dari rumah mertuanya.


.............................................


Mayu sudah sampai di lobi hotel, awalnya dia pikir dia akan langsung kerumah Mama, ternyata tidak, Reynan ingin bersamanya di hotel malam ini. Mayu sudah disambut oleh petugas hotel dengan sapaan yang belum pernah ia dapat sebelumnya. Mayu berusaha untuk bersikap senormal mungkin, menjawab sapaan sekedarnya, dan bertanya sekedarnya. Sebenarnya Reynan yang selalu mengatakan itu kepadanya.


Petugas hotel segera mengantar Mayu menuju kamar yang sudah dipesan sebelumnya oleh Reynan.


"Jika perlu sesuatu Ibu bisa menghubungi saya"


"Terimakasih"


"selamat beristirahat bu Reynan"


Petugas itu berlalu sesaat setelah membukakan pintu hotel.


Aroma yang wangi, Mayu seakan sudah pernah menginjakan kaki diruang ini sebelumnya, Mayu mencoba masuk, menyusuri keindahan ruangan hotel yang sangat memukau, banyak hiasan mawar merah dengan nuansa putih disetiap furniturenya, mirip dengan apartement Reynan. Tapi ini dihotel.


Bayangannya melayang saat melihat ranjang ukuran king size dengan taburan mawar merah disana, Mayu tergugu, apakah ini kejutan dari Reynan?


ponselnya berdering.


"Hallo Ma"


"Hallo menantu Mama, sudah sampai dihotel kah?"


"Sudah,Ma. Mmm mama yang siapin semuanya ya?" tebak Mayu memastikan.


"Kamu suka nggak, May?"


"Suka banget, Ma, terimakasih banyak ya ma"


"Iya Mayu, kamu rukun-rukun sama Rey ya May, kalo Rey nyebelin kamu laporin aja sama Mama, biar Mama omelin"


"Mama bisa aja"


"oh ya, Reynan mana? dari tadi Mama telpon nggak diangkat, pengantin baru suka gitu deh"


"mm, Mas Rey lagi meeting Ma, nanti baru mau kesini"


"loh! kok meeting sih?! Reynan gimana si ya Ampun.. masa istrinya ditinggalin sendiri sih"


"Nggak papa Ma, sebentar juga paling nyampe Ma, kayaknya penting si Ma"


"Ya tau penting May, tapi masa nggak bisa diundur besok aja sih, aduh kacau deh! belum apa-apa istri udah ditinggal-tinggal"

__ADS_1


Entah kenapa Mayu sangat senang mendengar ocehan mertuanya, ia merasa bukan hanya kehidupan yang lebih baik yang ia dapatkan, tapi sosok Ibu kandung yang ada pada Mama. Mayu sangat bersyukur, Tuhan begitu baik.


Percakapannya dengan Mama sudah usai, Mayu merasa badannya sudah merindukan air, ia baru ingat, kenapa tadi Yudi tak ikut bersamanya, lalu dia kemanakan koper yang berisi baju-bajunya itu.


__ADS_2