Memayu

Memayu
Episode 29 Jodoh bukan hanya sebuah istilah


__ADS_3

Reynan seharian penuh menyelesaikan pekerjaannya yang akhir-akhir ini terlalu sering ia tinggalkan. Niatnya sudah bulat untuk segera mempersunting Mayu bulan depan, Reynan meminta Mayu untuk mengurus surat resignnya dari klinik. sempat terjadi perdebatan antara ia dan Mayu yang tak ingin secepat itu resign, tapi Reynan tetaplah Reynan, tak akan pernah membiarkan kesayangannya sibuk mengurus orang lain. Apalagi secara finansial Reynah bahkan bisa memberi Mayu uang belanja bulanan sepuluh kali lipat dari gajinya diklinik.


Mayu tidak ada pilihan lain, setelah cuti dadakannya Mayu mulai masuk dan mengurus rencana resign dari klinik. Tapi hari pertamanya masuk Mayu tidak menjumpai dr.Hanan.


Seluruh karyawan hari ini baru mendapat berita jika dr.Hanan dan keluarganya pergi ke bandung untuk menjenguk dr.Dhemas yang tengah dirawat dirumah sakit.


Berita dr.Dhemas yang babak belur dihajar perampok sedari pagi sudah menjadi perbincangan para karyawan. Mayu merasa prihatin, semenjak kejadian itu ia juga tak pernah lagi bertemu dr.Dhemas, yang seharusnya hari ini bertemu ternyata kenyataannya lain.


........................................................


Reynan tak menyangka serangan orang suruhannya akan berakibat serius terhadap dr.Dhemas, walaupun sudah melewati masa kritis, tapi semestinya hal ini tidak perlu terjadi. Meskipun Reynan mengerti yang dr.Dhemas lakukan terhadap hubungannya dan Mayu salah, tapi tindakannya kini yang membuat dr.Dhemas berbaring dirumah sakit juga tidak bisa dibenarkan.


Reynan merasa sangat bersalah atas kejadian ini.


"Saya sudah bilang! hanya sebuah pelajaran! bukan ujian!" Tukas Reynan dengan kasar kepada orang suruhannya lewat telepon. kini seringai matanya mengarah pada Ibran setelah mematikan teleponnya. Ia merasa Ibran salah memilih preman untuk memberi peringatan kepada dr.Dhemas.


"Dasar B*doh! dimana kamu menemukan preman-preman ilegal itu!?" Tambah Reynan kembali dengan nada suara tinggi.


"Maaf bos"


"Lain kali cari preman yang sudah lolos sertifikasinya! cari di Yayasan khusus preman!" Kata Reynan menambahkan, Ibran hanya terdiam, bosnya memang selalu berbicara tidak masuk akal jika sedang marah, mana ada ujian sertifikasi khusus preman, apalagi yayasan preman? yang benar saja.


Sore ini Reynan memutuskan untuk kebandung menemui dr.Dhemas, Reynan kembali meninggalkan pekerjaannya yang semakin menggunung. Karena walau bagaimanapun dr.Dhemas adalah teman kecilnya, meskipun Reynan sangat benci atas upaya dr.Dhemas yang lalu, setidaknya selama puluhan tahun mereka bersahabat dr.Dhemas tak sekalipun membuatnya merasa semarah ini. Reynan akhirnya bisa mengakui jika cinta bisa merubah segalanya, dr.Dhemas melakukan ini karena cinta, Reynan membalasnya juga untuk melindungi cintanya. Setidaknya Mayu sudah kembali kepelukannya.


Entah kalimat apa yang nanti akan Reynan ucapkan saat menemui dr.Dhemas. Perasaannya terasa aneh saat mengingat kata umpatan terakhirnya yang bernada ancaman kepada dr.Dhemas. Jika mengingatnya Reynan merasa menjadi penjahat sungguhan.


Kali ini Reynan ditemani Ibran, menuju rumah sakit kota Kembang, sebelumnya Reynan sudah mengabarkan kepada dr.Hanan jika dirinya akan datang. Dari jauh dr.Hanan sudah terlihat. entah apa yang akan ia katakan, kali ini mentalnya mendadak cemen.


"Bagaimana kabar Dhemas, dok?" Tanya Reynan selepas menjabat tangan dr.Hanan.


"Ya, sudah ditangani, sudah jauh lebih baik, terimakasih ya sudah datang menjenguk?" tukas dr.Hanan.

__ADS_1


"Iya dok sama-sama" Jawab Reynan, dalam hati bertanya-tanya apakah dr.Dhemas sama sekali tak memberi tahu sesuatu. Mata Reynan sedikit menilik saat melihat dua orang anggota kepolisian berjaga didepan pintu kamar perawatan dr.Dhemas.


Ekspresi Reynan sangat datar tapi otaknya memikirkan nama-nama pengacara terbaiknya, jika dr.Dhemas melaporkan kasusnya ini. Reynan masuk ke ruangan mengikuti dr.Hanan.


dr.Dhemas terbaring lemah dengan perban dan Cervical collar dilehernya, dr.Meca segera berdiri dan keluar dari ruangan saat mengetahui Reynan masuk.


Entah kenapa dr.Dhemas menggerakan telunjuknya ke arah Reynan.


Reynan merasa salah telah mendatangi tempat ini.


Tak lama jemari dr.Dhemas melambai, mengisyaratkan Reynan untuk mendekat. Benturan dipunggung dr.Dhemas memang cukup keras sehingga membuatnya sulit menggerakan badannya sekarang.


Reynan mendekat. ekspresinya mulai tak bisa datar sekarang, rasanya terluka melihat sahabatnya terbaring seperti ini, dirinya baru merasa tindakannya hari lalu sangat berlebihan.


dr.Hanan menepuk punggung Reynan dan berlalu meninggalkan keduanya didalam ruangan.


Reynan mendekati dr.Dhemas yang terlihat berusaha mengucapkan sesuatu.


"Untung gue nggak mati" Tukas dr.Dhemas sekuat tenaga dengan gumaman mirip orang mengigau membuat Reynan terkaget.


"Lo bener kok, gue aja yang nggak siap nerima pukulannya" tukas dr.Dhemas masih dengan suara berat dan bibir yang bergerak sedikit-sedikit.


"Masih sempet aja lo ngomong ini dhim, gue malah nyesel" Tukas Reynan ringan, ia tak menyangka percakapannnya dengan musuh akan sesantai ini.


"Apaan lo? pake nyesel, kalo gue cuma masuk UGD doang yang ada lo tambah benci ke gue" Kata dr.Dhemas menambahkan.


Reynan tertawa ringan, musuh barunya ini sungguh gila, tidak waras, disaat semua orang khawatir, dr.Dhemas malah bahagia dengan keadaannya. Reynan tak menyangka Tuhan begitu baik meluruskan semua masalah satu persatu.


"Sory ya?" Gumam dr.Dhemas, kata yang tak sempat Reynan bayangkan akan terucap dari dr.Dhemas ataupun dirinya sendiri yang ia fikirkan disepanjang perjalanan.


"Nggak Dhim, gue yang sory" timpa Reynan.

__ADS_1


"lo bener Rey, ini ganjaran atas apa yang udah gue lakuin, akhirnya gue sadar"


Reynan reflek memegang lengan dr.Dhemas, berharap tak lagi melanjutkan katanya. Ingin sekali dipeluknya tubuh itu, tapi kondisi dr.Dhemas sangat tidak memungkinkan untuk sedikit saja bergerak. Reynan manggut-manggut.


"syukurlah kalo lo nyadar, ada hikmahnya juga lo begini" tetap saja nada jahilnya tersulut.


"Dasar sapi!!!!" Maki dr.Dhemas sembari menahan nyerinya.


"Tapi lo niat banget si, mau laporin gue, pake ada polisi segala"


dr.Dhemas setengah tertawa,"Itu orangnya papa Rey, dulu om Sam juga begitu kan?" tukas dr.Dhemas mengingatkan Reynan pada sosok ayahnya.


"Tapi lo beneran harus sembuh secepat mungkin" tukas Reynan penuh semangat.


"Kenapa?"


"Gue mau merit" Jawab Reynan sembari menaikan ujung alisnya, tetap dengan senyum kemenangan.


"Dasar sapi! baru berapa bulan lo jadi duda? udah mau nikah aja"


"Niat gue kan emang dari awal pengen mecahin rekor menjadi duda tercepat, gara-gara lo aja semuanya jadi rumit"


"hahahahha" dr.Dhemas terbahak hingga kembali tersadar jika dirinya tidak boleh terlalu banyak bergerak bahkan bicara sekalipun,"Jagain Mayu ya Rey"


"Belagu lo pake ngomong itu segala, kesannya kaya gue playboy aja"


"Gue sayang banget sama Mayu, Rey"


"Eh lo ngomong itu lagi, beneran nih gue balikin bed nya sekalian"


dr.Dhemas kembali terkikik pelan. dr.Dhemas tersadar setelah sekian hari merenungi cintanya yang tak sampai, mungkin memang beginilah garisnya, dia yakin Tuhan tidak sedang mengujinya, tapi menunjukan kepadanya makna jodoh bukan hanya sebuah istilah.

__ADS_1


Kisahnya telah usang, cintanya telah pergi, meskipun mimpi-mimpi pernah tercipta, walau tak sempat terucap, kini hatinya sudah tak berhak, tak lagi bisa menjamah sebuah rasa, asa, cinta yang sama. Sengaja tak mau kembali berharap, khawatir inginnya menjadi cela cerita cinta yang lain.


Membiarkannya berlalu dengan kekasih yang seharusnya. Semoga cinta selalu menjadi penyebab rasa bahagia, bukan lagi rasa sakit. Berlabuhlah engkau diantara hati-hati yang selalu merindu, mewujudkan bayangan beserta mimpi menjadi nyata.


__ADS_2